
"Cukup untuk hari ini, sudah pukul delapan.... ah! Delapan Malam. Aku bahkan lupa!!" Elsa mengambil ponsel dari dalam tas.
Ia sengaja mematikan mode suara dan getar. Itu sangat menganggu menurut Elsa. "Dua pulung panggilan, Candra..." Elsa menekan panggilan balik ke Candra.
"Hallo....Candra.. kamu masih disana?"
"Iya, aku menunggu di mini market."
"Oke, aku akan keluar. Tunggu ya.." Elsa segera mematikan ponselnya, ia bersiap untuk pulang. Saat ia keluar dari ruangannya, semua team nya telah pulang. Nampak nya Elsa terlalu lama sendiri di ruangannya.
Ia berjalan lunglai menuju pos keamanan. Absen keluar dan body check, selesai semua Elsa pergi ke gerbang depan. Ia berjalan dengan lemas dan kusut.
Dari jauh, terlihat Candra telah menunggu nya. Nampak diatas meja tunggu Candra, beberapa makanan ringan dan minuman kemasan, Candra sudah lebih dari dua jam menunggu Elsa.
"Cand...." Elsa makin mendekat ke Candra.
"Yuk pulang El..udah hampir jam sembilan malam." Jawab Candra.
Elsa hanya mengangguk kan kepala. Elsa mengambil helm dan naik ke atas motor. Ia berpegang pada pinggang Candra.
Motor Candra pun mulai melaju perlahan. Elsa menyandarkan kepala di pundak Candra. Ia memejamkan mata sesaat.
"Saya engga mau tahu, namanya Budget itu tanggung jawab kamu sebagai leader tertinggi di Finance Bu. Saya paham soal urusan pribadi, tapi ya tolong lah, ini pekerjaan."
"Bu Gm, terhormat. Saya kemarin memang sick leave. saya sakit bukan karena sengaja. Soal pekerjaan akhir tahun, deadline tetep saya buat sesuai dengan bagian saya."
"Sudah lah, kamu terlalu banyak alasan. Saya tidak suka kamu libur terlalu lama. Itu bukan efisien pekerjaan Bu Elsa!"
Gm baru yang datang tiga hari yang lalu. Ia melihat apa yang terjadi pada Elsa karena kesengajaan. mulai dari mama nya pergi, hingga ia harus total bedrest dua minggu. Itu membuat uang menurut boss Elsa yang baru. Bahkan lebih baik Elsa keluar saja daripada libur dengan durasi lama.
Elsa kembali duduk di depan komputer di ruangannya. Deadline, deadline, Elsa memejamkan matanya.
'Oh Tuhan....aku lelah dengan ini semua...... aku lelah dengan managemen ini, aku lelah dengan Boss ku...'
Elsa kembali membuka matanya. Ia melanjutkan perjalanan dan pulang dengan Candra. Pelukan Candra begitu hangat dan nyaman untuk Elsa.
*******
"Baik Pak, ini mobil dengan kredit termurah yang kami bisa kasih. Bisa menghubungi saya di bawah ini.." Candra memberikan brosur ke bapak separuh baya dan perempuan muda di samping nya.
"Jadi papi mau beliin yang mana. Mami suka ini pi...mau ya..warna pink..." perempuan muda berdandan menor (over make up) itu terus mengelayuti lelaki tua tersebut.
"Iya sayang...sabar... papi kan liat dulu, mama udah pake kartu kredit apa belum, nanti malu kalo decline mami..." lelaki tua tersebut semakin terpojok.
"Papi tu, cuman mama aja di pikir. Mama udah tua papi...udah sama mami aja, mama tu pantesnya naik bajaj tuh sama tua nya...." perempuan muda tersebut memonyongkan bibir.
"Sayang...papi kan engga tua.. ya udah mami mau ini, mas.. bungkus satu. Atas nama istri saya. Nanti saya yang bayar."
"Siap pak.." candra bergegas menyiapkan berkas penjualan nya.
Ini hari pertama Candra bekerja sebagai sales mobil. Benny mengamati Candra dari lantai dua showroom nya. Ia begitu kagum melihat Candra.
Benny bahkan ingat bagaimana ia berhutang ke Candra untuk membangun bisnis nya. Candra tak pernah sepeserpun meminta Benny mengembalikan.
"Masuk Candra..." jawab benny saat pintu ruangannya di ketuk.
Candra membuka pintu dan menoleh ke dalam, "Bapak panggil saya?" Benny hanya mengangguk.
Candra masuk dan menutup pintu. Ia berjalan dan berdiri di depan Benny.
"Ngapain berdiri, duduk lah Candra."
Candra duduk dengan posisi tegak dan tegap. "Ada yang bisa saya bantu Pak Benny?"
"Cand...lo panggil kok Pak Benny. Gw tu sohib...sobh nya lo. Panggil benny aja lah."
Candra tersenyum, "mohon maaf bapak, masih jam kerja. Dan saya adalah bawahan bapak. Jadi saya harus menghormati bapak sebagai boss saya."
Benny diam dan memandang Candra.
"Cand.... balik kita ketemu di bar biasanya ya... gw ga bisa ngomong kalo seperti ini suasanya."
"Baiklah Bapak Benny, ada lagi yang bisa saya bantu? Jika tidak, saya mau membatu team, untuk pameran di Mall weekend ini."
"Ya...pergilah..." Candra kemudian pamit dari ruangan Benny.
"Candra. Tak salah ? Anak Adiwinata mau jadi sales mobil.... pasti badai besok malam." Benny masih menggumam..
*******
"Elsa!!" Candra bergegas bangkit dari kursi depan mini market.
__ADS_1
Ia mendekati Elsa dengan membawa helm untuk Elsa.
"Maaf ya lama, tadi aku di panggil Bos.."
"Its ok El. Ayo kita pulang, pasti kamu lelah.." Candra menggandeng Elsa dan membantu nya naik ke atas motor.
Mereka berlalu pergi meninggalkan kantor Elsa. Elsa banyak melamun, memikirkan rencana nya untuk keluar dari tempat kerja nya. GM baru terlalu banyak memberi nya tekanan.
"Elsa.... kamu tau kah? Hari ini aku udah jual empat mobil lho.. dan besok weekend aku ada jaga pameran di mall. Doakan aku ya, biar aku bisa menjual lebih banyak lagi."
Elsa tersadar dari lamunan nya. "Kamu jadi sales mobil? Wah.. selamat ya, pasti kamu bikin iri sales lain. Karena penjualan kamu baik."
"Iya, tapi teman ku benny kurang suka aku kerja disana. Kata nya karena aku dulu yang memberi nya modal untuk showroom nya. Maka benny merasa tidak pantas aku jadi pegawai."
"So....kamu jawab apa?"
"Aku ga masalah, karena aku jobless dan aku punya anak dan istri yang harus aku nafkahi."
Wajah Elsa memerah, Candra menggenggam tangan Elsa.
******
"Candra.....aku lelah dengan kantorku...." Elsa menyandarkan kepala ke pundak Candra.
Di atas tempat tidur mereka. Candra memeluk Elsa balik, mengusap kepala nya. Kemudian mengecup kening Elsa.
"Maafkan aku El.."
Elsa membuka kedua matanya. "Maaf untuk apa?"
"Karena aku, kamu masih harus kerja dengan sebegitu berat. Andai aku tidak menggunakan ego ku semata. Mungkin kamu bisa keluar dari kantor mu itu."
Elsa memiringkan badan ke arah Candra. "No...tidak Cand.... aku harus berjuang, demi kita dan si kecil. Aku engga mau dia sampai melihat papa - mama nya menyerah. Dia harus tau, jika dia lahir dari benih orang yang kuat."
Candra memeluk elsa, hembusan nafas Candra mengiringi dekapan hangat nya. Candra melonggarkan pelukan nya.
Kemudian ia memanggut dagu Elsa. Bibir candra mendekat ke arah yang seharus nya.
Mereka saling bertukar ludah, bertukar rasa yang sudah amat lama mereka lupakan. Mencari selah atas kehangatan dan pembuktian cinta mereka.
Sungguh malam yang hangat.
********
Elsa tergopoh - gopoh membawa berkas dengan map transparan bergambar bunga sakura. Ia memasukkan beberapa dokumen yang Candra tak mengerti.
Candra mendekati Elsa, menuntun untuk duduk di kursi makan mereka. "Cand...."
Candra tak menggubris, ia membantu merapikan berkas Elsa dan memasukkan ke dalam map. Kemudian ia duduk bersimpuh, mengambil "Lotion for crack peal" (anti pecah telapak kaki) ia membalur ke telapak kaki Elsa.
Kemudian ia mengambil sepatu kets yang baru saja ia beli.
Ia meletakan di depan kaki Elsa. "Cand!"
"Apa Sayang?" Candra tapi tidak menatap Elsa.
"Ini sepatu siapa??"
"Aku beli semalam, aku liat beberapa hari ini kaki kamu sering kram di malam hari. Sepatu yang aku belikan sudah agak sesak di kaki kamu. Jadi aku beli lagi yang baru. Memang ini tidak feminim seperti sepatumu yang lain. Tapi ini cukup nyaman kok."
"Candra, kamu beli ini? Ini sepatu mahal, bahkan ini limited edition! Baru ada beberapa yang masuk indonesia." Elsa marah karena Candra membuang uang nya. Tentu saja sepatu ini mahal sekali harganya.
"Aku dapat bonus dari penjualan mobil. Jadi aku belikan ini, sudah pakai saja. Karena sepatu bagus akan membawa kamu ke tempat yang bagus juga."
Candra kembali membantu Elsa memakai sepatu nya. Kemudian Candra membantu Elsa berdiri. "Jadi kamu ada acara apa?"
"Aku mau ketemu sama Mr. Cheng. Ia menawariku kerjasama, waktu ada bazzar di kantor, ia suka dengan produk Rani jadi ia mengajak bekerjasama..."
Candra diam sesaat, "ok Els..kamu udah dewasa, aku yakin kamu bijak kok dalam bertindak."
"Baiklah, aku jalan dulu ya. Bye sayang." Elsa mencium Candra dan berjalan ke pintu keluar Apartemen.
Candra memandang istrinya yang pergi berlalu. Kemudian ia mengambil Ponsel nya.
Candra melakukan panggilan ke salah satu nomor di ponsel nya. Kemudian Candra mulai berbicara. "Gutten Morgen Mr. Brailey......"
Ia candra berbicara dalam bahasa jerman. Dari pembicaraan mereka, Candra setuju dengan perjanjian dengan Mr. Brailey.
"Dangke! See ya Mr Brailey..."
***********
__ADS_1
"Mr.Cheng...how are you? Nice to meet you...
And hello Mrs. Cheng....long time no see ya..." Elsa bersalaman dengan Mr. Cheng dan istrinya.
Pertemua bisnis mereka di area bandara di Jakarta. Di sebuah kafe di area luar ruang tunggu.
"So...if we get this contract. You'll leave the hotel?"
"Sure Mr. Cheng, i'll have a baby. And i want to take care and do all the mommy's Job."
Mereka mengangguk mendengar Elsa. Namun kemudian melambai ke arah luar. Seseorang masuk dari pintu di belakang Elsa.
Orang tersebut bersalaman dengan Mr. Cheng. "My Bad boy!! Did you miss me?!"
Hah! 'Laki gw' kata Elsa dalam hati.
"Hallo sayang, kaget?"
"Iya lumayan...kaget.." jawab Elsa.
Candra kemudian duduk di samping Elsa. "Jadi Mr. Cheng ini adik mama aku. Ya dia saudara kamu juga kan?"
"Aaaa....we are family ya?" Jawab Mr.Cheng.
"Yes Pak Cheng...family...." Elsa tersenyum kecut ke arah Candra.
"Sudah Elsa, saya bisa bahasa. Saya pakai english karena karyawan kamu itu tak fasih cakap english nya. Saya binggung pusing dan tak paham. Maka saya bicara english so they can speak better to other guest. Biar mereka terus berusaha jawab saya tanya pakai english."
"Astaga Mr.Cheng..."
"Call me uncle..."
"Uncle Cheng, berkat om. Kami ada english class. Dan improv banget buat temen - temen. Apalagi om adalah returny kami. Sangat berpengaruh." Jawab elsa.
"Sudah, saya sign ini. Saya deal dan percaya kamu. Jaminannya Candra! Ha ha ha!!" Pak Cheng langsung menandatangani dan membetulkan kata dalam bahasa inggris Elsa yang salam dalam kontrak.
"Ini..." elsa menerima kontrak bertanda tangan. Dan mereka saling bertukar isi kontrak bermeterai tersebut.
"So.. besok rabu, kamu kirim ya. Dengan cargo pesawat nomer satu di indo. Saya mau satu malam sampai."
"Siap Om, pasti saya ini mau ambil ke stasiun untuk barangnya."
Mr. Cheng dna istri nya berdiri dan berpamitan. "Sudah saya dan nyonya berangkat dulu. Kami harus ke malay dulu. See you. Sukses ya buat kalian."
"Terima kasih dan hati - hati om.." jawab Candra.
"Terima kasih mr & mrs Cheng. Take care."
"Iyah..terima kasih ya nak.. hati - hati dengan kandungan mu." Pesan Mrs Cheng. Mereka berdua pun berlalu meninggalkan aku dan Candra.
"Hei!! Kamu kok ga bilang dia om kamu!" Elsa marah ke Candra. Sementara candra tersenyum dan menahan tawa.
"Habis kamu engga tanya dan engga bilang mau kemana.."
"Lha aku juga ga tau kan. Dia waktu kita nikah juga engga datang." Jawab Elsa sambil cemberut.
"Dateng Elsa...dia datang, tapi kamu engga sadar. Karena dia datang dengan setelan jas rapi. Bukan seperti tadi kan? Celana pendek, kemeja warna kelabu kaya udah lama dan istrinya cuman pake tas kain begitu." Jelas Candra.
Elsa diam dan mencoba mengingat. "Iya juga ya, aku biasa ketemu dia pake begini sih."
"Udah ayo pulang, kamu harus packing. Aku udah beli karung dan kardus untuk double packing dari Rani." Candra berdiri dari sofa dan mengulurkan tangan nya.
"Iya..." Elsa menerima uluran tangan Candra dan perlahan bangkit dari sofa. Ia menggandeng Candra keluar dari kedai kopi.
mereka berjalan ke arah parkir kendaraan. Candra memberikan jacket, masker dan helm untuk Elsa. kemudian mereka pergi ke stasiun untuk urusan bisnis mereka.
"Elsa... kalau ini sudah berjalan. kamu keluar saja dari kantor. aku engga kuat liat kamu tiap hari lebih lelah dari sebelum ini."
"iya Cand... mau ku juga begitu. karena Boss baru ku itu agak terlalu memaksa. dia baru pertama kali menjadi boss di Indonesia. jadi terlalu banyak hal yang dia tu ga paham.."
"yang jelas Elsa....aku engga suka. kamu sakit, tapi dia ga mau tau, dan minta kamu masuk.... apalagi USG kemarin, bayi kita udah makin besar. ini menjelang trimester ketiga.. aku engga mau Noura kenapa - napa."
"iya Candra.....soon aku bakalan resign." candra kemudian diam, Elsa menyandarkan kepalanya. perut kian membesar dan Elsa masih harus memilih. mau tetap pada ego nya. pekerjaan dan karier, atau dia mau sedikit mengalah untuk calon putri mereka.
Elsa menutup mata nya. ia terbawa pada masa kecil nya. saat berumur dua tahun, ia menyambut almarhum ibu nya yang baru pulang.
"mami...." Elsa berlari ke arah pintu depan.
"issh! apa sih, cerewet! minggir! engga tau apa orang capek." jawab mama Elsa begitu menyakitkan.
tak sadar air mata Elsa menetes. 'engga nak. mami ga boleh begitu ke kamu. mami saya kamu.' Elsa mengelus perut nya. Elsa merasa anak dalam kandungannya juga merespond.
__ADS_1