Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 35 : Kerusuhan di Kerajaan Rifendel


__ADS_3

*Esoknya..


“Oke, Thea kau juga ikut ya. Tenang saja, Aku pasti akan menjagamu dan juga Dias. Sekalian aku juga ingin melihat perkembangan kalian berdua sudah sejauh mana.”


“Benarkah Thea boleh ikut?” ucap Thea tidak percaya karena selama ini dia selalu saja harus sekolah dan menjaga rumah.


“Iya boleh..”


“Hiyey!!” Thea kegirangan melompat-lompat di ruang tamu.


Akhirnya, di pagi itu mereka bersiap dan berangkat. Yang menuju ke Menara Dungeon kali ini hanyalah Iaros, Thea dan Dias. Sedangkan Iris di rumah saja karena katanya mau istirahat. 


Mereka bertiga membawa peralatan bertahan hidup mereka masing-masing. Iaros membawa pedangnya yang disarungkan di belakang punggungnya, sedangkan Dias menyarungkan pedangnya di pinggang kirinya. Kemudian Thea sendiri membawa tongkat sihir yang bisa meningkatkan kekuatan sihirnya. Tongkat sihir itu dipinjamkan oleh Iris mumpung menganggur. 


“Tolong jaga baik-baik mereka berdua,” ucap Iris sambil menatap Iaros tajam.


“Tenang saja, mereka akan selalu dalam perlindunganku,” balas Iaros sambil melambaikan tangannya pada Iris, dan melangkah menjauh dari pintu rumah. 


“Dah, tante Iris!” ucap Thea yang bersemangat sambil melambaikan tangannya.


“Kami permisi dulu.” Begitu pula dengan Dias sambil menundukkan wajahnya, kemudian berbalik pergi.


“Iya, hati-hati!!” 


Mereka pun berjalan ke arah Akademi Raftel, tepatnya ke arah menara Dungeon yang ada di tengah-tengah akademi Raftel. Mereka sudah dapat melihat menara itu dari jauh, karena menara itu sangatlah tinggi.


*Sementara itu, Kerajaan Rifendel


Dias mengamati keadaan di sekitar selama perjalanan. “Hmm, heran banget. Padahal di Akademi Raftel banyak sekali monster yang bermunculan, tapi mengapa penduduk sekitar terlihat tenang-tenang saja dan melakukan aktivitas seperti biasanya?”


“Dias, mereka melakukan rutinitas mereka masing-masing karena suatu alasan. Entah karena butuh duit, butuh rumah, atau pun butuh interaksi kepada sesama. Mereka melakukan itu karena beberapa kebutuhannya yang harus dipenuhi. Lagipula monster yang bermunculan di akademi tidak terlalu kuat, karena ini masih 3 hari pertama sejak kebangkitan menara itu. Monster-monster akan bertambah semakin buat jika kita biarkan. Makanya, kita harus menyelesaikannya,” Jelas Iaros.


“Hmm..” Dias mencoba berpikir keras.


Setelah lama berjalan dan berfikir keras, mereka bertiga pun sampai di depan gerbang Akademi Raftel. Disana, mereka bertiga sudah ditunggu oleh Rian dan Ruky yang sedang berbicara dengan Pak Gala, kepala sekolah dari Akademi Raftel. 


"Ah, sudah datang rupanya," ucap Pak Gala sambil tersenyum ramah. Setelah itu, Pak Gala menjabat tangan Iaros dan memperkenalkan namanya. 


"Saya Gala, kepala sekolah dari akademi Raftel ini. Saya ucapkan Terima kasih atas kedatangannya ya, Tuan Iaros. Hohoho, saya sudah dengar berita tentang Anda yang merupakan Petualang kelas S."


"Iya iya, sudah cukup basa-basinya. Siapa saja yang ikut masuk ke dungeon bersama kami?" Tanya Iaros pada mereka bertiga. 


"Pak Ruky tentunya pasti akan ikut atas saran dari Pak Rian.”


“Hallo, nama Saya Ruky. Wakil kepala sekolah Akademi Raftel. Salam kenal,” ucap Ruky sambil menjabat tangan Iaros. 


“Baiklah, selain dia apa ada lagi?” tanya Iaros.

__ADS_1


“Tidak ada. Kami lebih baik membawa orang seminimal mungkin supaya tidak terlalu membebankan Anda pada saat menyelesaikan misi. Saya tahu seberapa kuat Anda berdasarkan rumor-rumor yang beredar,” ucap Pak Gala.


“Kalau begitu, kita langsung berangkat.” ajak Iaros tanpa basa-basi.


Mereka berempat langsung melangkah ke arah dimana pintu masuk menara itu berada.


Namun tanpa mereka sadari, sebenarnya ada seseorang yang membuntuti mereka dari jauh. Iaros juga sadar, hanya saja tidak dia pedulikan karena tidak membahayakan. 


“Bagaimanapun caranya, aku harus ikut mereka,” ucap perempuan yang sedang bersembunyi di balik tembok sambil mengamati party yang dibuat oleh Iaros. Hanya saja, disana ada ayahnya yang pasti tidak membolehkan dirinya untuk ikut masuk ke dalam Dungeon itu.


“Transform.. black cat form!!” tiba-tiba wanita itu berubah menjadi kucing imut bewarna hitam dengan pita di ekornya. Dengan demikian, Bapak paruh baya yang sedang berbicara dengan Pak Kepala Sekolah itu tidak akan sadar dengan keberadaan dirinya. Setelah itu dia segera melompati pagar dan mengejar kelompok Iaros. 


“Miaaoowww..” teriak kucing itu memanggil-manggil tim Iaros. Mereka berempat langsung menoleh ke belakang. 


“Wahh, ada kucing!!” ucap Thea dengan mata yang berbinar-binar melihat kucing imut itu menggeliat di depannya. Iaros mengamatinya dengan seksama dan langsung tahu jika dia adalah Blaire.


“Hah, nambah beban lagi nih,” dengus Iaros kesal sebagai tanda jika dia membiarkan kucing itu mengikutinya. 


“ClairVoyant!!” Dias yang juga penasaran dengan kucing yang tidak biasa itu langsung menggunakan kemampuannya.


“Blaire?” Batin Dias setelah membaca status yang dimiliki oleh kucing itu.


“Fyuiittt..” Setelah itu, Iaros memanggil burung merpati dengan siulannya dan dengan sekejap burung itu datang. Iaros menuliskan pesan di atas secarik kertas, kemudian di gulung dan diikatkan pada kaki burung itu. Setelah itu ia biarkan burung itu terbang. 


“Baiklah, mari kita masuk,” perintah Iaros.


“Kau yakin Paman?” tanya Dias pada Iaros sambil melirik ke arah kucing itu yang merasa jika ini terlalu berbahaya bagi Blaire yang lemah. 


“Kucing imutt.. hehe..” Thea menggendong Blaire dan ikut masuk ke dalam.


“Hah, kalau terjadi apa-apa aku nggak tanggung jawab,” ucap Dias yang juga melangkah masuk ke dalam. 


Barulah kemudian disusul oleh Pak Ruky yang terakhir masuk. “Semoga Dewa Apollo melindungi kami,” ucapnya.


*Sementara itu..


Kerajaan Rifendell (Elf)


“Tolak manusia! batalkan semua kerja sama yang berhubungan dengan ras manusia!!” teriak salah satu orang di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berdemo di depan Istana Kerajaan Rifendell.


“Benar!! Benar!!” Teriak yang lain menanggapi pidato yang dilayangkan oleh Sang Narator. Mereka semua terlihat marah dan berkumpul di tengah-tengah jalan, hingga menutup akses menuju ke arah Istana Kerajaan. Mereka semua geram karena kelakuan para Manusia yang sudah berkontrak dengan Iblis dan menciptakan kekacauan dimana-mana, termasuk kejadian di Akademi Raftel yang tidak termaafkan. 


“Manusia sudah tidak dapat dipercaya lagi! Mereka adalah makhluk angkuh nan rakus yang berperan sebagai perusak bagi alam ini, dan ancaman bagi penerus kita semua!!”


“Benar!! Benar!!” sekali lagi, sang Narator membakar amarah para demonstran hingga gema suara terdengar sangat jelas masuk ke dalam Istana Kerajaan. Ada ratusan orang yang demo di jalan tanpa ricuh. Namun, itu hanya untuk sementara waktu.


“Sang Raja, bagaimana ini?” ucap Perdana Menteri miliknya yang sedang kebingungan di dalam Aula Istana. 

__ADS_1


“Jelaskan keadaannya,” balas Raja Obeyron singkat.


“Sekitar 300 orang sedang berdemo di depan Kerajaan Rifendell dan menuntut untuk membatalkan kerja sama dengan semua hal yang berhubungan dengan manusia. Mereka ingin agar tidak berhubungan dengan manusia lagi dan hidup sendiri-sendiri. Selain itu, ini masih 1 hari dan sudah terkumpul orang sebanyak itu. Mereka sempat berkata jika sang Raja sama sekali tidak mengambil keputusan, maka mereka akan tetap disana kapan pun. Kemungkinan, esoknya pasti akan lebih banyak lagi para pendemo yang berdatangan. Bagaimana ini, Sang Raja?”


“Tenanglah, apa duta perwakilan Kerajaan Valinor sudah datang kemari?”


“Sepertinya dia akan datang besoknya.”


“Baiklah, untuk meredam kemarahan rakyat, bagaimana jika kausuruh satu perwakilan dari mereka untuk maju dan berdiskusi untuk bermusyawarah?” 


“Baiklah, Yang Mulia. Saya permisi dulu,” ucap Perdana Menteri kemudian pergi dari sana. 


“Tuan Putri, jangan pernah keluar dari Istana Kerajaan ini, atau pun menampakkan diri di depan umum, Tuan Putri mengerti?” ucap salah satu pelayan milik Lily yang khawatir akan keadaannya. Karena pada dasarnya keadaan di luar sangatlah berbahaya bagi keluarga Kerajaan. Banyak rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang dilakukan oleh keluarga Lily karena memaksakan diri untuk tetap berdamai dengan manusia. 


Padahal sudah jelas jika manusia itu makhluk serakah dan rakus. Mereka akan mengambil langkah apapun untuk mendapatkan apa  yang mereka inginkan meskipun itu dengan cara kotor sekalipun. 


‘Hmm.. Iya, Aku mengerti,” balas Lily yang juga khawatir dengan keadaan Istana yang tampaknya juga semakin kacau. Dia hanya bisa berdiam diri di kamar sambil mengerjakan PR yang sudah diberikan oleh Bapak Ibu guru selama melakukan pembelajaran dari jarak jauh.


“Tolong panggilkan Halvar,” perintah Lily pada pelayan itu. Sang Pelayan mengangguk dan segera memanggil Halvar yang sedang berjaga di luar pintu kamar. Halvar segera masuk ke 


“Iya Tuan Putri? Ada yang bisa Saya bantu?” Tanya Halvar yang masih berdiri di hadapannya.


“Duduklah, bantu Aku mengerjakan soal-soal ini. Lagipula PR milikmu tidak kamu kerjakan juga kah?” Tawar Lily pada Halvar. 


“Baik Tuan Putri!!”


*Kemudian di kediaman Tedy Ganesha


“Tedy, kurasa ayah besok tidak akan berada di rumah hingga 7 hari ke depan karena ada urusan pekerjaan. Ayah sangat sibuk karena harus meredamkan amarah rakyat Rifendell dan mengembalikan kepercayaan mereka kepada kita (manusia).”


“Lohh, jadi gimana janji Ayah? Katanya mau ajarin aku bergulat?” Ucap Tedy dengan mata penuh kekecewaan.


“yah, itu kan bisa dilakukan nanti. Ini lebih mendesak daripada melatihmu untuk bisa bergulat.”


“Hmm, kalau begitu ajarin aku bergulat sekarang!” Ucap Tedy dengan semangat.


“Ey.. Terus bagaimana dengan pekerjaan rumahmu? sudah kamu kerjakan belum?” 


“Itu urusan nanti, yang penting sekarang aku harus bisa bergulat terlebih dahulu!”


Beberapa detik kemudian, telinga Tedy dijewer dengan kuat oleh lelaki itu. 


“Awww.. awww.. lepaskan!!”


“Aku tahu kalau PR kamu harus dikumpulkan hari ini. Jadi kau harus kerjakan semua PR-mu itu saat ini atau telingamu akan lebar seperti telinga gajah?” 


“Ampunnnn..” teriak Tedy kesakitan. Mendengar hal itu, dia langsung melepaskan jewerannya. 

__ADS_1


“Pintar sekali, anak ayah. Hahahahaha,” pria itu tertawa riang dan sangat terhibur melihat anaknya menderita demi masa depan. 


***


__ADS_2