Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 7 : Dungeon Pertama Adias


__ADS_3

Di sebuah pulau yang sangat besar, bernama pulau Farignir terdapat dua Kerajaan yang sudah lama hidup rukun berdampingan. Padahal kedua Kerajaan itu adalah dua ras yang berbeda. Ras itu adalah ras manusia dan ras elf. 


Kerajaan yang diisi oleh Ras manusia, bernama Kerajaan Valinor merupakan Kerajaan yang saat ini dipimpin oleh Raja Toron. Dan Kerajaan inilah yang saat ini sedang ditempati oleh Dias dan Thea. 


Kerajaan ini memiliki keunikan, dimana seringkali muncul dungeon-dungeon yang mencuat dari dalam tanah di daerah-daerah terpencil. Entah apa yang sebenarnya memicunya, tetapi untungnya banyak para petualang berbakat yang berhasil melenyapkannya satu-persatu. 


Dungeon itu menjadi berbahaya karena memunculkan makhluk-makhluk aneh yang dapat mengancam kehidupan manusia disekitarnya. Semakin lama dungeon itu dibiarkan berdiri, maka monster yang bermunculan akan semakin banyak dan kuat. Sama halnya seperti mesin produksi permen, dungeon itu juga memproduksi monster-monster yang tidak diketahui asalnya dengan berbagai macam variasi ras dan kekuatan. 


Hal ini berbeda dengan Kerajaan sebelah yang ditempati oleh kebanyakan para elf, yakni Kerajaan Rifendell yang dipimpin oleh Raja Obeyron. Dungeon tidak pernah muncul di Kerajaan itu sepanjang masa, sehingga Kerajaan itu menjadi Kerajaan teraman bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya karena terhindar dari ancaman para monster. 


Namun, elf merupakan Ras yang sangat tergantung dengan kekuatan alam di sekitarnya, sehingga andai saja hutan dimana tempat mereka tinggal di hanguskan, maka mereka tidak akan bisa hidup lama. Hal ini pernah terjadi ketika peperangan sekitar 100 tahun yang lalu, dimana banyak manusia-manusia yang membakar hutan untuk melenyapkan Kerajaan elf. Padahal Ras elf tidak pernah mengusik manusia sama sekali, sehingga peperangan antar manusia dan elf pun pernah terjadi. 


***


Dias dan Iaros tiba di guild Valkrie. Semuanya sudah berkumpul tepat pukul 8 pagi dan siap untuk berangkat menuju ke tempat dungeon yang ditunjukkan oleh lelaki tua itu.


Dan ternyata, bukan hanya manusia saja yang hadir untuk mengikuti pertempuran ini, melainkan salah satu Ras elf juga ikut. 


Seperti yang di rumorkan, elf memiliki paras yang indah, dengan rambut panjang bewarna kuning keemasan, kulit putih mulus, dan mata bewarna hijau seperti permata. Untuk kemampuan dalam bertarung, sudah tidak bisa diragukan lagi, karena usianya yang panjang dan kemampuan sihirnya lebih unggul daripada manusia biasa. 


"Oi, Iaroos!, lama tidak bertemu, My bestie," Ucap si elf yang bernama Demitry tersebut.


"Geli woe, kau panggil dengan sebutan alay seperti itu. Emangnya kamu nggak geli hah?" Balas Iaros. 


"Ohh, aku tahu.. bagaimana kalau aku sebut kamu si " Penikung Teman Sendiri!?" Kata Demitry dengan tatapan ingin membunuh. 


"Hah, apa maksudmu datang-datang langsung nyolot begitu?" Balas Iaros.


"Hah hoh hah hoh, memangnya kamu lupa hah? Ketika kita satu tim bersama dengan My Lovely Iris?"


"Itu salahmu sendiri kampret, udahlahh, jangan bahas masa lalu. Dih, kayak bocil aja." Balas Iaros cuek. 


"Apa katamu!?" Demitry tidak terima dan terus mendebat Iaros tanpa mengenal tempat dan waktu. 


Ada sekitar 20 orang yang hadir di tempat ini dan berbagai macam orang pun hadir. Semua orang yang ikut perjalanan menuju dungeon terlihat sangatlah kuat, dengan persenjataan dan baju zirah mereka yang terlihat sangat berat. Beberapa penyihir, baik healer ataupun magician pun membawa beberapa potion, tongkat sihir yang terlihat sangat mencolok, dan beberapa bahkan membawa sapu terbang. Berbeda sekali dengan Iaros yang hanya membawa sebilah pedang di punggungnya, dan Dias yang membawa tas berisikan bekal makanan dan beberapa peralatan. 


Hanya saja Dias masih saja memasang wajah muram sejak berada di alun-alun setelah menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Pandangannya seakan-akan mengatakan jika dirinya akan membunuh siapapun itu yang mengajaknya bicara saat ini juga. Untung saja tidak ada yang memedulikan bocah kecil itu.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka semua berangkat menuju ke dungeon tersebut. Dengan menaiki kereta kuda yang berjumlah 3 buah, mereka bersama-sama menuju ke desa Zoldyk dengan perjalanan sekitar 7 jam. 

__ADS_1


Sesampainya disana, mereka disambut oleh kepala desa disana yang bernama Scott, dan kepala desa tersebut mengarahkan para petualang ke tempat dimana dungeon itu muncul. 


Tapi sebelum itu, penyakit yang diderita oleh para warga di desa ini harus disembuhkan terlebih dahulu dan dirawat, sehingga dua healer di tim ini terpaksa harus terpisah dari kawanan dan mengobati warga desa. Jumlah anggota yang ikut menjadi berkurang 2 orang, sehingga tersisa 18 orang.  


Setelah sampai ke menara dungeon yang terlihat seperti menara Pisa di Italia, mereka disambut oleh para petualang lain yang sedang melakukan misi pembasmian monster di sekitar desa Zoldyk. Untung saja mereka cukup ramah, sama seperti warga desa disini. 


Monster yang berkeliaran berdasarkan hasil pemantauan ternyata cukup banyak dan kuat. Ada sekitar 20 monster yang masih berkeliaran dan setiap hari akan muncul monster minimal 3 buah. Baik kobold, orc atau pun goblin. Tentunya hal ini cukup meresahkan masyarakat sekitar, terutama bagi warga desa yang tidak bisa menguasai sihir sama sekali.


Akhirnya, 2 orang anggota dari Valkrie ditugaskan untuk membasmi monster-monster yang ada di sekitar desa Zoldyk, sehingga tersisa 16 orang saja yang akan memasuki dungeon. 


Namun, sebelum mereka menginjakkan kakinya ke dalam dungeon, tiba-tiba muncul dari langit, dua giant orc yang datang menghadang mereka semua. 


"Drrrr.."


“Grooaaa! Grrrr!” Ucap Giant Orc dengan bahasa yang tidak dikenali oleh mereka. 


“Semuaa!! hajar dia!!” Ucap salah satu wanita bernama Franca yang memimpin kelompok kawanan Guild Valkrie tersebut. Tapi sebelum mereka semua maju, seorang anak kecil yang menggendong tas punggung besar mengeluarkan pedang dari sarungnya, kemudian menebas ke arah giant orc dari jarak jauh. 


“Hei bocil, kau bodoh ya? Kau pikir ini tempat bermain kau apa?” Ucap salah satu wanita healer yang berada dekat dengannya. Namun, setelah orang itu meremehkan bocah kecil berambut merah itu, tiba-tiba saja hal aneh terjadi.


“Blaarr!!” Tiba-tiba seluruh tubuh giant orc itu terbakar kedua-duanya tanpa alasan yang jelas. Mereka baru sadar jika apa yang telah dilakukan oleh anak kecil tadi adalah menggunakan sihir api tanpa rapalan dari jarak jauh. Dia hanya cukup menebaskan pedangnya di udara, tiba-tiba tubuh orc itu terbakar. Wanita healer yang tadinya disana terkejut melihat Orc yang tiba-tiba terbakar.


“Bagus, dengan begitu, Orc itu akan sibuk dengan rasa sakit luka bakar. Semuanya, serang!!” Ucap Franca sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Beberapa dari mereka yang menggunakan senjata jarak dekat juga berusaha mencoba mendekati orc itu, hanya saja mereka tidak bisa melakukannya, karena api yang dikeluarkan Dias semakin lama semakin besar. 


“Hei! kecilkan apinya!” Kata Franca, namun suaranya tidak didengar oleh Dias dan dirinya tetap melanjutkan aksinya melenyapkan kedua giant orc dengan tangannya sendiri.


“Musnah!! Musnah!! Musnah!!” Ucap Aldias dalam hati yang melampiaskan emosinya pada orc tersebut. Dia terus-terusan mengayunkan pedangnya tanpa henti dan membakar orc tersebut habis-habisan. Api itu terus membesar dan melebar, hingga membuat pepohonan disekitar sana menjadi ikut terbakar. 


“Hanguslah, lenyaplah semuaa!! hangus!! Hahahaha!!” Kata Dias yang tidak sengaja keluar dari mulutnya. Dia terus membakar orc itu dengan gila hingga akhirnya orc itu telah hangus menjadi arang berukuran raksasa. Bahkan, meskipun orc itu telah hangus, Dias masih saja membakarnya. 


Semua orang yang berada disana hanya bisa diam terbengong melihat aksi anak kecil di depannya yang sedang menggila. Mereka hanya berfikir apa yang sebenarnya dilakukan oleh bocah tersebut. Dan bagaimana bisa seorang anak kecil bisa memiliki sihir sekuat itu dengan mana yang tidak habis-habis.


“Aldias Floryn, cukup..” Ucap Iaros yang menepuk punggung Dias untuk menyadarkan dirinya. Dias yang menyadari hal itu langsung berhenti dan tiba-tiba saja tubuhnya jatuh pingsan. Dia pingsan karena telah kehabisan mana hanya untuk membasmi dua giant orc tersebut, yang sebenarnya sangat mudah dibasmi oleh pasukan Valkrie. 


“Iaros, siapa anak itu sebenarnya?” Ucap Demitry mewakili semua orang disana yang juga ikut penasaran terhadap anak kecil yang terlalu barbar tadi. 


“Aldias Floryn. Dia adalah anak dari almarhum Raja Vyros,” Balas Iaros.


“Apa!?” Semua orang yang berada disana langsung terkejut. Berdasarkan apa yang disiarkan di alun-alun, Tobias yang merupakan perdana menteri Kerajaan Farnesse mengatakan jika kedua anak dari Raja Vyros tersebut telah terbunuh dan telah hanyut di lautan yang ganas. Dan ternyata berita itu tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat sekarang ini. 

__ADS_1


“Kenapa Kau tidak bilang dari dulu, Iaros?” Kata Halbert, yang merupakan salah satu teman seperjuangan Iaros. 


Iaros kemudian mengangkat Dias dan membopongnya di atas bahunya. “Kau tidak tanya.” Balas Iaros dengan singkat dan cuek.


“Aku yakin, pasti dirinya sudah sangat menderita karena telah diitinggalkan oleh kedua orang tuanya.” Ucap Franca, seorang gadis yang memakai baju zirah lengkap dengan menggunakan pedang sebagai senjata utamanya menunjukkan kesedihan yang tersirat di wajahnya. 


“Aku lihat sendiri loh, pada saat di alun-alun ketika dirinya menggila karena melihat pengeksekusian orang tuanya sendiri. Sedangkan gadis kecil yang berada disampingnya tiba-tiba saja pingsan.” Kata Dominic yang memakai jubah hitam. Dia adalah orang yang dulu pernah mencoba mengusir Dias dari alun-alun untuk tidak menyaksikan kejadian itu.


“Itu pasti adiknya.” Ujar Steve, salah satu rekan seperjuangan Iaros dengan memasang wajah sedih. Semua orang disana bersama-sama menghela nafas karena tidak tega dengan nasib yang di derita oleh anak kecil itu. 


“Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa mengalami takdir yang sangat kejam seperti ini.” 


Iaros meletakkan tubuh Dias di bawah pohon yang lebat. Sementara waktu, Iaros memandang wajah kecil Dias dan berkata, “Pasti dia akan menjadi penyihir yang hebat, sama seperti ayahnya, aku yakin itu.” 


Demitry kemudian menarik kerah Iaros dan mendekatkan wajahnya kepada Iaros, “Iaros sialan!! kenapa bisa kau biarkan dirinya menyaksikan kedua orang tuanya terbunuh di depan matanya!? Kau masih manusia, Hah?” Ucap Demitry dengan murka. 


“Diamlah, andai saja aku tahu kalau Raja dan Ratu itu adalah orang tua mereka, aku pasti tidak akan membiarkannya!” Bela Iaros.


“Sialan kau!! masih saja mengelak!!” Demitry langsung membenturkan kepalanya ke kepala Iaros dengan sangat keras hingga burung-burung yang hinggap di sekitar pun beterbangan.


“Duagg!!” Ketika dia melakukannya, malah dirinya sendiri yang kesakitan dan menggosok-gosok luka di keningnya yang benjol. Berbeda dengan Iaros yang masih baik-baik saja.


“Steve, minta healnya dong.” Kata Demitry. Steve yang seorang Priest pun langsung menyembuhkan keningnya, dan dengan singkat benjolan itu langsung hilang. Steve hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Demitry yang absurd itu.


Akhirnya, mereka semua yang mengetahui fakta tersebut menjadi lebih bersimpati kepada Adias, dan mereka semua berjanji akan selalu menjaganya hingga mereka dapat menyelesaikan dungeon tersebut.


“Iaros, kau sebagai orang yang memungutnya, nyawanya adalah nyawamu! Aku tidak akan memaafkan dirimu jika dirinya sampai terluka atau bahkan mati pada saat kita semua menyisiri dungeon ini!” Ucap Franca sambil mengibaskan rambutnya yang coklat dengan nada mengancam. 


“Summon.. Mavros Tavros!!” Tiba-tiba muncul banteng hitam gagah dari bawah setelah Franca mengucapkan mantra itu. Selain ahli berpedang, Franca juga merupakan monster tamer, atau penjinak monster. Setelah itu, Franca meletakkan Dias di atas banteng tersebut yang masih tertidur pingsan. 


“Baiklah, kalau begitu mari kita semua berjanji akan melindungi Aldias Floryn dengan seluruh nyawa kita semua sebagai taruhannya. Semuanya!! yang ikut aku, tumpuklah tangan kalian di atas tanganku!” Ucap Franca yang menyodorkan telapak tangannya ke depan menghadap ke bawah. 


“Apa maksudmu? Kita semua pasti bisa keluar dari sini hidup-hidup. Hahaha.” Ucap Dann yang juga ikut menumpuk tangannya di atas tangan Franca.


“Kau benar juga.” Balas Franka dengan senyum optimis.


Satu-persatu dari mereka kemudian ikut menumpuk tangan mereka di atas tangan Franca. Mereka semua saling berpandangan dengan pandangan yang penuh harapan dan kebersamaan. Mereka semua yakin jika dapat menyelesaikan dungeon ini hidup-hidup, karena mereka semua adalah sekumpulan orang-orang terbaik yang disatukan oleh sebuah guild terkuat di di seluruh Kerajaan Falignar tercinta ini.


“Guild Valkrieee!! HUP HUP YEAAHH!!”

__ADS_1


“HUP HUP YEAHH!!” Semuanya mengikuti apa yang diucapkan Franca dan menghempaskan tangan masing-masing ke atas dengan kompak. Akhirnya, mereka pun melanjutkan perjalanannya dengan memasuki dungeon tersebut. 


__ADS_2