
“Ada apa ini?” ucap Pak Leo yang datang ke koridor depan kelas ruang seni karena mendengar suara gaduh. Dia datang bersama dengan para Guru yang juga datang karena mendengar keributan.
Dia memperhatikan beberapa siswa yang terluka, termasuk Dias yang sudah membentur dinding dengan sangat keras, bahkan memberikan bekas retakan pada dinding kelas.
“Segera bawa dia ke UKS!” Perintah Pak Leo pada Lily.
“Apa maksud Bapak? Hehe..” ucap Dias yang masih bisa berdiri setelah menghantam tembok tadi. “Kepalaku hanya sedikit pusing karena terbentur tadi.”
Lily membelalak tidak percaya. Seharusnya, siapapun yang terkena serangan keras dan sekuat itu, sudah dapat dipastikan akan langsung mati, atau setidaknya sekarat. Namun, entah mengapa Dias masih bisa berdiri, yah.. meskipun kondisinya tidak terlalu baik juga.
“Baguslah. Dimana orang yang sudah membuat kekacauan ini?” Tanya Pak Leo.
“Disana..” Lily menunjuk ke ruang seni. Pak Leo dengan segera langsung bergegas memasuki ruang seni yang sudah dimasuki oleh Azka.
“Hmm.. sepertinya ada disini deh, coba kita lihat.” Azka mengamati lukisan kambing bersila yang sebelumnya dijadikan tempat untuk melakukan ritual sesat Pemujaan Iblis. Dia meraba-raba lukisan itu, dan tiba-tiba terdapat lingkaran sihir yang merespon sentuhannya.
“Ah, iya.. Ini rupanya.”
“Berhenti disana!” Teriak Pak Leo.
“Wah, ada tamu nih, tapi maaf ya.. aku sudah tidak ada waktu lagi..” Azka tiba-tiba masuk ke dalam lukisan tersebut, seakan-akan tersedot ke dalamnya.
“Dia menghilang?” Ucap Pak Leo, kemudian disusul beberapa Guru yang juga mengikuti Pak Leo sedari tadi.
“Bagaimana, Pak?” Tanya salah satu guru yang berada di dekat Pak Leo.
Pak Leo segera mendekati lukisan yang tadinya diraba oleh Iblis tadi. “Tadi dia masuk ke dalam lukisan ini.”
“Wah, gawat.. Pak, kita harus segera menghentikannya, jika tidak, sekolah ini akan hancur!” teriak Pak Ruky yang merupakan wakil kepala sekolah sedang berdiri di dekat Pak Leo.
“Baiklah, segera buka portal yang menghubungkan ke dimensi lain dari lukisan ini. Ada yang bisa sihir spasial?” tanya Pak Leo. Kemudian Pak Ruky mengajukan diri untuk membuka sihir portal.
“Tapi ini sedikit memakan waktu. Mohon bersabar,” ucap Pak Ruky dan langsung mengucapkan mantra-mantra yang diperlukan untuk membuka portal yang dimaksud.
Sementara itu, Azka sudah sampai di tempat Pemujaan Iblis yang dulu pernah dilakukan oleh Pak Sata dan salah satu temannya. Hanya saja, lingkaran sihir yang sebelumnya dibuat sudah dihilangkan oleh pasukan Kerajaan Rifendell.
__ADS_1
“Hmm.. sangat sayang jika tidak diteruskan.” Akhirnya Azka harus membuat lingkaran sihir yang sangat besar terlebih dahulu dengan menggunakan darahnya. Untung saja dia melakukannya dengan cepat, sehingga dia dapat melakukan ritual selanjutnya.
“O theé daímona.. epétrepsé mou na chrisimopoiíso ti dýnamí sou..” ucap Azka yang menggunakan bahasa yang hanya dimengerti oleh bangsa Iblis. Tidak lama kemudian, cahaya terang muncul dari tempat itu.
“Drrrttt…” Tiba-tiba, seluruh wilayah di sekolah sihir Raftel mengalami goncangan dari dasar bumi.
“Ge-gempa?” ucap salah satu murid yang masih berada di dalam kelasnya sambil mengamati keadaan sekitar. Semua benda yang berada di atas meja bergetar dan jatuh, termasuk cermin yang mengeluarkan suara tidak nyaman dan mengerikan.
“Larii!!” Teriak salah satu murid yang mengawali kepanikan orang-orang disekitarnya.
“Semuanya! Mohon evakuasi dengan tenang! Jangan berdesak-desakan! Mohon pengertiannya!” ucap salah satu guru yang mengarahkan murid-muridnya agar tidak terlalu panik.’
Pak Leo dan beberapa orang yang berada di ruang seni masih menunggu Pak Ruky membukakan portal menuju ke dimensi lain.
“Cepatlah! Sepertinya tidak lama lagi sekolah ini akan rubuh!” desak Pak Leo pada Pak Ruky.
“Iya ini juga sedang diusahakan!! Oke sudah..” Balas pak Ruky setelah memunculkan sebuah portal yang menuju ke tempat Iblis itu tadi masuk.
“Baiklah, ayo masuk..”
“Sebentar! Saya ikut!” Kata Pak Horus yang tadinya dipanggil oleh salah satu murid untuk mengecek keadaan di ruang seni dimana pusat masalah terjadi. Dia berlari dan menghampiri Pak Leo dengan cepat.
“Tapi, Pak?” Ucap salah satu guru yang tadinya ikut membuntuti Pak Leo.
“Sudahlah, Saya tidak ingin kalian ikut, karena bisa jadi kalian malah jadi penghambat, hahaha..” ucap Pak Leo yang tertawa kecil.
Setelah itu, mereka bertiga segera memasuki Portal yang sudah dibuat oleh Pak Wakasek, sedangkan yang lainnya mengikuti ucapan Pak Leo dan memilih untuk membantu proses evakuasi.
Sedikit kekhawatiran muncul pada benah Lily. “Bapak yakin membiarkan Pak Leo dan yang lainnya menghadapi Iblis itu? Dia adalah pembunuh berantai yang sudah membunuh puluhan orang hanya dalam 5 hari loh..” ucap Lily sambil berjalan cepat ke tempat evakuasi bersama dengan yang lain.
“Tenang saja, dia termasuk salah satu yang terkuat diantara kami semua. Justru kalau kami ikut malah hanya akan jadi penghambat dirinya saja,” balas guru tadi yang merupakan teman dekat Pak Leo.
Lily hanya mengangguk dan mencoba percaya dengan apa yang diucapkan guru itu. Termasuk Dias, Halvar, dan Tedy yang juga mencoba percaya padanya.
“Minggir!” Tiba-tiba saja, seorang gadis berambut hitam datang dengan kecepatan penuh mengarah ke portal dimana Iblis tadi berpindah dimensi.
__ADS_1
“Ohookk..!!” Tanpa sengaja, gadis itu menyenggol Tedy hingga terjerembab ke tanah.
Dia segera meloncat ke arah portal itu dan menghilang, masuk ke dalamnya.
“Hah, siapa itu tadi?” Tanya Tedy. Yang lain juga tidak tahu. Yang jelas, dia adalah murid dari sekolah ini karena memakai seragam yang sama dengan mereka.
‘Azka, tunggu aku,’ gumam perempuan yang bernama Blaire tadi dengan ekspresi serius.
“Lihat!” ucap Tedy yang menunjuk ke arah tengah-tengah lapangan. Mereka melihat sebuah lingkaran sihir yang sangat luas itu tiba-tiba muncul dengan cahaya yang bewarna merah memenuhi lapangan yang begitu luas. Terdapat beberapa murid juga sedang bermain sepak bola disana.
Selain itu, keadaan langit dengan cepat langsung berubah drastis. Dari yang awalnya sangat cerah, berubah menjadi mendung berawan, sehingga suasana disana menjadi lebih dingin dan gelap.
“Semuanya! Segera tinggalkan sekolah ini sekarang juga! Ini kondisi darurat!” Suara Speaker sekolah menggema begitu keras, sehingga seisi sekolah mendengar perintah yang singkat dan padat itu. “Tidak perlu ambil tas kalian! langsung saja pergi dari sini!” lanjutnya.
Semua orang berlarian keluar dari gedung sekolah dan berdesak-desakan. Mereka merasa panik, karena baru pertama kali ini melihat keanehan seperti yang terjadi disaat ini. Keanehan-keanehan yang mungkin saja mengancam jiwa mereka.
Sementara itu*
“Itu dia!” ucap Pak Leo sambil menunjuk ke arah Azka yang sedang melakukan tahap akhir dari ritualnya.
“Hm?” Azka menoleh ke arah mereka kemudian tertawa. “Hahahahaha, kenapa kalian lama sekali? Hahahaha..” ucap Azka.
“Zzzztt..” Tiba-tiba saja, Pak Leo sudah berada di hadapan Azka dengan kakinya yang mengeluarkan listrik bewarna kuning mengkilat.
“Kau tidak akan pernah tahu sebelum mencoba,” ucap Pak Leo, dan langsung menendang tepat ke arah kepala Azka.
“Darrr!!” Setelah tendangan itu mendarat, Pak Leo kembali mengambil jarak agar tidak tercounter (kalau dia punya counter).
“Tepat sasaran!” Ucap Ruky yang sedang berdiri jauh dari mereka berdua setelah serangan itu kena.
“Ghehe..” Azka tersenyum, seakan-akan sama sekali tidak terkena damage sama sekali dari tendangan itu. Pak Ruky dan Pak Horus terkejut setelah melihatnya.
“Sudah ku katakan, kan? Kalian sudah terlambat, GHAHAHAHA!!” ucap Sang Iblis itu sambil tertawa.
“Sial!!”
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, Azka mengangkat telapak tangannya, kemudian menghentakkan tangannya ke tanah. “Sikotheíte!!”
Tiba-tiba cahaya sangat terang muncul dari lingkaran sihir itu hingga membuat pandangan mereka terhalangi oleh silaunya sinar itu. Spontan, mereka bertiga menutup matanya.