Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 54


__ADS_3

Pagi yang indah..


Elsa membuka kedua matanya. Ia merasakan ada tangan yang memeluknya. Tangan yang begitu hangat dan begitu kuat.


Ia mencoba mengumpulkan nyawanya, mengingat semalam apa yang telah terjadi. Ia melamun menatap dinding di hadapannya. 'Candra.....'


Elsa menggeser tangan tersebut. Ia ingin bangun dan menghirup udara segar.


Elsa turun dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu kamar dan berjalan keluar. Cahaya matahari sudah terpancar dari kaca ruang tamu. Elsa melihat jam di dinding, Pukul 07.00.


"Selamat pagi non." Mbok Yem menyapa Elsa.


"Pagi Mbok.." Elsa membalas Mbok Yem.


Elsa membuka pintu depan, ia kemudian berjalan keluar. Ternyata Mbok Yem mengikutinya.


"Enak udaranya non?"


"Iya Mbok.. saya baru tau ada tempat yang bebas polusi seperti ini."


Mbok Yem mengambil selang air dan menghidupkan keran air. Kemudian air pun mengalir, Mbok Yem menyiram tanaman pagi itu. Elsa merenggangkak kaki dan tangannya.


Melakukan senam kecil agar kram di kaki nya tak akan terung. Mbok Yem tersenyum melihat Elsa. Ia merasa senang ada teman yang menemaninya.


Candra terbangun dan mencari istrinya. Kemana Elsa pergi, masih pukul 7 pagi. Bukan kah ia sering bangun siang setelah tidak bekerja lagi.


Candra keluar dari kamar dan mencari Elsa. Ia kemudian mendengar suara Elsa sedang berbicara. Candra berjalan menuju teras rumah nya.


Candra merasa lega karena disana rupanya istrinya. Ia melihat Elsa sedang mengamati tanaman yang ada di kebun mungil mereka.


Elsa melihat ada sesosok bayangan dari depan pintu. Ia membalik badan dan tersenyum. "Sudah bangun? Mau sarapan apa?"


Ya... Candra membalas senyum Elsa. "Terserah apa yang mau kamu buat untuk ku. Akan aku makan."


**********


Richie membaca berita dari smart tablet nya. Ia membaca sambil menghabiskan sarapannya. Hampir sebulan ini ia hidup dengan teratur.


Kemudian ia melihat jam kulit warna hitan di tangan kirinya. "Oh God, gw telat."


Ia langsung beranjak dan meninggalkan sarapannya.


Richie berlari cepat menuju garasi mobilnya. Ia memilih menggunakan sedan Audi warna hitam. Ia memacu langkahnya cepat. Entah kemana tujuannya pagi itu.


Namun Richie terlihat lebih matang dan cara berpakaian pun telah berubah. Kemeja slim fit berwarna biru dan celana kain menjadi pilihannya pagi itu.


Ia berhenti di salah satu gedung. Kemudia ia turun dan memandang papan nama gedung. NGK Grup.


"Selamat Pagi Bapak.." salah satu petugas keamanan menyapanya.


"Pagi. Tolong vallet mobil saya." Richie berkata sambil pergi berlalu.


Ia menuju lift dan menunggu gilirannya masuk kedalam Lift. Saat baginya tiba untuk masuk. Ia masuk dan menekan angka 8.


"Tungguu...!!!" Seorang perempuan berteriak dan menahan pintu lift dengan tangan.


Richie terganggu dengan ulah wanita tersebut. Ia bergeser dan memberikan ruang untuk wanita tersebut.


"Eh Lo Richie kan?" Wanita tersebut menyapa Richie. Nadanya menyiratkan ia paham siapa Richie.


Richie hanya menatap dengan dingin.


"Ini gw... gw Rachel.. anak nya om Sam..."


Rupanya dia Rachel!


Richie hanya melirik tajam ke arah wanita tersebut.


Lift pun terbuka persis di lantai 8. Mereka berdua keluar, namun Richie memberi ruang agar wanita tersebut lebih dahulu.


Mereka sama - sama berbelok ke arah kanan. Menyusuri lorong yang tak terlalu panjang. Persis di pojok lorong tersebut ada sebuah pintu.


Di depannya ada seperangkat sofa ruang tunggu. Disana ada beberapa orang yang sedang menunggu.


Richie mendekati dan berkata, "maaf saya terlambat. Ayo kita mulai meeting nya sekarang."


Mereka semua berdiri dan berjalan di belakang Richie. Masuk satu per satu ke ruangan tersebut.


Dalam ruangan ada kaca yang amat besar mengarah ke jalan sudirman. Di tengah ada meja bundar lengkap dengan kursi khas ruang meeting. Adapula LCD dan white board penuh dengan tulisan.

__ADS_1


Terlihat perempuan sedang menghapus tulisan di papan tersebut.


"Baru kamu hapus Anita!" Ucap Richie ketus.


"maaf Pak... saya terlambat datang." jawab anita. tangannya dingin sekali. entah mengapa sekembali Richie dari LA semua berubah.


sikapnya dingin, bahkan ia tak pernah mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri. bahkan anita yang sudah bertahun - tahun menjadi seketarisnya kini memilih berhati - hati saat Richie meminta bantuannya.


Richie meletakkan tas dan beberapa berkas. ia langsung melempar Flashdisk ke Anita.


untung nya Anita sigap saat menangkap. Anita mulai memasukkan flashdik ke laptop di hadapannya. ia menekan file bertuliskan Property.


dilayar terpantul tulisan seperti di laptop anita. semua yang mengikuti Meeting pun telah siap di kursi mereka masing - masing.


banyak yang tampak tegang dengan suasana pagi itu. tak terkecuali Rachel, ia lebih memilih memoles bibirmya dengan lipstic berwarna Red Burgundy.


Richie memandang Rachel dengan jijik. ia mengetahui betapa wanita cantik di hadapannya penuh dengan kepalsuan.


"sudah siap Bapak, bisa kita mulai." Anita membuka suara.


"selamat Pagi semuanya. terima kasih atas waktu nya. saya to the point saja mengapa saya mengumpulkan kalian semua disini."


semuanya saling melempar pandangan. mereka di kumpulkan dari beberapa property dan anak perusahan dari Grup NGK.


"jadi, salah satu lini perusahaan kita baru saja mendapatkan ini." Richie menunjukan surat yang kemudian ia angkat dengan tangan kanannya.


Richie melempar ke arah Rachel. Rachel pun menangkap dan membacanya. "PKPU?"


semua yang hadir langsung berpandang - pandangan.


"ya! ada 3 property saya yang menerima surat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang."


suasana langsung menjadi riuh. semua saling berbisik, bagaimana melanjutkan perusahaan jika hutang saja tak mampu di bayar. bagaimana membayar gaji mereka semua yang banyak sekali. hingga bagaimana mengajukan study wisata lagi jika ada efisiensi pegawai sebagai imbasnya.


"Semua Tenang!!" Brak! Richie berteriak dan memukul meja di hadapannya.


"saya tidak.membayar kalian semua untuk ribut disini. saya hanya memberi kabar bahagia tersebut."


Rachel masih tak mengerti arti dari surat teguran salah satu bank swasta besar tersebut.


"bagaimana nona Rachel yang Terhormat! paham kah? hanya property yang di urus anda dan keluarga anda yang mendapat!"


"kamu pikir ayah kamu itu makan dari mana? grup kami besar, namun ayah kamu meminta untuk lahan paling besar. mengenai hutang, bacalah apa yang ia jaminkan. aset dari usaha nya semua. tanpa adanya persetujuan dari saya selaku Pemilik Sah NGK!"


semua mata meloto dengan perkataan Richie.


"bisnis property konyol, yang ayah anda minta 5 tahun lalu tidak pernah saya setujui. namun ayah anda tercinta yang memiliki ambisi besar, sebesar perutnya nampaknya tidak puas. tanpa permisi ayah anda memulai membangun hotel serta perumahan."


Rachel mengepalkan kedua tangannya di atas meja. ia menekan gigi nya, malu wajahnya atas kelakuan ayahnya.


"mana bukti nya? jual rumah 1Milyar hingga 1Triliun. mana yang berhasil saya tanya?"


Richie menegakkan posisi duduknya. "saya tidak mau tau, dalam 6 bulan kamu dan ayahmu harus bisa membayar pinjaman atas nama perusahaan ayahmu. yang mana merupakan anak perusahaan NGK. atau pilihan lain lagi..."


"apa itu?" Rachel merespond dengan cepat begitu mendengar solusi lain.


"kalian semua angkat kaki dari NGK. tinggalkan harta kalian berupa rumah, mobil, apartemen dan perkebunan. karena secara perjanjian semua masih milik NGK." Richie menyandarkan pundak nya ke kursi nya.


semua memandang Richie, respon mereka beragam. ada yang setuju ada yang tidak.


"saya sudah pernah bilang ke ayahmu. jangan kalap dan rakus. tak semua orang kaya di negeri ini mau tinggal disini. mereka pasti memilih investasi diluar atau secara tertutup. baca pula soal Club House yang mangkrak selama 5 tahun. pikirkan baik - baik...."


Richie kemudian membuka berkas yang berikutnya. ia menunjukan adanya laporan keuangan audit yang dilakukan secara diam - diam.


ia melempar ke hadapan Rachel. "baca!" ucap Richie keras.


Rachel mengambil dan membaca hasil audit dari Internal Team NGK. 'ditemukan adanya dana yang di alirkan ke rekening pribadi guna memperkaya diri dan pemberkasan hilang dengan nominal tersebut di atas.'


"beri saya alasan setelah rapat ini selesai. untuk team yang lain. kinerja kalian cukup baik. segala laporan hasil audit akan di kirim Pos setelah ini. terima kasih atas kerja keras dan usaha kita semua. sampai jumpa, meeting selesai."


semua berdiri dan menundukan kepala ke arah Richie. itu artinya mereka akan pamit pulang ke area kerja mereka masing - masing.


"apa sebenarnya Tujuanmu!" Rachel bertanya ketus kepada Richie.


"aku hanya mau Hak perusahaan di kembalikan. jika kamu dan keluarga kamu tidak bisa membayar semuanya. sisa hartamu lah yang harus membayar. pikirkan baik - baik. kamu adalah pengganti ayahmu, well saya berharap kamu tidak lebih rakus dari ayahmu. ingatlah, semua hal di sekitarmu punya mata dan telinga." Richie berbicara tanpa memandang Rachel.


"aku kira kita teman baik Richie. aku kira kamu akan membantu ku dan keluargaku. kamu lupa saat kita bersekolah bersama di LA. kamu selalu meminta bantuan ku. kita selalu bersama kan... apa hal seperti ini kamu tidak bisa membantuku?" Rachel mulai memainkan 'Dramanya'.


ia mulai mencoba meneteskan air mata. ia mencoba merayu hati Richie.

__ADS_1


"air mata kucingmu itu simpanlah untuk orang lain. aku jijik melihat mu, bagaikan bunglon dan bunga yang sudah layu."


Richie berdiri dan membawa tas kerjanya. ia menghampiri anita dan memberi kode untuk segera keluar dan kembali ke ruang kerjanya.


mereka meninggalkan Rachel yang masih sendiri di ruang tersebut. Rachel mengetik pesan kepada ayah nya.


R \= sialan, anak itu mengetahui hutang kita dan aliran dana. aku harus bagaimana lagi?


A \= nak, kamu kan cantik. cobalah rayu dia agar dia tidak terlalu ikut campur dengan kita.


R \= ia saja jijik melihatku, bagaimana aku punya kesempatan lagi?


A \= carilah celah dan waktu. papa percaya kamu bisa. rayu dia, agak kita semua aman. sedikit lagi papa akan mendapat semuanya.


R \= baiklah Pa.. aku akan mencoba.


A \= Anak pintar..


wajah Rachel penuh marah. ia mengepalkan tangan kanannnya. "kamu tak akan bisa Richie. dasar bodoh!"


Rachel bangkit dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. ia menuju lorong di sebelah kiri. ia berjalan sambil membetulkan tatanan rambut dan baju resminya.


sampailah dia di depan sebuah pintu. terdapat tulisan Direksi, ada sebuah meja kerja persis di samping pintu tersebut.


Rachel mengetuk 3 pintu tersebut. si pemilik meja pun datang saat Rachel ingin membuka pintu tanpa permisi.


"maaf Bu, bisa saya bantu? semua orang dilarang masuk kecuali seijin Bapak Richie." tanya Anita kepada Rachel.


"cepat telpon Richie, aku mau bicara penting dengan nya." wajah Rachel agak kurang suka dengan kedatangan Anita.


Anita mengangkat gagang telpon di atas meja nya. ia menekan angka 500, terdengar nada sambung.


"hallo Pak, ini Bu Rachel mau ketemu sama bapak. apa di ijinkan untuk menghadap?"


(mau apalagi dia. beri dia waktu 5 menit saja.)


"baiklah Pak. Terima kasih." anita meletakan kembali gagang telpon nya. lalu ia menatap Rachel dan tersenyum.


"ibu diberi waktu 5 menit untuk menghadap bapak. silakan."


Rachel tidak berkata apapun, terima kasih pun tidak keluar dari mulutnya. ia langsung membuka ruangan Richie dan menutup kembali.


"Ada yang bisa saya bantu nona Rachel?" Sapa Richie dari meja kerjanya.


Rachel menutup rapat pintu ruang kerja Richie. Ia berjalan dengan gaya centilnya mendekati Richie.


Ia mendekati Richie dan berdiri tepat di samping Richie. Ia kemudian membuka salah satu benik kancing kemeja berwarna merah muda nya.


"Bagimana jika kita bernegosiasi?" Rachel mengedipkan matanya ke arah Richie.


Richie membalas dengan berdiri di hadapan Rachel. Tangan Rachel pun menyentuh dada Richie.


"Bagaimana jika....?"


"Singkirkan tangan kotor mu dari atas tubuhku!" Seru Richie.


"Tuan muda yang lama sendiri.. nampaknya dirimu kurang bersenang - senang. Mari aku akan menghiburmu."


Richie makin jijik memandang Rachel. Ia menarik tangan dan memelintir ke arah belakang. Lalu membantingnya ke lantai.


"Aduh...sakit Richie...!! Mengapa kamu begitu kasar kepada wanita?!" Rachel berteriak.


"Kamu tuli? Saya sudah memperingatkan dirimu. Jangan macam - macam wanita plastik! Keluar dari ruangan saya atau saya paksa security menyeretmu kelua!"


Rachel berdiri dan membenarkan rambut serta kemejanya. Ia mengambil tasnya yang ikut jatuh dengannya. "Dasar lelaki sombong!"


Rachel pun pergi membuka pintu ruangan Richie. Anita di luar nampak binggung melihat Rachel yang kesal.


Anita masuk ke ruangan Richie. "Apa terjadi sesuatu pak?"


"Tidak, pergilah saja..hanya wanita gila yang menggagguku. Terima kasih anita."


"Baik pak.." Anita keluar dan menutup pintu.


Richie duduk dan bersandar di kursinya. Ia memejamkan matanya, ingatannya otomatis kepada Elsa.


Bagaimana wanita polos, mandiri dan manis itu begitu mempesona hatinya. "Dimana kamu Elsa... aku butuh berbicara denganmu."


semua begitu terpesona dengan Elsa. bukan soal cantiknya, bukan pula soal kekayaan nya. tapi soal mandiri sebagai perempuan. ketulusannya saat berbicara dengan lawannya. serta manis senyum dengan lesung pipi kanannya.

__ADS_1


"andaikan saja aku yang menikahimu Elsa. tapi, kamu tak akan kuat di dunia ku. semua harus kamu hadapi dengan keras. sekeras hati dan keputusan mu.."


__ADS_2