Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 16 : Keanehan di Ruang Seni


__ADS_3

 "Hei bocahh!! Kau yang tadi pagi berkenalan dengan Tuan Putri kan? Kau pikir dia akan mau berbicara padamu, hah!? Sadar diri!!" Ucap temannya yang lain.


"Itu benar, temanku.. Siapapun itu kita harus sadar akan status kita. Orang kaya selalu berkumpul dengan orang kaya lainnya untuk memupuk kekayaan, orang miskin juga berkumpul dengan orang miskin lainnya untuk bertahan hidup. Begitu juga dengan dirimu. Rakyat jelata juga harus berkumpul dengan rakyat jelata, bocahh! Hahahahaha!!" Ucapnya sambil ketawa, mendongakkan kepalanya dan memegangi perutnya. 


Hal itu juga disambut oleh teman-temannya yang lain ikut tertawa terbahak-bahak, kecuali Dark Elf yang masih mengamati mereka dari balik gerombolan. Namun, berbeda dengan Dias. Dirinya sama sekali tidak menurunkan sorotan mata tajamnya dan tetap memandangi orang yang mengintimidasinya dengan tajam.


"Hei, Bocah.. Aku suka sorotan matamu. Ayo ikut kami," Ucapnya sambil berjalan membelakangi Dias. 


"Sstt~ Diaaaass!" Bisik Tedy kepada Dias dari jauh. Dias yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Tedy. Kemudian Tedy menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda menyuruh Dias untuk tidak mengikuti ucapannya. Namun Dias mengabaikannya dan lebih memilih ikut mereka semua. 


Selama perjalanan menuju tempat yang mereka maksud, Dias mengecek masing-masing status dari mereka semua. Setelah melihatnya, Dias malah menyeringai senang.


Akhirnya mereka semua sampai di gudang sekolah yang tidak pernah dipakai dan biasa dipakai nongkrong oleh mereka. Di gudang itu sangatlah sepi dan jauh dari keramaian. Apapun bentuk aktivitas mereka tidak akan diketahui oleh siswa manapun, atau pun para guru. 


Mereka semua berhenti, begitu pula Dias. Setelah itu, mereka semua mengelilingi Dias dan mengepungnya, sehingga tidak mungkin bagi dirinya bisa kabur dari tempat ini. 


"Okay bocah, waktunya penyambutan anggota baru. Kalau kau bisa bertahan dari pukulan kami, maka kau layak menjadi anggota baru kami," Ucapnya sambil menyeringai jahat. Tidak lama kemudian, Masing-masing dari mereka mengeluarkan senjatanya. Ada yang mengambil kayu, tongkat baseball, bahkan ada yang sudah menyimpan pisau lipat dari balik saku celananya. Mereka semua sudah siap untuk menyiksa Dias dengan ekspresi yang seperti serigala yang kelaparan.


"Hahahahahaha.." Tiba-tiba saja Dias tertawa terbahak-bahak tanpa diketahui penyebabnya. Semua yang berada di sana dibuat heran olehnya. 


"Hahahaha.. Aduh, perutku sakit. Aduhh," Lanjutnya sambil memegangi perutnya dan mengusap air matanya karena terlalu lucu. 


"Apa yang lucu, Hah!!" Ucap bos mereka yang dari tadi mengintimidasi Dias. 


"Hahaha, aduduh.. Entah mengapa kalian malah menggali lubang kubur kalian sendiri," Kata Dias yang akhirnya berhasil meredakan tawanya. 


"Ngomong apa sih ini anak," Ucap salah satu dari mereka.


"Otaknya udah gila kali, karena ketakutan sama kita semua," Ucap lainnya. 


"Banyak omong!!" Katanya yang lain dari belakang sambil mengarahkan tendangannya yang lurus itu ke punggung Dias.


"Duakk!!" Namun, setelah tendangan itu mengenai Dias, dia sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Orang yang menendangnya langsung mengucurkan keringat dingin dari dahinya. 


"Sudah kubilang, kan? Menggali kubur sendiri?" Kata Dias sambil menoleh ke belakang dimana orang itu menendang dengan tatapan dingin. Orang yang telah menendangnya tiba-tiba menggigil ketakutan.


"Dakk!!" Sebuah balok kayu dipukul kan ke kepala Dias dan berhasil ditangkis olehnya. Karena tidak mempan, orang itu kembali memukul-mukulkan balik kayu ke arahnya. 


Setelah beberapa pukulan balok kayu yang berkali-kali di hindarinya, Dias berhasil menangkap balok kayu itu dan menghancurkannya hanya dengan menggunakan kekuatan tangannya. 


"Blarr!!" Kayu itu hancur seketika. Beberapa dari mereka mulai merasa jika Dias bukanlah manusia sembarangan. 

__ADS_1


"Hanya segitu saja? Aish, cupu banget," kata Dias. 


Bos mereka semakin geram, dan akhirnya memutuskan untuk menyerang Dias secara bersamaan. Namun hasilnya pun sama saja. Mereka sama sekali tidak dapat melukai Dias yang hanya menggunakan tangan kosong itu tanpa menggunakan sihirnya sana sekali. Justru merekalah yang jatuh tersungkur setelah menerima pukulan dan tendangan dari Dias. 


"Hahaha, lumayan juga kemampuanmu," Ucap Halvar Sigrid, yang merupakan  bodyguard dari Putri Raja Obeyron itu. Dia memuji sambil bertepuk tangan secara perlahan. 


"Bugh!!" Tiba-tiba, Dias maju dan menghantamkan pukulannya tepat di perut si Halvar. Halvar tersentak kaget yang terlihat kesakitan dan memegangi perutnya. Tidak lama kemudian dirinya ikut tersungkur dan jatuh. 


"Hadeh, lemah begini masih saja belagu," ucap Dias kemudian melemaskan bahunya yang pegal. 


"Halvar!?" Terdengar suara perempuan dari jauh. Dias menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan ternyata pemilik suara itu adalah seorang perempuan cantik yang duduk bersebelahan dengannya di kelas.


Perempuan itu menunjukkan ekspresi gelisah ke arah Halvar yang sedang terbaring dan segera mendatanginya untuk menolongnya. 


"Halvar.. Kenapa ini bisa terjadi?" Tanyanya sambil berjongkok memperhatikan kondisi Halvar yang mengenaskan.


"Maafkan aku, Tuan Putri.. Uhuk.." Ucap Halvar terbatuk-batuk setelah perutnya dipukul. Tidak lama kemudian, Halvar pingsan. Lebih tepatnya pura-pura pingsan. 


Melihat kondisi Halvar yang menyedihkan, Sang Putri hendak membalas perbuatan Dias. Dia menatap Dias dengan penuh amarah. Dirinya pun berdiri dan berjalan mendatangi Dias. 


Dias merasakan aura perkelahian yang sangat tajam mendekat.


Ketika Dias mencoba menghantam Sang Putri, serangannya dapat dengan mudah dihindarinya. Dan dalam sekejap Sang Putri melancarkan 3 kali serangan yang sangat cepat. 


"Buk!! Buk!! Buk!!" Satu tendangan pertama mengenai dagu Dias, kemudian dia mengarahkan kakinya ke bawah hingga mengenai wajah Dias yang masih mendongak ke atas karena serangan tadi. Terakhir tendangan yang mengarah ke perut, hingga membuat Dias terlempar jauh. 


"Uhkkk.. Uhkkk.. " Dias memegangi perutnya yang kesakitan dan sudah dipastikan dia tidak dapat membalas lagi. Dias memperhatikan Perempuan itu yang membopong Halvar dan perlahan pergi menjauh meninggalkan tempat itu.


"Ahh, sialan.." Setelah itu Dias mencoba mengaktifkan sihirnya dengan mengeluarkan api di telapak tangannya. Dia bermaksud membakar kedua orang itu dari jauh. 


"Priitt!!" Tidak lama setelah itu, terdengar peluit dari kejauhan. Seorang perempuan yang memakai pin bintang yang menandakan komite kedisiplinan berlari mendatangi Dias dengan ekspresi marah. 


"Heii, dilarang memakai sihir di lingkungan sekolah!" Ucap perempuan itu. Akhirnya mereka semua di bawa ke ruang BK untuk di introspeksi, kecuali Sang Putri bersama dengan bawahannya yang sudah pergi duluan. 


Mereka semua dihukum membersihkan kamar mandi belakang gedung sekolah di jam istirahat ke dua. Sang Putri yang melihat Dias sedang sibuk membersihkan kamar mandi hanya bisa tersenyum puas. 


***


Sepulang sekolah*


"ClairVoyant!!" Dias mengecek kembali berkali-kali orang-orang yang berlalu lalang di depannya di gerbang sekolah. Namun sepertinya dirinya tidak mendapatkan hasil apapun setelah mengamati mereka semua selama 1 jam lamanya.

__ADS_1


“Hoii, Dias, masih belum kelar nih?” Ucap Tedy yang memakai baju olahraganya dan menenteng tasnya untuk segera pulang. Setelah itu Tedy segera duduk di sebelah Dias sambil menyela keringatnya yang menetes. 


“Ini tidak semudah seperti membalik telapak tangan,” Balas Dias.


“Ini minum kalau haus. Aku yang traktir,” Kata Tedy sambil menyodorkan satu kaleng minuman bersoda kepada Dias. 


“Terima kasih,” Kata Dias yang langsung menerimanya begitu saja.


“Kenapa kau harus mengecek semuanya? Kenapa tidak kau kerucutkan terlebih dahulu ke kelompok yang lebih kecil?” Ujar Tedy.


“Maunya begitu sih, tapi bingung harus mulai darimana dulu.” Balas Dias.


“Hmm, sebenarnya awalnya pihak kepolisian memiliki dugaan kuat kepada guru-guru yang ada di akademi ini, hanya saja setelah mereka semua diperiksa, mereka semua bersih. Tapi tidak ada salahnya jika kau mencoba untuk memeriksa semua guru yang berada di ruang guru. Bisa jadi mereka berkelit dengan kemampuannya untuk menyembunyikan kebohongan sekecil apapun.” Kata Tedy menjelaskan.


Dias berfikir jika apa yang diucapkan oleh Tedy ada benarnya juga.


“Oke deh, Aku nurut.” Kata Dias sambil meminum minuman kaleng itu. Setelah itu, karena waktu sudah terlalu sore, mereka memutuskan untuk pulang bersama berjalan kaki. 


"Kyaaa!!" Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan perempuan dari dalam gedung sekolah. 


"Tedy, kau juga mendengarnya kan?" Ucap Dias sambil menoleh ke arah gedung sekolah. 


"Iya, aku mendengarnya," kata Tedy menelan ludahnya. 


"Ayo!!"


Dias dan Tedy berlari ke arah gedung sekolah dan mengecek ke tiap-tiap kelas. Hanya saja semua orang yang berada di dalam gedung hanya tersisa beberapa guru yang berlalu lalang. Sama sekali tidak ada murid yang tersisa. 


"Heyy, jangan berlarian di Koridor!" Ucap salah satu guru disana. 


"Maaf Bu, Darurat!!" Balas Dias yang tetap mempercepat langkahnya bersama dengan Tedy. 


Dias berlari dan segera memasuki kelas seni dimana suara itu berasal. 


"Brakk!!" Dias membuka pintu kelas itu dengan kuat. Namun setelah Dias mengamati keseluruhan tempat, tidak ada siapapun disana. Hanya saja kelas itu terlihat berantakan dengan kursi dan meja yang berserakan. 


Dias terpaku pandangannya pada sebuah pita berwarna merah yang tergeletak di bawah meja. Setelah itu Dias mengambilnya dan mengamatinya. 


"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Ucap Dias.


***

__ADS_1


__ADS_2