Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 43


__ADS_3

"Pagi Bu Elsa...keliatan segar sekali Bu... abis libur ya?" Tanya Pak Sandy saat masuk ke ruang Elsa.


"Ada perlu apa?"


"Ah Ibu, saya cuman mau minta persetujuan Bu, Buat ini." Pak Sandy memberikan sebuah surat dengan tulisan MEMO.


Elsa menerima, membaca dan mengambil kalkulator. Kemudian Elsa berfikir dan diam sekitar 3 menit.


"Engga, saya mau ini, bagian Ini dan ini lebih detail. Anda kan mau pergi, kemudian ini kan permintaan bensin ya. Detail bisa kan? Berapa kira - kira. Terus makan juga pasti kita ada budget. Silakan Pak di betulkan dulu." Elsa mengembalikan berkas nya.


"Bu, saya besok pagi Bu berangkat. Ibu tinggal kasih tanda tangan susah nya apa? Ibu tau habis ini masih banyak tahap nya baru saya dapat kasbon nya Bu." Pak Sandy menaikan suara nya.


"Kamu marah ke saya? Kamu kalo engga suka, baca P&P (prosedur dan peraturan) di sana terperinci. Saya tidak mempersulit kamu, tapi kamu sendiri yang tidak mau mengikuti aturan."


Pak Sandy langsung keluar tanpa permisi.


"Pak Sandy!" Panggil Elsa.


"Ya Buk!" Jawab nya sambil kembali ke ruang Elsa.


"Anda boleh menabrak aturan yang ada. Tapi anda jangan lupa setiap tupai melompat akan jatuh juga. Kemudian satu hal lagi, saya paling tidak suka ya... kalau anda tadi bertanya saya segar sehabis libur, jawab saya adalah...


Saya suka sekali, oh ya kenapa kamu engga pernah Libur?!"


Pak Sandy kemudian terdiam.


Elsa kembali ke komputer nya. Ia tidak menggubris sama sekali Pak Sandy.


*******


Di depan mushola kantor. Pak Sandy sedang memakai sepatu nya lagi.


"Pak..kamu tu terlalu berani. Bu Elsa itu terkenal di properti sebelum nya tu galak. Bahkan ia bisa bikin atasan nya aja tunduk dan setuju. Karena dia orang yang dalam track ato aturan banget. Istilah nya tuh, sersan. Serius santai."


"Dedy, aku cuman minta dia buat tanda tangan. Engga mau malah aneh minta nya." Jawab Pak Sandy.


"Tinggal di ikutin aja ya, Pak. Kan gimana juga kalo dia engga mau ya susah duit keluar."


"Jangan salah Ded, jaman sekarang beda. Kalau GM kita oke, dia kalah. Pasti." Jawab Pak Sandy dengan yakin.


Dedy hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan Pak Sandy.


********


"Sore Bu Elsa, maaf bisa menyela?"


Elsa menoleh ke arah suara. "Oh, Diana... mari ada apa? Bisa saya Bantu?"


Diana duduk dan memberikan surat pengunduran diri. "Ini Bu...." Diana malah menundukkan kepala.


Elsa mengambil dan membaca perlahan. Ia kemudian memandang Diana. "Diana, bisa tutup pintu, saya mau bicara penting."


"Baik Bu." Diana menutup pintu ruangan Elsa.


(Elsa menghela nafas panjang) "jadi... kamu serius? Sudah berfikir? Apa karena GM baru itu, yang membuat kamu makin gila dengan jam kerja?"


"Sebenarnya..... sebenernya....seperti itu Bu. Saya cuman bagian membayar tagihan untuk kita. Tapi Bapak malah menuduh saya membawa uang ke rekening saya."


Elsa diam, ia ingin mendengar cerita dari salah satu anggota team nya.


"Bahkan Ibu tau, kita itu ada dua tahap dalam proses transfer uang. Saya di tuduh Bu. Hanya karena saya menyela beliau memaksa masuk untuk meminta persetujuan pembayaran.


Beliau tidak suka dan puncak nya....


Saat saya sedang makan siang, beliau duduk di hadapan saya secara tiba - tiba. Dan mengatakan meminta mutasi rekening saya pribadi Bu."


Diana mulai berurai air mata.


"Tunggu Di....Diana tau kenapa bapak minta?"


"Alasan bapak, karena diana yang handle uang cash juga. Bapak engga percaya Bu dengan laporan Balance Sheet kita setiap bulan."


Elsa diam dan berpikir, ia harus mencerna cerita Diana. Kemudian Elsa membuka mata nya.


"Diana, pinjam pengeluaran cash selama sebulan terakhir."


Diana kemudian keluar dan kembali membawa berkas yang begitu tebal. "Ini Bu..."


Elsa dengan pandangan datar mengambil tumpukan berkas tersebut. "Kamu boleh pergi Diana, soal resign, biar saya cari tau dulu, mau Pak GM itu apa."


Diana hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Elsa. Elsa merenung melihat surat resign dari salah satu team nya.


"Ini bukan hal wajar...seperti ada sesuatu yang telah terjadi selama aku pergi." Elsa kemudian memeriksa file di depannya.


*********


"Candra!!" Panggil Benny dari arah ruangannya.


"Iya Ben, bisa saya bantu?" Candra menutup pintu ruangan Benny.


"Duduk Candra..." kemudian Candra duduk di hadapan Benny.


Benny mengehela nafas panjang sebanyak tiga kali. Ia binggung memulai pembicaraan siang itu.


"Jadi gini Cand... gw mau buka showroom mobil mewah.. tapi lo kan tau, gw engga pinter soal kualitas mobil kelas mewah.

__ADS_1


Please bantu gw di showroom gw yang baru."


"Benn, maaf gw engga ngerti maksud lo...?"


"Gimana ya.. gw dapet hibah dana besar dan gw pengen bikin showroom mobil mewah. Tapi gw engga ngerti mulai nya gimana. Lo kan udah lama pake mobil begitu.


Gimana lo jadi wakil gw disana.


Soal pajak, tenang gw taat pajak.


Gaji lo juga pasti besar. Gimana?"


Candra diam sesaat, memang otomotif adalah jiwa nya. Tapi, jika ia gagal, teman nya pasti akan gagal.


"Gimana cand?"


"Gw mikir dulu gimana? Gw harus minta pendapat istri gw.." jawab Candra lirih.


"Cand...gw baru sekarang ngeliat lo bergantung sama jawaban pasangan lo."


"Benny... dulu gw emang sendiri. Tapi sekarang gw punya Elsa dan calon anak gw. Jadi apapun yang gw mau ambil keputusannya, mereka harus tau."


Benny mengangguk dan tersenyum. "Can, lo cinta kan sama Elsa?"


Mata Candra langsung terbelalak. Ia terkejut dengan pertanyaan Benny.


"Gimana Ben?" Candra mencoba mendengar lagi apa yang benny katakan.


"Lo engga usah jawab Cand. Gw uda tau, dan gw seneng akhir nya lo lepas dari cristin."


Mereka pun diam sesaat.


"Gimana pun juga, Cristin memang butuh duit Cand. Dan suami dia itu pengusaha licik. Maka nya gw kaget waktu tau perusahaan lo di likuidasi. Bahkan lo sekarang mau jadi sales mobil. Ga make sense buat gw..."


"Benny, gw makasih sm lo. Tapi, gw juga percaya kalau setiap orang bisa berubah Ben.. dan mungkin banyak hal yang membuat Om Hendra melakukan itu ke gw.


Elsa sering bilang Ikhlas itu ilmu yang berat dan dalam, tapi menerima itu ilmu dasar.


Gw lagi menerima keadaan, kemana sang alam akan membawa gw. Yang pasti, gw engga pengen hidup Elsa dan anak gw susah."


Benny tersenyum dan mengangguk, pertanda ia setuju dengan Candra.


**********


jam di monitor menunjukkan pukul 08.00 malam. Elsa menemukan apa yang ia cari.


"ada expend ke rekening suppliyer yang gw engga asing deh. ini mesti gw cari siapa."


kring...kring......(ponsel Elsa berbunyi)


'hallo...'


'baik Cand, 10 menit lagi aku keluar.'


'baik.. sampai bertemu Elsa...'


'ya...'


panggilan pun terutus.


Elsa meletakan ponsel di atas meja nya. ia membereskan berkas di meja nya. namun tiba - tiba.


"belum pulang Elsa?"


elsa menoleh ke sumber suara. "tian?"


"iya, aku pikir sudah engga ada orang. rupa nya masih ada si cantik." Tian mulai menggoda Elsa.


"saya mau pulang kok Bapak Tian." Elsa tidak menggubris dan terus membereskan berkas nya.


"Elsa... apa kamu masi marah ke aku?"


"tidak." jawab Elsa singkat.


Tian merasa tak terima dengan jawaban Elsa. ia menggertakan gigi nya, kemudian menarik tangan kanan Elsa.


menggiring Elsa merapat ke dinding ruangan nya.


wajah Tian tepat di hadapan Elsa. bahkan Elsa bisa mendengar jelas suara nafas Tian.


"kammu... kaammu mau apa?" Elsa terbata - bata.


"aku cuman mau kasih tahu kamu satu hal. Aku tidak suka di abaikan oleh perempuan. apalagi, oleh perempuan yang aku suka."


what? gila ni cowo...


"Tian.. saya sudah punya suami. jadi stop melakukan hal seperti ini. saya tidak nyaman." jawab Elsa sambil menundukan wajah nya.


tangan Tian malah menarik dagu Elsa untuk menengadah ke atas. ia langsung mendekati bibir Elsa.


cup... satu kecupan singkat di bibir Elsa.


"kamu dengar baik - baik Elsa. saya engga akan pernah melepaskan kamu pergi. apalagi kamu bahagia bersama laki - laki lain."


"kenapa?!" Elsa mulai menangis. menangisi keadaan nya yang hina. ia seorang kepala keuangan dan istri namun di lecehkan oleh seorang pria yang menorehkan luka sedalam itu di hati nya.

__ADS_1


"karena kamu cuman punya aku!" tegas Tian dengan nada ancaman.


"oh iya? seingatku kamu meninggalkan aku demi wanita lain. dan kamu juga merasa kita tidak selevel karena orang tua saya bangkut. owh, aku paham! kamu memang sakit jiwa!!! mingir!"


Elsa mendorong Tian, ia mengambil tas kerja dan berganti sepatu pemberian Candra. ia tak peduli dengan Tian.


Tian naik pitam, iya malah memengang pergelangan tangan Elsa. sangat kencang bahkan pergelangan tangan kanan Elsa menjadi merah.


"lepasin saya Tian, kamu mu bunuh saya?!"


Tian hanya diam dan melotot ke arah Elsa. ia begitu liar dan menakutkan malam itu.


"malam...Bu...masih ada orang?" suara dari arah luar ruangan Elsa.


mendengan ada orang datang Tian melepaskan tengan Elsa. Orang tersebut masuk ke ruang Elsa.


"lho...Bu Elsa masih di sini?" tanya laki - laki berseragan Security tersebut.


Tian tak mengucapkan sepatah kata pun. ia langsung pergi keluar dari ruangan Elsa. meninggalkan Elsa yang masih ketakutan dan memegang pergelangan tangannya.


"Ibu engga apa - apa?"


Elsa memandang security tersebut. "Pak Jaenudin, terima kasih sekali Pak. kalo bapak tidak datang, ah lupakan Pak... saya mau pulang, bisa antar saya sampai ke Pos depan?"


"baik Bu, ayo silakan."


Elsa pun keluar dari ruangannya. ia menoleh ke kanan - kiri, nampak nya Elsa masih trauma dengan Tian. entah setan apa yang merasuki nya, ia. memperlakukan Elsa seperti binatang.


Elsa berjalan sampai ke pintu pos portal depan kantor nya. Pak Jaenudin benar mengantar Elsa sampai depan.


"Terima kasih Pak Jae. saya duluan." Jawab Elsa cepat. ia ingin segera pergi dari kantor nya.


"sama - sama Bu. hati - hati ya Bu."


Elsa menghilang menuju minimarket samping kantornya. ia telah melihat Candra menunggu nya di atas motor matic.


"Elsa....." Candra menyapa Elsa dengan senyum lebar. namun Candra juga melihat Elsa seperti oran ketakukan.


"mana Helm ku Cand, kita makan dan ngobrol di rumah aja ya."


"baiklah sayang..." Candra memberi helm Elsa. mereka pun cepat pergi dari kantor Elsa.


Elsa menutup matanya, ia membayangkan kejadian yang baru saja di alami nya. kalau saja Pak Jaenudin tidak berkeliling entah apa yang akan terjadi. Elsa benar - benar takut, ia merasa nyawa nya malah terancam.


*******


"menurut kamu gimana El?" tanya Candra.


Elsa hanya duduk melamum sambil memegang sendok di tangan kanan nya.


"Elsa.....kamu engga papa?"


"apa Cand...maaf... aku sedikit lelah, jadi aku engga fokus. tadi sampai mana?" Elsa tersadar ia sedang makan dengan suami nya.


"soal showroom yang akan di percayakan Benny. apa kamu setuju?"


"menurutku itu kesempatan bagus Cand, sesuai dengan hobi dan keahlian kamu. apa kamu masi engga percaya diri?"


"....." Candra diam dan menunduk kan kepala.


"Can.....apapun itu, ambil lah. apalagi maksud Benny baik. ia haya membutuhka bantuan mu untuk mengelola. siapa tahu, ini titik awal kamu bangkit."


"Baiklah Elsa demi kita dan si kecil." Candra menunjuk perut Elsa.


"Cand.... kalau kamu jadi berkerja sama dengan Benny. apa aku boleh resign?"


uhuk...uhuk... Candra tersedak


"apa Elsa? kamu mau resign?"


"iya, aku berfikir mau melahirkan dan mau full time jadi mama. selain itu, bisnis tas rotan dan kayu Rani mulai ramai."


Elsa tak mungkin mengatakan bahwa di kantor nya ada psikopat.


"boleh kok Elsa.. aku cuma kaget karena kamu engga pernah bilang ingin keluar dari kerja kamu sekarang."


"iya Cand.. aku jenuh mungkin ya. hehe..." mereka menghabiskan makan malam mereka.


*********


Candra masuk ke dalam kamar mereka untuk istirahat. Elsa telah terlebih dahulu tidur, pinggang dan betis Elsa menjadi semakin kram. seiring dengan bertambah nya usia kehamilan nya.


Candra mendekati Elsa, dan duduk di samping Elsa. namun pandangan mata Candra tertuju pada pergelangan tangan Elsa.


warna nya merah agak memar. Candra menyentuh sedikit warna biru di pergelangan Elsa. respond Elsa isa mengernyitkan dahi.,


"ini kenapa, kok sakit Elsa..." suara Candra pelan, agar tidak membangunkan Elsa.


Ponsel Elsa tiba - tiba menyala, ada satu pesan masuk.


Candra mengintip pesan dari siapa malam selarut ini.


Tian - ITM \= denger Elsa, kalo saya engga bisa dapet kamu. makan siapa pun tak akan boleh memiliki kamu.


Tian - ITM \= saya engga peduli kamu bilang saya Gila. saya emang sudah tergila - gila sama kamu. kamu itu harus menjadi milik saya lagi!

__ADS_1


"tian.... its there Christian?" Candra bertanya - tanya. "mereka satu kantor? ah, pantas saja Elsa ingin keluar. rupanya ada manusia tersebut."


Candra meletak kan ponsel Elsa. ia berjalan ke arah kanan Elsa. kemudian Candra tidur di samping Elsa. "apapun yang terjadi kamu itu istriku Elsa. aku juga harus tau, apa yang telah terjadi dengan tangan kamu." kemudian Candra memejamkan mata, menyusul Elsa ke labuan tidurnya.


__ADS_2