
"Pagi Bu Elsa..lama tidak jumpa, sehat Bu? Boleh saya duduk disini?"
Pak Sandy datang ke ruangan Elsa.
Ia kepala bellboy disini.
"Silakan Pak,sehat kok saya. Bapak gimana? Sehat?"
"Alhamdulillah ya Bu. Ini saya mau minta appoval buat travel expend anter GM ke bandung." Pak Sandy memberi kertas ukuran A4 ke Elsa.
Elsa menerima dan membaca nya satu per satu. Ia tak mau ada miss satu hal soal pekerjaan. Semua harus sempurna, apalagi sudah dua minggu ia tidak masuk.
"Ini Pak..." Elsa membubuhkan tanda tangan dan memberikan ke Pak Sandy.
"Baik lah Ibu, saya permisi dulu...terima kasih..." Pak Sandy keluar dari ruangan Elsa.
Elsa kembali fokus pada komputernya. Semua pekerjaan yang terpending, membuatnya tak dapat banyak meninggalkan kursinya. Rasa lapar mulai melanda, tapi ia masih harus menyelesaikan ini semua. Ia melupakan rasa laparnya, ia tetap terus bekerja.
"Permisi.." tok tok tok.
Elsa menoleh ke arah pintu. Ada tian datang, ia membawakan bungkusan makanan dan ada cup minuman. Tian masuk dan berdiri di depan Elsa.
"Aku lihat dari absen di kantin kamu belum makan. Team kamu juga bilang kamu ga keluar dari pagi. Ini makanlah, jangan sampai sakit lagi El..."
"Ini apa? Ada masalah apa sampai kamu bawa ini buat saya?" Tanya Elsa,ia mencurigai apa yg di bawa Tian.
"Tenang saja, ini bukan racun. Ini makan siang aku beli lewat delivery. Aku hanya, ingin perhatian ke kamu." Tian meletak kan makanan tersebut dan pergi keluar.
Elsa memandang kotak makan tersebut. Ia membuka plastiknya, kwetiau goreng dan teh hangat. Tian masih ingat makanan favoritku. Sejenak Elsa merasa senang, ada seseorang yang perhatian kepada nya. Walaupun Tian telah melukai perasaan Elsa.
'Terima kasih tian....'
'Sama sama El..di makan ya... biar bayi nya ga laper.'
'Ok..'
Elsa meletak kan ponsel di atas meja nya. Ia membuka kotak makan tersebut dan mulai memakan kwetiau goreng. "Enak ternyata." Kata Elsa dalam hati. bayi dalam perut Elsa juga menyukai makanan tersebut.
Elsa mengambil susu hamil dari dalam tas nya. Ia menuang ke dalam gelas kaca milik nya. Kemudian Elsa berjalan keluar ruangan dan mengambil air panas. Team nya sedang sibuk bekerja semua. Elsa melihat jam dinding pukul lima sore.
Berapa jam ia tidak keluar dari ruangan. Saat mengambil air panas, pinggang Elsa mendadak sakit. "Aduh...aduh...." jerit Elsa. Ia meletak kan gelas nya di atas meja salah satu team nya.
Beberapa team yang ada berdiri dan berlari ke Elsa. "Ibu kenapa? Gimana bu?"
"Apa panggil dokter Bu?"
"Ibu duduk sini Bu.." Elsa duduk di kursi salah satu team nya.
Elsa mengatur nafas nya. "Pinggang saya mendadak sakit. Saya engga kuat nya sering kram juga sekarang."
"Bu, waktu istri saya hamil. Ia merasakannya hampir selama kehamilan sampai melahirkan." Jawab Damar, salah satu team.
"Ibu lebih baik istirahat Bu. Kasian baby nya.."
"betul Bu, duduk terus istirahat saja Bu... ibu juga masih pucat begitu."
team Elsa begitu khawatir dengan Elsa. mereka merasa bagaimana posisi Elsa kini. Pak Zaenal keluar dari sana, GM baru membuat banyak aturan yang konyol serta pressure dari direksi yang berlebihan.
Elsa hanya diam merenung. Rasa sakit sudah agak berkurang. Elsa berdiri perlahan dan berjalan ke ruangan nya. "Terima kasih ya."
"Iya Bu..."
Jam menunjuk kan pukul setengah enam sore. Elsa mematikan komputer nya. Ponsel nya berdering secara tiba - tiba. Terlihat panggilan dari Candra.
"Hallo..?"
"El..aku nunggu di minimarket samping kantormu ya..."
"Oh ok Cand..wait me in ten minutes."
Elsa bergegas mengambil tas nya dan mematikan ruang kerja nya. Ia tak mau membuat suaminya menunggu lama.
__ADS_1
Elsa berjalan melewati lorong yang menuju keluar area kantornya.
Elsa berjalan makin cepat menuju pintu keluar kantornya. Ia berbelok ke kiri, Candra terlihat sedang duduk di teras minimarket. Ia menggunakan sweeter berwarna maroon, jeans biru dan sepatu sneakers warna navy.
"Elsa..." Candra bangkit dari kursi besi di luar mini market.
"Hai Cand.. udah daritadi?" Elsa tersenyum, ia tak bisa meyembunyikan bahwa hati nya sangat senang.
"Engga kok..barusan sampe, yuk pulang. Tapi naik itu ya?" jawab Candra menunjuk motor matic warna hitam di samping Elsa.
Elsa menoleh melihat dan tersenyum. "Its ok Cand..yuk balik."
Candra bergegas mengambil helm berwarna putih dengan gambar doraemon. Ia memberikan ke Elsa, "pakai ini aku barusan aja beli buat kamu."
Elsa menerima helm tersebut dan memakai.
Candra memindahkan motor nya ke arah jalan. Elsa pun pelan naik ke atas. "Sudah?"
"Sudah Candra!!" Jawab Elsa agak keras.
Candra mulai menjalankan motornya. Ia berjalan perlahan, kecepatannya hanya di antara 30 km/jam. Ia ingin anak nya selamat sampai di apartemen mereka.
"Candra..makan disana yuk..."
Candra melihat ke arah yang Elsa tunjuk. Warung nasi padang.
"Boleh...kamu laper?" jawab Candra yang mulai menepi.
"Iya..aku laper banget..." jawab Elsa. Candra pun berhenti dan parkir di dekat pintu masuk.
Elsa perlahan turun dan melepas helm nya.
"Susah buat naik - turun nya Els?" Tanya candra sambil melepas sarung tangan nya.
"Engga...aku udah biasa soal nya naik motor. Udah yuk masuk, aku laper." Elsa meletak kan helm di salah satu spion dan meninggalkan Candra masuk ke dalam.
Ia memilih makan ikan dan perkedel kentang. Candra mengikuti masuk ke dalam, mereka duduk berhadapan.
"Jadi mobil kamu kemana?" Elsa mengawali pembicaraan malam tersebut.
Elsa mengernyitkan dahi, "Cand....maaf karena aku engga paham dan ngerti.. sebenernya kamu bisnis apa? Kok sampai rugi milyaran. Memang nya ada perjanjian yang mengatur bahwa kamu jadi punya utang?"
"Kami bisnis minyak dan perkebunan sawit. aku sebagai pemilik lahan dan perusahaan. Om Hendra sebagai pemodal tambahan ku. Perjanjian nya aku meminjam sebesar dua milyar dan sebagian jadi saham di perusahaan kami. Tapi..aku tidak memperkirakan kalau bencana alam yang akan terjadi. maka apapun hasil nya atas hal tersebut, kerugian tidak bisadi tanggung bersama." Candra menghela nafas.
Makanan mereka datang, Elsa mengambil sendok - garpu dan mulai makan. "Mari makan Cand.." candra menghentikan ceritanya dan ikut Elsa makan bersama.
Elsa menghapus sisa makanan di sekitar bibir nya. Candra pun meminum jeruk hangat di gelas nya.
"Cand...ngomong soal force majeure itu kan masuknya? Dan bencana yang berhubungan di luar kuasa kalian kok jadi bahan buat memeras uang kamu?"
"Itulah bisnis Elsa. seperti yang aku bilang, dalam MOU kerjasama kami. aku tidak menyebut soal kerugian karena hal itu. belajar dari itu, aku engga mau kamu gagal kaya aku."
"pas aku tahu kamu mulai bisnis, jujur aku takut. takut kalau kamu akan mengalami hal yang sama."
elsa menepuk lengan candra, "kalau begitu beri aku contoh. agar aku bisa belajar, menjadi pebisnis yang fair."
"entah El, apa aku contoh yang baik?? atas kejadian tersebut, Aku engga mau cuci tangan, aku masih bertanggung jawab dengan pegawaiku. sekuat tenaga,aku tetap memberi pesangon ke semua. bahkan mereka juga minta aku untuk bangun lagi perusahaan tanpa Om Hendra. Karena menurut mereka ada sesuatu yang di lakukan om Hendra yang kurang baik."
"Kurang baik?" Elsa makin penasaran.
"Iya..mereka bilang kalau seminggu sebelum nya om Hendra pernah bertanya mana wilayah yang sering ada banjir, atau dekat dengan hutan. Kemudian mereka juga sering mendengar nama Om Hendra sebagai pengusaha yang licik. apapun itu, aku tak pernah memandang Om Hendra seperti itu. ia tetap orang baik dan pintar.
(Candra menghela nafas lagi)
tapi...apa dia tidak suka padaku ya, karena aku dekat dengan istrinya. Hahahaaa" candra tertawa sesaat.
Elsa diam mematung melihat suami nya. Ini kali pertama ia melihat Candra tertawa lepas. "Kamu kalau tertawa terlihat lebih menarik." Kata Elsa.
"Apa?" Candra seperti mendengar kalimat yang aneh.
"Ah..engga cand..terus kamu jual mobil untuk nutup yang mana?" Tanya Elsa, ia malu dengan kata - kata refleks nya barusan.
__ADS_1
"Aku menjual saham perusahaan ku sendiri atau lebih gampang nya memberi semua ke om Hendra sebagai ganti rugi. Kemudian aku berhutang satu milyar untuk membereskan semua disana. Memberi pesangon, memberi tali asih untuk pengobatan korban.
Tapi semua kurang, jadi aku jual mobil ku. Untung saja Land Cruiser dan Audi ku bisa kejual sampai tiga milyar. Jadi bisa melunasi om Hendra dan menutup kekurangan dari sisa nya.
Uang yang masih ada akan aku deposito kan. Sambil aku mulai kerja ke tempat lain."
Aku ikut prihatin dengan keadaan Candra. Tapi aku juga tak bisa berbuat apa - apa.
"Tenang saja Elsa, uang bulanan kamu dan keperluan melahirkan. Aku sudah minta papa bantu, jika sampai saat kamu melahirkan aku belum dapat pekerjaan lagi."
Elsa tersenyum kearah Candra. "Aku percaya Cand, kamu bisa sukses. Semua boleh habis tapi kamu masih punya hati yang baik. Kamu masih bertanggung jawab ke semua pegawai kamu. Itu suatu hal yang berat Cand.."
Candra mengangguk dan tersenyum. "Entah mengapa aku merasa lebih enteng menghadapinya El. aku melepaskan semua yang aku bisa."
"Kamu pernah dengar perumpamaan Bikshu Suci yang mencari kitab ke barat? Kosong adalah isi, isi adalah kosong. Sesungguh nya, kita di dunia ini tak memiliki apa - apa. Segala nya adalah campur tangan semesta. apa yang terjadi masih menjadi misterinya. Bagaimana kita menerima dan hidup seperti tak memiliki apa pun..." Elsa kemudian tersenyum manis.
Kalimat Elsa begitu menyentak ke pikiran Candra. Ia tersadar, bertahun - tahun membangun semua bisnis nya dari Nol. Membuat nya menjadi kaya raya di usia muda, menghitung segala hal dari materi. Mencari apa yang untung, mana yang rugi. Segala nya dilakukan hanya untuk mendapatkan seorang wanita yang bahkan, melihat nya sebagai laki - laki yang mapan secara financial saja tidak.
Membiarkan segala usaha nya di hancurkan juga oleh suami wanita tersebut. Membuat nya harus memperlakukan wanita sebaik Elsa bagaikan barang yang tak berharga.
Beberapa hari bersama Elsa, membuat candra berani. Berani untuk mengambil pilihan yang berat. Membiarkan segala milik nya pergi tapi ia masih bisa hidup dan berdiri. Agar Candra mampu berjalan lagi sampai di titik ia harus berlari mengejar apa yang hilang.
"Kok diem? Pulang yuk Cand.. aku besok briefing lebih cepat jam delapan." Elsa berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke meja kasir.
"Semua delapan puluh sembilan ribu rupiah Bu." Kata penjaga mesin kasir tersebut.
"Ini.." Elsa memberikan uang sesuai dengan nominal yang di sebutkan.
"Pas ya Bu, Terima Kasih."
Elsa berjalan keluar meninggalkan rumah makan tersebut. Candra menyusul dibelakang Elsa. Mereka menaiki kembali motor baru candra dan berjalan pulang.
**********
"Semalam saya lihat kamu naik motor sama suami kamu. Mana mobil sedan hitam yang biasanya."
Elsa menoleh ke arah kanan, "hai Tian, kalau bertemu kenapa engga menyapa?"
"Saya engga mau mengganggu acara romantis kalian. Duduk berboncengan seperti kita waktu SMA dulu...." ucap Tian dengan menggoda Elsa.
Elsa memberi senyum simpul ke Tian.
"Jadi....kemana mobil yang mahal dan mengkilap itu?"
Elsa langsung memutar badan ke arah Tian. "Segitu kepo nya ya sama hidup gw? Atau lo suka sama laki gw? Lo mau tau mobil nya, suami gw jual. Udah kan udah gw jawab."
"Eitss...eits..... tenang Elsa... gw kan cuman tanya, slow... calm..."
Lift karyawan pun terbuka. Ada beberapa anak housekeeping didalam lift. Mereka melihat Elsa yang meloto ke arah Tian.
"Permisi...." Elsa masuk dan meninggalkan Tian yang diam di luar lift.
"Lo engga naik bapak Tian? Telat briefing lo bayar seratus lho!" Elsa mencoba mengingatkan Tian.
Tian akhir nya masuk mengikuti Elsa.
***********
"Sob..gimana ada order atau kerjaan? Gw jobless, gw ga bisa gini..." ucap Candra dengan seseorang di ponsel nya.
"Gini Cand, gw ada tapi sales mobil. Gw ga tega kalo lo kerja gini. Gw aja buka ni showroom lo modalin gw gede banget, masak gw kasi lo kerjaan begini."
"Ben..gw ga papa, gw cuman ga mau Elsa nanggung hidup gw dan kebutuhan rumah tangga. Please Ben... gw coba ya.."
"(Benny menghela nafas) Cand, lusa lo kesini ya jam 8. Tapi gw harap lo engga datang Cand... karena gw ga ikhlas kasi lo kerjaan gini."
"Ok ben..thanks a lot!!" Candra mengudahi panggilannya.."yes!!! Lumayan daripada gw nganggur!"
Kruyuk....kruyuk....(suara perut candra). Ia kemudian memegang perut nya dengan kedua tangan nya. 'Aku ga pernah laper sampe begini. Tapi mau makan apa, aku kalo pesen makan, nanti bayar sendiri. Padahal aku harus hemat.'
Candra mencoba melihat isi meja makan. Ada penutup makanan di atas meja. Candra membukanya, isi nya ada ayam goreng dan sayur. Ia sumringah matanya mulai berkaca, namun suara perutnya begitu nyaring. samping piring ada tulisan di secarik kertas.
__ADS_1
(Makan siang lah, nanti jam 6 jemput aku. Kita makan bersama. Elsa)
mata Candra berkaca - kaca "Elsa.. kamu kok sebegitu baik nya.. bahkan kamu udah nyiapin ini semua, padahal aku minta aja engga... maaf aku selalu jahat ke kamu El..." ucap Candra sambil memegang kertas kecil tersebut.