
Secara otomatis, mereka semua diteleportasikan ke suatu ruangan semacam goa yang mana dalam ruangan itu terdapat banyak item-item langka. Tentunya mereka semua tidak akan melewatkan kesempatan itu dan mengambil beberapa harta langka sebagai oleh-oleh di rumahnya masing-masing.
Steve mengeluarkan Mana Potion dan segera meminumnya. Setelah itu dia mengarahkan telapak tangannya ke Cyntia dan membacakan mantra-mantra hingga membuat tubuh Cyntia bersinar terang. Steve memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk mengembalikan tubuh itu kembali seperti semula.
Di sisi lain, Iaros sibuk mencari beberapa armor dan senjata pedang yang langka untuk dirinya. Sedangkan Demitry telah menemukan panah yang cocok untuknya dan mencobanya langsung disana. Sedangkan Franca lebih sibuk lagi, karena dirinya mengumpulkan banyak sekali senjata, armor, atau pun aksesoris lainnya yang sudah dirinya pilih sebelumnya.
"Wah, yang namanya perempuan pasti tidak mengenal batas ya." Ucap Halbert yang menyindir Franca.
"Kau jika tidak tahu apa-apa lebih baik diam." Balas Franca dingin. Dia tidak memedulikan ocehan Halbert dan lanjut dalam pencariannya.
Steve masih tidak bergeming dari tempatnya hingga muncul peluh di dahinya. Lambat laun, tubuh Cyntia mulai terbentuk secara perlahan-lahan. Mulai dari tulang-tulangnya yang remuk, tiba-tiba tulang itu mennyatu dengan sendirinya. Begitu pula tulang-tulang yang bergeser tiba-tiba bergerak dan kembali ke tempatnya masing-masing.
Tidak lama kemudian, Cyntia akhirnya bisa membuka matanya sedikit demi sedikit. Meskipun dalam keadaan lemah, dia meraba tangan Steve sejenak, yang menandakan bahwa sudah cukup untuk penyembuhannya. Mengetahui hal itu, Steve segera menghentikan penyembuhannya dan membiarkannya.
Setelah itu, Cyntia mengeluarkan Health Potion spesial yang hanya untuk dirinya dan segera meminumnya. Seketika setelah itu, dia langsung sehat segar bugar.
"Ahhhhh~ Aku kira aku akan mati. Terima kasih, Steve." Ucap Cyntia yang saat ini tidak memakai kacamatanya karena pecah.
"Ahh gampang, gak usah dipikirin. Berterima kasih sana ke Franca yang menemukanmu di bawah batu."
"Ah, Cyntia, kau sudah sadar? Bisakah kau simpan seluruh item yang sudah ku kumpulkan ini?" Kata Franca sambil menunjukkan semua item yang sudah dia tumpuk dengan sangat banyak.
"Ah, iya. Tapi aku hanya akan membawa semuat penyimpananku ya. Aku tidak bisa membawa terlalu banyak juga karena kapasitas portal penyimpanan ku juga terbatas." Balas Cyntia.
Halbert baru sadar jika Cyntia juga memiliki sihir kuno yang sangat fungsional itu. Sihir yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali yang satu keturunan dengan Cyntia. Halbert hanya terbengong dengan mulutnya yang sudah terbentuk huruf O dengan sempurna, karena salah menanggapi maksud dari Franca yang memborong semua harta di Dungeon.
“Woyy!!” Cyntia mencoba mengkagetkan lamunan Halbert.
“Nggak kaget. By the way, kamu siapa?” Tanya Halbert yang melihat perubahan wajah Cyntia secara drastis karena tidak mengenakan kacamatanya. Cyntia nampak dua kali lebih cantik tanpa mengenakan kacamatanya.
“Hehehe, kaget ya.” Cyntia nampak tersenyum lebar melihat Halbert, karena dirinya merasa berhasil membuat Halbert terpesona. “Aku tahu kalau aku sangat cantik.”
“Iya iya, kamu cantik. Bisa diibaratkan kamu seperti Bunga yang mekar di tengah hutan.” Puji Halbert kepadanya.
“Hoho~ terima kasih.” Cyntia terkesima setelah mendengarnya dengan ekspresi sombong.
“Hmm, tapi Aku lupa namanya. Engg, kau tahu Bunga Bangkai kan?” Kata Halbert dengan polosnya.
Mendengar hal itu, Cyntia mengeluarkan botol racunnya dan menarik kerah Halbert dengan kuat.
“Apa maksudmu dengan sebutan kata Bangkai hah!?”
“Hentikaann!! Aku sudah lemas kehabisan Mana..” Bela Halbert yang memang pada nyatanya terlihat sudah tidak bertenaga lagi.
“Tenang saja, ini bukan racun, ini obat pencahar supaya pencernaanmu lancar,” Balas Cyntia dengan tersenyum sadis. Setelah itu dirinya langsung memasukkan satu botol obat pencahar itu ke mulut Halbert. Halbert yang sudah tidak bisa apa-apa itu hanya bisa pasrah menerima ramuan tersebut.
“Huuughh..” Halbert meminum semuanya. Dan tiba-tiba saja perutnya langsung mules. Dia memegangi perutnya sambil melihat ke sekitar, siapa tau ada WC disana. Namun dia tidak menemukan apapun selain harta yang bergelimangan disana.
“Ah, sial.” Halbert terpaksa menahannya hingga bisa keluar dari tempat ini.
“Bagaimana Franca, apa ini sudah semua?” Tanya Cyntia sambil mendekat ke barang-barang yang sudah dikumpulkan oleh Franca.
“Hmm, sepertinya sudah.”
“Baiklah.” Cyntia membuka portal penyimpanannya selebar mungkin. Setelah itu memasukkan barang-barang itu satu persatu. Franca juga ikut membantunya untuk memasukkan barang-barang tersebut.
“Oh iya, aku tidak menyangka jika kau masih bisa bertahan hidup setelah tertindih batu besar yang bahkan sudah meremukkan tubuhmu. Bagaimana caranya kamu selamat?” Tanya Franca yang masih keheranan.
“Ah itu, sebelumnya Dias sudah meminumkan ramuan penyembuh kepadaku. Di dalamnya juga ada efek regenerasi yang mempercepat penyembuhan secara berkala.” Ucapnya. Kemudian, pandangan Cyntia seakan-akan mencari barang yang hilang. “Ah iya, dimana Dias? Dia selamat, kan?”
__ADS_1
“Tenang saja, dia terbaring disana karena sudah kehabisan Mana.” Balas Franca yang menolehkan pandangannya kepada Dias yang terbaring pingsan di samping Iaros.
“Syukurlah. Setidaknya setelah dirinya bangun nanti, Dia harus kuberikan hadiah sebagai ungkapan rasa terima kasihku.” Kata Cyntia. “Sekarang, kita harus membiarkannya istirahat sejenak.”
Setelah Cyntia mengatakan itu, Iaros tiba-tiba berjongkok dan mengamati tiap-tiap bagian tubuh Dias.
“Hmm..” Iaros tampak serius dan menopangkan dagunya di tangannya.
“Apa yang sebenarnya Pak Tua itu lakukan?” Tanya Cyntia keheranan.
Tiba-tiba Iaros mengguncang-guncang tubuh Dias yang masih pingsan dan mendirikannya. “Hei, bangunlah sebentar.”
“WOYY!!” Ucap Franca dan Cyntia bersamaan dengan menunjukkan ekspresi terkejutnya dengan apa yang dilakukan oleh Iaros. “Pak Tua gila!”
Tidak lama kemudian, Dias membuka matanya secara perlahan dan melihat ke arah Iaros dengan lemas. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan karena tenaganya benar-benar hilang. Terpaksa Iaros harus membaringkan tubuhnya ke tanah lagi.
“Tunggu sebentar.” Iaros mengambil jaket bewarna hitam kemerahan yang tergeletak di atas item-item lain. Dia menunjukkannya kepada Dias dan mengamati tubuh Dias dengan seksama.
“Hmm, aku rasa cocok. Bagaimana menurutmu?” Tanyanya kepada Dias yang masih lemah.
Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Dias dan dirinya tetap menatap Iaros dengan pandangan yang terlihat sangat sedih. Pandangan itu sangat gelap dan cukup menyakitkan. Dias terlihat ingin menangis, namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya.
“A.. Cyntia..” ucap Dias dengan suara yang begitu lemah. Dalam pikirannya, dirinyalah yang telah membunuh Cyntia karena dirinya yang tidak mampu melindungi perempuan lemah itu. Dia mengutuk dirinya sendiri yang begitu lemah hingga dia harus kehilangan lagi orang yang disayanginya.
Mata yang awalnya kering, kini mulai terbasahi oleh aliran air mata yang tidak kunjung berhenti. Dias menangisi kegagalannya dan mengutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan tidak bisa diandalkan.
“Apa kau mencariku? Dias?” Ucap Cyntia dengan begitu santai.
Dias yang mendengar itu langsung mencoba menoleh ke kanan dimana sumber suara itu berasal. Dias terkejut ketika menemukan perempuan yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya sendiri masih bisa berdiri tegap dan berjalan dengan sehat. Dias mencoba mengangkat tangannya yang lemah itu secara perlahan-lahan mengarah ke Cyntia seakan-akan ingin menggapainya.
Cyntia mendekati Dias yang lemah itu, kemudian berjongkok dan menangkap tangan Dias dengan kedua tangannya. Cyntia tersenyum lebar kemudian berkata, “Terima kasih, Dias.”
“Hei, kau sudah besar loh Dias. Umurmu kan sudah 15 tahun? Kenapa masih saja cengeng seperti ini?” Ucap Cyntia dengan heran sambil menyeka air mata Dias. “Jika kau pikir aku akan mati gara-gara tertindih batu seperti itu, maka kau salah! Berkat kau meminumkan ramuan itu padaku, aku masih bisa bertahan hidup hingga saat ini.” Jelasnya.
“Apa sudah selesai?” Ucap Iaros yang memecah suasana haru tersebut dengan masih membawa jaket yang sepertinya akan dipakaikan untuk Dias. Dia dari tadi sudah menunggu untuk memakaikan beberapa item yang cocok digunakan untuk Dias.
Namun, karena Iaros menyadari jika Dias tidak mungkin memakai item-item itu karena kondisinya yang masih lemas, akhirnya dirinya mengurungkan niatnya namun tetap membawa beberapa item itu untuk diberikan kepada Dias.
“Cyntia, kau bisa masukkan ini ke dalam ruang penyimpananmu?”
“Hmm, sepertinya masih ada ruang yang kosong sih.”
“Oh iya, kalau begitu aku titip.” Balas Iaros. Tidak lama setelah itu, Cyntia segera mengeluarkan portal ruang penyimpanannya. Kemudian Iaros memasukkan beberapa Item itu ke dalam portal tersebut hanya untuk Dias. Dia mengambil Pedang, jubah anti api, sepatu, dan tindik yang sepertinya cocok untuk Dias.
Setelah semuanya selesai, tiba-tiba mereka kembali di pindahkan ke dunia asal mereka, lebih tepatnya diteleportasikan tepat di samping menara dungeon yang sebelumnya. Menara dungeon yang sebelumnya berdiri di atas dunia nyata mereka, tiba-tiba tenggelam masuk ke dalam tanah.
“Ahh, perutku!! WC! Sungai! Atau apapun itu!” Halbert berlarian mencari tempat untuk buang hajat dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa warga Desa Zoldyck yang melihat kejadian itu, segera berlari menuju ke Desanya untuk memberitahukan kepada Kepala Desa jika mereka semua sudah kembali. Beberapa masih menunggu disana untuk menyambut mereka.
“Dias, aku sudah memberikanmu beberapa ramuan supaya dirimu cepat pulih. Tapi sepertinya untuk Manamu sendiri untuk sementara tidak bisa kau keluarkan. Mungkin kau tidak akan bisa menggunakan sihirmu selama satu minggu lebih.” Ucap Cyntia menjelaskan. Dias hanya mengangguk paham dengan tubuh yang masih berbaring di pangkuan Cyntia.
Kemudian, beberapa pemuda dari Desa datang menemui mereka semua. “Wah, kalau tidak salah kalian semua adalah petualang yang dikirim oleh Kepala Desa untuk menaklukkan Dungeon ini sekitar 5 tahun yang lalu.”
Kemudian, dia melihat Dias yang lemas disana. “Dia kenapa? Apa perlu kami bawakan tandu dari Desa untuk membawanya?” Tanyanya.
“Tidak perlu. Summon, Rhinoceros!” Tiba-tiba Franca mengeluarkan Badak dari dalam tanah lagi untuk membawa Dias. Pemuda itu sedikit terkejut, karena Badak adalah salah satu hewan kuat yang hampir punah. Keberadaannya saja sangat sulit ditemukan, namun dirinya dapat memilikinya dan bahkan mengendalikannya dengan baik.
Setelah itu, Dias diangkat dan didudukkan di atas tunggangan Badak bersama dengan Franca yang mengendarainya.
__ADS_1
“Ah, baiklah. Kalau begitu mari ikut Saya.” Pemuda itu mengantarkan mereka semua kembali ke Desa.
Sesampainya di Desa, mereka semua disambut hangat oleh para warga yang sudah menunggu di depan Gapura desa sambil membawa papan bertuliskan kata “Selamat.” Semua warga disana tersenyum cerah ketika melihat mereka semua datang kembali karena telah berhasil menaklukkan dungeon tersebut, sehingga ancaman para monster yang terus bermunculan di sekitar dungeon beserta beberapa penyakit menular tidak akan lagi menjangkiti desa ini.
Ketika mereka memasuki desa dan berjalan menuju ke Balai Desa, Para Warga Desa minggir dan memberikan mereka jalan untuk menuju kesana. Suasana disana sangatlah ramai dengan dinyanyikan beberapa lagu yang diiringi dengan beberapa alat musik membuat suasana semakin meriah. Beberapa sorakan ‘Hidup Guild Valkyrie’ dan ucapan selamat semakin terdengar lebih jelas lagi ketika langkah mereka semakin dekat dengan Balai Desa.
Disana, Kepala Desa yang bernama Scott langsung menyambut mereka dengan senyuman hangat tepat di depan pintu masuk Balai Desa. Serta di sebelah Pak Kades juga terdapat beberapa kawan dari guild mereka sendiri yang bertugas menyembuhkan orang-orang di desa ini dan yang bertugas untuk membasmi monster yang berkeliaran di sekitar Desa.
Sesampainya di dalam, mereka beristirahat sejenak di atas sofa yang empuk. Semua meletakkan barang bawaannya dipojokan, dan Dias juga di baringkan di kamar yang sudah disediakan di Balai Desa.
“Untuk yang pertama-tama, sebelumnya saya ucapkan selamat datang kembali di Desa yang tercinta ini dengan selamat dan sehat wal afiat. Yohoho~” Ucap Scott sambil menarik-narik janggutnya yang sudah memutih. “Saya benar-benar sangat berterima kasih sekali kepada Anda-Anda sekalian karena mau menuruti permintaan Kami.”
“Ah, iya sama-sama.” Balas Franca tersenyum kecil. Sedangkan yang lainnya terlihat sangat kelelahan sekali dan tidak ada mood untuk menjawab.
“Engg, seingat Saya ada sekitar 16 orang yang ikut menelusuri dungeon. Apakah mereka yang lain datang terlambat kah untuk sampai datang kemari?” Tanya Scott. Pertanyaan itu langsung saja membuat semuanya memasang wajah muram dan menundukkan pandangannya.
“Itu, sebenarnya hanya kami yang selamat. Sedangkan sisanya tidak diketahui keberadaannya,” Jawab Franca dengan jujur.
Hal itu membuat lelaki yang berumur 70 tahun itu menjadi terkejut. Dia jadi merasa bersalah karena telah salah memberikan pertanyaan yang malah melukai perasaan orang-orang yang duduk dihadapannya.
“Turut bersimpati, dan maaf jika sudah menyinggung,” Balasnya.
Franca kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak apa-apa. Ini sudah risiko di pekerjaan yang sudah kita ambil. Memang pada dasarnya pekerjaan kami adalah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa. Jadi Anda tidak perlu merasa terlalu bersalah.” Ucapnya merendah.
“Baiklah, kalau begitu Saya akan tetap membagi kompensasi yang adil kepada kalian semua, termasuk orang-orang yang sudah tiada juga akan kami bagi rata. Selain itu mari kita lepaskan kepergian mereka dengan layak,” Balas Pak Kades.
“Mohon bantuannya,” Balas Franca. Kemudian semuanya berdiri dan menundukkan wajah sejenak untuk mengenang semua jasa-jasa dari orang-orang yang tidak bisa selamat keluar dari dungeon tersebut.
Malamnya, mereka semua bersenang-senang dengan mengadakan pesta dadakan berupa pesta api unggun. Namun sayangnya Dias tidak dapat ikut karena masih saja lumpuh karena efek dari kehabisan mana yang berlebihan. Dias hanya bisa duduk bersandar di kursi khusus sambil melihat api unggun di kejauhan.
“Kruuukk~” Tiba-tiba perut Dias berbunyi.
“Wah, ada yang kelaparan nih,” Ucap Cyntia yang berjalan mendekati Dias. Beruntungnya Cyntia membawa dua tusuk berbeque yang sudah dibakar sebelumnya.
“Nih, makan.” Kata Cyntia sambil menyodorkan makanan panas itu. Dias mencoba mengangkat jarinya dengan sekuat tenaga, namun masih tidak bergerak sama sekali. Ternyata Cyntia baru ingat jika Dias masih lumpuh. Terpaksa Cyntia harus menyuapinya.
“Ini, aaaaa..”
Tiba-tiba wajah Dias tampak memerah menandakan jika dia sedikit malu ketika disuapi olehnya. Dia sempat kebingungan sejenak karena takut ada yang melihat. Tapi mau tidak mau dia harus menerima suapan itu, karena jarak daging itu sudah dekat dengan mulutnya.
Namun sebelum makanan itu masuk ke dalam mulut, tiba-tiba datang Franca yang menghampiri Cyntia.
"Cyntia, kau lihat Halbert kah? Kebetulan mereka butuh tenaga untuk mengangkat kuali yang besar disana. Tapi dari tadi kulihat-lihat dia sama sekali tidak nampak," Ucap Franca yang kebingungan.
"Halbert.. Hmm.. " Cyntia berfikir sejenak dengan menopang dagu dengan tangannya. Cyntia tanpa sadar menjauhkan berbeque itu dari Dias dan tidak jadi menyuapinya. Dias memasang wajah kecewa.
"Ah, aku ingat!" Cyntia yang mengingatnya langsung menjelaskan kepada Franca jika Halbert kebingungan mencari tempat buang air ketika di ruang harta. Karena di ruang harta tidak mungkin ada, kemungkinan Halbert tetap menahannya. Bisa jadi dirinya tertinggal di hutan di saat dia sibuk mencari tempat buang air dan tanpa sadar mereka semua meninggalkannya.
“Aduh, kenapa kamu iseng banget sih.” Ucap Franca mengernyitkan keningnya.
“Eng, hehe, maaf. Tapi obat pencahar yang aku berikan dosisnya kecil kok, jadi aman-aman saja,” Bela Cyntia.
Akhirnya Franca pun memanggil anjing kesayangannya untuk mencari Halbert di tengah hutan.
Memang apa yang dilakukan oleh Cyntia cukup keterlaluan, tapi lebih keterlaluan lagi mereka semua yang tidak menyadari jika Halbert sebenarnya telah tertinggal di tengah-tengah hutan.
*Di sisi lain..
“Aduh, gimana ini? Kenapa setelah aku boker mereka semua meninggalkanku?” Halbert kebingungan sampai malam hanya sekedar mencari jalan pulang. Karena mana mungkin dirinya mengingat jalan yang baru satu kali dia laluinya dan sudah tidak pernah dia lalui lagi selama 5 tahun lamanya.
__ADS_1
***