Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 55


__ADS_3

Elsa menyiapkan hidangan makan untuk Candra. Bakat memasaknya begitu terasah setelah ia keluar bekerja.


Candra yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar. Ia langsung menuju ruang makan.


Ia duduk dan memandang wajah istrinya.


"Lo ngapain ngeliatin gw terus?" Tanya Elsa. Wajah nya memerah dan malu.


Suami nya tak pernah memandang nya sedalam pagi itu.


"Tidak, aku hanya ingin melihat kamu lebih jelas." Jawab Candra dengan halus.


"Jangan ngelindur Lo. Udah makan gih, abis ni gw mau jalan keluar." Jawab Elsa ketus.


Elsa meninggalkan Candra, ia menuju dapur.


"Kamu temani aku makan El..." teriak Candra dari ruang makan.


"Yaaaa!!" Elsa menjawab dengan lantang.


Elsa kembali dan membawa piring makan untuknya. Ia duduk di hadapan Candra.


Mereka mulai makan pagi itu. Nasi goreng, telur setengah matang dan sosis menemani mereka di ruang makan.


Suasana sunyi dan canggung yang terasa menemani mereka. Elsa berfokus pada makanannya. Ia sama sekali tak melihat suaminya.


Candra memulai pembicaraan pagi itu. "Hari ini kamu mau kemana?"


"Oh, gw.. eh aku ada janji sama Olla dan Yeslin. Tau kan Olla?"


"Aku sepertinya ingat Olla. Dia sahabatmu kan dari SMA. Kalau aku engga salah inget, aku pernah ketemu Olla pas kamu hang over di pub."


"Uuhuk..."Elsa tersedak.


Candra langsung mengambil air putih. Ia memberikan kepada istrinya, "minum perlahan El..."


Elsa menegak habis air putih. Lalu ia berkata "Terima kasih...."


Candra membalas dengan senyuman.


Elsa duduk di sofa ruang keluarga. Ia memegang ponsel dan menekan aplikasi taxi online.


"Aku antar saja. Aku kan suamimu." Suara Candra dari belakang Elsa.


Elsa pun menoleh, "bagaimana?"


"Ya... aku antar saja kamu mau kemana...?"


Elsa membuka chatting grup nya dengan Olla dan Yeslin.


"Ke Macabana, kamu paham ini dimana?"


Elsa menunjukan foto social media dari tempat tersebut.


"Owh dekat, bisa dicari kok." Candra menjawab agar istrinya percaya dan yakin untuk di antar olehnya.


"Ok deh, aku siap2 sejam lagi jalan ya." Elsa percaya dan masuk ke kamar untuk bersiap.


10 menit berlalu


Elsa keluar dari kamar. Ia mengenakan Maxi Dress Navy. Perut buncitnya terlihat begitu maju. Namun aura kecantika Elsa begitu nampa.


Candra yang sedang membaca berita lewat ponsel, menoleh kearah istrinya. Kedua bola matanya tak berkedip. Ia memandang Elsa kagum, bahkan pipi Candra berubah menjadi merah.


Elsa berjalan mendekati sofa ruang tamu, yang menyatu dengan ruang keluarga. Ia mencari sesuatu di dalam tas nya.


Tak berapa lama ia menemukan, rupanya kaca kecil yang biasa ada di tas perempuan. Ia membuka dan merapikan rambutnya. Lipstik nude di bibir Elsa makin memberi kesan natural di wajah manisnya.


Elsa menutup kaca tersebut dan menaruh nya kembali dalam tas. Ia lalu melihat Candra, ia merasa canggung karena suaminya melihatnya tanpa berkedip.


"Candra. Jadi mau pergi?"


"....." Candra masih terpana.


"Cand!?"


Candra pun sadar, "Els... udah siap? Ayo aja, kita berangkat sekarang. Daripada keburu siang panas nanti."


Muncul ide nakal dalam pikiran Elsa. Ia berdiri dan menahan langkah Candra.


"Els.. kenapa?"


Mmmmmh(sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Candra.)


sesaat mereka meluapkan perasaan hati yang sesungguhnya. Meskipun itu hanya berupa kecupan dan pelukan.


Elsa memeluk Candra, "cand...kamu kenapa ngeliat aku sampe begitu?"


"Kamu bisa denger jantungku? Aku sesak nafas dan grogi.."

__ADS_1


"Kenapa?" Aku istrimu bukan kah kamu ngeliat aku setiap hari?"


"Entahlah... aku merasa....kamu... kamu sangat anggun dan cantik Elsa...."


Elsa memeluk erat suaminya, baginya ia ingin menegaskan hatinya. Jika Candra merespond pelukan Elsa, berarti mereka masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua.


'Nak, maafkan mama jika hati mama ragu. Mama tak mau mempertahankan rumah tangga ini, jika tak ada rasa bahagia. Biarkan mama meyakinkan segalanya ya nak.. untuk tetap bersama dengan papa mu nanti...' Ucap Elsa dalam hati kepada si kecil dalam perut ya.


Elsa pun melepaskan pelukan Candra.


"Ayo kita berangkat..." ucap Elsa.


Candra mengangguk dan merangkul pundak Elsa. Tangan kanan Candra membawa tas Elsa.


Mereka masuk ke dalam mobil dan bersiap. Mbok Yem menutup pintu pagar dan melambaikan tangan.


Mbok Yem tersenyum melihat tingkah anak kecil di hadapannya. Bagi mbok Yem, Candra tetap anak yang di asuh nya dari dulu. Bedanya kini Candra telah menikah dengan perempuan manis dan baik.


******


Perjalanan yang sangat sepi. Cuaca semarang sangat bersahabat. Tak panas dan tak pula hujan. Mengiringi perjalanan mereka menuju tempat pertemuan Elsa.


Elsa memandang kearah luar jendela. Ia nampak kagum dengan perkembangan kota nya tumbuh ini. Banyak yang berubah, padahal belum ada 1 tahun ia tak kembali.


Pikiran Elsa melayang mengingat sudut kota. Dengan segala kenangan yang ada. Masa kecilnya, remaja dan kini ia akan menjadi seorang ibu. Elsa pun mengusap perutnya yang mulai sering merasakan tendangan dari dalam.


"Elsa....."


Suara Candra membuyarkan lamunan Elsa.


"Iya? Kenapa Candra?" Elsa menjawab dan melirik Candra.


"Kamu tahu, apa itu cinta?"


Deg... hati Elsa tersentak seperti ada yang mendebarkan hati nya. Membuat dadanya sesak namun ia ingin tersenyum.


'Jangan Geer Elsa' suara hati Elsa.


"Cinta?" Elsa menegaskan apa yang ia dengar.


"Ia, menurut kamu, cinta itu apa?" Jawab Candra sambil fokus menyetir mobil city car warna hitam.


"Cinta itu, saat kita merasa dunia hancur tak masalah asal kita bersama dia. Lebih luasnya, kita merasa senang memandang wajahnya, bicara dengan nya membuat sesuatu dalam hati kita bergetar... hanya melihat dari jauh saja bisa membuat kita salah tingkah.....


Membuat pikiran mu hanya tertuju kepada dia... apapun kamu lakukan untuk dia... tapi... cinta itu harus siap buat sakit...."


"Kenapa sakit?" Candra mengernyitkan dahi.


"Hmm.... kalo kamu, cinta ga sama aku?" Tany Candra gamblang.


Elsa langsung memandang ke arah Candra.


'Lo ga lagi ngigo kan Cand??' Elsa bertanya dalam hati.


"Aku mau nya kamu jawab dulu.. kamu cinta sama aku?"


"Kalau aku..... tidak El..... aku...aku tidak ...."


"Sama! Aku tidak pernah cinta sama kamu. Karena awal kita bertemu sampai detik ini... karena....." Elsa memotong kalimat Candra.


Elsa berusaha meneruskan kalimatnya. Namun dadanya, ia berusaha agar tidak meneteskan air mata.


"Karena memang kita tak pernah saling cinta.... oh iya itu tempatnya. Aku turun disini saja."


Candra menghentikan mobilnya, candra berusaha mengatakan sesuatu. Namun Elsa cepat - cepat turun.


Kaca mobil di turunkan Candra. Elsa sedikit membungkuk dan berbicara.


"Aku pulang sendiri aja, share alamat rumah kamu aja. Nanti biar balik ga harus kamu jemput."


"Engga, aku jemput aja El..." Candra menahan Elsa.


"Gw sampe malem Cand! Lo udah deh, nanti gw kabarin. Jangan nunggu gw balik.. bye... thank you atas tumpangan lo.."


Elsa berbalik dan meninggalkan Candra. Ia tak peduli dan berusaha untuk membenci suaminya. Betapa bodohnya ia, mengharap Candra mencintainya.


******


Candra masih di tempat. ia memandang Elsa sampai ia masuk ke dalam restaurant. raut wajah Candra nampak binggung.


ia pun melanjutkan perjalanannya. menyusuri kota tanpa tahu arah. hanya berjalan terus, berputar pada tempat yang jauh. ia ingin melupakan kata - kata istrinya.


"Elsa... andai aku lanjutkan kalimatku. aku tak tahu apa aku sekarang jatuh Cinta sama kamu Elsa.."


berat bibir Candra untuk mengucapkan kata sependek itu. tak pernah baginya berbicara sebegitu susahnya kepada perempuan. namun di samping Elsa, semua menjadi kaku. lidah, pikiran bahkan bibir Candra tak kuasa berucap.


ia ingin istrinya tahu dan paham, bagaimana isi hatinya.


terus Candra berjalan tanpa arah. jam di tangan baru menunjukkan pukul 12 siang. ia teringat teman nya yang baru membuka restaurant.

__ADS_1


Candra menekan panggilan dari setir mobilnya.


"halllo... bil..gw di semarang nih, rumah makan lo buka? gw mampir ya?"


"hai bro...silakan bro.. masih komplit ni makanan gw, tapi lo jijik engga? kan lo tau, gw nyewa ruko kecil, bukan di mall..."


"ebuseet! gapapa, alamatnya yang kemarin hari lo kirim kan? gw otw ya.."


"ok bro...gw tunggu.."


Candra langsung memacu mobilnya. ia menuju daerah di pinggir kota semarang. lebih tepat nya kota industri.


mobilnya berhenti di sebuah ruko yang terlihat mulai sepi pembeli. jam menunjukan pukul 1 siang. sepertinya sudah selesai jam makan siang.


Candra menghentikan mobilnya tepat di depan ruko tersebut. ia mencari sosok Billy, teman semasa kecilnya yang hampir puluhan tahu tak ia temui.


pria kecil dengan pawakan tegap, wajah khas asia dengan kulit agak sawo matang. ya benar, itulah Billy. anak yang tak pernah malu bekerja apapun, demi membiayai adik nya.


Candra turun dari mobil. perlahan ia berjalan masuk ke dalam warung Billy. ia pun menyapa Billy.


"brooo!!" Billy menyambut Candra dengan tosss high Five.


"masih inget gw lo, gw pikir udah sukses lupa sama gw..."


"ha ha... sukses apaan? gw masih gini aja bro! lo udah sukses ya, eh iya gw sampe lupa.. selamat ya Bro, gw denger dari Hendra lo udan nikah..."


"thanks Bro..." jawab Candra dengan senyum kecut.


Candra duduk di salah satu bangku. Dihadapannya ada sepiring nasi lengkap dengan lauk khas indonesia. Candra dengan lahap menghabiskan makannnya.


Billy yang baru saja selesai melayani pembeli, memanggil istrinya.


"Cici, tolong ganti ya. Aku mau ngobrol sama teman ku dulu.."


"Iya mas, aku gantikan dulu... anak - anak sudah tidur siang juga."


Billy kemudian mendekati Candra. Billy memilih duduk berhadapan dengan Candra.


"Gimana? Mantab masakan nya?"


Candra menghabiskan segelas air putih. Lalu meletakan di atas meja.


"Recommend Bil! Ini enak banget.. lo emang jago masak."


"Thanks bro! Oh iya apa yang membawa bos besar makan di warung kecil ini?"


Senyum kecut tersirat dari wajah Candra. "Gw engga seperti dulu."


"Hmm..gausah bohong, gw tau sedikit Candra..."


"Ya lo tau lah,engga perlu detail gw cerita gimana gw sekarang."


"Candra... Candra.... akhirnya lo berani menikahi perempuan. Itu yang paling gw salute.." Billy bertepuk tangan dihadapan wajah Candra.


"Iya Bill, kan lo yang bilang kalo percuma gw berharap sm Cristin. Saingan gw ikan paus besar. Ya sebenaenya yang gw jadiin istri juga gw ga nyangka....."


"Tunggu deh, istri lo itu?" Billy mencoba mengingat saat ia mengantar makanan di SMA Candra.


Pada saat itu Candra tak berhenti memandang Elsa. Namun Elsa malah melihat Candra lalu membuang pandangannya ke arah Christian.


Candra memandang sinis kearah Elsa. Ia seperti tak nyaman memandang perempuan yang bahkan ia tak pernah berbicara sepatah kata pun. Bersama dengan laki - laki lain.


"Iya Billy.. lo waktu itu bilang kalo gw harus gerak cepat. Lo juga bilang kalo kesempatan gw masih besar. Dia yang gw jadiin istri."


"Wah... selamat lo menikahi wanita yang udah lama lo incer Cand! What a perfect married life?"


"No...not at all Bil.. gw binggung sama perasaan gw.."


"Hah?!" Billy menggaruk kepala dan membetulan kacamatanya.


"Gw kenal dia atas game yang gw mainin. Sampe dengan kontrak nikah gw, karena papa sempet kritis. Cristin datang pergi dalam hidup gw. Sampe gw akhirnya baru tau sekarang, kalo Elsa pernah hamil anak gw. Dan sekarang dia hamil anak gw..."


"Terus masalah lo dimana?" Billy melipat tangan nya.


"Gw takut keputusan gw salah. Tapi lo pernah ga sih ngerasa engga ikhlas liat perempuan lain pergi. Lo ngerasa kesepian kalo engga ada dia. Lo ngerasa, jantung lo engga singkron detaknya tiap ada dia?"


"Pernah..."


"Terus itu yang gw rasain... gw engga pernah ngerasain ini selama gw bareng Cristin. Gw ga paham Bill."


Billy mengehela nafasnya. "Lo sekarang mendingan balik.. terus lo engga usah banyak galau. Nafkahi istri lo lahir batin yang cukup. Lupain kontrak nikah lo. Terus lo bilang ke Bini lo... Elsa aku cinta kamu..."


"....." candra mengedipkan matanya beberapa kali.


"Candra, lo itu jatuh cinta sama Elsa. Bukan sama Cristin, lo ltu cuman hutang budi ke Cristin. Tapi hati sama pikiran lo ke Elsa...."


Candra masih diam memandang ke arah meja.


"lo kalo kebanyakan binggung kaya perempuan. bini lo di ambil orang baru nyadar lo. please Cand, malu sama umur lo. udah saatnya cowo seumur kita itu komitmen. nikmati pernikahan dengan jatuh bangun. biar kekuatan cinta lo sama dia makin besar dan kuat. siapin mental lo.. karena kehadiran anak itu bisa menjadi sedikit bumbu pertengkaran di rumah tangga lo... tapi apa yang terjadi, gw paham karena besar rasa sayang lo ke tante Susan. makanya lo masih takut buat mulai pernikahan..."

__ADS_1


"iya Bro...gw engga mau ngalamin kaya gitu. gw juga engga ikhlas kalo anak gw mesti ngalami tumbuh di keluarga yang engga lengkap.. walaupun saat itu alasan ortu gw, demi kebahagiaan mereka berdua..."


Billy menepuk pundak Candra. ia menenangkan perasaan kawan baiknya itu.


__ADS_2