Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 8 : Memasuki Menara Dungeon


__ADS_3

Ketika memasuki menara itu, di dalamnya tidak sesuai dengan apa yang terlihat diluarnya. Diluar hanya nampak sebuah menara besar yang apabila dihitung dari jendelanya, bisa memiliki 20 lantai tingginya, dengan luas yang hanya bisa menampung peternakan sapi. Tapi ketika berada di dalamnya, tempat tersebut sangatlah luas dengan langit yang tidak dapat diperkirakan tingginya. Seakan-akan berada di dimensi lain yang berbeda dari dungeon-dungeon yang pernah mereka lalui. 


“Sepertinya perjalanan kita akan sangat panjang.” Ucap Halbert.


“Jangan ragu, ayo maju!” Kata Franca yang memimpin kelompok itu. 


Mereka semua pun berjalan menyusuri hutan tanpa hambatan. Meskipun terdapat beberapa monster yang menghadang, tapi itu bukanlah apa-apa di hadapan mereka semua. Mereka dapat melibas habis dengan cepat para gerombolan orc, atau pun goblin. 


Bahkan, giant orc yang tadi di lawan Dias pun bukanlah apa-apa untuk mereka. Cukup Franca saja yang maju dan menebas giant orc tersebut dengan cepat, dan dengan mudah giant orc berhasil ditumbangkan.


Waktu terus berjalan, dan sejauh ini masih tidak ada monster yang membuat mereka semua harus serius melawannya. Franca dapat menghancurkan gerombolan kobold sendirian dengan pedangnya, tanpa harus ada bantuan dari teman-teman yang lainnya.


Tidak lama setelah itu, Dias bangun dari tidurnya, dan kebetulan mereka semua sedang beristirahat setelah melakukan perjalanan selama 12 jam penuh. Mereka sedang sibuk membuat makanan untuk makan malam saat ini. Dan di hadapannya, terdapat gadis berkacamata menggunakan jubah bewarna kuning sedang duduk disampingnya sambil membersihkan botol-botol kaca kimia. 


“Kau sudah sadar, bocah api?” Ucap Cyntia yang merupakan gadis alchemist yang sudah menyiapkan obat peningkat stamina dan pemulihan mana. 


Aldias menatap mata coklat Cyntia dengan kebingungan, “Aku.. dimana?” Tanya Dias yang masih pusing. Dia melihat ke sekitar, dan terlihat sangat asing sekali di matanya. 


“Kau sekarang berada di dalam Dungeon.” Balas Cyntia.


Dias yang terlihat sudah mulai tenang, melihat ke sekitar dan dia baru sadar jika dia sudah memasuki dungeon yang selama ini mengancam Desa Zoldyk. 


“Minum ini,” Ucap Cyntia sambil menyodorkan kedua item tersebut. 


Setelah Dias menerimanya, dia segera meminumnya. Tiba-tiba saja dirinya merasa seperti ada energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Dia langsung merasa lebih segar daripada yang kemarin. 


“Itu namanya mana potion. Potion itu bisa mengembalikan manamu seperti sedia kala. Jika kau tertarik, aku bisa memberikannya kepadamu sebanyak yang kau mau.” Ucap Cyntia dengan senyuman ramah.


“Ah iya, kamu lapar, kan?” Cyntia kemudian mengetuk-ngetuk udara dengan jarinya. Tiba-tiba muncul seperti portal kecil yang melayang di udara. Cyntia memasukkan tangannya ke dalam portal tersebut dan mengambil pisang di dalamnya.


“Makan ini.” Dias tidak hanya terpesona dengan kemampuan sihir yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, tapi dia juga terpesona dengan kebaikannya yang meluluhkan perasaannya. 


Dias menatap Cyntia dengan heran. Bagaimana mungkin masih ada orang sebaik dirinya yang memberikannya perhatian lebih. Tidak seperti Iaros yang hanya menyuruh Dias berlatih dan berlatih. Iaros bagaikan manusia berotak kuda yang pikirannya hanya kerja dan kerja saja. Bahkan saat ini Dias melihat Iaros dari kejauhan yang sedang sibuk beradu panco dengan Demitry. 


Dias menatap Iaros dengan pandangan nanar sambil mengonsumsi pisangnya bersama dengan Cyntia. 


“Hiaahh.. kali ini aku akan mengalahkanmu..!!” Teriak Demitry.


“Hoaamm.. sudah? gini aja?” Ucap Iaros sambil menguap menandakan jika kekuatan fisik Demitry sangatlah lemah. Padahal Iaros masih belum mengeluarkan setengah dari kekuatan fisiknya, tapi dia sudah mendominasi.

__ADS_1


“Dahlah, akan ku akhiri sekarang..” Iaros langsung menjatuhkan tangan Demitry dengan mudah. 


“Hah? Ini.. ini tidak mungkin..” Balas Demitry dengan wajah terkejut.


“Okay, seperti perjanjian, jadilah tungganganku selama satu hari penuh.” Ucap Iaros dengan senyum jahat.


“Sialaaaannn!!” Demitry mengacak-acak rambutnya dengan kesal. 


“Makanan sudah siap!” Ucap Steve yang sudah menyiapkan makanan sebanyak 16 orang. Dia menyiapkan sup dengan berbahan dasar daging burung yang beterbangan di atas mereka selama mereka sedang menyusuri dungeon. Mereka semua segera mengerubungi Steve dengan membawa mangkuk mereka masing-masing. 


Cyntia yang tadinya menjaga Aldias juga segera mengantri bersama mereka semua. 


“Tunggu disini dulu ya, aku ambilkan buat kamu.” Ucapnya. Dias hanya mengangguk dan memperhatikan dari kejauhan mereka-mereka yang sedang berkerumun berebutan makanan tersebut.


“I-ini, memang bisa dimakan?” Ucap Halbert yang melihat sup tersebut bewarna ungu. Dia selama sepanjang hidupnya tidak pernah melihat sup dengan warna sebegitu anehnya. “Ini, tidak beracun kan?” 


“Tenang saja, aku sudah menggunakan sihirku untuk mematikan racunnya. Justru racun itu yang akan akan meningkatkan kekebalan anti bodimu.” Ucap Steve dengan percaya diri.


“Ya sudahlah, eng?” Ucap Halbert, kemudian terpotong ketika melihat Cyntia yang membawa dua mangkuk sup di kedua tangannya. “Hoiii Cyntiay, jangan curang kau ya..” Ucap Halbert.


“Curang? kau ingin ku botakin rambutmu, Hah?” Balas Cyntia murka.


“Ini buat Dias tauk! hmph!” Ucap Cyntia dengan kesal, kemudian memalingkan mukanya dan melanjutkan langkahnya menuju Aldias.


“Dias sudah bangun??” Setelah Halbert mendengar hal itu, dia mengikuti Cyntia karena penasaran dengan keadaan Adias.


“Ini Dias.” Cyntia memberikan sup ungu dengan sedikit sayuran dan sepotong paha burung di dalamnya.


 


“Terima kasih.” Balas Dias setelah menerima sup itu.


“DIAASS!!” Tiba-tiba saja, Halbert datang dari belakang Cyntia dan mengagetkan mereka berdua. 


“Alamakk!!” Karena kaget, Cyntia tidak sengaja melemparkan sup miliknya ke wajah Halbert.


“Halbeerrtt!! Kenapa kau semakin kurang ajar, hah?” Ucap Cyntia yang terlihat kesal, kemudian menjewer kuping Halbert dan membawanya ke Steve untuk mengambil sup kembali. 


“Ahhh, sakit!! aku tidak sengaja.. Diaaass! aku akan kembali setelah ini. Aw aw aw…” Ucap Halbert sambil merintih kesakitan. 

__ADS_1


Dias hanya memandang aneh kepada Halbert. Setelah itu, Dias mulai mencoba merasakan sup aneh bewarna ungu tersebut. Dan tidak disangka-sangka, jika rasanya cukup enak dan membuat Dias terpesona sekali lagi dengan rasa masakan tersebut. 


“Diaaass!! bagaimana masakanku?” Tiba-tiba muncul Steve di hadapan Dias. Dias cukup kaget, tapi tidak sampai harus menumpahkan makanan yang dipegangnya, karena terlalu berharga. 


“Aku yakin kau pasti menyukai masakanku. Terlihat dari ekspresimu tadi yang sangat menikmatinya. Hahaha.” Dias tidak dapat mengelak lagi, dan tetap melanjutkan makannya tanpa memedulikan Steve. 


“Dias, Aku kagum dengan sihir yang tadinya kau gunakan. Hanya saja kau harus ingat, jika mana dalam tubuhmu itu terbatas. Jika kau mengeluarkan skill melebihi jumlah manamu, maka dirimu sendirilah yang akan rusak, karena mana yang habis juga akan mengambil sesuatu hal lain sebagai gantinya, yakni nyawamu. Jadi, ingat baik-baik ya.” Ucap Steve dengan serius. Dia sebagai Priest tentunya wajib memberitahukan hal ini kepada Dias, karena dia adalah seorang healer yang bertanggung jawab atas rasa sakit yang ditanggung oleh satu kelompok ini. 


Dias yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti dan tetap melanjutkan makannya. 


Sementara itu di sisi lain, Halbert dan Cyntia masih sibuk mencari Steve untuk menambah jatah makannya. Setelah Cyntia lihat ke atas panci yang tadi digunakan oleh Steve untuk memasak, ternyata seluruh sup tersebut telah abis tak bersisa. 


“Halbertt!! Serahkan supmu itu padaku sekarang juga!” Ucap Cyntia kepada Albert yang berada di belakangnya.


“Gluk-Gluk-Gluk..” Halbert segera menghabiskan sup lezat itu hanya dalam waktu 5 detik. Dia tidak perlu mengunyahnya, hanya cukup meneguk makanan itu seakan-akan sedang meminum air.  “Ah.. Apa tadi, aku tidak bisa mendengarmu..”


Cyntia tidak bisa lagi membendung rasa sabarnya. Dia mengeluarkan sihirnya lagi dan mengambil dua botol yang berisikan racun yang berbahaya bagi tubuh.


“Halbert, kau pilih di tangan kiriku, atau di tangan kananku?” Tawar Cyntia.


“Hiiiii..” Halbert semakin ketakutan.


Dias yang memperhatikan mereka berdua akhirnya teringat sesuatu, jika dia telah membawa bekal yang dibuatkan oleh Iris sebelumnya saat di rumah. 


Tanpa basa-basi, Dias datang kepada mereka berdua, menggandeng tangan Cyntia dan memberikannya satu kotak bekal untuknya. 


“Wahh.. terima kasih banyak, Dias.” Balas Cyntia dengan tersenyum cerah. Setelah itu, Cyntia pun memakan bekal itu bersama dengan Dias dan Steve. Halbert yang suka mengganggu itu pun datang kembali ke mereka.


“Apa hah, kok balik lagi?” Ucap Cyntia dengan galak.


“Wow wow, yang tenang dong.” Balas Halbert.


Iaros dan Demetry yang dari tadi masih saja bergelut meskipun sambil makan sup, akhirnya menyadari jika Dias sudah sadar. Mereka berdua pun langsung menghampiri Dias dan makan bersama-sama disana. Mereka semua saling bercerita tentang masa-masanya selama masih berpetualang, dan memberikan tips-tips kepada Adias agar bisa menjadi lebih kuat lagi. 


Terkadang mereka juga bisa melucu, hingga membuat semuanya tertawa terbahak-bahak. Dias pun juga menikmati suasana malam yang hangat tersebut, dengan ditemani oleh masakan-masakan yang sudah dibuatkan oleh Iris, yang sudah dihangatkan dengan kemampuannya sendiri. 


Hanya dengan adanya keberadaan mereka lah, akhirnya Dias bisa tersenyum indah. Semua orang yang memperhatikan senyuman Dias menjadi lebih semangat lagi dan membuat malam itu semakin meriah. Karena Dias sama sekali tidak menunjukkan wajah yang bersahabat sejak awal pemberangkatan. Hanya pandangan yang penuh kebencian dan rasa dendam yang tampak di kedua bola matanya. 


Namun setidaknya, untuk sementara dirinya bisa melupakan sejenak rasa dendam itu dalam hatinya, dan menikmati malam ini dengan hangatnya api unggun dan daging monster yang dibakar setengah matang. 

__ADS_1


***


__ADS_2