Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 49 : Serangan Balik


__ADS_3

"Ohghhhkk!!" Dias memuntahkan darah segar.


"Ka-Kak?" 


Pedang itu kembali dicabut oleh pemiliknya.


"Argh!!" Semburan darah semakin deras hingga membuat Dias perih kesakitan.


"Kakak!!" Akhirnya Thea kembali sadar dari lamunannya.


"Bwahahahahaha!! Kau lihat tadi? Si gadis itu malah bengong kaya orang t*l*l! Wahahahaha.." teriak Julian yang kegirangan melihat mereka berdua tersiksa. 


"He--heal!!" Cahaya hijau meliputi Dias karena reaksi saat Thea menggunakan sihirnya. 


Untuk sementara, Fallen menghentikan sihirnya sehingga kedua boneka zombie itu berhenti bergerak. "Ah, maaf tadi. Sepertinya kalian masih belum fokus. Aku akan menunggu kalian hingga sembuh baru lanjutkan pertarungan kita," ucapnya. 


Thea menghiraukan ucapan Fallen dan fokus pada penyembuhan Dias. 


Keadaan mereka berdua kali ini benar-benar gawat. Mereka tidak tahu sedang berada dimana, ditambah dengan di depannya merupakan musuh ayahnya yang kali ini juga musuhnya. 


“Thea..’’ ucap Dias yang lemah terkulai karena luka yang sangat parah.


‘’Kakak, jangan berbicara dulu, nanti lukanya makin parah.” Balas Thea yang sangat fokus pada penyembuhannya. Lambang tidak terbatas miliknya bersinar terang di telapak tangan Thea. 


“Hmm, menarik juga,” ucap Fallen yang mengamati lambang itu dari jauh.


Dalam hitungan 5 menit, Thea dapat menghilangkan luka tusuk itu meskipun memakan waktu yang tidak sebentar. Dias dapat berdiri lagi, begitu pula dengan Thea. 


“Baiklah, anak Muda, apa kalian berdua sudah siap? Kali ini aku tidak akan menyerang kalian dengan tiba-tiba lagi,” ucap Fallen yang berdiri di belakang mayat hidup miliknya.


Thea yang mengamati kedua orang tuanya yang telah dibangkitkan itu merasa sakit dan tidak tega. Dia seakan-akan ingin melarikan diri dari sana, namun itu tidak mungkin. Mau tidak mau dirinya harus melawan Papa dan Mamanya yang sedang dikendalikan. 


“Thea, kau harus menerima kenyataan jika kedua orang tua kita telah mati. Dan yang kau lihat di depan matamu itu hanyalah mayat hidup yang dikendalikan oleh orang itu,” ucap Dias. Tidak ada lagi keraguan di mata Dias. Meskipun dia sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi dia sadar jika dia disaksikan oleh Julian. Dia hanya akan ditertawakan jika bersikap sama seperti Thea.


Thea menguatkan dirinya dan mencoba menghadapinya dengan tegar.


“Baik, Kak..” ucap Thea optimis dengan memegang tongkatnya kuat-kuat. 


“Hmm, jika kalian mengira mereka hanya mayat hidup, maka perkiraan kalian salah. Saya belum memasukkan kepribadian kepada mereka,” ucap Fallen sambil mengarahkan tongkatnya ke arah kedua mayat hidup itu.


“Kepribadian? Bagaimana itu mungkin?” ucap Dias.


“Saksikanlah! Kebangkitan mantan Raja dan Ratu kita, Raja Vyros, dan Ratu Neia!” Tiba-tiba muncul lingkaran sihir di bawah kaki zombie itu.


“Insert! Personality!” seketika, lingkaran sihir itu bersinar sangat terang. Kedua mayat itu berteriak kencang sambil memegangi kepalanya.


Beberapa saat kemudian, kedua mayat itu akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. 


Vyros mengamati seluruh anggota tubuhnya sendiri. Dia tidak percaya jika dirinya bisa hidup lagi. Sama halnya dengan Neia yang berperilaku sama.


Neia menatap Dias dengan tatapan sendu penuh rindu. "Dias, Thea.." Tangannya seakan-akan ingin meraih tubuh kecil itu, tapi dia sendiri merasa tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, karena tubuhnya dikendalikan dari jauh oleh Fallen. 


"Fallen, apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Vyros pada Fallen yang sebelumnya adalah salah satu dari tangan kanannya selain Tobias. 


"Sialan!! Apa yang kau lakukan!?" Teriak Dias.


"Saya sudah mengatakan jika saya akan mengetes Anda bukan?" ucap Fallen. 


"Papa, Mama!!" Teriak Thea.


"Hahahahaha! Pertunjukkan yang bagus! Fallen!" gelegar tawa Julian kegirangan. 


Dias melirik sebentar ke arah Julian, kemudian langsung melesat ke arahnya dengan cepat. 


"Julian!!!"

__ADS_1


Traaangg!! Tebasan itu tertangkis oleh pedang besar milik Vyros yang tiba-tiba melindungi Julian. 


Dias terkejut sekaligus memasang wajah iba ketika pandangan mata mereka bertemu. Dias melangkah mundur dan kembali ke posisi semula. 


"Wahahaha, dan sekarang musuhku telah menjadi budakku.. Fallen, kau memang luar biasa," ucap Julian. 


"Terima kasih, Paduka Raja," balas Fallen. 


Tangan Vyros bergemetar memegang pedangnya. Sebuah keringat dingin mengalir dari dahinya. Dia sama sekali tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan merasa bingung sendiri.


“Ke-kenapa ini?” ucap Neia yang tiba-tiba menodongkan pedangnya ke arah mereka berdua.


“Mama?” gumam Thea yang heran melihat Mamanya sendiri tidak dapat mengendalikan tubuhnya.


“Anakku, cepat menghindar!” lanjutnya. Pedang yang ditodongkan tiba-tiba bersinar bewarna biru yang sangat cerah.


Dias langsung membawa Thea pergi karena tahu apa yang akan dilakukan oleh Neia selanjutnya.


Crrrrrr… Semprotan air yang sangat cepat melesat ke arah mereka berdua. Namun, mereka berhasil menghindar dengan tepat waktu. 


“Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?” Tubuh Neia bergetar karena mencoba menolak sihir yang mengendalikannya, tapi hal itu sia-sia dan dalam keadaan sadar dia berusaha membunuh kedua anaknya. 


Neia berlari ke arah Dias dengan sangat cepat kemudian menebaskan pedangnya.


“Trangg..” kedua pedang saling berbenturan dengan sangat keras. Neia membalikkan tubuhnya kemudian menebas kembali ke arah Dias. Tapi Dias berhasil mengelak dengan menundukkan kepalanya. Tidak berhenti disana, Neia berputar dan menebas dari atas kebawah. Dias berhasil menghindar dengan bergerak ke samping. 


“Awas anakku!” teriak Neia yang mengetahui jika Vyros menyerang Dias dari belakang. Tapi Dias tidak sempat untuk menoleh ke belakang karena gerakan Vyros yang terlalu cepat. 


“Trangg..” Namun Thea tiba-tiba datang dan menangkis serangan itu demi Kakaknya menggunakan tongkatnya. Hanya saja Thea langsung terpental jauh setelah terkena serangan itu. 


“Thea!!” Dias datang menghampiri Thea.


“Aku tidak apa-apa Kak, fokus yang ada di depan Kakak!” Teriak Thea yang meringis kesakitan dengan tangannya yang kesemutan. 


“Salam hormat kepada mantan Raja dari Kerajaan Farnesse. Mohon maaf sang Raja, saya perlu melakukan ini untuk menguji kedua anakmu, sudah sekuat apa mereka sekarang, karena masa depan dunia ini berada di tangan mereka.” Balasnya.


“Omong kosong, Aku tahu kau hanya sekedar ingin membuat kami saling bunuh-membunuh untuk memuaskan kesenanganmu saja bukan?” ucapnya murka. Dia kemudian melirik ke arah Julian dengan tatapan kebencian. Namun berbeda dengan Julian yang menunjukkan raut wajah seringai kegirangan. 


“JULIAAANN!!” Vyros berusaha menggerakkan tubuhnya, namun tetap tidak bisa. Dia hanya bisa berkata-kata tanpa bisa melakukan apa-apa. Tatapan intimidasi milik Vyros tidaklah berguna, dan malah membuat mereka semakin gembira. 


***


Di tengah-tengah lautan, tampak sekelompok orang yang mengendarai monster laut berupa kepiting raksasa dengan kecepatan penuh membelah lautan. Sekelompok orang itu mengarah ke arah Kerajaan Farnesse. 


“Berapa lama lagi kita akan sampai ke Kerajaan Farnesse?” Tanya Iaros yang duduk disana sambil mengasah pedangnya. 


“Sekitar setengah jam lagi,” balas Iris yang berdiri mengamati lautan sekitar.


“Mungkin sebentar lagi kita bertemu dengan armada laut milik mereka,” timpal Halbert. 


“Kau kemana saja kok tidak pernah ke guild?” tanya Dominic dengan nada serius pada Halbert. 


“Hmm? kau lupa ya kalau aku yang di utus untuk mengintai pergerakkan Kerajaan Farnesse? Kau tidak tahu seberapa sulitnya pergi menyelinap ke Kerajaan mereka,” balas Halbert. Sebelumnya, Halbert ditugaskan untuk mengintai dengan 2 orang lainnya yang ikut menggunakan jubah tembus pandang yang dia dapatkan dari dungeon. Selama satu minggu dia disana dan baru bisa kembali sekarang karena penjagaan yang begitu ketat. 


“Ohh, begitu. Aku harap kau dapat mengarahkan kami dengan benar.”


Demitry kemudian berdiri dan mengaktifkan visionnya untuk melihat dari jauh.


“Eagle eye..” Sekejap, mata dengan pupil bewarna hijau itu menyala terang.


“Sekitar 20 Km lagi, kita akan bertemu dengan armada kapal milik mereka. Ada sekitar 30, tidak.. 40 kapal yang menjaga perbatasan mereka.”


“Ba-banyak sekali,” ucap Dominic yang sedikit ragu.


“Banyak sekali. Terakhir kali saat aku disana tidak ada kapal sebanyak itu. Apa kita perlu putar balik dan membawa pasukan yang lebih banyak?” ucap Halbert.

__ADS_1


“Tidak perlu, yang ada kita malah akan menambah korban yang lebih banyak lagi,” balas Iris.


“Terus?”


“Tunggu apa lagi? Tenggelamkan saja mereka,” ucap Iris sambil menyeringai jahat. 


Demitry menyiapkan kuda-kudanya dan mengangkat tangannya ke atas. Sekejap muncul cahaya yang sangat terang di telapak tangannya, kemudian cahaya itu berkumpul membentuk busur panah yang cukup besar. 


Dia kemudian membidik ke arah tengah dimana letak kapal yang sedang berbaris itu berada. Tiba-tiba muncul sinar terang dan berkumpul membentuk anak panah di ujung jarinya saat dia menarik senar panah itu. 


“Light Arrow..” 


Dalam sekejap mata, anak panah menyilaukan nan indah melesat dan menembus 3 kapal besar di depan sana yang padahal berjarak 20 Km itu. Mau tidak mau kapal itu harus karam ditelan lautan di depan sana.


“Sialan, darimana datangnya anak panah itu!” ucap komandan yang memimpin armada kapal laut itu dari di sayap kiri. Dia segera menggunakan teropongnya dan mengamati keadaan di depannya. 


“I-itu..” Dari pengelihatannya, dia melihat seorang pria berdiri di atas kepiting raksasa yang berpose seperti akan memanah lagi. 


“Semuanya! Cepat mundur!” ucapnya. Namun semuanya sudah terlambat. Demitry sudah melepaskan tembakan keduanya tepat ke arah kapal yang dia tumpangi. Sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat dan menghancurkan kapal-kapal yang dilewatinya. 


“Cepat hubungi pusat! Kita diserang!” ucap Komandan yang berada di sayap kanan dengan sedikit histeris. “Semuanya, pasang pelindung di tiap-tiap kapal!” Perintahnya yang langsung direspon oleh anak buahnya yang lain.


“Gila sekali, bagaimana caranya kita menghindari serangan secepat itu..” ucap seseorang yang berdiri disamping Komandan itu dengan keringat yang mengalir deras. 


“Komandan! Sepertinya dia akan memanah lagi,” ucap salah satu prajurit yang mengamati dari jauh menggunakan teropongnya. 


“Barrier! cepat pasang barier!” ucap Komandan itu dengan tergopoh-gopoh. Beberapa penyihir yang berada di tiap-tiap kapal mulai merapalkan mantera dan dengan segera sebuah pelindung tidak kasat mata terbentuk dengan cepat. 


“Semuanya, bersiap menerima benturan!” ucap Komandan itu lagi.


Demitry akhirnya melepaskan anak panahnya hingga melesat dengan kecepatan cahaya. Suara yang sangat keras ikut terdengar nyaring di tengah-tengah lautan.


Anak panah itu siap berbenturan dengan barier yang sudah aktif tersebut.


Syuttt.. Namun ketika anak panah itu berbenturan dengan barier, tiba-tiba anak panah itu menghilang. Mereka dapat bernafas lega ketika garis cahaya kematian itu dapat terhentikan.


“Jangan cepat puas dulu! Siapkan meriam untuk menenggelamkan kapal mereka!” Perintah Komandan.


“Maaf Komandan, mereka tidak menggunakan kapal, melainkan monster lain berjenis kepiting, sehingga akan sulit sekali untuk ditenggelamkan.” ucap anak buah disampingnya. 


“Hah? Kepiting?” 


“Iya Komandan, selain itu mereka datang kemari dengan kecepatan yang tidak masuk akal!” Kata si anak buah itu lagi. 


Tinggal 13 km lagi, kelompok Iaros dan kawan-kawan sampai ke tempat mereka semua berdiri. Untuk sementara waktu, Demitry tidak bisa menyerang mereka karena barier yang dapat menyerap segera jenis sihir bertipe cahaya. 


“Dominic!” Perintah Iris pada Dominic yang sudah bersiap sejak tadi. Dominic segera mengangkat tongkat sihirnya dan merapalkan mantera hingga keluar aura bewarna hitam di sekeliling tubuhnya.


Dark Creation : Shadow Hollow!” Dalam waktu singkat, tercipta ratusan bayangan-bayangan yang menyerupai hantu melayang di atas lautan yang luas, hingga pemandangan disekitar kepiting itu nampak mengerikan. Pasukan Farnesse bergidik ngeri setelah melihat pemandangan itu.


“Komandan! Perintah Komandan!” Teriak si anak buah yang menyadarkan komandannya yang sibuk tercengang setelah melihat penampakan di depannya. Si Komandan segera mengambil alih kesadarannya dan memberikan perintah berikutnya.


“Ba-baiklah.. Ehem.. pasukan bagian belakang segera mundur! Barisan depan akan segera menahan mereka sabisa mungkin! Jangan sampai kita kehilangan prajurit lebih banyak lagi.” ucapnya. 


“Tapi Komandan, kapal barisan depan tidak akan kuat menahan serangan mereka,” ucap Si Anak buah yang membuat Komandannya berfikir lagi.


“Aish, jangan banyak omong. Sebisa mungkin kita harus mencegah mereka agar tidak bisa melewati perbatasan ini. Sembari menunggu bantuan datang, kita harus bisa meminimalisir korban yang ada!” ucapnya.


Si anak buah mengangguk dan segera menjalankan perintah yang diberikannya. 


Kapal-kapal barisan belakang segera memutar kemudinya dan berusaha untuk mundur meninggalkan kapal-kapal barisan depan yang sibuk bertugas sebagai pengalih perhatian. 


Sementara itu, ditempat Raja Julian dan Tobias sedang menikmati tontonannya, salah satu pengikutnya pun datang memberitahukan mengenai masalah yang terjadi saat ini di perbatasan. Ketika mendengarnya, dia tidak terlalu mencemaskannya dan lebih memilih melanjutkan tontonannya. 


“Utus saja perwakilan dari ke-12 kunci kehancuran,” kata Julian dengan santai. 

__ADS_1


__ADS_2