Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 47 : Agresi Kerajaan Farnesse


__ADS_3

‘Dimana aku?’ ucap Dias sambil melihat ke sekitar yang mana disekelilingnya sangatlah gelap. Tidak lama kemudian, dia melihat siluet wanita yang sedang memunggunginya. Dan disamping wanita itu juga ada lelaki yang mendampinginya sambil bercanda ria dengan semangat.


‘’Mama? Papa? Apakah itu kalian?’’ Kata Dias yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 


Mendengar suara itu, kedua orang itu menoleh. 


‘’Mama, Papa!!’’ Teriak Dias sambil berlari ke arah mereka berdua untuk melepas rasa rindu.


‘’Klek.. gludungg..’’ Tiba-tiba saja kepala mereka berdua lepas dan menggelinding ke tanah. 


Dias berhenti sejenak sambil mengamati kepala ayahnya yang menggelinding ke arahnya. Kepala itu kemudian menoleh dan tersenyum mengerikan.


Alih-alih berteriak ketakutan, dia malah mengambil kepala itu dan memeluknya dengan erat. 


‘’Papa!!’’ ucap Dias sambil meringis.


Tiba-tiba kedua badan tanpa kepala itu mulai bergerak sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah Dias. Mereka bergerak sempoyongan layaknya zombie.


‘’Srakk!!’’


‘’Aaaarrrghh!!’’ Dias terbangun dari tidurnya dengan teriakan histeris setelah melihat pedang panjang itu akan menebas tubuhnya. Dia segera meraba-raba tubuhnya untuk mengetahui kondisinya, namun tidak ada luka sama sekali. Dia melihat ke sekeliling, dan ternyata dia sedang berada di ruang istirahat.


‘’Kakak? Kakak kenapa?’’ Tanya Thea.


‘’Aku, aku bermimpi aneh sekali..’’ balasnya.


‘’Ka-Kakak menangis?’’ Tanya Thea yang menyaksikan sendiri air mata Kakaknya menetes. Dias sepertinya mulai merindukan kembali kedua orang tuanya meskipun mimpinya tidak sesuai dengan keinginannya. 


‘’Ah.. Kau benar,’’ dengan segera, Dias menyeka air matanya.


Tok-tok-tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar. 


‘’Permisi, tuan dan nyonya, sarapannya sudah siap, tolong bukakan pintunya,’’ ucap suara perempuan yang ada dibalik pintu tersebut. Dias segera mengontrol kembali ekspresi wajahnya supaya terlihat seperti biasanya.


Thea segera beranjak dari tempat tidur Kakaknya dan segera membukakan pintu.


‘’Silahkan masuk,’’ kata Thea mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam. Gadis itu berpakaian pelayan sambil membawa meja geser yang di atasnya sudah tersedia makanan-makanan.  


Pelayan yang bernama Lizbeth itu segera meletakkan makanan-makanan itu ke atas dipan.


‘’Ah iya, sebelumnya terimakasih karena telah menyelamatkan Tuan Putri kami. Kami tidak menyangka jika kedatangan kalian membawakan keberuntungan bagi kami. Kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak datang,’’ Ucap Lizbeth sambil menundukkan kepalanya.  


‘’Ng-nggak apa-apa kok, jangan terlalu sungkan, hehe,’’ ucap Thea. 


‘’Baiklah, kemudian bagaimana keadaan Kerajaan sekarang?’’ Tanya Dias dengan serius.


‘’Setelah kejadian kemarin, para pendemo sudah tidak lagi melakukan kerusuhan dan kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Namun, keamanan tetap harus diperketat agar tidak terjadi kejadian seperti kemarin.


‘’Kemudian keadaan Tuan Putri saat ini baik-baik saja. Tidak perlu merisaukan beliau.


‘’Selain itu, Kerajaan juga mulai memperkuat kekuatan militernya karena kehendak dari Dewi kita sebelumnya. Persiapan sangat dibutuhkan untuk menghadapi ancaman mendatang. 


‘’Dan juga maaf Sang Raja dan Sang Ratu saat ini tidak bisa menemui kalian, karena masih sangat sibuk sekali. Mereka masih harus mengurus banyak hal. Mulai dari perencanaan, memenuhi permintaan-permintaan rakyat, memperbaiki undang-undang ras Elf, dan masih banyak lagi.’’


‘’Ohh, begitu. Baiklah.. Kalau begitu setelah ini kami akan segera pulang, karena masih banyak yang harus kami lakukan.’’ Ucap Dias.


‘’Baiklah, Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu.’’ Ucap Lizbeth, kemudian angkat kaki dan pergi meninggalkan tempat itu. 


‘’Kenapa Kak? Kok terburu-buru sekali?’’ Ucap Thea.


‘’Memang harus begitu. Umur bumi sudah tidak lama lagi. Kita harus cepat dan terburu-buru sebelum lenyap karena tidak mempersiapkan diri.’’


Setelah itu, mereka segera menghabiskan sarapan mereka dan kembali pulang ke rumah dengan menggunakan teleportasi.


Zuunggg~.. dalam sekejap, mereka berdua berpindah tempat kembali ke tempat mereka tinggal. 


Namun, saat mereka sampai disana, mereka tidak melihat siapapun. 

__ADS_1


‘’Kemana orang-orang?’’ Tanya Thea sambil mengecek ke tiap-tiap ruangan. Meski mencarinya kemana-mana, dia tidak menemukan siapapun. Akhirnya, dia menemukan surat yang tergeletak di atas meja.


‘’Kakak, ada surat..’’ ucap Thea sambil membawa surat itu ke Kakaknya.


‘’Surat? Hmm..’’


Mereka membuka surat itu bersama. ‘’Dias, Thea, kalian kemana kok ku cari-cari nggak ada? Karena kalian tidak ada di rumah, akhirnya kami memutuskan meninggalkan rumah ini sebentar karena ada misi. Sebenarnya kami ingin mengajak kalian berdua untuk melakukan misi, tapi mau bagaimana lagi.. Kalau begitu jaga rumah baik-baik ya. Bye.. tertanda, Iaros.’’ 


‘’Hmm, kenapa mereka sibuk sekali? Kita sama sekali tidak bisa menghabiskan waktu sebagai keluarga,’’ ucap Thea.


‘’Sepertinya kita tidak waktu untuk itu.’’ Ucap Dias sambil melihat tepat ke depan TV.


‘’Hmm? Apa itu yang dinamakan TV?’’ Tanya Thea yang tiba-tiba tersedia televisi di depan rumahnya. Seketika itu, Dias langsung menyalakan televisi itu dengan remote jarak jauh. 


‘’Seperti yang terjadi kemarin, Raja Farnesse, yakni Raja Julian sudah mulai menyatakan perang kepada Kerajaan Valinor, dan sekarang para pasukan sudah bersiap berada di garis depan pelabuhan Kerajaan Valinor. Mari kita wawancarai salah satu pemimpin dari rencana penghentian invasi pertama, dari guild Valkrie, yaitu Iris Magdalena.’’


‘’Lah, Tante Iris kenapa bisa ada disana?’’ ucap Thea.


‘’Hai, aku Iris Magdalena yang saat ini memimpin pasukan garis depan di pelabuhan.


‘’Baiklah, bisa jelaskan kondisi saat ini? Mengapa banyak prajurit berkumpul di pelabuhan, apa yang akan kita hadapi, dan bagaimana cara menghadapinya?’’


‘’Okey, berdasarkan ultimatum yang baru saja dikeluarkan oleh Kerajaan Farnesse, mereka berencana menyerang secara langsung ke Kerajaan Valinor. 


‘’Oleh karena itulah, kami yang berjumlah sekitar 20 orang penyihir Valkrie akan menghadang serangan mereka semua. Mengingat mereka berada di sebelah Barat Kerajaan ini, pasti mereka akan melalui jalur pelabuhan.


‘’Oleh karena itulah, kami mengumpulkan penyihir berelemen air untuk saling bekerja sama menghentikan serangan mereka semua dengan cara menggulingkan kapal-kapal mereka semua,’’ jelasnya.


‘’Ohh, lantas bagaimana jika lawan menggunakan sihir terbang?’’ 


‘’Kalau itu sudah kami persiapkan juga ahli panah kami yang berasal dari suku elf. Dia yang sedang berdiri dipojokan sana.’’


‘’Iris!! Aku rindu, aku rinduuu!!’’ Teriak Demtry yang sedang ditahan oleh kedua temannya agar tidak menerjang Iris yang sedang melakukan wawancara.


‘’Wah, agresif sekali ya. Tapi jika hanya satu orang itu apa cukup?’’ tanya si Pewawancara dengan perasaan ragu. 


‘’Tenang saja. Kau bisa percayakan segala serangan yang ada di udara kepadanya,’’ kata Iris percaya diri.


Dias tidak terlalu terkejut, karena sudah pasti jika ramalan-ramalan yang sudah diprediksikan oleh Dewi Clairvoyant dan ramalan milik ketua Griamore sudah pasti akan terjadi. Namun dia sebenarnya juga tidak menyangka jika terjadi secepat ini. 


‘’Ngiiik.. brffff..’’ Tiba-tiba terdengar suara kuda dari luar.


‘’Halo.. Dias, Thea.. Apa kalian ada di dalam?’’ ucap suara perempuan yang tidak asing di telinga Dias. Thea segera membukakan pintu itu


‘’Dias, Thea, kenapa kalian masih belum evakuasi?’’ Tanya Franca yang heran dengan mereka berdua.


‘’Evakuasi?’’ evakuasi kemana?’’


‘’Yaelah, harusnya sudah sehari yang lalu kalian sudah evakuasi. Kenapa kalian masih disini?’’ ucapnya dengan terburu-buru. ‘’Sudahlah, sekarang kalian segera evakuasi dari sini. Mereka semua sudah dievakuasi ke Istana Kerajaan Valinor bersama dengan yang lainnya. 


‘’Baiklah, ayo Kak,’’ ajak Thea. Dias segera berdiri dan mengambil senjatanya yang ada dipojokan. 


‘’Thea, kamu juga bawa ini buat jaga-jaga,’’ ucap Dias sambil membawakan tongkat sihirnya. Thea segera menerimanya dan segera keluar dari rumah tersebut. 


Sementara itu, beberapa prajurit Kerajaan juga ikut bergabung ke daerah pelabuhan untuk menghadang semua gempuran serangan musuh. Ada sekitar 50 orang prajurit yang datang kesana.


Tapi setelah ditunggu-tunggu selama beberapa jam, keadaan sangatlah aman dan tidak ada tanda-tanda kehadiran musuh. 


‘’Demitry, apa sudah ada tanda-tanda dari musuh?’’


‘’Bentar,’’ Demitry mengaktifkan penglihatannya yang bisa melihat dari jarak radius 100 Km jauhnya. Namun sejauh mata memandang, dia tidak melihat apapun. 


‘’Kosong,’’ ucap Demitry. 


‘’Hmm, sudah sore hari tapi mereka tidak muncul-muncul. Apa mungkin mereka akan menyerang di malam hari?’’ gumam Iris. 


Kembali ke Dias dan Thea. Franca menawari tumpangan dengan menggunakan kedua beruangnya supaya cepat sampai tujuan. 

__ADS_1


‘’Ayo segera naik..’’ ucap Franca.


Namun, sebelum mereka naik, tiba-tiba ada lingkaran sihir yang sangat besar muncul diatas lantai tepat di depan mereka. 


‘’Ini, teleportation!?’’


‘’Gawat! Cepat kalian berdua pergi dari sini!’’ Ucap Franca. Thea dan Dias sudah menumpangi beruang itu dan mulai berlari. Franca sendiri mengeluarkan burungnya dan mengirimkan sebuah pesan ke baris depan.


‘’Zunggg..’’ Lingkaran sihir itu megeluarkan cahaya bewarna merah. Dias dan Thea menoleh ke belakang dan serasa tidak asing dengan lingkaran sihir tersebut. 


‘’Itu.. bukannya sihir milik Maine?’’ gumam Dias.


Beberapa detik kemudian, 12 orang tiba-tiba muncul dari lingkaran sihir tersebut. Dengan menggunakan lambang Naga bewarna hitam yang sudah dimodifikasi ulang, sudah jelas jika mereka semua adalah pasukan dari Kerajaan Farnesse. 


‘’Permisi, kami dari Pasukan Kerajaan Farnesse numpang lewat. Hehe,’’ ucap lelaki berkulit hitam yang membawa kapak besar di tangannya. 


‘’Loh, kok sepi? Kemana semua ini?’’ ucap nya lagi sambil memperhatikan kesekeliling. Dia hanya melihat perempuan berambut coklat yang sedang menumpangi kuda miliknya. Sedangkan dari jauh, dia melihat dua orang sedang kabur menjauh dari sana. 


Franca terkejut dan langsung mengeluarkan monster-monster miliknya.


‘’Summon.. !!’’ Dari dalam tanah, muncul elang raksasa, beruang raksasa, dan manusia berkepala banteng.


‘’Serang mereka!’’ Teriak Franca. Elang itu terbang sangat tinggi, sedangkan beruang itu langsung menyerang dari depan, dan manusia berkepala banteng itu menjaga Franca.


‘’Hadeh, yakin mau menahan kami sendirian?’’ ucap lelaki itu lagi. 


‘’Baiklah, aku serahkan disini pada kalian, aku akan mengejar kedua bocah itu,’’ ucap lelaki berambut reggae dengan tubuh besar dan berotot itu. 


‘’Baik Paduka Raja,’’ ucap semua anak buahnya. Lelaki itu segera melesat ke arah Dias dan Thea. Dias yang menyadari hal itu menarik sarung pedangnya dan menangkis serangan tiba-tiba dari lelaki itu. 


‘’Trangg!! Braaakkk!!’’ Kedua pedang itu saling bertabrakan dengan sangat keras. Namun beruang yang ditumpangi oleh Dias tidak bisa menahan berat yang ditimbulkan kedua benturan itu, hingga membuat beruang itu pingsan. 


‘’Kau!!’’ Dias melotot ketika kedua mata mereka bertemu.


‘’Kau merindukanku ya? bocah kecil? Hehe,’’ ucap Lelaki itu lagi yang tidak lain adalah Julian, orang yang membunuh kedua orang tua Dias dan mengambil alih kerajaan miliknya. 


‘’Sial!!’’ Dias segera mengeluarkan sihir peledak andalannya.


‘’Blarr, blarr!!’’ Julian segera mundur ambil jarak dari ledakan Dias. Tapi Dias langsung mengejarnya dengan sangat cepat seakan-akan sudah kehilangan akalnya. 


‘’Trangg!!’’ Sekali lagi, pedang mereka berdua berbenturan.


‘’Wow, wow, santai dulu, hahahaha,’’ Julian menikmati ekspresi Dias yang penuh dendam. Julian merasa gemas sendiri, apalagi serangan Dias yang tidak terkontrol dengan baik membuatnya menjadi penuh celah dan tentu saja dia dapat dengan mudah menyerang balik. 


‘’Bukk!!’’ Julian menendang lelaki itu dengan kuat. Tapi tidak ada waktu bagi Dias untuk tersungkur dan kembali menerjang Julian dari depan.


‘’Heaaaahhh!!’’ 


 ‘’Bodoh sekali anak ini, malah menyerang membabi buta seperti itu,’’ ucap Julian. Dia langsung menendang Dias kembali sama seperti tadi.


‘’Bruakk!!’’ Kali ini tubuhnya membentur pohon besar dekat sana.


‘’Hahahaha, aku tahu jika kau sedendam itu padaku, tapi aku tidak menyangka jika kau sebodoh itu. Apa dendammu sama besarnya dengan kebodohanmu? Hahahaha,’’ ucap Julian.


‘’Heal!!’’ Thea ikut membantu menyembuhkan Kakaknya dari jauh. 


‘’Kakaaak!!’’ Teriak Thea dengan sangat keras. 


Dias melirik ke arah Thea sejenak. 


Sorotan matanya seolah-olah mengatakan bahwa cobalah bertarung dengan lebih tenang. Dias memahaminya dan mencoba mengontrol kembali emosinya. Dia kembali berdiri dan memasang kuda-kuda gaya berpedang ala Valinor. 


‘’Hmm, kubunuh sekarang atau nanti? Hmm, tapi kalau ku bunuh sekarang nantinya jadi membosankan,’’ gumam Julian. 


‘’Clairvoyant!!’’ Dias mengaktifkan kemampuan matanya. 


‘’Mata itu.. Wah, sepertinya kau sudah besar rupanya,’’ ucap Julian sambil memposisikan pedangnya kesamping. Dia tahu jika kemampuan mata itu dapat memprediksi gerakan lawan sehingga dia menjadi lebih waspada. 

__ADS_1


‘’Bunuh saja dia, dia adalah ancaman bagi ras kami,’’ ucap Iblis yang bersemayam di dalam tubuh Julian. 


‘’Terserah aku lah, aku yang memimpin disini,’’ Ucapnya. Pedangnya tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap hingga mengeluarkan aura yang mengerikan. Rerumputan hijau yang mengelilinginya langsung layu seketika bersentuhan dengan aura itu. 


__ADS_2