Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 52


__ADS_3

Christian berhenti di depan rumah Elsa. Ia membuka pintu untuk Elsa.


Wajah Elsa tersipu malu, ia menahan tawa karena senang sekali perasaannya. Baru kali ini ia menjalani apa yang namanya Pacaran.


"Kamu mau masuk?" Tanya Elsa.


"Boleh, aku mau ngomong sama orang tua kamu. Kan tadi kita pergi belum pamitan."


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Suasana sangat sepi dan hening. "Mama.... papa.... Adek pulang..."


Elsa mencari kedua orang tuanya. Namun tak ada jawaban satupun.


Elsa mendekati kamar orang tuanya. Ia mencoba mendengar suara di dalam.


"Ma... papa sudah engga punya uang. Bagaimana kita membayar pegawai. Sudahlah, jangan cuci darah lagi. Aku tidak akan kenapa - napa. Lebih baik kita memikirkan nasib anak kita dan pegawai kita."


"Pa..semangat lah pa...jangan bicara seperti itu, mama sedih pa mendengarnya. Semangat pa.. mama yakin papa akan sanggup mengadapi semuanya. Tapi papa harus ingat hidup itu harus kita perjuangkan Pa..."


"Mama....kalau mama tahu, aku engga bisa ma. Hidup tanpa kamu..."


Elsa meneteskan air mata. Ia mengetahui betapa besar rasa cinta sang ayah kepada ibu nya.


Christian mendekati elsa, ia kemudian menepuk Elsa.


Elsa pun berbalik badan menghadap Christian. Mereka pun berpelukan, Christian menepuk punggung Elsa.


"Sudah sayang... sudah jangan menangis ya.... sudah ya..."


Denyut jantung Christian menjadi tak beraturan. Rasanya begitu kaku dan dingin. Ia menjadi salah tingkah saat memeluk Elsa.


Setelah agak reda tangisnya, Elsa mengantar Christian ke depan.


"Hati - hati ya Chris..."


"Iya sayang...bye..."


"Bye..." namun Christian enggan beranjak pergi.


Gelora darah mudanya seakan memuncak. Ia mendekati Elsa, nenarik leher Elsa naik menghadap bibir nya.


Kecupan hangat dan cepat mendarat di bibir dan kening Elsa. "Byee sayang...."


Christian pun pergi dengan cepat. Setelah masuk dalam mobil, ia membuka kaca dan melambaikan tangan ke Elsa.


"Hati - hati Tiaan...!" Seru Elsa.


Dan Christian pun pergi berlalu.


********


Suatu sabtu pagi di SMA, christian duduk di tepi lapangan. Jam olahraga pagi, ia merasa harus membetulkan tali sepatu nya yang merenggang.


"Tian...." suara yang ia rasa amat ia rindukan. Christian membalik kan badannya, "Elsa...."


Elsa pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Elsa memutuskan masuk sekolah hari itu. Ia duduk di tepi bangku lapangan dan bersandar ke dinding. Kepala nya masih sedikit pusing. Tapi ia harus tetap masuk, hampir satu minggu ia tak datang.


Christian datang berlari, ia memberikan minuman isotonik untuk Elsa.


"Nih. Buat kamu sayang..." christian terlihat sangat tampan terpantul oleh cahaya matahari di pagi itu.


"Hah! Kan kamu yang olah raga. Udah buat kamu aja. Aku air putih cukup." Elsa menunjukkan botol minumannya.


"Tidak...ini untuk mu, aku juga ada." Christian duduk di samping Elsa.


Elsa pun menyandarkan kepalanya ke pundak Christian. "Pundak mu begitu kuat..."


"Tentu dong, itulah gunanya. Agar kamu bisa bersandar di sisiku." Christian tersenyum dan membelai pipi Elsa.


"Kita bakalan gini terus apa engga ya Tian?" Tanya Elsa.


"Maksud kamu?"


"Apa kita bisa bersama sampai nanti Tuhan persatukan kita...?"


"Pasti... aku bakalan sama kamu Elsa.. selamanya, cuman ada kamu dan hanya kamu di hidupku."


Christian kemudian mencium kening Elsa.


Tampak dari lantai 2 gedung Candra. Candra Adiwinata seorang team leader basket yang diam - diam juga menaruh hati pada Elsa.


Bukan karena parasnya, namun karena senyum dan 'ke apa adanya', just the way you are.


Ia mengepalkan kedua tangannya. 'Owh rupanya kalian sudah jadian.' Pikiran Candra langsung kacau dan mood nya hancur seketika.


*******

__ADS_1


"Hallo..nama saya Rachel, saya dari bandung. Salam kenal semua.."


Murid baru yang cantik dengan hidung mancung bak bidadari. Murid baru tersebut memilih duduk disamping Christian.


"Aku boleh duduk disini?" Rachel memandang centil ke arah Christian.


"Silakan. Ini kosong kok." Jawan Christian dingin.


"Elsa...kok dia pede banget duduk samping Tian. Kan Tian ga suka duduk samping perempuan. Ga tau diri banget."


"Olla...udah biarin aja, mungkin emang kita kurang bangku nya." Elsa masih berfikir positif dan tidak memperdulikan.


Namun, hari ke hari kelakuan anak tersebut membuatnya marah. Ia begitu terang - terangan mendekati Tian.


Setiap makan siang selalu saja mendekati Elsa dan Christian. "Aku duduk sini ya..."


Elsa memandang binggung ke arah Christian. "Lo buta? Tu belakang gw ada bangku duduk sana lo!!" Jawab Christian ketus.


"Rachel... maaf ya, aku sama Christian mau makan berdua aja. Kamu disana dulu ya." Elsa masih menahan emosinya.


Namun yang namanya rumput liar. Pasti akan menemukan jalan untuk tetap tumbuh. Hingga menyingkirkan tumbuhan yang seharusnya.


Bagaimana bisa Elsa tenang. Saat pulang bersama Christian, Elsa terus diam dan menyandarkan kepalanya ke pundak Christian.


"Kenapa beibh? Kamu kok engga ceria kaya biasanya?"


"Love, kamu tau engga Rachel tadi bilang sama kamu..."


"Kamu denger darimana?" Tanya Christian.


"Ya aku pas di kamar mandi. Dia ngobrol sm marshela. Tapi.. kalo dia suka sama kamu gimana?"


Christian menghentikan laju kendaraannya. "Udahlah Elsa... cuman suka doang kan, yang penting aku engga ngerespond dia. Udahlah, aku cuman cinta sama kamu. Engga usah lah mikir aneh gitu. Aku bete kamu kaya begitu."


"Aku cemburu Tian... kalo dia suka sama kamu terus kamu..."


"Terus apa? Tiap hari kamu ngomong gitu mulu...aku bosen Elsa!!"


"... maaf...." kata tersebut terdengar pelan keluar dari mulut Elsa.


"Lanjut pulang engga nih kita?"


"Lanjut Tian.. aku mau ngajar les mapel (mata pelajaran) dulu. Aku mau bayar iuran LKS (lembar kerja siswa).."


Christian menyalakan kembali mesin motornya. Ia mengendarai dengan cepat hingga sampai ke depan rumah murid les Elsa.


Padahal tak seharusnya ia marah atas kekhawatiran Elsa. Elsa sebenarnya telah mencium sesuatu antara hubungan mereka.


Namun Elsa sesungguhnya tak ingin kehilangan Christian. Kehilangan orang yang dicintai nya.


*****


"Kan bener Elsa! Emang breng*** mereka berdua. Baru libur sekolah tau pas masuk jadian. Lo di putusin lewat SMS pula! Cowok *****!!" Olla marah sejadi - jadi nya. Ia tak terima dengan perlakuan Christian.


"Sudahlah... aku bakalan mencoba nerima, walo sakit banget la..." mata Elsa terlihat bengkak dan menghitam.


"Lo itu perempuan baik El.... ***** dia milih tu pela*** daripada lo!" Ola menendang bola sepak di hadapan nya.


"Olla...apa gw jelek ya, atau miskin, atau gw kriting gini. Atau gw bodoh..." elsa masih mencari alasan. Atas apa yang menjadi keputusan Christian.


"Yang jelas dia yang bodoh. Mutusin cewe baik kaya lo cuman buat perempuan yang doyan mepet dia. Dasar aja dia cowo plin plan ga tau diri."


Elsa diam dan menatap Christian dari jauh.


Ya, mereka makan berdua di kantin. Pasangan baru, yang menggores luka di hati Elsa. Elsa kini harus mandiri, untuk sekedar makan siang dan pulang.


Siang itu perutnya sangat lapar. Tapi uang di saku nya hanya tinggal 10 ribu. Hanya cukup untuk ongkos pulang.


Elsa mencoba menahan sakit perutnya. Ia meminum air putih yanh di berikan gratis oleh sekolahan. Para murid tinggal membawa sendiri botol minum mereka.


Elsa meminum hampir sebotol penuh. Harapannya hanya ia ingin rasa laparnya hilang.


Namun apa yang di lakukan terlihat oleh Christian. Hatinya begitu sakit melihat Elsa harus menahan rasa laparnya.


Ingatan Christian melayang saat mereka bersama. Hampir setiap hari Elsa selalu makan bersama nya. Bahkan Elsa terlihat lebih berisi daripada saat ini.


Badan nya hampir habis, jangankan makan teratur. Elsa lebih memilih menahan lelah dan lapar untuk menghemat uang.


"Ya Tuhan, sakit sekali...." Elsa meraba perut bagian atasnya.


Ia tetap berjalan terus untuk naik lantai 2 letak ruang kelasnya. Namun baru 1 langkah Elsa sudah tak kuat.


Ia terjatuh, lemah, lelah dan pusing semua menjadi satu. Namun ada tangan kuat yang menjaga nya. Ia tak langsung terjatuh ke lantai.


Sayup Elsa mengintip siapa yang membantunya. Elsa tak mengerti siapa dia, tak memakai seragam SMA mereka. Namun wajahnya seperti Candra Adiwinata.


Elsa merasa matanya makin berat. Ia memilih menutup matanya saja.

__ADS_1


*********


"Rachel, kamu bisa kan memilih sendiri pakaian yang kamu mau. Aku lelah, aku mau pulang." Christia n malas menemani tunangannya berbelanja untuk persiapan pernikahan mereka.


"Kamu tu ya! Kamu itu tunangan ku!" Rachel menjawab ketus dengan meremas baju yang di pegang oleh nya.


"Terserah!" Christian memilih pergi meninggalkan Rachel sendiri.


Rachel menghentakan kaki nya hingga sepatu nya lepas. "Dasar lelaki ga tau diri!"


******


"Sudah semua Elsa? Kita masukkan ke dalam mobil sekarang ya." Candra membawa keluar satu koper besar.


Di ruang tengah sudah ada 3 koper lain yang menunggu. Elsa duduk dan membaca berita online dari ponselnya.


"Sudah, mari aku bantu.." Elsa berusaha berdiri dengan perut yang kian membuncit.


"Elsa.. kamu yakin kita perjalanan ke Semarang?" Tanya Candra sambil membantu Elsa berdiri.


"Iya Candra... aku tak ingin disini terus. Aku lelah...lelah melihat mu dan wanita itu." Elsa menjawab dingin suaminya.


"Baiklah, aku akan memanggil bellboy untuk membantu kita." Candra menekan angka 2 dari telpon dalam apartement nya.


Elsa melihat foto pernikahan mereka di dinding ruang tengah. Betapa Elsa ingin sekali memiliki rumah tangga seperti mimpi nya dari kecil.


Bahagia rumah tangga tanpa adanya orang ketiga. Namun, rumah tangga yang ia jalani ternyata tak mudah. Semua rumit dan menjadi tak menentu arahnya.


Haruskan bertahan demi bayi dalam kandungannya. Atau lebih baik melepaskan Candra demi kebahagiaan mereka.


Elsa mengelus perut nya, 'nak.. apa mama sudah jatuh cinta ke ayahmu. Mengapa mama menjadi seperti ini. Janji ya untuk menemani mama, mama cinta sama kamu nak....' air mata Elsa pun menetes.


"Elsa....?" Tanya Candra yang sudah ada di samping nya.


"Ya....sudah saatnya turun?" Elsa menghapus air matanya dan menoleh ke arah Candra.


"Elsa...kemari.." Candra memeluk nya. Dan Elsa kembali menangis.


"Candra... mengapa jadi begini...."


"Elsa.....aku sulit mengatakan ini, tapi. Aku... aku mau melanjutkan rumah tangga kita sampai akhir nanti. Anggaplah aku suami yang ..... Bodoh, ***** dan buruk. Tapi aku ingin kita terus bersama."


Elsa memeluk Candra lebih erat lagi. "Can...."


"Elsa ayo kita mulai dari awal. Kita sama - sama menjadi orang tua untuk anak kita. Aku sadar berat buat kamu memaafkan aku, tapi biarkan aku menjadi ayah yang baik untuk anak kita..."


Elsa tak sanggup berkata apapun. Apakah ia harus kekeh pada pendiriannya. Begitu egoiskah ia jika memisahkan sang jabang bayi dan ayah nya secara tak langsung.


Tok..... tok.... house keeping! (Suara dari luar)


Candra melepaskan pelukan Elsa. Begitu pula Elsa menghapus air matanya. Begitu banyak bawaan mereka. Sebagian perlengkapan bayi telah siap.


Elsa mengikuti Candra di belakang. Mereka turun menuju basement parking. Candra mengatur barang dalam mobil mereka.


"Pergi kemana pak? Kok bawa barang banyak sekali." Tanya bellboy yang membantu kami.


"Istri saya pengen pulang ke semarang. Ia kangen dengan kota tempat kami bertemu." Jawab Candra.


Elsa memilih duduk di dalam mobil. Ia membuka sedikit kaca mobilnya agar udara dapat masuk.


"Jauh ya pak, tapi sekarang ada toll jadi cepet ya pak. Berarti bapak sampai melahirkan si ibu baru kembali?"


"Ya mau saya begitu pak. Ini anak kedua kami, jadi saya harus lebih hati - hati." Jawab Candra sambil menaruh stroller bayi yang telah di lipatnya.


"Lho pak.. anak kedua kan bapak sudah pengalaman yang pertama dulu pak. Ha...ha... bapak lucu." Bellboy tersebut mencoba mencairkan suasana dengan bercanda.


Wajah Candra berubah menjadi asam.


"Anak pertama saya meninggal dalam kandungan. Jadi saya harus hati - hati. Saya tidak mau kehilangan lagi. Bapak jika sudah selesai, ini untuk bapak. Terima kasih."


Candra memberi uang tip kepada bellboy. "Maaf ya pak, tapi terima kasih ya pak.. permisi." Ia kemudian pergi menjauh dari Elsa dan Candra.


Candra kemudian masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin kemudian menggunakan seatbelt. Ia memandang istrinya, betapa Elsa wanita yang dulu ia hanya dapat lihat dari jauh. Kini ada disampingnya dan sedang mengandung buah cinta mereka.


"Siap El, kita jalan sekarang."


Elsa hanya mengangguk, Candra mulai memacu kendaraannya. Ia keluar area apartemen mereka. Candra menyalakan radio untuk mengusir sepi.


Elsa lebih memilih melihat macet nya jalanan kota pagi itu. Semua tampak tak sabar dan saling menerobos antrian.


candra membelokan kemudi, ia langsung masuk toll lingkar luar. "el... nanti di semarang kamu tinggal di rumahku saja ya. akan ada pembantu yang akan menemani dan membantu kamu."


"rumah ayahmu?" Elsa memperjelas perkataan Candra.


"bukan, rumah atas nama kita berdua. rumah mungil yang aku bisa beli setelah kita menikah. hasil dari showroom dan export tas kita. aku gunakan untuk membeli rumah. nanti Mbok Yem akan bantu kamu, dia dari kecil sudah ikut keluargaku. ia cukup pintar mengurus anak kecil.... jadi ketika tak ada aku, kamu bisa terbantu dengan adanya Mbok Yem."


"kamu udah well prepare banget Cand?" Elsa memandang suaminya yang sedang konsen menyetir.

__ADS_1


__ADS_2