Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 14


__ADS_3

"cepat sini. mana jarimu!" candra memanggilku.


"iya sebentar..." aku berjalan mendekati Candra.


"ukuran 1.7 saja ya bapak?" kata pramuniaga tersebut. candra hanya diam dan aku mengangguk.....


......


aku kembali melihat kalung putih tersebut. 'ya tuhan Cantik sekali.'


"bagaimana bu, mau ini sekalian?" tanya salah satu pramugara perempuan itu.


"tidak..terima kasih mba...tapi....ini berapa ya harganya?"


"baik..saya hitung sebentar." pramugara tersebut masuk mengambil kalkulator.


mulai menghitung semua..


"bu ini harganya 20juta. karena berlian kualitas 50. dan ini emas putih nya emas tua dengan kadar 75%."


HAH!! mahal....


"owh..kalau di simpan dulu, saya ambil ketika mendapat Bonus di Desember apa boleh?"


pramuniaga tersebut tersenyum, "bu....maaf ini kualitas nomer satu. dan hanya ada 5 dari edisi musim semi kami. saya tidak menjamin masih ada kalau sampai Desember."


" yasudah gapapa mba..kalau rejeki saya..mungkin masih ada.."


aku menjauh dari kalung tersebut. Aku terdiam melihat cincin yang di pilih Candra. aku hanya bisa menuruti mau Candra Seperti apa...


"udah ini aja kan?"


"iya can..."


minggu depan ulang tahunku 10 september....


apa aku boleh berdoa Tuhan. aku mau kalung itu Tuhan.....


aku terus memandangi kalung itu.


 


********


kami makan malam melihat lalu lalang pengunjung mall.. aku menghabiskan Steak Beef Wagyuku.


ya.....


kami makan malam tapi tak banyak saling berbicara...


diam..


sepi....


sendiri......


"kamu...itu...acara sabtu besok itu di rumah makan apa ya? yang Engagement."


"Hotel Tiga Musim."


"Haah!! hotel??"


canda berhenti makan dan melihat ke arahku. "bisa kamu ga usah sekaget ato se-lebay itu?"


"..." aku menundukan kepala.


"biasakan lah diri-mu. dengan acara ato tempat seperti itu."


kami kembali terdiam dan memilih menghabiskan makanan kami. dengan cepat aku menyusul Candra turun dari Eskalator. kemudian...


brukk....(menabrak Candra lagi)


'orang ini Hobii amat ngerem mendadak gini.'


Candra berhenti ke arah Toko Sepatu. "masuklah, ganti sepatumu. sepatu kerjamu sudah tua."


'tua? baru saja sekitar......yah...setahun...'


aku hanya diam..."tapi kan mahal disini..."


"udah sana masuk..." Candra menarik tanganku.


"pilih-lah mana sepatu yang cocok dan bagus. Sepatu Bagus akan membawa kamu ke tempat yang bagus juga."


aku memilih beberapa sepatu di etalase. warna yang cantik...


tapi... sepatu kerja yang aku butuhkan...


"bisa kami bantu Bu?"


aku berbalik mencari sumber suara.."Iya mas..saya butuh sepatu kerja warna hitam ya. harus hitam. terus heels nya juga 5cm aja ya maksimal mas..."


Sang Pramuniaga tersenyum kepadaku. "Baik bu..tunggu sebentar."


aku melihat lagi sepatu display lain.. Candra menghampiriku, membawa sepatu berwarna putih. dengan bordir kembang serta betebaran batu swarovsky..sangat cantik sepatu itu.....

__ADS_1


"ini coba cukup tidak."


Candra meletakan sepatu itu di lantai. aku duduk di kursi dan mencoba sepatu itu.


alamak!


bagus sekali.. Cantik....


"bagus kan, pakai ini untuk acara pertunangan kita besok." , "baik.." aku mengangguk.


"maaf ibu, ini sepatu yang ibu maksud..saya bawa dua.."


aku melihat dua sepatu itu. pertama sepatu hitam polos dengan list berwarna merah mengitari perbatasan heels dan alas sepatu.


kedua sepatu warna hitam polos dengan pita warna emas kecil di bagia depan atas.


"aku mau nomer dua saja Mas. ukuran 37 ya."


pramugara langsung masuk dan mengambil sepatu yang kumaksud.


tak berapa lama ia kembali.


"ini bu, silakan di coba dahulu."


aku meletakan di lantai sepatu tersebut.. dan benar..sangat pas dan bagus..aku tersenyum bangga..betapa cantiknya kakiku.


"ok bungkus itu juga." ucap Candra.


aku langsung melepas dan memberikan sepatu Hitam tersebut. "ini Mas, makasih.."


aku menyusul Candra ke arah kasir. aku berdiri di samping candra..


"ini pak kartu anda.. Terima kasih. kami tunggu kedatangan- nya lagi."


"Jika dia menyukai, pasti akan datang lagi." Candra menunjuku dengan jempol tangannya.


"Terima kasih." aku mengambil paperbag berwarna Hitam tersebut.. candra langsung menarik tas tersebut. "aku saja."


kami kemudian pergi meninggakan toko sepatu tersebut.


"aku perlu membayar berapa?"


"engga perlu."


"Terima Kasih Candra..."


"ya."


'singkat amat jawabnya.'


 


**********


"Mas, apa teman kantor Non harus di undang juga mas?" Pak Toni melirik Candra dari spion mobil.


"Pertunangan itu keluarga saja. Teman dan kolega yang menjatuhkan keluarganya. undang semua ke Pernikahan kami."


Pak Toni mengangguk...


"Pak...tolong sediakan perawat untuk membantu ko-ordinasi keluarga Elsa. Ibu nya menggunakan Kursi Roda dengan susternya. kakak serta Ipar Elsa. sediakan satu orang yang bisa menyupir dan membantu mereka."


"baik Mas."


Candra kembali pulang ke apartemen nya...


Candra mengambil sesuatu dari tas kecil ber tuliskan "True Diamond".


kotak perhiasan warna merah. Candra membuka kotak perhiasan tersebut. cincin. sepasang cincin pernikahan. dalam nya di grafir nama Candra - Elsa.


Candra menutup kotak perhiasan tersebut. menaruh di atas meja.


mengambil kotak kedua berwarna Biru Benheur. Dibuka kotak tersebut. kalung...kalung yang Elsa inginkan.


"minggu depan ini jadi milikmu. apa yang kamu mau harus kamu dapatkan El...ini tidak seberasa di banding rasa bersalah-ku. Masa depan-mu bukan seharusnya begini. Permainan yang aku mulai, harus aku akhiri. dan kamu sudah menjadi korban...Maafkan aku Els...."


Candra menyimpan kedua perhiasan tersebut di brankas dalam ruang kerjanya. brankas yang terdapat foto perempuan bersama seorang pria dan dua anak laki-laki.


"mama.. Candra engga tau, kenapa Candra engga mau melepaskan Cristin. tapi Candra juga seneng mau menikahi Elsa."


Candra mengusap foto tersebut kemudian mengunci brankas nya lagi.


 


******


"pst...psst...itu kan mba Elsa..dia mau nikah sm owner kita lho..."


"Eh..dia jual diri apa gimana sih..kok bisa ya dapet owner?"


"beruntung banget dia ya...padahal begitu doang ya?"


yah...mereka mulai membicarakan aku..


aku menjadi bahan pembicaraan.

__ADS_1


darimana mereka tahu?


 


 


---+++


"Pak.. ini Laporan pajak yang bapak minta. dan bulan lalu juga sudah saya scan untuk ke Pak Louise dan saya cc email ke Bu Amel dan Bapak."


"Baik Els...Elsa...bisa duduk sebentar?"


aku duduk di kursi depan meja Pak Setyawan.


"jadi gini..saya itu dapat mandat dari Owner, bahwa kamu sabtu akan bertunangan. dan apa ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat?"


aku memainkan jempol tanganku sambil mengepalkan tangan.."karena kita harus mencari pengganti jika kamu memang akan menikah dan yang saya khawatirkan kamu akan resign dengan cepat." ucap Pak Setyawan.


"Jadi begini Pak..saya memang akan menikah. tapi bukan berarti, saya akan resign. karena buat saya pernikahan itu bukan halangan saya untuk mengejar karier, apalagi....ibu saya membutuhkan banyak biaya pak... lagipula yang owner kan dia, saya cuman pegawai pak...


saya....saya sungkan meminta ke Candra semuanya." 😊


'sungguh anak baik dan perempuan mandiri.'


Pak Setyawan menangguk- kan kepala. "ya apapun itu.. saya selalu percaya dengan kamu. dan.....selamat ya Elsa..."


"terima kasih Pak Set....saya permisi keluar dulu ya pak..."


aku meninggalkan ruangan pak Setyawan. Aku membayangkan acara besok sabtu..sama dengan hari kelahiran-ku. 10 September....


 


*******


"hallo..iya kak..aku udah di jalan ni...otw sampe toll masuk Soetta..aku pake mobil hitam....iya...baayyyeee...."


aku mematikan telpon dari kakak.


Candra duduk di sampingku menyetir dengan santai. Suasana sangat canggung...


kami saling terdiam, hanya di iringi lagu Nora Jones....


akhirnya kami tiba, aku berjalan menuju tempat kedatangan. Candra menyusul dan menggandeng tangan kananku..


"tangamu dingin sekali?"


"iya...aku tidak pernah bergandengan tangan dengan lawan jenisku. dan harus bertemu dengan keluargaku."


"kamu grogi acara besok?" aku memandang Candra...."iya...aku grogi..."


"tenanglah...semua akan baik - baik saja...." Candra mengusap keningku.


---


"Adek!!" Martha memanggilku...


"kakak...." aku menghampiri martha dan berpelukan..


"mama...." aku memeluk mama..


"Adek..ini bu Ayyah ikut sama mama..dia suster mama, orangnya baik sama sabar..."


aku menjabat tangan Ibu Ayyah....


"ayuk jalan sudah malam..makan malam dulu.." Candra membantu membawa koper kami..


 


*****&&


suasana lumayan hangat malam ini. kami makan di restoran seafood di daerah BSD.


"papa kamu apa kabar? apa masih tinggal sama 'dia' ?"


pertanyaan mama....membuat Candra berubah raut wajahnya..sepertinya mama salah bertanya.."mama..."


"iya Tante..mereka masih tinggal bersama."


"Papa kamu tu pria baik yah. dia banyak sekali membatu keluarga tante." mama berbicara sambil makan ikan bakar kesukaan mama.


"malah aku yang berterima kasih. Tante telah melahirkan anak perempuan yang begitu baik.,pintar., dan mandiri.


saya berjanji tante, saya akan menjaga dan merawat Elsa. saya tidak akan membuatnya bersedih. "


"Candra....tante lega Elsa akan aman tinggal dengamu. tante hidup hingga kapan juga tante tidak tahu.."


"mamaa....udah makan aja...gaussaah ngomong soal kaya begitu. ga pantes kita lagi makan." ucapku kesal!


pintar sekali Candra mencari simpati dan berbicara dengan bijak...aku saja di anggap sebagai istri bayaran buat Candra. bukan wanita yang di cintainya.


kontrak kami saja hanya dua tahun. yang penting uang ku cukup untuk pensiun dan menjaga mama.


Candra...kamu membuatku kebawa perasaan...mengapa berbicara seperti itu di depan keluargaku....


aku harus memberi pagar dan tembok yang amat kuat. aku tak boleh lagi mengulang hal yang sama. membiarkan hatiku jatuh ke Candra.

__ADS_1


__ADS_2