
Candra langsung mendekati Elsa. mendorongnya ke belakang pintu, Candra mengangkat dagu Elsa. mendaratkan ciuman manis ke Elsa.
Candra seolah ingin menegaskan siapa dirinya. ia ingin Elsa tau bahwa ia serius dengan apa yang dilakukan.
Candra langsung menghentikan tindakannya. Candra melepaskan nya pagi itu. Candra mendekati Elsa, persis di depan wajahnya. Candra mengangkat dagu Elsa dan menatap Elsa tajam.
"sekali lagi aku dengan kata saya atau anda keluar dari mulutmu. aku akan memberi pelajaran lebih lagi kepadamu." Candra melepaskan Elsa dan mengambil sepatu kerjanya.
mereka keluar dan menunggu lift terbuka. ketika lift terbuka mereka berdua masuk. lift tertutup dan turun ke bawah. Diam dan berdiri di sisi pojok kanan dan kiri lift.
Elsa mengutuk dirinya sendiri, 'bodoh! tak seharus nya aku berkata sekasar itu kepada Candra.'
lift terbuka dan Elsa keluar bersama Candra. mereka berjalan menuju parkiran mobil. Candra menekan kunci otomasi mobil nya dan mereka masuk ke dalam.
sepanjang perjalanan tak ada satu kata pun terucap. hingga tepat berhenti di depan Hotel Elsa bekerja. "baiklah aku masuk dulu Candra."
"Tunggu!" Elsa langsung berhenti saat ia akan membuka pintu mobil.
"iya Candra?"
"maafkan aku soal kejadian tadi. banyak hal yang aku lakukan ke kamu. banyak banget yang salah dan tak seharusnya terjadi. aku engga meminta banyak, tapi keinginan mama kamu.....agar kita ber rumah tangga dengan baik dan normal....hanya itu yang mau aku lakukan.." Candra memandang Elsa.
"aku tidak pernah memaksa kamu untuk berbakti kepadaku sebagai istri Elsa. karena aku sadar, aku banyak menghancurkan hidup mu. tapi sejak bertemu dengan mama, banyak hal yang engga aku tahu soal kamu...dan aku cuman mau meminta..ayo..kita mulai dari awal apa yang sudah aku hancurkan...." mata Candra melunak memandang Elsa.
Elsa terdiam dan berfikir, "soal memulai kembali, kita itu hanya tinggal menjalani sekitar 1 tahun beberapa bulan lagi. apa perlu kita memulai dan bertahan? apalagi kamu selalu membahas soal anak. kamu tahu? itu bagian yang paling menyakitkan buat ku. aku menyerah Candra, aku akan bilang sejujurnya kepada papamu. mengenai keadanku.
agar papa....papa tidak berharap besar kepadaku Cand....
aku masuk ke dalam dulu....,"
Elsa berjalan cepat masuk ke ruangan nya. Setiap bertemu orang hanya tersenyum saja Elsa. Elsa menutup pintu ruangan nya dan terduduk diam di atas kursi.
air mata Elsa keluar saat mengingat apa saja yang telah ia lewati. apalagi sampai bertahan sejauh ini dengan Candra.
"ini ambil minum pil ini, jika kamu sampai hamil hanya akan menciptakan masalah buatku."
kalimat terdengar seperti petir dalam hati Elsa. betapa indah nya saat perempuan mengandung dan melahirkan bayi mereka. betapa bahagia sebagai orang tua baru.
namun...bagi Elsa ini seperti mengharap turun salju di jakarta. tak akan mungkin.
*********
Elsa pulang lebih awal, mereka ada janji makan malam dengan Bapak Joko Adiwinata. Restorant pinggir jakarta menjadi pilihan mereka.
Candra berjalan menggandeng tangan Elsa menuju pintu masuk Restaurant. Elsa memandang tangan mereka yang bergandengan. ini seperti mimpi, mereka bahkan hampir tidak pernah bergandengan seperti ini.
Terlihat orang tua candra sedang duduk di pojok bagian dalam Restauran ini. Elsa dan Candra menghampiri mereka. Candra menarik kursi untuk Elsa duduk.
"terima kasih." Ucap Elsa.
"ini papa pesan beberapa hidangan. jika ada yang kamu mau tambah saja cepat."
"sudah pa, ini cukup sekali." Elsa menjawab
Candra mengambilkan nasi untuk Elsa. satu centong nasi penuh di tumpahkan Candra ke piring makan persis depan Elsa. "makan dulu Elsa....." ucap Candra halus.
mereka makan malam dengan tenang. Elsa berhasil mencairkan suasana yang tegang antar ayah dan anak ini. Tante Ruby pun lebih banyak diam selama makan malam ini.
tiba akhirnya pada hidagan penutup. Ice cream potong dengan taburan remahan cookies dan beberapa buah kaleng. ini tipe desert favorit Elsa. Elsa langsung mulai memakannya begitu hidangn ini datang.
Candra melihat Elsa tersenyum senang melihat banyak sekali makanan yang masuk ke perut Elsa.
"jadi...apa kalian menunda momongan? atau sudah konsul dengan ahlinya" Elsa langsung menghentikan sendok dessert dengan posisi ingin menyuap masuk ke mulut Elsa.
"kami tidak menunda pa...cuman benerapa bulan ini Elsa begitu lelah. aku juga tak bisa memaksa nya." jawab Candra.
"apa kamu ikut NGK sebegitu berat nya?" papa langsung menatapku.
__ADS_1
haruskah aku jujur dengan keadaan kandunganku. "aku baru memulai karir pa...jadi banyak hal yang aku harus benahi soal kantor ini dan aku memang salah tidak melakukan tugasku sebagai istri..."aku menunduk dan diam.
"sejujurnya papa itu mengharap kalian cepat punya momongan.....karna tanpa ada anak, mustahil kalian akan terus bersama.. dan
.. papa juga akan sulit membagi warisan ini kepada Candra. karena Ruby juga pasti harus papa beri sedikit bagian di perusahaan."
ya..... papa.... mereka menganggap anak semudah dan sekecil itu.
"tanpa ada nya anak pun, jika kami saling mencintai, kami akan bertahan sesulit dan seberat apapun itu. karena buatku, anak itu titipan pa....bukan barang yang kehadirannya begitu mudah karena maksud ato tujuan tertentu." aku langsung meng skak - mat papa.
Candra menggengam tangan kanan ku, jarinya begitu hangat. aku bagikan wanita yang haus akan belaian lelaki. tangan Candra begitu hangat, membuatku ingin menjelajahi lebih dalam lagi area tubuhnya.
"Ya...maafkan papa...papa cuman tak mau kalian berpisah seperti papa. Ruby itu sahabat mana Candra. ketika Susan sakit, Ruby selalu menemani kemana dan kapan pun Susan berobat. hingga suatu masa Ruby hamil oleh kekasih nya, namun karena keadaan ekonomi...Ruby di tinggalkan laki - laki tersebut." Pandangan papa jauh mengingat kejadian puluhan tahun lalu.
"sudah pa.. Elsa lelah, jika tak ada yang perlu di bicarakan kami permisi dulu. Elsa apa kamu sudah selesai dengan piringmu?" Candra memandangku.
aku baru saja selesai dengan makan malamku. "sudah....," jawab Elsa.
Candra menarik Elsa agak mengikutinya pergi. Elsa memandang om Joko. matanya berkaca, aku bisa merasakan Candra begitu membencinya. tapi...Om Joko lebih merasa sakit atas perlakuan Candra.
kami saling diam dalam perjalanan pulang. mimik wajah Candra terkesan kesal dengan apa yang di lakukan papa nya. entah sedalaman apa rasa sakit nya. Candra begitu membenci atas kepergian mama nya.
"kamu kenapa liatin aku terus?"
Elsa kaget dan tersadar, "engga..kamu pede banget.." Elsa membuang muka melihat jalanan.
mereka sampai di apartemen Elsa. Elsa berusaha membuka kunci apartemen nya. dan mereka masuk. Elsa meletakkan tas kerja dan melepas sepatu nya.
Candra mendekap Elsa dari belakang. memeluk begitu erat, hingga tak ingin mereka berpisah. Candra menghirup aroma tubuh Elsa dalam - dalam. "aku ingin memeluk dan bersandar Elsa....aku lelah..."
Elsa menepuk tangan Candra dan mencium lengan Candra. Candra membalik tubuh Elsa, tatapan mata Candra begitu dalam dan menghipnotis Elsa.
Candra mendekatkan bibir mereka. malam itu mereka bersama...
********
Elsa membuka matanya, melihat sinar matahari sudah naik. Elsa mengusap kedua matanya, badannya pegal semua. seperti habis di hajar oleh pelatih wushu nya dulu saat latihan.
air mengucur dari shower membasahi tubuh Elsa. Elsa berusaha menghapus ingatan semalam soal Candra. bagaimana perlakuan dan sentuhan - Sentuhan Candra.
Elsa menunduk di bawah guyuran air. 'apa yang Candra lakukan ini, aku....aku apa harus memberi kesempatan ke Candra. tapi. aku saja hanya tinggal menjalani sisa kontrak ku.'
Elsa mematikan Shower, mengeringkan rambut dan menggunakan handuk menutupi tubuhnya. Elsa keluar dari kamar mandinya, Candra belum terlihat. Entah kemana dia pergi.
Jam dindin menunjuk kan pukul 07.00. Elsa bergegas mwncari baju kerjanya. Elsa mengenakan atasan batik warna maroon dengan aksen gambar Angsa di belakang berwarna merah muda. Elsa mengambil Celana kain warna hitam dan sepatu flat warna hitam.
Elsa memulas wajahnya, memberi perona di pipi, eye shadow dan lipstik berwana merah bata. Elsa sedang memakai sepatu dan bersiap berangkat. Elsa hampir saja lupa mengambil Ponselnya yang sedang di isi daya nya.
Elsa baru sadar Candra memberi pesan lewat ponsel.
Candra\= aku pergi dulu, aku harus mengejar pesawat pagi ke surabaya. sore aku pulang dan kita akan bertemu lagi.
me\= ya.
aku pun berangkat kerja dengan berjalan kaki. saat aku hampir sampai, ponselku berbunyi. aku melihat "Papa". Elsa menekan tombol warna hijau di layar ponsel Elsa.
"hallo pa?"
"Elsa..kamu dimana? papa mau ketemu sebentar saja sama kamu. papa mau cerita ke kamu yang sebenarnya soal mama."
"boleh pa...papa ada waktu kapan? aku masih perjalanan ke kantor."
"Kalau sore bagaimana sekitar pukul 4.00."
"boleh pa, Candra juga hari ini sedang ke surabaya. jadi aku bebas bisa pergi setelah kerja...eh..maksudku dia engga..."
"iya Elsa...kamu sepertinya paham maksud papa. kita ketemu di cafe dekat kantormu ya.oh iya apa kamu bisa? karena itu kan masih jam kerjamu..?"
__ADS_1
"Bisa pa..aku bisa ijin pulang cepat. lagipula, aku belum pernah pulang cepat atopun cuti sebelum ini"
"baiklah papa tunggu..hati - hati ya Elsa.."
"baik pa....bye..." aku menutup panggilan dari papa. Entah mengapa aku bisa merasa dekat sekali dengan ayah Candra. padahal kami saja sebelum nya jarang bertemu.
*********
aku duduk di kedai kopi samping kantorku. menunggu papa datang, kopi asian Dolce karamel panas menemaniku sore itu.
Setelah 5 menit menunggu, papa datang juga. beliau datang sendiri, langsung datang menghampiriku. kemudian menepuk pundakku. "sudah lama menunggu Nak?"
"belum pa..." papa pun duduk di hadapanku.
"papa engga mau pesan sesuatu?" papa kemudian melihat menu yang ada di papan tulis belakang kasir..
"americano saja..."
aku berdiri dan memesan kopi untuk papa. setelah menunggu beberapa saat kopi papa sudah jadi. aku membawa dan duduk di hadapan papa.
"ini pa..." aku menyodorkan kopi ke arah papa.
"terima kasih." papa menaruh ponselnya dan mulai diam sesaat.
Aku meminum perlahan kopi di hadapanku. "Papa binggung mulai dari mana." aku kemudian menaruh kopi ku.
"Papa cerita saja apa yang jadi ganjelan papa...biar papa sedikit lega.."
Papa memejamkan mata, seperti mencoba mengingat kejadian tersebut. Dan kembali mengingat ke masa itu...
"GILA KAMU DEK!!! Kamu nguruh aku nikah sama Ruby? Kamu itu istriku"
Susan memeluk Joko dari belakang. "Mas...aku cinta sama kamu. Aku ga mau kamu tidak ada yang merawat mas saat aku sudah pergi...",
Joko melepaskan pelukan susan, kemudian berbalik melihat susan. Joko menghapus air mata susan, "dek...kamu meninggal pun, aku tetap cinta ke kamu. Aku ga bisa dek, aku ga mau."
"Mas...tolonglah.....tolong ruby...dia itu yatim piatu, sepupunya kaya tapi tidak mau membagi sepeserpun buatnya. Dan....ruby juga sedang hamil mas, pacar ruby juga pergi meninggal kan dia." Susan mulai menangis...
Joko tetap diam tak bergeming. "Mas kan tahu sendiri. Ruby selalu menemaniku kemoterapi dan kemana - mana menemaniku. Tolonglah mas, aku mohon kita berpisah....aku berjanji mas, berjanji kalau aku akan berobat dengan serius demi kamu dan anak - anak.."
Joko hanya diam tak bergeming...
"Begitulah Elsa....ide gila yang menurut papa bisa membuat mama mau berobat dengan benar.. tapi papa salah Elsa..." mata papa mulai berkaca - kaca.
"Setelah papa berpisah dengan mama. Papa menikahi Ruby, di mata keluarga papa begitu jahat... papa sampai hati menceraikan mama, dengan kondisi kesehatan yang memburuk...
Mama kemudian menghilang membawa serta Candra yang saat itu masih SMP...Hangga ikut dengan papa karena mama tak sanggup mengasuh mereka.."
Aku diam menatap papa...hujan mulai turun di luar, terlihat dari jendela samping kami.
"Ruby....ruby memang wanita pintar...papa menikahinya, namun anak yang di lahirkan olehnya, pada saat itu down syndrom..."
Aku langsung menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.
"Ya...karena malu, anak tersebut kami titip kan di yayasan anak penyandang disable. Papa tak pernah bisa menyentuh Ruby. Hingga saat mama meninggal Ruby berkata kalau, dia di minta susan untuk saat ini menjagaku..."
"Pa...berarti papa pisah bukan mau papa sendiri, karena papa terpikat kecantikan mami Ruby?" Aku bertanya polos.
"Ya betul... tapi cap kalau papa tidak mau merawat mama dan memilih pergi dengan wanita lain. Papa ga pernah berfikir ide gila mama pada saat itu berdampak hingga saat ini." Papa meminum kopi nya.
"Papa engga mencoba menjelaskan ke Candra yang sebenarnya?"
"Sudah Elsa..namun semua nihil, makanya papa harap dengan papa cerita seperti ini, kamu bisa membantu papa.. papa susah tua Elsa....papa sudah ga bisa mengurus semua bisnis ini. Papa cuman bisa minta di bantu agar bisa akur dengan kedua anak papa. Tolonglah..." nada papa berubah lirih.
"Pa....papa sendiri bagaimana perasaan nya dengan mami?"
"Papa? Ya begitulah...tidak munafik setelah kepergian mama..papa membutuhkan tempat untuk melepaskan apa yang papa butuhkan.. tapi papa sama sekali tidak pernah melupakan mama. Cinta papa hanya untuk mama.
__ADS_1
Itulah juga, kenapa papa pengen punya cucu..agar bisnis ini tidak berhenti Elsa..."
Soal anak....lagi????