
Elsa memberikan selembar uang pecahan 50 ribu rupiah. "Terima kasih ya pak..." kemudian Elsa turun dari taksi.
"Bu..terima kasih kembali.." jawab supir taksi tersebut.
Elsa hanya diam, ia memilih berjalan masuk ke lobby apartemen. Elsa berhenti di depan lift tamu. Pandangan nya terhenti saat angka di atas menuju ke L.
Ting...... (lift terbuka).
Elsa masuk ke dalam, pandangannya kosong. Ia menekan angka 10, dan lift pun tertutup kembali.
Ting.....
Lift tiba di lantai 10. Elsa berjalan perlahan menuju ke depan flat Candra. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam.
Elsa termenung melihat foto pernikahan mereka. Air mata Elsa menetes, tapi ia menghapus dan memilih masuk ke kamar depan. Kamar yang sejak awal disiapkan Candra untuk nya.
Elsa meletakan hadiah dari Christian. Ia kemudian duduk di pinggiran tempat tidur. Memandang keluar jendela, mendung gelap dan hujan.
Semesta begitu mengerti isi hati Elsa.
Elsa memilih merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia harus kuat dan sabar, kurang dari sebulan adalah masa nya melahirkan. Paling tidak sampai anak nya lahir, ia harus kuat berdiri dengan sakit yang amat dalam.
Tak pernah terfikir oleh nya bakalan kembali lagi wanita itu. Wanita yang telah menghancurkan rumah tangga nya. Bahkan wanita tersebut juga menjadi penyebab kebangkrutan Candra.
Apa itu cinta?
Haruskan sebuta itu?
Cinta itu apa harus sesakit ini?
Beragam tanya memenuhi pikiran Elsa. Ia tertidur dalam lelah nya. Dalam sakit yang amat berat.
**********
Mila menjemput Richie di bandara. Wanita muda tinggi semampai dengan kacamata hitam dan setelan warna pink salem. Ia memilih menunggu di salah satu coffe shop. Dengan ditemani coklat hangat.
Tak sampai 20 menit, Richie pun muncul. "Hallo kakak ku tersayang...." Richie memeluk Mila dari belakang.
"Adik sial**, gw nunggu udah berjam - jam tauk!" Mila cemberut melihat Richie.
Richie kemudian duduk di hadapan Mila. "Maaf kak, gw engga tau kalau bakalan delay sampai 2 jam. You know lah, gw udah pakai maskapai nomer 1 masih delay."
Tangan Mila mengepal dan menyangga pipi sebelah kanannya. "Jadi urusan kepolisian disana udah beres? Kebukti bukan lo yang salah?"
"Yea...akhirnya setelah hampir 8 tahun ini kasus berputar. Ternyata teman Stella yang telah melakukan sabotase pada mobil kita. kecelakaan itu sendiri melibatkan mantan kekasih Stella. gw engga tau, cinta bisa membuat orang tega melakukan sesuatu pada orang yang pernah di cintai nya."
"How come? Rumah Stella sudah banyak CCTV dan security yang berjaga. Setau gw Stella juga bukan keluarga sembarangan Richie."
"Internal dalam rumah kami juga pelaku nya, sudahlah mil. semua sudah lewat, yang penting gw bisa membuktikan bukan gw yang bersalah. Dan status gw sekarang udah bukan tahanan Interpol lagi yang wajib lapor."
Mila tersenyum manis, akhir nya adik lelaki nya telah bebas. "Keadilan memang harus berdiri tegak Richie."
"Yep... oh iya, apakah si manis sudah melahirkan?" Richie memberi julukan lain lagi ke Elsa.
"Sepengetahuan ku belum. Om Joko juga belum memberi kabar apa - apa. Yang aku tahu... mereka sekarang sudah tinggal bersama dan Elsa...."
"Dia resign kan?" Richie memotong kalimat Mila.
"Lo tau?" mila tertarik dengan cerita adiknya.
"Iya gw tau, berat juga kali buat sekantor sama cinta pertama yang udah ninggalin luka di hati dia. Tapi gimana lagi, waktu itu gw butuh duit buat buka pabrik kayu gw."
"Sudahlah.... lagipula dia kan bukan siapa - siapa lo.. ngapain lo mikirin." Mila kesal kepada Richie
"Iya sih, gw boleh kan care sama dia? Gw juga tau batas kok. sejujurnya gw juga ga tega ngeliat Candra nyakitin Elsa.. lo kan tau bagaimana Cristin."
Mila mengehela nafas, "wanita itu lebih berbahaya daripada seekor serigala. Dia rela melakukan apapun asal mendapat apa yang dia mau.. gw masih ingat banget, bagaimana dia menjual wajah inocent nya demi mendapat suami nya. Padahal saat itu istri Om Hendra masih sehat.
gw juga masing inget banget, gimana dia menjual dirinya. cuman lo yang kebal sama dia.. cih... bodohnya Candra mau tetap baik kepada wanita itu"
Richie mengangguk, "gw engga pantas ngomong ini. Tapi gw percaya karma Mil... semoga datang nya cepat. Dan Elsa bisa bahagia Mil.."
__ADS_1
"lo tau? Candra bangkrut gara - gara bisnis tambang dia dan om hendra gagal. tapi hanya Candra yang menanggung semua kerugiannya. bayangin deh, begitu tega nya Om Hendra. tapi gw tau, itulah jodoh. istri nya Cristin, suami nya om Hendra. cocok!"
"Udah balik yuk...kasian mama - papa nungguin gw..." jawab Richie dengan percaya diri.
Mereka pun pulang ke rumah. Richie yang mengendarai mobil Mila. Sepanjang jalan mereka membahas soal kehidupan masing - masing selama beberapa waktu tak bertemu.
********
Candra masuk ke ruang IGD. Ia memilih Cristin sahabatnya daripada Elsa.
Cristin melihat ada tanda merah di pipi Candra. "Candra.... gw salah ya.... Elsa marah sampe pergi dan di pipi lo....."
"Udahlah, biar gw besok jelasin ke Elsa. Lo udah mendingan? Gw denger lo bisa pindah kamar malam ini." Candra tak kuasa menceritakan segalanya
Cristin mengenggam tangan Candra. "Please temenin gw Candra.... gw engga mau sendiri..."
Candra diam, ia memadang Cristin dengan seribu kata tertahan. Ia hampir tak kuasa menolak namun Elsa juga istrinya.
Elsa bertahan disisi nya, berkat doa Elsa pula isa dapat bangkit. Namun atas dasar kemanusiaan, ia ingin membantu Cristin.
Akhirnya Candra hanya mengangguk.
Jam menunjukkan pukul 20.00, Candra duduk di sofa dalam ruangan Cristin. Ia memandang cinta pertaman nya tertidur lelap.
Ia kemudian berdiri dan berjalan keluar ruangan. Ia berdiri di lorong dekat ruang Cristin di rawat.
Candra mengambil ponselnya, ia membuka kunci ponselnya. Tak ada satu pun pesan dari Elsa.
Candra menekan kontak Elsa, ia menghela nafas dan menekan panggilan ke Elsa.
'Tut.... tuut.......tuuut...' panggilan sama sekali tak di angkat Elsa. Ia menekan terus panggilan.
Setelah berkali mencoba Candra menyerah. Iya merosot duduk di lantai lorong rumah sakit. Ia merenungi kenapa menjadi lelaki lemah.
Kriing......krriinggg... (panggilan Om Hendra).
Candra tersadar dan menjawab.
"Hallo....bagaimana om?"
"Iya om, dia ada di Siloam. Ruang 4-11."
"Hm...sudah kuduga. Perempuan itu hanya bisa kabur ke tempatmu."
"Om.... saya lelah menjadi sasaran Cristin. Tolong temui dia dan selesai kan masalah kalian. Saya punya keluarga yang mohon maaf lebih menjadi prioritas saya."
"Kamu tenang lah, saya akan kesana malam ini. Kamu pulanglah... maafkan Cristin merepotkan mu."
"Ya om...."
Percakapan mereka selesai.
Candra kembali masuk ke dalam ruangan Cristin. Candra mengambil tas kecik yang di tinggal Elsa. Ya.. tas berisi obat dan vitamin.
Elsa lupa menjatuhkan nya saat pergi tadi. Candra kemudian menatap Cristin.
"Maaf aku harus pulang menunggu istriku. Kami akan segera memiliki seorang anak. Aku harus siaga menjaganya. Om Hendra akan kesini, sampai jumpa. Jangan lupa makan."
Cristin hanya diam dan menutup mata nya. Candra tahu bahwa Cristin pura2 tertidur. Tapi tak menjadi masalah, baginya yang penting sudah menjaga Cristin hingga malam itu.
Candra berjalan keluar ruangan, ia menuruni anak tangga dan menuju ke kantin. Candra membeli bento box untuk teman makannya malam itu. Perutnya amat lapar, saat makan pun Candra mengusap pipi kanan nya.
Tak di sangka baru hari ini ia melihat Elsa begitu marah. Elsa wanita yang selalu mengalah dan diam. Bisa berubah menjadi seperti itu. Pikiranya menjadi kacau, semuanya campur aduk.
Setelah usai dengan makan malam nya, ia menuju parkiran mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan berkali - kali ia membenturkan kepala nya ke setiran mobil. "Bodoh! Bodoh!!"
*******
Elsa tertidur di kamar depan. Matanya bengkak sembam, hidung nya di penuhi lendir yang mengering.
Ya...Elsa lelah menangis dan tertidur. Ia tak sudi melihat wajah suami nya.
__ADS_1
Di luar tampak Candra baru saja datang. Ia meletakan kunci mobil dan ponsel di atas meja makan.
Candra langsung menuju kamar utama. Ia ingin sekali memeluk Elsa dan memohon maaf kepada istrinya. Namun ketika pintu di buka, tak ada siapa pun.
Candra kemudian menuju ke kamar depan. Ia membuka kembali pintu kamar. Candra masuk perlahan, terlihat box bayi nuansa putih biru dengan gambar balon udara.
"Elsa..." suara Candra perlahan.
Ia mendekat ke arah tempat tidur.
Elsa terbaring ke arah jendela. Candra melepaskan sandal dan naik ke atas tempat tidur.
Iya berbaring di belakang Elsa. Tangan kiri Candra memeluk Elsa.
"Badanmu dingin Elsa....." bisik Candra
Candra kemudian mengelus perut buncit Elsa. Candra memeluk erat Elsa. Hangat dan sangat nyaman, ya itu yang di rasa Elsa dalam tidurnya.
"Maafkan aku Elsa... aku bersalah, jangan pergi lagi...." Candra berbisik dan mencium rambut Elsa.
Candra terpejam, ia teringat bagaimana Elsa dulu pergi darinya. Entah bagaimana lagi caranya, Candra memang salah. Ia seharusnya memperjelas segala nya.
Apa soal kontrak yang akan habis.
Ataukah..
Mereka akan menjalani pernikahan dengan sewajarnya pasangan lain.
*********
"hei wanita...bangun!" om Hendra datang memaksa Cristi untuk bangun dari tidurnya.
Cristin pun membuka kedua matanya. cahaya terang langsung menyambutnya. "mau apalagi kamu?"
"cih.... kamu mau lari kemana?"
Cristin mengumpulkan seluruh tenaganya. ia berusaha untuk duduk dan melihat suami nya.
"aku tahu, aku mau lari kemana pun, kamu akan menemukan ku." jawab Cristin lunglai.
Om Hendra mendekat ke samping kanan Cristin.
"Dengar! Kamu harus pulang dengan Riyos. Saya tak nak kamu macam - macam."
"Saya tak mau! Aku tak mau kamu bermain madu mas.. kamu bawa madu mu pulang. Aku wanita yang punya perasaan!" Cristin menaikan nada bicaranya.
"Ha... ha... ha.... kamu lupa? Bagaimana kamu dulu datang kepadaku? Saat istriku masih hidup kamu terus menggodaku, memaksaku untuk melakukannya. Hingga kamu menunggu saat istriku meninggal... kamu bisa naik menjadi istriku..."
Mata Cristin memicing menatap tajam kearah suami nya.
"Lalu... apa bedanya kamu? Sama saja kan? Kamu mau uang silakan...tapi ketika aku bosan, terimalah! Aku tetap menjadikan kamu istriku. Dan mereka itu hanya mainan ku." Om Hendra masih mencobq menekan Cristin.
"Tapi..apa kamu harus melakukan di rumah kita? Bagaimana Riyos melihat nya?" Mata Cristin mulai memerah, menahan air mata.
Om Hendra kemudian duduk di samping Cristin. "Tunggu dulu.... apa kamu lebih suka aku bermain di luaran? Bukan kah kamu suka lelaki yang jujur. Aku membawa mereka ke rumah dan bermain di kamar belakang, agar apa? Agar kamu tahu, aku masih menghargai kamu sebagai istriku....." suara Om Hendra menjadi pelan.
"Apa kamu tahu... aku mencintai kamu sejak dulu, dan apa yang kamu lakukan itu menyakitkan aku.... tidak bisa kah kamu setia dengan satu pasangan saja?" Cristin meneteskan air mata. Ia tak kuasa lagi menahannya.
"Ayolah hadapi dengan dewasa. Kita sudah memiliki anak. Aku pria dewasa dengan harta! Pantas buatku bermain wanita. Sampai saat ini aku pun tak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu....."
Om Hendra mengambil nafas panjang. "aku menikahi kamu, bertanggung jawab dengan hidupmu. Kita memiliki anak setelah kita menikah sekian tahun. Dan aku tetap kembali kepadamu. Aku hanya butuh mainan Cristin. Tolong mengertilah bagaimana kebutuhan suamimu ini..."
"......" Cristin hanya diam dan menangis.
"Sudahlah, aku akan menunggu disini. Tak pantas di dengar istriku masuk rumah sakit tapi aku malah pergi. Kamu pikirkan apa yang aku katakan malam ini. Satu hal lagi, kamu itu istri Sah ku. Candra sudah memiliki keluarga kecil. Apa kamu tidak malu dengan dirimu? Masih menjadi pengemis."
Om Hendra kemudian berdiri dan berjalan menuju extra bed. Ia kemudian berbaring dan memandang langit - langit.
"Pikirkan apa yang aku katakan malam ini. Aku tak suka mengulang perkataan ku! Sudah aku mau tidur, selamat malam."
Om Hendra pun tertidur. Ia tak peduli dengan Cristin yang masih diam dan merenung.
__ADS_1
Tak berapa saat Cristin memutuskan berbaring kembali. Ia merasa binggung, apa yang harus ia pilih. Bertahan kah dengan keadaan sulit ini atau harus melepaskan.
Jika melepaskan ia tak mungkin lagi bisa makan. Sama sekali tak ada uang yang akan ia dapatkan. Sedangkan segala perkataan suaminya malam ini benar adanya. Tak bisa lagi dirinya bergantung dengan Candra.