
1 bulan kemudian*
Akhirnya, setelah satu bulan lamanya Thea pun dapat sembuh dari traumanya, dan tidak lagi bergantung pada Kakaknya lagi.
“Tante, Paman, kami berangkat dulu,” ucap Dias sambil melambaikan tangannya kepada dua orang yang berada di ambang pintu sambil tersenyum manis. Mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah Akademi Raftel seperti yang biasa mereka lakukan selama 1 bulan yang lalu.
Ketika mereka sampai di halaman sekolah, tiba-tiba saja suasana disana menjadi gempar. Banyak pasangan mata yang melihat ke arah mereka berdua, dan itu membuat Thea jadi grogi.
Beberapa siswa yang mengenal Thea pasti akan langsung menyapanya dan menanyakan kabarnya. Rasa gugup Thea semakin menghilang ketika teman-temannya yang berpapasan dengannya langsung menyapanya. Thea membalas sapaan mereka dengan senyuman seperti biasa.
Sedangkan Dias, yang masih dianggap murid baru tidaklah terlalu dekat dengan orang-orang di Akademi ini. Bagaimana bisa dekat, dia hanya masuk beberapa hari di akademi, tiba-tiba dirinya terlibat dalam penumpasan pemujaan Iblis, kemudian tidak masuk selama satu bulan. Apalagi dengan ekspresi wajahnya yang semakin kaku sejak kejadian penculikan kemarin. Tatapan Dias seakan-akan ingin membunuh semua orang yang berada di sekitarnya. “Tidak akan kubiarkan Thea dalam bahaya lagi,” pikirnya.
“Hai Thea, dan hai Kakak bermuka masam,” ucap Naura yang tiba-tiba muncul dan menghampiri Thea. Tidak lupa juga menyapa Kakaknya yang hanya lembut ke Thea saja.
Dias selalu tidak peduli dengan teman-teman Thea dan membiarkan mereka sesuka hatinya ketika berada di kediamannya. Dia benar-benar hanya peduli pada adiknya sendiri.
“Hei, bocah,” balas Dias mengembalikan ejekan yang diberikan oleh Naura. Naura hanya mendengus kesal dengan apa yang diucapkan oleh Dias. Memang, nyatanya Naura memiliki tubuh yang kecil, beda 15 cm dengan Thea sehingga membuat dirinya nampak seperti anak kecil.
“Heii, itu namanya body shaming!” Ungkap Naura yang berapi-api.
Dias menyeringai setelah melihat Naura kesal. “Hahaha, apa kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa tubuhmu itu terlalu pendek? Kenapa kau tidak mulai olahraga supaya tubuhmu itu lebih tinggi sedikit?”
“Hoo, kau ingin lihat hasil olahragaku ya..” Ucap Naura dengan tatapan dingin kepada Dias. Tanpa basa-basi lagi, Naura langsung menghantamkan pukulannya ke perut lelaki itu dengan kuat.
“Argh! Apa yang kau lakukan?” Ucap Dias yang juga kesal karena dipukul. Sekarang giliran Naura yang tersenyum puas.
“Gimana pukulanku? Enak kah?”
“Hilih, bocil sombong banyak lagak,” ucap Dias sambil meringis kesakitan. Thea hanya bisa tersenyum menikmati perdebatan mereka berdua yang tidak pernah akur. Setelah sampai di persimpangan jalanan Akademi, mereka pun berpisah karena berbeda kelas.
“Hoii broh.” Tiba-tiba dari arah belakang muncul Tedy yang akan memiting kepala Dias.
“Eits.” Dias menghindari pitingan Tedy dengan cepat. Dias sudah menyadarinya dan berbalik memiting Tedy.
“Ahhhh, nyerah-nyerah,” ucap Tedy sambil memukul-mukul tangan Dias, berharap dapat dilepaskan. Tapi Dias sama sekali tidak melepaskannya sambil berjalan ke arah kelas.
Semua orang di jalan memperhatikan Dias dari jauh yang begitu mencolok, tapi Dias tidak begitu memedulikannya.
Salah seorang yang sedang berdiri menyender di pinggir lorong sambil menyilangkan tangannya, memperhatikan Dias dari jauh. Dia memiliki rambut hitam, terdapat bekas cakaran di matanya yang hitam, dan kulit putih pucat.
“Hoh, ternyata dia ya,” ucap lelaki itu sambil tersenyum ke arahnya. Setelah itu, dia segera kembali ke kelasnya.
Sesampainya di kelas, Dias melepaskan pitingannya.
“Eyy, udah gila ya? Bisa-bisa kepalaku yang copot nanti,” keluh Tedy sambil memegangi lehernya yang sakit.
“Hahahaha, maaf-maaf. Pingin iseng aja,” ucap Dias tertawa senang melihat temannya menderita.
Ding-ding~ Bel pertama pelajaran sudah dimulai. Semua orang yang tadinya berhamburan, langsung duduk di posisinya masing-masing. Setelah itu, muncul sosok lelaki yang membawakan setumpuk kertas soal dan diletakkannya di atas meja. Namun sosok lelaki itu bukanlah guru, melainkan ketua kelas di kelas ini.
“Semuanya, hari ini guru-guru sedang mengadakan rapat, sebagai gantinya, mohon selesaikan soal ini dan di kumpulkan hari ini juga,” ucap ketua kelas yang bernama Gail itu.
Ucapannya langsung ditanggapi dengan sorakan kegirangan dari seisi kelas. “Hiyeyy!! Jam kos! seperti biasanya. Haha,” ucap salah satu siswa yang berada di pojokan belakang, yang kemudian diikuti sorakan oleh yang lain.
“Bukan jam kos lah, kalau masih mengerjakan soal. Bisa jadi waktu kita habis hanya untuk mengerjakan soal saja,” ucap siswi yang berada di barisan paling depan.
“Kalau itu mending kamu saja yang mengerjakan, nanti kalau sudah selesai jangan lupa untuk memberitahu kita,” balas lelaki itu sambil tersenyum jahil ke arahnya.
“Ih, ya nggak mau lah. Enak saja. Lagipula nggak semua soal itu bisa kau contek. Soal mengarang misalnya,” balas perempuan itu sambil menyilang siku.
__ADS_1
“Harap tenang semuanya! Biar ku bagikan soalnya ke kalian!” Teriak si ketua kelas sambil membagikan lembaran soal itu pada semua.
Ketika orang paling terdepan menerima soal tersebut, dia sangat terkejut, ternyata soal itu berisikan 5 soal bertipe esai dimana harus menjelaskan tiap-tiap butir disana, beserta memberikan contoh dan studi kasusnya. Soal harus di kerjakan di lembar folio minimal 4 lembar halaman dan dikumpulkan hari ini juga.
Siswi yang menyilangkan tangannya tadi langsung tersenyum penuh dengan kemenangan. “Hahahaha, mampus lu. Kalau begini memangnya kau ada waktu buat menyontek?” Ucapnya.
Sedangkan siswa lelaki yang berada di barisan tadi hanya bisa menghela nafas panjang. “Huaaahh, hidup kok begini-begini amat,” ucapnya.
“Ssst, cepat selesaikan pekerjaanmu, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan,” ucap Halvar kepada Dias yang tempat duduknya tidak jauh darinya. Halvar juga memberitahukan hal yang sama pada Tedy dan Lily yang duduk di depannya.
30 menit kemudian, Dias, Halvar, Lily, dan Tedy pun selesai mengerjakannya dan mengumpulkannya secara bersamaan.
“Gila, cepat amat,” ujar salah satu orang yang berada di kelas. Yang lainnya juga berpikiran hal yang sama pada mereka berempat.
“Gail, kami izin keluar ya,” ucap Lily kepada ketua kelas yang juga masih sibuk mengerjakan soal juga. Ketua kelas yang memang sifatnya tidak mau diganggu saat mode serius, langsung mengibaskan tangannya tanda jika dia memperbolehkannya.
Mereka berempat pun segera keluar dari kelas dan pergi menuju ke belakang gedung sekolah. Sesampainya, mereka mengambil posisi masing-masing, duduk di gazebo itu.
‘’Dengar, aku sudah mendengar hasil interogasi yang sudah dilakukan oleh Penjaga Istana kepada orang yang sudah melakukan pemujaan sesat kemarin.” Ucap Halvar.
Mereka langsung tertarik dengan pembahasan yang ingin diajukan oleh Halvar dan mendengarkan secara seksama. “Terus?” Ucap Tedy.
Tiba-tiba ada kecoa jatuh tepat di wajah Tedy. “Huwaaa!!” Tedy melompat dari gazebo dan jatuh. Sedangkan kecoa itu terbang dan mengincar target baru.
Melihat Lily yang cantik, kecoa itu langsung memutuskan untuk menyambarnya. Lily yang sadar akan hal itu langsung melemparkan kerikil tepat ke kepala kecoa itu.
“Khhhkkkk!!” Kecoa itu langsung mati dan jatuh dengan kepala yang hancur.
“Dih, menjijikkan,” ungkap Lily. Dias terkejut dengan kemampuan Lily yang mempunyai akurasi ketepatan yang luar biasa.
Tedy kembali ke posisinya dan membersihkan wajahnya yang terkena tanah. “Oke, lanjut.”
“Jadi, dari hasil interogasi kemarin, si pelaku alias Pak Sata seratus persen tutup mulut. Meskipun disiksa berapa kali pun, dia sama sekali tidak mengakui kebenarannya. Seperti sedang dicuci otak, dia terus-terusan berkata jika Raja Iblis, Azazel akan bangkit,” jelas Halvar dengan serius.
“Hmm, dengan kata lain, para Pemuja Iblis itu melakukan penculikan dan ritual sesat demi membangkitkan Raja Iblis ya?” Tebak Tedy mode serius.
“Tidak hanya itu, dia terus-terusan membual jika era manusia lemah akan berakhir, giliran iblis yang akan menguasai dunia,” lanjut Halvar.
“Jadi, mengapa kau panggil aku datang kemari?” Tanya Dias yang masih bingung dengan maksud tujuan Halvar memberitahu hal tersebut.
“Aku memberitahu padamu supaya kamu bisa mempersiapkan kemungkinan terburuk dari apa yang akan terjadi setelah ini. Kamu sudah baca berita kah? Mengenai banyak dungeon yang bermunculan di berbagai belahan dunia, kecuali di Kerajaan yang kami tinggali?”
“Ah, berita itu ya.” Dias mencoba mengingat-ingat kembali berita yang sempat dia baca di koran. Dalam satu bulan terakhir, banyak dungeon yang tiba-tiba terbangkit, terutama di daerah terdekat dari Kerajaan Farnesse. Hal ini terjadi semenjak Kerajaan Farnesse mulai memperluas kekuasaannya dan melibatkan para Iblis sebagai basis kekuatan mereka.
Benua di bagian barat sudah dikuasai secara keseluruhan oleh Kerajaan Farnesse, sehingga luas wilayah Kerajaan Farnesse menjadi begitu luas. Kerajaan-kerajaan yang berada di benua itu sama sekali tidak berkutik melawan kerajaan Farnesse yang mana juga didampingi oleh kekuatan Iblis yang didapatkan setelah melakukan ritual pemanggilan iblis.
“Oh, jadi dengan melakukan kontrak kepada Iblis, kau akan mendapatkan kekuatan dari iblis tersebut ya?” Ungkap Dias sambil manggut-manggut mendengar penjelasan Halvar.
“Benar sekali. Meskipun pada awalnya mereka tidak memiliki kekuatan magis, mereka akan mendapatkan kekuatan magis setelah melakukan ritual pemujaan iblis dan memanggilnya. Semakin banyak yang dikorbankan, maka kekuatan mereka akan semakin kuat,” ungkap Halvar.
Lama mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya masuk ke jam pelajaran kedua.
“Prittt!! semua berbaris!” Perintah lelaki tua yang mengajar pelajaran olahraga di tengah-tengah lapangan indoor. Mendengar hal itu, semua murid kelas 11-A, kelas yang di tempati Dias segera ikut berbaris.
“Yak, seperti yang saya janjikan kemarin, hari ini kita akan belajar seni berpedang. Kemudian, karena kelas 11-B pengajarnya tidak masuk, maka kelas mereka akan digabung dengan kelas kita.” Jelas pengajar itu.
Tidak lama setelah itu, Pak Guru meminta Gail untuk mengajak murid-murid kelas 11-B ikut berkumpul dengan mereka. Murid yang berjumlah 30 orang itu pun datang dengan sudah menggunakan seragam olahraga mereka.
“Lihat!, itu murid baru yang sangat jago berpedang itu kan?” Ucap salah satu perempuan yang berbaris di samping Dias sambil menunjuk ke arah lelaki berambut hitam di kelas sebelah.
__ADS_1
“Ah iya, wahh, keren sekali ya,” ucap seseorang yang disebelahnya. Perempuan yang lainnya juga mengangguk setuju dengan pernyataan itu.
Setelah mereka semua berbaris, Pak Guru menjelaskan sedikit mengenai ilmu dasar berpedang kepada mereka. Mengenai jenis-jenis berpedang yang berbeda-beda di tiap-tiap benua beserta keunikannya. Setelah itu, dia menurut mereka semua untuk duduk di lantai sambil memperhatikan ke depan.
"Baiklah, kalau begitu mari kita coba latih tanding terlebih dahulu," kata Pak Guru. Setelah itu, dia menunjuk ke arah Uzra sebagai perwakilan kelas B dan Dias sebagai perwakilan kelas A untuk berduel.
"Mari kita lihat kemampuan dari dua orang ini. Seperti yang kita ketahui, jika Uzra adalah pindahan dari Negara belahan bumi utara, tentunya gaya berpedangnya akan sangat berbeda dengan kita semua," ungkap Pak Guru menjelaskan.
"Kalau Dias bagaimana, Pak?" Tanya salah satu murid di baris depan.
"Dias? Nggak tahu. Saya pilih random aja," ujar Pak Guru menggidikkan bahunya.
Setelah itu, Dias dan Uzra segera mengambil posisi berhadapan dengan membawa pedang kayu sebagai senjatanya.
"Ingat, dilarang menggunakan sihir. Ini murni menunjukkan keahlian berpedang kalian!" Jelas Pak Guru.
Sorak-sorai penonton mulai bergema dan tidak sabar lagi melihat pertarungan mereka berdua. Mereka sudah pernah mendengar berita jika Uzra sebelumnya pernah menghajar pembegal ketika Bis yang didudukinya dihentikan dan diancam. Ada sekitar 10 pembegal, dan Uzra berhasil melumpuhkan mereka semua hanya dengan menggunakan ranting pohon.
Sedangkan Dias, seperti yang mereka ketahui jika satu bulan yang lalu berhasil menumpas 2 pemuja Iblis dan menyelamatkan 5 korban di dalamnya bersama dengan Putri Lily.
"Yok, bersiap!" Ucap Pak Guru merentangkan tangannya ke depan memisah mereka berdua. Uzra tersenyum ke arah Dias karena sangat senang mendapatkan kesempatan melawan seseorang yang dirumorkan telah menjadi anggota guild Valkrie sejak kecil.
"Mulai!" Pak Guru mengangkat tangannya menandakan pertarungan di mulai.
Uzra melangkah terlebih dulu dan menebaskan pedang ke arah Dias.
"Trak!" Dias berhasil menangkis tebasan yang mengarah ke pinggang kanannya. Uzra memutar tubuhnya dan menebas ke arah pinggang kiri dengan cepat, tapi masih bisa ditangkis lagi. Uzra menyerang lagi dari arah atas, Dias menghindarinya. Setelah berkali-kali menyerang Dias dan tidak berhasil, akhirnya dia melangkah mundur.
"Hmmm, jadi begitu," ucap Uzra menandakan sedang mempelajari pergerakan Dias.
"Halvar, apa kau sudah menyelidiki lelaki ini?" Tanya Lily kepada Halvar yang selalu berada di sisinya.
"Sudah Tuan Putri, dia adalah murid pindahan dari Sekolah Menengah Atas Artikea di Kerajaan Balfur. Dia berasal dari Benua Artik yang berada di utara Benua kita. Dan seperti yang kita lihat, gaya berpedangnya merupakan gaya berpedang asli dari Kerajaan asalnya, gaya berpedang Kerajaan Balfur." Jelas Halvar pada Lily.
"Hmm, kurasa dia tidak akan memenangkan pertandingan ini," ucap Lily yang sudah meramalkan jika Dias pasti akan kalah.
Sekarang berganti Dias yang menyerang Uzra. "Guru Dann, aku tidak akan mengecewakanmu.." ucap Dias dalam hati. Dia maju dengan sangat cepat dan menebaskan pedang ke kepala Uzra dengan sangat kuat.
"Trak!" Sangking kuatnya, pedang kayu yang dipakai oleh Dias sampai patah dan mengenai kepala Pak Guru. Uzra berhasil menangkisnya dan terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Dias.
Semua orang yang berada disana juga terkejut menyaksikan kekuatan fisik Dias yang dapat mematahkan pedang kayu yang dipakainya.
Pak Guru terlihat sangat marah, namun masih bisa dia tahan. Setelah itu, dia memberikan pedang baru untuk dipakai oleh Dias.
"Lanjutkan."
"Oke, Terima kasih," ucap Dias kemudian kembali berfokus ke Uzra.
Lama bertarung, dan Uzra yang sudah mengetahui pola serangan Dias akhirnya dapat menghindari serangan yang dilancarkan oleh Dias dengan mudah. Meskipun serangan nya akurat, namun masih mudah ditebak olehnya.
Uzra kembali menyerang, dan permainan Uzra tiba-tiba saja menjadi sangat cepat.
"Jadi, kamu tadi belum serius ya?" Tanya Dias yang sibuk menangkis serangan demi serangan.
"Hehe, iya," balas Uzra tersenyum manis. Dias kesulitan menangani serangan Uzra yang semakin menajam dengan berbagai macam gerakan unik yang tidak pernah Dias lihat.
Akhirnya pertandingan itu selesai dengan pedang kayu Uzra yang sudah mengarah ke leher Dias. Semua bersorak-sorai atas pertandingan luar biasa yang pertama kali mereka lihat itu.
***
__ADS_1