Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 53


__ADS_3

"Aku cuman pengen kamu dan junior aman." Candra menjawab datar pertanyaan Elsa.


Elsa langsung diam dan kembali memandang jalanan pagi itu. Ia sudah berharap suami nya akan bicara hal yang romantis atau dapat menggetarkan hatinya. Ternyata jawaban yang amat sangat rasional.


perjalanan yang seharusnya tidak terlalu jauh. sepanjang perjalanan hanya suara radio yang terdengar. mereka sama sekali tak tertarik untuk saling bicara.


hati Elsa masih kesal dengan suaminya. pikirannya jauh malah teringat dengan Christian. bagaimana jika saat itu mereka tidak berpisah hanya karena Rachel.


pasti Elsa lebih bahagia, dengan pria yang hampir di setiap harinya menceritakan kisah romantis. mengucapkan kata cinta dan melakukan sentuhan hangat. meskipun itu hanya ciuman di telapak tangan Elsa ketika mereka bertemu.


Sekitar 3 jam berjalan kini pukul 1 siang. Elsa mulai merasa lapar dan ingin ke kamar mandi. ia mencoba menahan agar bisa lebih cepat sampai. namun sepertinya anak mereka sudah tak dapat menunggu lagi.


"Candra, di rest area kita berhenti ya. Aku lapar dan mau ke toilet." Elsa mengusap perutnya. 'sebentar ya nak...' dalam hati Elsa berbisik untuk anaknya.


Candra mengawasi area jalan dari GPS yang terpasang. rejeki untuk anak mereka tak sampai 1km ada rest area baru. rest area yang baru saja di resmikan sebulan lalu.


"Ok di depan ya..." Candra berbelok ke kiri. Ia memilih masuk ke rest area untuk sejenak beristirahat.


Perjalanan mereka terhitung lancar. Cuaca pun amat sangat cerah. Seperti sang pencipta ingin mereka menikmati perjalanan mereka berdua.


mereka turun dan memilih masuk ke sebuah restauran lokal. banyak toko dan rumah makan lain. namun Elsa memilih yang memang secara makanan tak perlu kata "ragu".


Candra memilih duduk di pojok area resto. Ia duduk sambil memilih menu makan untuk mereka. Elsa berjalan cepat menuju kamar mandi di salah satu sisi restaurant.


Tak berapa lama pelayan datang menghampirinya. "Sudah akan memesan pak?" pelayan memberikan buku menu kepada Candra.


"Sudah.. saya mau sop buntut dengan nasi, istri saya sup matahari, kemudian jamur krispi dan mineral water serta jus jeruk ya."


Pelayan dengan sigap mencatat pesanan Candra. "Baik pak, ini saja pesanannya ya? sup buntut, sup matahari, crispi enoki,jus dan mineral water tidak dingin. sudah benat pak? Saya ambil bukunya salah 1 ya pak."


Pelayan mengambil buku menu dan meninggalkan Candra.


Candra memeriksa ponselnya, ada pesan whatsapp dari Cristin.


C \= kamu kemana Candra? Aku sudah pulang. Aku kembali dengan suamiku. namun aku bosan, bisa ajak aku jalan?


CA \= aku ke Semarang, aku mau mengantar istriku. Ia rindu kota kami berjumpa. pergilah dengan suami mu. kalian butuh waktu berdua.


C \= boleh kah aku ikut? Aku bosan sekali. aku merasa Suamiku belum tulus mengajakku kembali menjalani rumah tangga ini.


CA \= pergilah dengan suami mu. Aku ingin quality time dengan istriku. Cristin, please biarkan aku juga memilih bahagia dengan istriku.


C \= please...Candra... aku engga bisa begini. anakku bagaimana? kami ingin jalan jalan saja.


CA \= kamu bisa pesan taxi online, uang dari suami kamu juga banyak. sudahlah, keadaan sudah tak sama Crist. aku bukan lagi Candra yang bebas. aku punya istri yang harus aku perhatikan. sudah berkali pun aku bilang padamu. aku sudah menjadi Suami Orang lain.


C \= tidak! kamu itu masih milikku Candra. kamu engga begini ....


CA \=......


Candra malas melayani Cristin lebih jauh. Ia trauma bahwa kebaikan nya telah membawa nya ke jurang perpisahan dengan Elsa.


masih jelas dalam ingatannya. bagaimana tamparan Elsa yang begitu keras. wanita yang ia anggap lemah, malah bisa menjadi wanita yang berbeda dalam suatu waktu.


ternyata Elsa kembali dan ia sempat membaca chatting Candra dengan Cristin. Elsa sengaja diam di belakang Candra. ia ingin memastikan bagaimana keadaan mereka saat tak ada Elsa.


Elsa kemudian maju dan mendekat ke Candra. "Candra..ini makanan ku?" Tanya Elsa mengambil kursi di hadapan Candra.


Elsa pun berhasil duduk di bantu oleh Candra. perut buncit nya kian menyulitkan Elsa untuk pergi dan melakukan segala hal. Tak lama menunggu makan siang mereka pun datang.


pelayan menata makan siang mereka dengan rapi. agar tak ada noda atau tetesan makanan yang menodai meja tamu.


wajah Elsa terlihat sangat lapar. ia tak sabar ingin menyantap makan siang di hadapannya. elsa mengambil alat makannya, namun Candra merebut alat makan Elsa. Ia membersihkan dengan tissue. Kemudia memberikan kepada istrinya.


"Terima kasih...." ucap Elsa. Canda membalas dengan senyum.

__ADS_1


"Elsa... aku akan menemani kamu beberapa saat di semarang. Baik nya kita memang tinggal bersama dan saling membangun perasaan. agar apa yang aku sudah lakukan bisa sedikit termaafkan."


Elsa menghentikan makan siangnya, ia mengambil gelas minum nya. "Untuk apa? bukan kah, kamu orang yang amat sibuk."


"Kita bisa memulai kembali Elsa.... aku tidak bisa kehilangan kalian.. aku sudah melepaskan semuanya, aku membiarkan cristin bahagia dengan om Hendra. Aku pengen kita juga membuat kebahagian kita sendiri. tapi aku tak bisa menciptakan nya sendiri. tolong Elsa bantu aku.. please..."


Elsa hanya dapat diam dan melanjutkan makan siangnya. Begitu pula Candra, ia amat sulit mengatakan jika ia telah jatuh cinta dengan Elsa.


berat bagi Candra ketika Elsa sudah hilang rasa peduli. baru kali ini Candra sadar ia berada di posisi yang amat salah.


setelah selesai makan, Elsa segera membereskan barang dalam tas jinjingnya. ia segera bangkit dan berbicara. "ayo cepat, jangan buang waktu kita Candra."


dan Elsa pun pergi dengan berjalan lebih cepat. ia tak ingin mendengar suaminya membual.


Mereka pun melanjutkan perjalanan nya ke Semarang. Jalanan cenderung lenggang dan lancar. sama sekalk tak ada antian di pintu tol dan jalan lingkar luar. Sepertinya cuaca pun ikut mengantar kepergian mereka.


kira - kira 2 jam perjalanan lagi mereka akan sampai. namun Elsa memilih memejamkan matanya sejenak. Ia sangat lelah dengan perjalanan mereka. Mungkin karena usai kandungan nya yang telah membesar.


sebenarnua amat besar resiko mereka berkendara dengan jarak yang lumayan jauh. namun apalah artinya jarak dan waktu, daripada Elsa nekat melakukan hal yang seperti dulu. yaitu : Kabur.


Sampailah Candra ke depan rumah baru nya. Rumah minimalis di pusat kota Semarang.


suasana cenderung sepi, khas perumahan masa kini.


suara dengkuran Elsa terdengar, hingga Candra menengok ke istrinya, "tidurmu pulas sekali Elsa..?" ucap Candra dengan refleks.


Candra turun dan membuka pintu pagar. Candra berjalan masuk, namun dari dalam rumah mbok Yem keluar dan menyambut.


"Mas..Ibu mana?" ucap Wanita paruh baya dengan daster batik khas wanita jawa.


"Elsa tidur, sepertinya ia kelelahan. Apakah kamar kami sudah siap?" Candra membuka lebar pagar rumahnya. ia akan memasukkan mobil setelah Elsa bangun.


"Sudah Mas... sudah saya bereskan."


Mbok Yem membuka lebar pintu depan dan kamar Candra. Kamar nomer 2 yang ada di rumah tersebut


Tangan kanan candra berusaha melingkar di leher Elsa. Namun usahanya agak kesulitan. Berat badan Elsa naik 18kg, hal tersebut membuat Candra sulit sekali menggendong Elsa. bukan Candra jika ia menyerah, berkali - kali Candra mencoba menggendong Elsa.


Keringat mengucur di dahi Candra. Ya sebesar butiran jagung ukurannya. Dan Candra pun menyerah, tangannya hampir kaku berusaha menganggat Elsa. Ia menghapus keringat di dahi nya dengan tissue di mobil.


Akhirnya Candra membangunkan Elsa. "Sayang....sayang....Elsa....bangun Elsa..." Candra menepuk beberapa kali kaki dan tangan Elsa.


Suara Candra malah makin membuat Elsa terlelap. "Elsa....Elsa.... nyonya Candra.." Candra masih berusaa ia menepuk pipi Elsa yang kini sebesar bapao dimsum.


"Elsa.... tidurmu kok nyenyak banget...Elsa....ELSAAA!!" akhirnya suara Candra menjadi agak keras dan Elsa pun terbangun.


sama sekali Elsa tidak menunjukkan ekspresi marah atau kaget. lelap sekali tidurnya saat itu.


"Hoaaammm....." Elsa bangun dan meregangkan kaki serta tangannya.


"Aduuuh...duh..kakiku....." Elsa mencoba meluruskan kaki kanan nya.


Kram mendadak menyerang kaki Elsa. Betis sebelah kanannya terasa mendadak menjadi kaku. sulit sekali untuk lurus atau di belokkan kaki kanan nya.


Candra panik dan langsung membantu Elsa memijit kaki nya. Perlahan Candra mengurut kaki Elsa. sangat penuh dengan perasaan dan perlahan lahan.


"Sabar ya Elsa... sabar....aku bantu pijat enakan el? maaf kaki kamu pasti kram karena jarak perjalanan kita" Wajah candra begitu panik dan merasa amat bersalah. Ia bahkan sudah lama tidak mendengar istrinya merasa persendian nya kaku. ia amat menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Elsa.


Elsa mengangguk, "sudah Candra...cukup.. aku mau masuk dan lanjut tidur. tapii....ini dimana?"


Elsa merasa asing dengan tempat baru nya. Rumah minimalis nan elegant yang dominasi warna abu - abu dengan taman kecil di teras mereka.


"Ini rumah kita Elsa..." jawab Candra dengan mantap.


Elsa masih diam dan binggung. Namun saat Elsa tidur sepertinya mendengar ada yang memanggil sayang kepadanya.

__ADS_1


"Ayo masuk dalam Elsa.." Candra membantu Elsa agar dapat turun dan masuk ke dalam rumah.


Perlahan Elsa turun dan masuk ke dalam area teras. Suasananya begitu asri dan nyaman. Seperti aura rumah yang penuh cinta. rasa nyaman yang pertama di rasakan Elsa.


"Permisi...." ucap elsa saat masuk ke area dalam rumah.


Mbok Yem menyambut Elsa dengan senyum sumringah. "Selamat datang nyonyah, ini saya Mbok Yem.. saya sudah ikut sama Mas Candra amat lama, saya juga yang jaga rumah ini Nyah... jika butuh sesuatu bisa saya bantu dengan senang hati nyah..."


"Hallo Bik...eh Mbok Yem... maaf saya Elsa seneng bisa ketemu mbok... saya mohon bantuannya ya selama saya disini. jangan panggil Nyonya ya Mbok..saya belum terbiasa.." Tangan Elsa bersalaman dengan Mbok Yem.


"baik non, non manis sekali ya? oh iya non pasti lelah Mari non masuk sini. Kamar non disini, saya sudah siapkan dan bersihkan." Mbok Yem berjalan ke dalam.


Mereka menuju kamar kedua di rumah tersebut. Kamar dengan luas yang tidak terlalu besar.


Sebuah kamar dengan king bed di sebelah kanan dan lemari pakaian di sisi kiri. Di depannya tampak TV LED dengan meja kecil yang berhadapan dengan meja rias minimalis. Setelah itu ada kamar mandi dengan shower di dalam kamar tersebut.


"Nyaman sekali ya Mbok..." Elsa kagum dengan rumah baru nya.


"Iya non, segala yang ada disini sudah di hitung unsur Yin dan Yang nya non. Biar non dan mas betah tinggal disini dan menolak apa yang buruk." Jawab Mbok Yem.


"Mbok masih percaya hal macam itu?" Tanya Elsa. Karena Elsa sendiri tidak begitu mempercayai hal semacam itu.


"Gimana ya non, saya percaya dan saya mencegah non daripada ada apa - apa nanti."


Elsa melihat dan bibir elsa membentuk huruf O. Ia enggan berdebat dengan hal macam tersebut.


Elsa kembali ke ruang tamu yang ada dekat dengan pintu masuk. Candra telah selesai menurunkan semua barang dari mobil.


Elsa mencari dimana handuk dan pakaian gantinya. Karena hari sudah agak malam. Ia ingin segera membersihkan diri dan istirahat.


Meskipun Elsa juga tak tahu esok ia akan kemana. Baginya amat wajib untuk membersihkan diri sebelum pergi tidur.


"Dimana ya.. kok engga ada..." Elsa mengumam.


"Kamu itu nyari apa sih?" Tanya Candra.


"Sikat gigi, sabun, handuk dan pakaian ku...dimana ya?" Elsa sibuk membuka semua koper di hadapannya.


Candra menghentikan Elsa, ia menarik Elsa untuk berdiri. Ia menggandeng Elsa masuk ke kamar mereka.


Candra membuka lemari baju dan menunjukkan isinya. Bukan main, semua kebutuhan mereka telah disiapkan.


"Semua yang kamu butuhin ada disini. Sudahlah jangan jongkok dan duduk di lantai seperti tadi. Kaki mu saja tadi sakit kram. Bagaimana kalau kamu mati rasa??" Candra khawatir jika Elsa sampai sakit lagi.


"Iya...iya.. terima kasih... sekarang aku mau mandi."


Candra kembali ke ruang tengah. Ia membereskan semua barang yang mereka bawa dari jakarta.


Mbok Yem datang membawa teh madu hangat kesukaan Candra. "Mas, ini di minum. Baik untuk kesehatan dan pencegah capek."


"Baik Mbok... Terima Kasih..."


"Sama - sama Mas, saya bantu apa ini, biar cepat selesai..." mbok Yem membantu Candra mengemasi barang untuk calon bayi mereka.


Kamar mungil dengan tempat tidur bayi. Lengkap dengan wallpaper dan nuansa cat yang amat lucu.


Sepertinya Candra sudah memersiapkan rumah itu sebagai Rumah Tinggal mereka nanti.


"Sudah malam Mbok..mari kita tidur dulu. Terima kasih ya Mbok..."


Candra bersiap untuk masuk ke dalam kamar nya.


"Iya mas, saya istirahat dulu. Besok saya pagi ke pasar. Saya belikan ikan ya mas, kan Ibu suka makan ikan goreng."


"Atur aja Mbok, besok saya mau ke rumah Hendra. Sudah amat sangat lama saya tidak bertemu dengannya."

__ADS_1


Candra pun masuk ke dalam kamar nya. Rupanya Elsa telah lebih dahulu terlelap. Raut wajah lelah dan cantik menggiringi Elsa terlelap.


Candra segera membersihkan diri. Ia ingin menyusul istrinya untuk tidur dan menyongsong hari esok.


__ADS_2