
"Thea, anehkah apabila sepulang sekolah aku mendengar teriakan suara cewek, kemudian setelah aku cek sumber suara itu ternyata berasal dari ruangan seni dengan kondisi ruangan yang berantakan?" Tanya Dias kepada Thea sambil makan telur dadar yang sedang sarapan pagi bersama.
"Ruang seni? Ruang seni yang ada di lantai 2 pojokan itu?" Kata Thea yang terkejut dan menghentikan suapannya.
"Iya. Dan saat aku cek kesana, ternyata disana tidak ada siapapun."
"Ahh, Kak.. tempat itu memang terkenal angker. Tahu nggak kalau tiap malam sesuai dengan kesaksian para Satpam disana seringkali terdengar suara teriakan perempuan minta tolong? Selain itu, kadang-kadang disana terdengar suara benda jatuh, kursi yang bergerak sendiri, lampu yang berkedip-kedip, dan masih banyak lagi." Kata Thea menjelaskan.
"Hmm.. Kok bisa gitu? Itu sudah mulai kapan dihantui? Bisa jadi orang iseng kan?"
"Ihh, bukanlah. Ini beneran hantu kok. Konon sekitar 10 tahun yang lalu katanya orang-orang sana bilang jika terdapat siswa yang bunuh diri karena dibully oleh teman-temannya sendiri. Dia meninggal secara tidak tenang karena juga meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang terlilit utang yang cukup banyak. Karena itulah dirinya bergentayangan disana." Kata Thea dengan ekspresi serius. Namun meskipun ekspresinya terlihat tegang, dia tetap imut.
“Hmm.. 10 tahun yang lalu. Begitu ya.” Kata Dias yang manggut-manggut kemudian menenggak segelas air di depannya. Setelah dia selesai makan, dia segera mencuci piringnya sendiri dan meletakkannya ke rak piring.
“Theaa, aku berangkat duluan,” Ucap Dias sambil membuka pintu rumah.
“Ahh, aku bareng dongg.” Balas Thea kemudian berlari menyusul Dias.
Ketika di jalan, entah mengapa hari ini banyak sekali orang-orang yang menyapa Thea. Baik yang tua atau pun muda, baik murid dari akademi atau pun bukan, seakan-akan Thea telah menjadi seorang artis muda yang sedang naik daun.
“Dik Thea!” Sapa salah satu Ibu-ibu yang berjualan gorengan dipinggir jalan. Dia mengayunkan tangannya dan memanggilnya untuk datang mendekat. Thea tersenyum dan mereka berdua pun datang mendekatinya. Setelah itu tiba-tiba saja mereka diberi gorengan gratis yang masih hangat dari penggorengan.
“Wah.. Terima kasih, bu. Maaf ngerepotin.” Ucap Thea setelah menerimanya.
“Ahh, nggak kok.. Justru aku yang harus berterima kasih karena sudah menyembuhkan anakku yang jatuh dari pohon kemarin.” Balas Ibu itu ramah. Setelah itu, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke akademi.
Selama perjalanan, mereka berdua berpapasan dengan Tedy yang membawa sepedanya ke sekolah dengan ugal-ugalan.
“Heyy bro.. Numpang nggak?” Ucap Tedy sambil mengayuh pelan untuk mengimbangi kecepatan mereka berdua. Setelah itu, Tedy melihat ke arah Thea dengan ekspresi terkejut.
“Huwaa!!”
“Kau kenapa sih?” Balas Dias risih.
“Di-dia adikmu?”
“Iya, emang kenapa?” Balas Dias yang keheranan dengan tingkah Tedy. Setelah itu, Tedy turun dari sepedanya dan ikut berjalan kaki bersama mereka berdua.
“Ehm, namaku Tedy. Salam kenal ya.” Kata Tedy yang tersenyum ramah ke arah Thea.
Mendengar Tedy memperkenalkan diri, Thea berbalik tersenyum ke arahnya dan memperkenalkan dirinya sendiri, “Iya, namaku Thea. Salam kenal juga.” Balasnya.
__ADS_1
“Uhkk!!” Tedy hampir pingsan karena terkena serangan jantung setelah melihat senyuman Thea. Tedy memegangi dadanya yang sakit dan mengatur nafasnya kembali. Thea malah jadi bingung sendiri melihat tingkahnya yang aneh.
“Kamu kenapa sih?” Kata Dias yang mulai jengkel dengan tingkah Tedy.
“Hah, kau tidak tahu ya?” Ujar Tedy. Setelah itu, Tedy membisikkan sesuatu kepada Dias yang akhirnya juga membuat kaget dirinya.
“Hah, primadona!?” Pekik Dias.
“Ssssstt.. Jangan teriak-teriak b*goo,” kata Tedy sambil meletakkan telunjuknya di depan mulut Dias hingga menempel.
“Cuihh, asin b*goo,” balas dias yang menggosok-gosokkan mulutnya dengan tangannya.
Tidak lama kemudian, salah satu teman Thea menyapanya dari jauh. Akhirnya Thea terpaksa harus berpisah dan lebih memilih untuk pergi ke sekolah bersama dengan temannya itu.
“Kakak, aku duluan ya. Temanku sudah menunggu disana.” Kata Thea sambil memberikan gorengan kepada mereka berdua untuk di makan di jalan.
“Oh iya, hati-hati.” balas Dias. Setelah itu, Thea berlari meninggalkan mereka berdua.
Dias kembali memperhatikan Tedy yang masih berbunga-bunga setelah diberi gorengan.
“Jadi, bagaimana bisa dirinya menjadi primadona di sekolah ini?” Selidik Dias. Namun Tedy menghiraukan Dias dan masih memandangi gorengan itu dengan mata yang berbinar-binar.
Tiba-tiba saja Dias merebut gorengan yang dipegang Tedy dan langsung memakannya hanya dalam satu kali suapan.
“Happ, nyam, nyam, nyam..”
“Heiii.. Apa yang kau lakukan!” Ucap Tedy dengan ekspresi jengkel.
“Ceritakan dulu padaku seperti apakah Thea kalau di sekolah.” Tanyanya.
“Hah!! kan sudah kau makan punyaku, dodol!” Kata Tedy yang kesal dengan tingkah Dias. “Yah, biarlah.. yang namanya sudah menghilang maka tidak akan pernah kembali.” Lanjut Tedy Pasrah. Setelah itu, Tedy mencoba menceritakan sedikit mengenai Thea selama di sekolah.
“Thea terkenal karena sifatnya yang sangat baik, dan juga sangat cantik. Tiap-tiap ada orang yang kesulitan, dia pasti akan membantu orang tersebut dengan ikhlas dan senyumnya yang khas membuat siapapun yang melihatnya jadi sulit bernafas. Dia bagai dewi penyembuh yang di tiap langkahnya membawakan kedamaian. pasti akan disembuhkan. Tidak ada satu pun orang yang tidak mengenal adikmu ini di sekolah."
‘Hmm? Kok kayak kau lebih-lebih kan gitu, emang bener?” Balas Dias yang tidak percaya dengan ucapan Tedy.
“Iyaaaa, kamu nggak pernah baca koran kah? Saat terjadi kecelakaan besar di tengah kota yang mana sebuah bangunan ambruk menimpa orang-orang disana? Thea yang kebetulan lewat disana langsung bergerak menyembuhkan seluruh orang tanpa pandang bulu!" Lanjut Tedy dengan bersemangat.
"Hmm, begitu ya." Balas Dias yang kemudian dia menyodorkan gorengan kepadanya yang tadinya diberikan oleh Thea.
"Oke, Thanks.." Balas Teddy.
__ADS_1
Sesampainya di gerbang sekolah, mereka melihat Lily bersama dengan Halvar yang sedang berdiskusi dengan Pak Horus si Satpam. Dia terlihat gelisah, melirik ke kanan kiri, melipat tangan sambil menggigit jari-jarinya.
Dias sebenarnya penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka diskusikan. Namun karena kejadian yang kemarin, akhirnya dia lebih memilih untuk menghindarinya.
"Ting-Tong! Ting-Tong!" Denting suara bel sekolah berbunyi, menandakan semua murid harus masuk ke kelasnya masing-masing.
Dias duduk di bangkunya seperti biasa dengan mata yang masih penuh selidik karena harus mengecek satu-persatu tiap-tiap orang yang dicurigai menjadi pelaku penculikan.
Tidak lama setelah itu, Lily Obeyron, Sang Putri itu datang dan duduk di tempatnya dengan perasaan gelisah.
Dias yang memperhatikannya jadi merasa bersalah, karena bisa jadi dirinya gelisah disebabkan oleh dirinya yang sudah memukul Halvar, pengawalnya hingga pingsan kemarin. Dias meminta maaf kepada Lily dengan cara memberikan kertas yang berisikan permintaan maaf.
Lily yang membuka kertas permintaan maaf itu malah kebingungan dan mengira jika Dias telah salah paham kepadanya. Lagipula, bagaimana dirinya bisa kepikiran menggunakan cara sekuno ini untuk meminta maaf? Namun setidaknya dengan cara ini Lily tidak akan berfikiran jika Dias adalah orang jahat yang menindas orang-orang yang lebih lemah darinya.
Dias memperhatikan Lily lekat-lekat. Ternyata, pita yang digunakannya untuk mengikat sebagian rambutnya sama persis seperti pita yang dia temukan di ruang seni. Dias segera mengeluarkan pita itu dari dalam sakunya dan memperhatikannya.
"Sama persis?" Kata Dias.
Lily yang melihat pita merah milik adiknya yang di pegang oleh Dias langsung kaget dan membuatnya berdiri. Lily melotot tidak percaya dengan apa yang di bawa oleh Dias. Dia berfikir keras, bagaimana mungkin pita milik adiknya menghilang, bersamaan dengan adiknya yang juga ikut hilang sejak kemarin.
Semua orang memperhatikan Lily yang berdiri secara tiba-tiba dan memperhatikan Dias dengan tajam. Lily yang tersadar karena diperhatikan oleh orang banyak, akhirnya kembali duduk dan mengendalikan emosinya kembali.
Tidak lama kemudian, seorang guru baru datang memasuki kelas dan memperkenalkan dirinya.
"Hallo semuanya, Saya Pak Sata, dan hari ini saya menggantikan Pak Fafa untuk mengisi materi kali ini." Ucapnya. Pak Sata adalah guru baru yang baru saja bergabung di Akademi ini sekitar 1 bulan yang lalu. Dia adalah guru terbaik yang mengajarkan seni rupa di kelasnya. Namun dia juga bisa menguasai materi-materi lainnya dengan mudah karena bakat yang dimilikinya.
"Karena Pak Fafa sedang tidak enak badan, akhirnya dia menyerahkan kelas ini pada Saya." Lanjutnya sambil tersenyum ramah.
"ClairVoyant!" Sekali lagi Dias mengaktifkan sihirnya, dan kali ini benar-benar ketemu. Setelah dia memperhatikan Pak Sata yang sedang perkenalan di depan, nama Sata bukanlah nama aslinya. Selain itu, dalam statusnya sendiri sudah tertulis jelas jika dia adalah pemuja iblis.
Name : Dara Mughti
Class : Druid
Lv : 54
Job : Teacher, Hunter, Devil Worshiper (Pemuja Iblis).
Namun meskipun dia sudah jelas adalah tersangka dari hilangnya para murid di sekolah ini, gelagatnya tidak menunjukkan seperti seorang penjahat. Dia mengajar muridnya dengan baik. Setiap materi yang dia jelaskan kepada mereka langsung dapat dipahami dengan baik.
****
__ADS_1