
"Inget ya.. kamu tunggu aku jemput. Jangan pergi sendiri, apalagi kita mau ke dokter. Jangan jalan sendiri, apalagi numpang sama Christian." Candra mendikte Elsa dalam perjalanan.
Elsa memilih diam dan melihat keluar. Pemandanga jalanan lebih menggoda untuk Elsa daripada mendengarkan Candra.
"Sayang...." Candra memanggil Elsa.
"Elsa......" Candra memanggil lebih keras...
"Elsa Nirmala! Nyonya Candra Adiwinata!"
Elsa kemudian tersentak, kaget dan menoleh ke Candra.
"Iya Candra Adiwinata... ada yg bisa saya bantu?" Elsa mencoba mencairkan suasana. Elsa melempar senyum termanis nya.
Wajah Candra menjadi merah. Ia memilih diam, tak berkata banyak sepertu sebelumnya.
"jangan beri aku senyum itu. eh salah! senyum itu hanya milikku." Candra jadi begitu kekanak - kanakan. cemburu yang berlebihan.
"Maaf suamiku tersayang, aku hanya senyum ke kamu aja...aku agak mengantuk dan lelah... makanya aku jadi tidak fokus... bagaimana Candra?" Elsa masih mencoba mencairkan suasana kembali.
"......."
"Baiklah Candra kalau kamu tidak mau bicara padaku... aku ikut diam saja..." Elsa tetap memandang Candra.
Candra melirik ke arah Elsa. namun, malah wanita tersebut memilih melihat jalanan.
Pikiran Elsa kembali ke 10 tahun lalu. Bagaimana ia dan Tian menjalani hubungan tanpa ada masalah apapun. bahagia, hanya kenangan itu yang amat sulit di hapus Elsa.
Hubungan sepasang sejoli yang adem ayem. Bahkan menjadi pasangan favorit karena tanpa masalah dan pertengkaran yang di lihat orang dari luar.
Namun.....
Elsa memejamkan matanya...
"Bagaimanapun, kita sudah selesai. Aku memilih Rachel daripada kamu. Sudahi saja segalanya!"
"Tiaan.....please..apa salah ku sama kamu.... maaf kan aku, jangan tinggal kan aku... aku cinta tiaan....tian...."
"Elsa aku lelah, kamu itu kuper dan jelek. aku...aku lelah kamu selalu mementingkan dirimu, kamu. sudahlah!! jangan lagi menghubungiku kecuali urusan sekolah!" Christian pergi dengan meninggalkan Elsa di depanLaboratorium biologi.
Ia menghampiri Rachel yang telah menunggu di persimpangan kelas.
"Rasain lu.. makanya jangan sok cakep jadi cewe..." Rachel mencibir Elsa. mereka berdua pun pergi meninggalkan Elsa.
Elsa pada saat itu hanya menangis. Jas praktikum warna Elsa basah dengan airmata nya. entah mengapa Elsa tak dapat sedikit saja menaha. sakit.
hanya itu yang Elsa rasakan.
saat itu Olla sahabatnya memberi saputangan ke Elsa. "Makasih La..."
Olla duduk di samping Elsa "El...kayanya kamu lupain Tian aja deh, dia serius buat bubar sama kamu. Lagi pula.... kita kan jadi tau kalo selera dia itu ya model kaya si Rachel yang penampilan mirip tante - tante." Olla menghibur Elsa.
"La... kamu tau kan... papa ku bangkrut, sakit jantung pula sekarang.... aku aja engga tau, apa masih bisa lanjut sekolah lagi..."
"Elsa... aku bakal bantu ngomong ke yayasan, biar setidak nya kamu bisa lulus dulu. Kita tinggal setengah tahun lagi Elsa...." Olla kemudian memeluk Elsa. tangannya menepuk pundak Elsa.
"kuat El. kamu harus kuat... kamu pasti kuat." Kedua mata Olla mulai ikut basah dan meneteskan air mata. ia sedih sahabat nya harus merasakan apa itu kehilangan.
Elsa hanya mengangguk, ia memutar - mutar ujung kain sapu tangan Olla. Bibir bawahnya terkatup, matanya sembab. Hanya Olla yang paling mengerti bagaimana Elsa mencintai Christian.
Namun..... dari jauh Candra yang mampir untuk meminta legalisir Ijasah. Bersembunyi di balik pilar di samping Elsa. Ia bahkan menyaksikan semua nya. Tangan nya mengepal melihat Elsa menangis.
***********
"El......" Candra membuyarkan lamunan Elsa.
"Eh iya Candra...." Elsa langsung sadar.
"Kamu ngelamun, masih mengingat kejadian itu?"
"Kejadian?" Dahi Elsa berkenyit.
"Ia... kejadian waktu di depan Lab biologi Kamu nangis kan waktu itu..." Candra memperjelas kata - kata nya.
Elsa diam kembali, rasanya seperti hati yang sudah sembuh luka nya. Kembali lagi di buka oleh Candra.
"Bisa kita tidak membahasnya?" Elsa berusaha menguatkan hatinya. ia harus ingat bagaimana sakit itu dan Candra kini suami dan ayah dari anak dalam kandungannya.
"Aku hanya bertanya El," Candra mencoba menetralisir keadaan.
"Sudahlah.... dia hanya ingin..... ingin menegaskan, apa yang dulu... sorry....lebih tepatnya aku. Aku yang ingin...... ingin dan harus menegaskan bahwa, tiada lagi Elsa - Tian yang dulu. Sudah mati mereka! Yang ada ya kita sekarang. jalani lah hidup kita masing - masing."
Elsa kemudian menatap ke Candra.
Candra yang berhenti di lampu merah menatap Elsa juga. Wajah mereka mendekat, cup....
Ciuman singkat yang di beri Candra. Hal kecil yang membuat Elsa merasa di cintai.
Walaupun Candra tak pernah berucap langsung. 'Aku cinta kamu.' Tapi dari setiap hal yang lakukan Candra telah mewakili isi hati nya.
********
__ADS_1
Mobil Candra berhenti di depan Parking Drop off di depan cafe.
"Pokok nya kamu pulang tunggu aku. Aku jemput, aku engga mau kamu...."
"Diantar pulang Christian kan?" Elsa melepas seatbelt.
"Iya Elsa....tunggu..." ucap Candra.
Elsa pun berhenti dan berbalik ke arah Candra. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningbElsa.
"Bawa uang ini, kamu kan belum menerima gaji mu lebih baik kamu juga membawa uang." Candra memberi beberapa lembar uang berwarna merah pecahan 100.000 rupiah.
"Banyak sekali Cand... ini..." Elsa menghitung ada 5 lembar.
"Sudah terima aja, buat pegangan kamu dulu."
Elsa menerima nya dan memasukan ke dalam dompet nya. Benar saja dompet Elsa kosong tak berisi sama sekali.
Kemudian Elsa turun dan kaca mobil di turunkan oleh Candra.
"Hati - hati ya Candra...byee....." Elsa melambaikan tangan..
"Byee honn....." balas Candra yang kemudian pergi berlalu.
........
Elsa berbalik dan masuk ke dalam cafe Anomali. Cafe dengan tema modern minimalis. Barista menyapa Elsa.
"Selamat Pagi kak... mau pesan spesial promo kami hari ini?" kasir di hadapan Elsa dengan nama Bastian menyapa.
"Baik kak sebentar biar saya memilih ya.." Elsa melihat ke arah papan menu yang ada.
Elsa binggung memilih mana yang ia pilih. Semua menu baru dan Elsa sedang hamil, ia berhati - hati dalam memilih minuman apalagi yang mengandung caffein.
"Matcha Latte less ice less sugar no whip Cream." Suara dari samping Elsa. suara yang amat ia kenal.
"Tian?" Elsa berdiri dan menatap Christian.
"Baik Kak..ada lagi? Iya, satu hot Cappucino, pie apple dan satu vegan Cookie. Atas nama saya, Christian." sesosok laki - laki berdiri tegap disamping Elsa. dengan ulang rahang yang sempurna, bibir merah alami dan mata yang cantik.
"Baik kak, saya ulang pesanan nya. Matcha latte ice less sugar and ice, cappucino hot, apple pie dan vegan. Sudah benar semua kak? Pembayaran dengan apa ya maaf."
"Ini." Christian mengeluarkan Debit Card berwarna hitam bertuliskan Platinum.
"Baik mohon di tunggu, semua jadi 349.500 Rupiah ya kak. Mohon pin." Petugas kasir memberi mesin Edc ke Tian.
"Baik ini kak kartu dan bill nya, silakan di tunggu di samping saya kak." Kasir menunjuk arah kanannya.
"Kamu tunggu sana aja Elsa. Biar saya yang menunggu disini." Christian membuka suara.
Elsa menatap Christian, begitu tegas dan gentle nya. Elsa teringat kenangan 10 tahun lalu. Bahkan jantung Elsa berdebar lebih dari biasanya.
10 tahun lalu.....
Kringgg....krinngg.... (bel istirahat berbunyi)
"Kamu engga makan Bee..?" Tian dengan seragam putih abu - abu menghampiri Elsa yang duduk sendiri di kelas.
"Engga Bee, aku ga bawa uang buat makan. Aku cuman bawa 10 ribu, buat ongkos naik angkot." Elsa menunduk dan memilih membaca pelajaran selanjutnya. Meski perut Elsa amat sangat lapar, ia hanya minum air putih yang ia jadikan bekal dari rumah.
"Bee... ikut aku cepet..." Christian menarik tangan Elsa. Ia memaksa gadisnya untuk ikut ke kantin sekolah.
Christian berhenti di depan kedai 'Tante Non'.
"Tante, aku mau dua nasi katsu extra kulit ayam goreng ya, di makan sini. Sama bungkus dua Katsu nasi sama Capjay. Minum sini Es Teh manis 2."
"Baik ndoroo...duduk mana?" jawab Tante Non.
"Sana." Christian bahkan menarik Elsa hingga mau duduk di hadapannya.
"Bee...aku..."
"Udah makan aja. Kamu kalo sakit, malah kamu bikin mama makin banyak pikiran, katanya abis ini kamu mau ngajar les buat murid kamu. Kamu harus makan dulu bee..." Christian membelai tangan Elsa.
Elsa menganggu tanda setuju dengan Christian....
"Ini yang makan disini....terus ini yang di bungkus." Tante Non mengantar ke meja kami.
"Terima kasih tante, ini uangnya.."
"Banyak sekali..?" Christian memberi 2 lembar uang seratus ribu.
"Iya tante, itu deposit. Kalau besok aku pas latihan badminton, Elsa bisa beli makan di tante. Pokok nya itu buat makan Elsa. Kalau kurang tante bilang ke aku."
"Siyap ndoroo...pokok nya ini tante catet ya...terima kasih.. mari di makan." Tante Non meninggalkan kami.
"Christ....."
"Beee." Christian cemberut.
"Bee... kamu...." Elsa belum menyelesaikan kalimat nya.
__ADS_1
"Iya...udah makan aja. Aku engga mau kamu laper sayang. Aku sedih sama engga konsen kalo tau kamu sakit. Apalagi minggu depan aku ada badminton Cup di kudus..."
"Baik Bee...makasih ya bee.... tapi dengan apa aku bales ini..?"
"Dengan mencintai aku walaupun aku banyak lupa nya kalo udah main game sama latihan.." Christian membelai pipi dan rambut Elsa.
Elsa tersenyum dan mereka melanjutkan makan siang mereka hingga bel tiba.
Mereka bergandengan tangan masuk dalam kelas, memang sejak masuk SMA mereka sudah satu kelas.
Pulang sekolah pun tiba, Elsa menunggu angkot di sebrang sekolah. Tapi motor merk Honda dengan Velg Racing dan Dominasi Body warna hitam dan merah berhenti persis di hadapan Elsa.
"Naik bee..." Christian membuka helm nya.
"Kamu engga latian Bee? Aku mau ngajar sejam ke jalan anggrek."
"Coach ga dateng, daripada Rachel ngedeketin mending aku sama kamu sayang." Christian memberi helm berwarna putih dengan gambar winnie the pooh.
"Rachel bukannya pasangan ganda campuran kamu bee? Emang dia kenapa?" Elsa menerima helm dan memakai nya. Kemudian Elsa mulai bersiap naik ke motor Christian.
"Ganjen pokoknya Bee.. aku jijik sama dia. Latian aja malah pake rok segitu mini, baju nerawang lagi.." Christian merasa jijik.
"Bukannya temen - temen cowo malah pada seneng Bee liatnya?" Elsa sebenarnya sedang memancing Christian. Ia merasa cemburu karena gosip yang beredar Rachel suka kepada Christian.
"Seneng buat di liat Bee? Kalau aku lebih suka kamu. Tertutup bikin penasaran dan engga semua orang melihat. Cuman aku yang bisa lihat Bee.." Christian mulai melaju perlahan, ia ingin menikmati saat bersama Elsa.
"Maksud kamu Bee??!" Elsa merasa malu dengan jawaban Christian.
"Hati kamu Bee... kan cuma ada aku... hati aku juga cuman ada....Elsa Nirmala...." tangan kiri Christian kemudian memegang tangan Elsa yang mengelusnya.
Elsa menyandarkan kepalanya ke pundak Christian. Ia merasakan detak jantung yang kencang dan hangat dekapan Christian.
"Bee..... peluk aku terus ya.. jadi sandaran ku, aku lelah Bee... aku pengen istirahat Bee.. aku cinta kamu Bee..." bisik Elsa.
"Pasti! I Promise Bee... your only one. Hatiku selamanya hanya ada kamu Bee... i love you Bee...." ucap Christian dengan mantap.
****************
"Elsa???? Kamu ngelamun?" Christian membuyarkan ingatan Elsa akan sepotong kenangan manis.
"Sorry gw ga fokus, lelah gw abis ngelayani suami sih gw. Kayanya gw duduk di pojok sana aja deh.." Elsa pergi ke arah tempat duduk.
Ia sengaja memberi tahu Christian bahwa ia habis memadu kasih dengan Candra. Elsa sedikit masih penasaran bagaimana reaksi Christian. Apa benar rasa itu masih ada di hati Christian?
Elsa menunggu christian datang. Ia mengambil ponsel dari dalam tas nya.
Candra : pokok nya kamu engga usah aneh - aneh. Inget aku suamimu. Kamu lagi hamil anakku.
Me : iya suamiku....ayah dari anak dalam kandungan ku..
Lalu Elsa meletakkan ponsel di meja persis di hadapannya.
Tak lama Christian datang dan membawa pesanan mereka.
***********
Candra sedang sibuk dalam showroom nya. Ia memeriksa penjualan dari pembukaan kemarin. Sungguh rejeki baginya, ia berhasil menjual 20 mobil sejak awal pembukaan hingga hari itu.
Senyum puas terukir dari bibir Candra. Ia merasa jalan baginya telah ada.
Tok...tok... (pintu terbuka)
"Permisi pak.. ada tamu mencari bapak." Ucap Mila.
"Siapa mil? Apa urgentsy nya? Saya masih mau cek laporan ini." Candra membawa menunjukan setumpuk berkas di hadapannya.
"Dia...."
"CANDRAAAA....!!!! HIIKSSS...Candraa..." suara perempuan parau dan menangis. Perempuan tersebut menerobos masuk ke ruang kerja Candra.
"Cristin? Kamu kenapa? Ada apa?"
Candra langsung berdiri dan menghampiri Cristin.
"Candra.... aku engga sanggup..gila itu laki...gila tukang kaw*n dia...gw ituuu...gw udah lahirin anak buat diaa.... tapi......"
Bruggk...Cristin pingsan, Candra refleks menyangga Cristin.
"Mila!!! Mila!!!" Teriak Candra
Mila yang sudah meninggalkan ruangan Candra berlari masuk beserta Pak Udin.
"Iya pak? Astagaa!" Mila menutup mulut dengan tangan kanan nya.
" Pak udin cepat siapkan mobil, bantu saya angkat dan bawa ke rumah sakit. Ia pingsan ini darurat."
Pak Udin pun bersiap dengan mobil Candra. Kemudian Candra menggendong Cristin masuk ke dalam mobil bagian belakang. Ia meletakkan kepala Cristin di pangkuannya.
"Jalan pak! Cepat!!" Candra panik dengan keadaan Cristin.
Candra membelai rambut Cristin, ia melihat betapa lemah nya wanita ini. Untuk apa bertahan dengan pernikahan. jika hanya menyakiti nya bukan kah pernikahan itu untuk saling hidup berdampingan dengan keadaan apapun?
__ADS_1
Ya.... pertanyaan itu yang melintas di pikiran Candra.