
‘’Buff: protect, shell, divine shield, power up, mana up, feather movement!!’’ Thea mengerahkan semua kemampuannya untuk mensupport Dias.
Dias merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan dan lebih kuat. Dan sekarang dia bisa lebih fokus lagi melawan musuh di depannya karena emosinya yang sudah terkontrol dengan baik.
Sebenarnya Dias dan Thea ingin kabur dari sana, namun karena kecepatan Julian yang tidak masuk akal, pasti tetap saja akan terkejar.
‘’Wushh..’’ Julian melesat menerjang ke arah Dias dan langsung menebas tepat ke arah kepalanya. Dias mampu melihat gerakan miliknya dengan jelas sehingga dapat menghindar ke sisi kanan.
Sebelum Julian memberikan serangan lanjutan, Dias mencoba menyerang balik dengan menebaskan pedangnya ke pinggang kiri Julian.
‘’Slashh..’’ Pedang itu sedikit meleset dan hanya mengenai rambut milik Julian saja karena sempat menghindar.
Julian kembali menyerang balik dengan menebas dari samping kiri bawah ke arah kepala Dias, tapi Dias masih sanggup membaca gerakannya dan menghindarinya dengan mendongakkan kepala ke atas dan salto ke belakang.
Tapi selama Dias berada di udara, dirinya tidak dapat memindahkan posisinya, sehingga Julian dapat menebasnya dengan mudah.
‘’Trangg!!’’ Dias mampu menangkisnya dan terpental ke arah Thea.
‘’Brakk!!’’ Dias menabrak Thea hingga membuat Thea jatuh dari atas beruang yang ditumpanginya tadi.
‘’Thea..’’
‘’Aku tidak apa-apa,’’ Thea berusaha bangkit lagi.
‘’Baiklah,’’ ucap Dias, kemudian kembali berfokus pada Julian.
‘’kretek.. kretekk.. Trangg!!’’ Tiba-tiba saja pedang yang dipakai Dias langsung pecah seperti piring yang jatuh ke lantai. Dia sangat terkejut hingga matanya melotot. Untung saja serpihan pedangnya tidak mengenai matanya.
‘’Bagaimana? Apa kau yakin bisa menang hanya dengan tangan kosong?’’ Ucap Julian, kemudian langsung menerjang Dias.
Dias meletakkan tangannya ke tanah, kemudian muncul api yang membentuk dinding tepat di depannya.
‘’BLARR!!’’ Api itu meledak ketika bersentuhan dengan pedang milik Julian.
‘’Sia-sia saja!’’ Tiba-tiba Julian menebaskan pedangnya hingga ledakan itu lenyap seketika. Tinggal 1 meter lagi, Julian dapat menebas tubuh kecil itu. Julian mencoba menebas dari atas ke bawah.
‘’Safety wall!!’’ Teriak Thea. Tiba-tiba muncul dinding bewarna hijau yang melindungi mereka.
‘’Sringg!!’’ Tembok itu langsung terbelah menjadi dua.
‘’Hahahaha, mati kalian berdua!”
‘’DUARRRR!!’’ Bak bintang jatuh, Iaros datang dari langit dan menghantam Julian dengan sangat keras, hingga membuat retakan yang sangat luas seperti bekas ledakan meteor. Bahkan membuat Thea dan Dias terpental jauh.
Thea dan Dias segera kembali berdiri dan melihat pemandangan di depannya yang penuh dengan debu yang mengepul.
‘’Wah, tadi bahaya sekali,’’ ucap Julian yang ternyata sudah berpindah posisi jauh dari pusat pukulan milik Iaros. Ternyata Julian sudah menyadari jika Iaros telah datang dan menyiapkan diri untuk menghindari serangan dadakan.
Julian menatap ke laki-laki berotot di depannya yang hampir meremukkan tubuhnya. ‘’Ohh, ternyata kau yang bernama Iaros ya? Luar biasa..’’
Iaros hanya bisa menatap tajam ke arahnya sambil mengeluarkan pedangnya.
‘’BLARRR!!’’ Tiba-tiba jauh dari lokasi mereka, terdapat ledakan beruntun dari rumah ke rumah.
‘’Clingg..’’ Sesosok wanita berkulit biru dengan sebuah tanduk di dahinya tiba-tiba muncul disamping Julian.
‘’Itu.. Maine!?’’ Teriak Dias yang kaget karena wanita Iblis itu mirip sekali wajahnya dengan pelayannya dulu. Meski begitu, wanita itu tetap tidak mempedulikannya.
‘’Raja, tugas yang telah paduka berikan telah terselesaikan,’’ ucapnya.
‘’Baiklah, tinggal satu tugas lagi untukmu. Culik mereka berdua dan masukkan ke dalam dimensi lain yang sudah kupersiapkan khusus untuk mereka,’’ perintah Raja Julian.
‘’Baik, Paduka Raja,’’ balas wanita itu sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia berfokus ke depan, menatap ketiga orang yang terlihat sangat menyusahkan. Terutama lelaki berotot itu.
‘’Awass!!’’ Teriak Dias karena menyadari apa yang akan dilakukan wanita Iblis itu. Dia segera mendorong Thea menjauh darinya. Thea jatuh tersungkur.
‘’Zungg..’’ wanita itu menghilang dan tiba-tiba sudah berada di belakang Dias. Dia hanya sekedar menempelkan kedua tangannya pada tubuh mereka berdua, dan tiba-tiba menghilang begitu saja.
Iaros tidak sempat bereaksi, karena perpindahannya begitu cepat dan tak terbaca.
__ADS_1
‘’Clingg..’’ Wanita itu kembali muncul disamping Julian, sedangkan Thea dan Dias menghilang entah kemana.
‘’Sudah wahai Paduka Raja,’’ ucapnya.
‘’Bagus, hahahahaha, akhirnya aku dapat hiburan yang tidak membosankan lagi kali ini!!’’ Kata Julian. ‘’Baiklah, kita pergi dari sini.’’
‘’Tanpa basa-basi, Iaros melesat dengan sangat cepat hingga 5 cm lagi dia bisa menabrak Julian dan wanita itu.
‘’Bye..’’
‘’Zung..’’ Namun sayangnya, mereka berhasil berpindah dari tempat itu dengan cepat.
‘’Sialan!!’’ umpatnya. Ia segera pergi dari sana dan berlari ke tempat dimana ledakan itu berada.
Namun sesampainya disana, tempat itu sudah berubah menjadi puing-puing yang tak bersisa. Sudah banyak orang yang berkumpul, yakni orang-orang dari guild Valkrie yang menyaksikan hal yang membuat orang penasaran.
Iaros berdesak-desakan melewati orang-orang yang menghalangi pemandangan disana. Disana, dia melihat Iris yang begitu shock melihat pemandangan di depannya bak melihat hantu.
‘’Apa yang terjadi?’’ tanya Iaros pada Iris.
‘’I-itu..’’ Iris menunjuk ke arah depan dengan tubuh yang terus bergemetar. Iaros langsung menoleh ke arah dimana Iris menunjuk.
‘’F-Franca..’’ gumam Iaros yang sama terkejutnya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Di tengah-tengah kerumunan, nampak tubuh seorang wanita berdarah-darah menempel di pohon besar, dengan paku yang menancap di tiap-tiap anggota tubuhnya seperti tersalib, namun sayangnya kepalanya terlepas dan tertancap lebih ke atas dari tubuhnya. Di bawahnya, semua binatang buas yang dia pelihara telah mati dan menjadi tumpukan mayat.
Tidak hanya itu, di atas kepala Franca, terukir lambang Kerajaan Farnesse yang sudah dimodifikasi yang berasal dari darah. Yakni lambang Naga bewarna merah dengan dua tanduk di atas kepalanya. Sudah dapat dipastikan jika darah yang digunakan itu merupakan darah milik Franca yang masih menetes hingga sekarang.
***
Setelah beberapa saat berlalu, beberapa orang penting dikumpulkan ke dalam satu ruangan untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai penyerangan mendadak ini, tepatnya di guild Valkrie.
Tapi tidak ada yang menyiratkan ekspresi kesenangan. Semuanya sangat paham betapa berartinya Franca bagi guild. Tidak mereka sangka jika Franca harus mati dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
‘’I-ini semua salahku. Andai aku menyadari jika mereka dapat berteleportasi dan muncul darimana saja, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi.’’ Ucap Iris menyalahkan diri sendiri. Karena dia yang memimpin pasukan garis depan sementara untuk saat ini.
‘’Itu benar, tapi kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi,’’ ucap Griamore agar suasana disana tidak terlalu sesak.
Suasana disana memang begitu berat, tapi mereka sudah tidak ada waktu untuk merasakan penyesalan dan kekecewaan lagi. Mereka harus segera bangkit dan mengevaluasi kembali segala kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
“Aku yakin jika mereka melakukan itu sebagai gertakan dan membuat kita semua takut akan kemampuan mereka. Tapi jika mereka sekuat itu, tidak seharusnya mereka mundur terburu-buru seperti itu.” Lanjut Griamore.
“Benar-benar pengecut! Bisa-bisanya mereka menyelinap, membunuh satu orang, kemudian pergi begitu saja,” timpal Dominic.
‘’Perlu kalian ingat, kalau musuh bisa datang kapan saja dan dimana saja. Kemampuan mereka yang dapat berteleportasi membuat kita tidak bisa mempersiapkan diri lebih matang lagi,’’ kali ini Iaros ikut angkat bicara.
‘’Selain itu, mereka sudah menghancurkan beberapa rumah penduduk dan fasilitas-fasilitas penting di Kerajaan. Kurasa akan sangat sulit memulihkan infrastruktur-infrastruktur disekitar sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.’’
‘’Dan lagi, kali ini Thea dan Dias diculik oleh mereka, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada mereka berdua,’’ ucap Iaros yang membuat semua orang disana terkejut.
‘’Diculik!?’’ ucap Iris membelalakan matanya tidak percaya.
‘’Hah? Iaros, mblunder apa lagi yang kali ini kau lakukan!?’’ ucap Demitry yang marah.
‘’Tenanglah, memang pada dasarnya kita semua tidak tahu kemampuan mereka. Tapi setidaknya mereka berdua diculik tidak untuk dibunuh. Aku yakin itu,’’ ucap Iaros meyakinkan mereka.
‘’Bagaimana kau bisa sebegitu yakin?’’ Tanya Dominic, penyihir kegelapan yang dulu ikut satu dungeon dengan Iaros.
‘’Raja Julian, dia punya kemampuan yang dapat membunuh seseorang dengan sekejap mata menggunakan pedangnya, tapi dia tidak melakukannya selama pertarungan tadi. Pasti ada maksud lain kenapa mereka membawa Thea dan Dias,’’ jelas Iaros.
‘’Tapi, bisa jadi dia diinterogasi untuk menceritakan semua rencana kita dan disiksa supaya angkat bicara kan? Yah, meskipun kedua bocah itu tidak tahu apa-apa sih.’’ Ucap Dominic lagi.
‘’Oleh karena itulah, kita harus cepat menyelamatkan mereka berdua.’’ Balas Iaros.
***
Sementara itu…
Dias dan Thea membuka matanya secara bersamaan. Mereka melihat ke sekeliling, dan ternyata mereka berada di sebuah ruangan gelap yang disinari oleh sebuah lampu dari atas. Tempat itu begitu luas dan tidak ada apa-apanya kecuali lantai yang dingin dan datar.
__ADS_1
‘’Thea, kau tidak apa-apa kan?’’ Tanya Dias pada gadis disebelahnya.
‘’Iya, aku tidak apa-apa,’’ balas Thea.
‘’Hahahaha, selamat datang anak kandung Vyros dan Neia!!’’ Dibalik kegelapan, terdapat suara lelaki yang menggelegar di tiap-tiap ujung aula. Beberapa detik kemudian, muncul Tobias yang berjalan mendekati mereka berdua.
Melihat rupa Tobias, ingatan sekilas milik Dias langsung terbuka. Kejadian ketika kedua orang tuanya dieksekusi mati dengan sangat keji di hadapan mukanya kembali terbesit ke dalam ingatannya.
"Kauu!!"
‘’Hahahaha, aku sangat suka ekspresimu. Aku akan memperkenalkan teman bermain yang sangat menarik untukmu. Dia bisa mempertemukan kalian dengan kedua orang tua kalian loh, kalian pasti sudah tidak sabar kan?" ucap Tobias. Dias hanya bisa memandang Tobi penuh dengan kebencian.
Dia sebenarnya ingin segera menghajar wajah arogan si pengkhianat itu. Tapi dia juga harus tetap mempertahankan rasionalitasnya. Dia tidak tahu, ada apalagi dibalik bayangan yang tidak dia ketahui.
Setelah itu, muncul sosok lelaki pendek tua berbaju hitam dari balik bayangan. Dia melangkah ke depan dengan tubuhnya yang bungkuk sambil membawa tongkat sihir dengan permata yang bersinar di ujungnya.
"Selamat malam anak muda," ucap Kakek-kakek tua itu.
"Bagus, kalau begitu aku akan menyaksikan pertarungan kalian dipojokan sana. Selamat menikmati, Hahahahaha," teriaknya kembali. Setelah itu dia segera menjauh dari sana dan mencari tempat duduk.
"Paduka Raja, bagaimana rencanaku ini? Sangat luar biasa bukan?" kata Tobias yang ternyata mendapatkan tempat duduk disamping Julian.
"Hahahaha, kamu memang pantas mendapat julukan Tobias si Otak Ular, beracun dan mematikan. Dan sekarang kita pun bisa mendapatkan kedua bocah ini sebagai hiburan, hahahaha," ucap Julian yang terlihat sangat senang sekali.
"Hahahaha, aku yakin pasti saat ini Vyros dan istrinya sedang menangis dan menjerit di dalam neraka! Hahahaha," ucap Tobias dengan keras.
"Kakak, jangan terpancing," ucap Thea.
"Aku tahu," balas Dias. Dia pun memasang kuda-kuda menyerang dengan menghadapkan pedangnya pada si Kakek tua itu.
Si Kakek tua itu malah menundukkan kepalanya memberikan salam pada kedua bocah itu. "Sebelumnya, perkenalkan namaku Fallen."
"Fallen? Ohh, rupanya ada pengkhianat lagi disini," kata Dias. Dia ingat jika Fallen adalah peramal Kerajaan yang selalu berada disamping ayahnya. Hanya saja penampilannya berubah menjadi lebih gelap dan mengerikan.
"Aku tidak tahu maksud Anda. Tapi jika berkenan, izinkan saya mengetes kemampuan Anda sekalian," ucapnya sopan.
"Berhati-hatilah, Kak.. Dia terlihat sangat berbahaya," ucap Thea.
Tanpa basa-basi, Dias langsung mengaktifkan matanya. "Clairvoyant!!"
Name : Fallen Artesius
Lv. : 96
Class : Necromancer
Skill : Membangkitkan makhluk yang mati.
"Hah? Levelnya sama seperti Iaros!?" Batin Dias sambil berkeringat dingin. Padahal dia pikir tidak ada lagi seseorang yang dapat menandingi Iaros, dan rupanya masih ada juga disini.
"Resurrection!!"
Tiba-tiba dari tanah muncul lelaki dan perempuan yang sangat dikenalnya, dan bahkan sangat dirindukannya. Kebangkitan mereka berdua dilengkapi dengan seragam yang mereka gunakan sebelum mati dengan pedang mereka.
Klangg.. tongkat sihir Thea jatuh seketika setelah melihat kedua orang yang baru saja dibangkitkan.
"Pa-Papa? Mama?" Kata Thea dengan bibir yang bergetar. Dia tercengang melihat kedua orang tuanya yang dibangkitkan tiba-tiba di depan matanya.
"Thea! Kuatkan dirimu!" Teriak Dias menyadarkan lamunan Thea. Tapi Thea masih tidak sadar seakan-akan terhipnotis oleh ilusi yang diciptakan oleh Kakek tua itu.
"Thea!!" Teriak Dias sekali lagi, tapi masih belum cukup.
"Mama, Papa!!" Teriak Thea, tapi kedua zombie itu tidak merespon sama sekali.
Dias berbalik ke arah Thea sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Sadarlah, Thea!!"
"Kak!! Mama, Papa belum mati! Mama, Papa belum mati!!"
Cratt!! Tiba-tiba sebuah pedang menembus tubuh lelaki kecil itu. Percikan darah menyembur mengenai Thea
__ADS_1