Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 32


__ADS_3

Kami berjalan keluar dari Ruang Dokter Putri. Candra menyusulku, keluar dari ruangan. Kami menuju antrian farmasi, dan duduk di dekat loket pengambilan obat.


Kepalaku agak pusing, aku menyandar ke lengan sebelak kiri Candra. Candra mengeluarkan ponselnya. Ada pesan masuk, aku tak sengaja melihat. 'CRISTIN'


'Cand...kamu dimana? Aku telpon boleh? Aku kesepian, mas Hendra sibuk dengan meeting.'


'Aku lagi di Rs dengan Elsa.'


'Istrimu kenapa? Oh iya aku sudah hamil 3 bulan. Berkat program bayi tabung. Akhirnya mas Hendra ga bakal cerai sama aku.'


'Wow aku ikut senang.' Candra langsung mengunci ponsel nya dan memasukan ke dalam saku celana panjang nya.


"Kamu liat ya aku chat sama siapa?" Candra bertanya sambil membelai rambutku.


"Aku engga sengaja lihat kok, aku juga ga bakalan kenapa - kenapa kamu mau ketemu dia." Suaraku datar.


Aku seolah udah biasa dengan keadaan ini. Saat kami mulai serius dan saling meyakinkan perasaan kami. Wanita tersebut selalu datang.


Kadang ketika naluri ku muncul sebagai istri. Aku ingin sekali melabrak Cristin. Apa sebagai sesama wanita, dia memang terlahir sebagai wanita seperti itu?


Di depanku duduk, ada pintu kaca. Aku menatap ke dalam kaca tersebut. Tampak aku sang upik abu, bersama majikannya. Aku melihat diriku 9 tahun lalu. Betapa mimpi bagiku dapat bersama dengan Candra. Apalagi bisa sampai menjadi istrinya.


Kuakui, saat ini hatiku galau. Apa aku harus kembali ke sisi Candra. Tetapi....


Bagaimana jika kejadian - kejadian yang sudah terulang kembali. Pasti aku hanya menjadi bahan pembicaraan dan mereka pasti mengolok - olok diriku. Si pemimpi, si wanita besar kepala, si wanita tak tau tempat nya seharusnya.


"Atas nama Ibu Elsa Nirmala." Candra langsung berdiri dan mendekati sumber suara.


"Maaf hubungan dengan pasien?" Tanya petugas berbaju batik warna merah dengan corak kembang Kasturi.


"Saya Candra Adiwinata, suami Elsa Nirmala. Tanggal lahir istri saya sembilan september satu sembilan - sembilan satu."


Petugas tersebut mencatat dan memeriksa kertas berkas pengobatanku. Kemudian memberi ke Candra 3 kantung obat dan menjelaskan aturan minum nya.


Aku hanya samar - samar mendengar ada suatu kalimat..."jika rutin dan cocok harusnya bisa langsung hamil ya pak. Terima kasih."


Candra kemudian memberi kode aku untuk bangun. Kemudian menyusul nya pergi dari RS tersebut.


Kami saling berdiam diri, sejak dari Rumah Sakit hingga kini sudah di perjalanan. Candra mencoba memutar lagu dari radio.


'Selamat malam sobat Radio gaul malam ini. Masih bersama saya Ibnu Isya. Ya gaes, sekarang mau bahas soal......hubungan yang...gantung..udah kaya baju aja nih pendengar setia..


Ya jadi ada surat masuk nih dari Erika...kak Ibnu...kami tu pacaran, tapi kok aku ga pernah ya di ajak dia buat ketemu ortu nya or family nya...


Ehm...kalo menurut kakak, kalian kan masih pacaran. Belum waktunya kali ketemu dan kenalan...tapi...engga ada salahnya juga sih buat kenalan...


Okeii...next dari...nn... wah ni ga mau nyebut namanya pendengar.


Halo kak...hallo juga...saya Nn saya istri dari seorang suami. Tapi kak..kok suami saya tu ga pernah peduli ya kak sama perasaan saya. Fyi kak, masih aja tuh nemuin mantannya dulu.


Komunikasi mereka ituh, kaya orang yang masih pacaran juga kak...lhoh...


Engga kasih saya waktu buat ngobrol dan suka sering ga pulang kak...


Well...ini agak berat ya pendengar..jadi...hehhehee...suami - istri berat gaes jawabnya gw mesti diem sebentar nih....ehmm....


Jadi,coba aja nih kakak ajak bicara suami. Sampein uneg - uneg kakak, bilang apa yang kakak mau sebenernya. Biar bisa enak lagi suasananya yaaa...okeii..sebuah lagu dari Calum Scott - you are the reason ya..buat seseorang yang mau menyerah....ingat lah sejauh apa kalian bertahan.....'


Kami saling berpandangan, mobil Candra berhenti di lampu merah. Kemudian Candra mulai mendekatiku, menghampiri bibirku...kemudian aku memejamkan mata membiarkannya membawa ku terbang tinggi...


Oh nirwana....


Aku membuka mataku dan mendapat Candra tidur di sampingku. Aku melihat kamar ini, yah...kamar ini yang seharus nya menjadi kamar peraduan kami dan tempat kami kembali setelah seharian bekerja.


Aku mendekati Candra dan mengamati wajah Candra. Hidung nya...wajahnya, struktur yang pas..


Tangan Candra keluar dari selimut dan langsung menarik ku. Aku terjatuh di pelukan nya. Candra memeluk ku dari belakang dan berbisik. "Jangan suka diem - diem ngeliatin, nanti kamu ga bisa lepas lho ngeliatin nya...jadi cinta..."


Pelukan pagi itu begitu hangat dan lembut. Kecupan kecil nya di area kepalaku. Membuatku terlena jauh dalam, makin dalam membawa perasaanku.


Atau lebih tepatnya membuatku merasakan lagi. Apa ini rasanya jatuh Cinta???


********


"Bu Elsa..ini ada intercom dari semarang bu." Ucap operator telpon di kantorku.


"Ok. Sambungin ajah..."


Telpon pun tersambung....


"Dek...adek....mami masuk Icu lagi dek...kali ini please dek pulang lah...mami udah ga sadar dek..."


"MARTHA!!!"


aku langung menutup telpon ku dam berlari ke ruang GM ku. Aku melihatnya hendak keluar meeting dengan NGK Grup. Aku mencegah nya, "Bu please....(aku mengatur nafasku) i need....need day off again, my mom on emergency."

__ADS_1


"What? Its ok Take it. But, dont forget bring your mobile Phone. Cause we need access to you. In urgent Case i meant" aku mengangguk deng jawaban Gmku.


Aku langsung berlarinturun dan membereskan berkas dan tas ku. Aku menelpon Candra, memberi tahu apa yang terjadi. Tapi panggilan ku sama sekali tak terjawab.


Aku tak perduli lah dengan Candra. Saat itu yang penting aku cepat pulang. Aku bergegas keluar dan memesan ojek online.


"Mba Elsa?" Ojek online dengan warna hijau dan hitam itu menyapaku.


"Iya pak, pinjam helm ya. Ke Halim ya pak, cari jalan cepet aja pak."


Aku langsung naik dan memakai helm yang di beri ojek tersebut.


Jalanan agak lebih senggang. Aku teringat dengan Candra. Aku mengambil ponselku dan mencoba lagi menghubunginya. Tapi tetap nol hasilnya.


Kami tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Aku langsung masuk mencari counter Tiket langsung.


"Mba...satu tiket atas nama Elsa Nirmala. Ini Id saya." Aku memberi KTP ku dan memerima kembali beserta ticket print atas nama ku.


Aku mengambil uang di dalam dompetku. Untung semalam aku kelebihan mengambil uang Cash. Aku mengambil 9 lembar pecahan seratus ribu rupiah dan memberikan ke petugas tiket.


Aku berjalan masuk ke area Check in. Aku membereskan barang bawaan ku dan memilih menunggu di lounge di lantai 2. Aku memilih duduk agak ke pojok sebelah kiri ruang tersebut. Agar aku bisa melihat pesawat yang lalu lalang.


Kemudian aku teringat Candra. Aku mengambil ponsel dari dalam tas ku. Tapi hanya pesan dari Martha yang ada.


Martha \= adek..mama meninggal...


Aku langsung diam dan bengong. Aku mimpi pastk, ini ga mungkin. Martha bohong!


Aku mencoba kuat dan mencari kontak Candra. Pikiranku kalang - kabut dengan isi pesan Martha.


"Akhirnya..." aku langsung menekan panggilan untuk Candra.


"Halo..."


"Hallo Cand...mama meninggal Cand...mama....."


"Halo...ini Cristin, Candra masih ganti baju di kamar mandi tunggu ya."


"Apa????" Aku makin blank.


"Iya..maaf ini Tommy? Candra makan terus ketumpahan saus. Jadi aku bantu dia ganti baju."


"....." aku diam tanpa kusadari, air mataku keluar. Tanganku reflek menepuk dadaku, sakit dan sesak....


"BUKAN....Elsa ini, jadi namaku di tulis Tommy ya?"


"Elsa...maaf tulisannya gitu.."


Aku mendengar suara laki - laki di belakang nya. "Mana sini ponselku, udah sana cepet pakai baju mu. Malu kalo sampe ada yang tahu...."


"Ini Elsa Lagi telponn...halloo..,?"


Panggilan ini kuputus, aku tak sanggup melanjutkan lagi. Sakit sekali ya rasanya, apa ini rasanya orang bertepuk sebelah tangan.


Aku berdiri dan menatap hanggar pesawat. Banyak pesawar datang - pergi. Ada kala nya mereka singgah, ada kala nya mereka berangkat pergi lagi.


Aku masih meneteskan air mata setiap aku menutup mataku. Rasanya aku masih tak percaya. Apa yang aku dengar sendiri.


'Panggilan kepada penumpang BatikAir JT93553 jurusan jakarta - semarang a yani Airport di mohon untuk antri masuk ke area pesawat.'


Aku langsung mengambil tas cangklongku. Dan berjalan, mengikuti orang yang tujuan nya sama denganku.


Aku memilih diam tak berbicara apapun. Aku melihat ponselku, betapa konyol nya aku. Hingga mau menghubungi Candra tadi, bahkan aku sampai membuat wallpalper ponselku dengan foto pernikahan kami.


Konyol lo Elsa!! Aku memaki diriku sendiri atas semuanya...


*********


salah satu rumah duka di dekat Pusat kota semarang. sunyi sekali, jalanan hanya penuh truck muatan lewat yang aku lihat saat aku menatap keluar ruangan mama disemayamkan. aku mengenakan pakaian setelan berwarna putih. aku duduk dan menatap ke peti mati mama. seperti aku masih tak percaya apa yang terjadi.


aku masih tak percaya! Dia wanita yang selalu membenciku karena kelahiranku membawa keluarga kami pada ke bangkrutan. Dia yang menyalahkan keadaan karena aku yang membantu nya mencari uang. Dia juga yang marah karena hidup tak adil memperlakukan aku dan Martha. Tapi dia juga yang berjuang untuk ku.


masih aku ingat bagaimana dia kesana - sini demi mencari bantuanku mendapat beasiswa kuliah. membantuku agar bisa tetap makan, meski kami hanya makan tahu yang di bakar tanpa bumbu apa - apa. Rela melihat ku makan, padahal dirinya saja belum makan dari pagi.


betapa aku mencintai ibuku........


mama...tenang lah disana....


papa akan menyambut mama, seperti saat mami pulang kerja. Papa yang menjemput mama.....


aku kemudian diam....


air mataku menetes....


aku kemudian tersadar!

__ADS_1


aku bisa berpisah dengan Candra. mama satu - satu nya alasan ku menikahi Candra. demi nafkah 20 juta setiap bulan. yang amat sangat aku butuhkan demi keperluan mami. kini.....


aku bisa meraih hiduku, menjalani apa yang seharusnya memang menjadi milik ku. aku ingin menyudahi drama ini. buat apa aku bertahan jika Candra hanya memikirkan Cristin.


"dek...ini ponselmu, ada 30 panggilan." aku hanya mengangguk dan mengambil Ponselku dari tangan Martha. Martha meninggalkan ku, menemui keluarga lain yang datang melayat.


Candra \= kenapa El? aku call balik ga di angkat.


elsa. \= nothing..


Candra \= sure? kalau kerjaan aku udah selesai, aku akan pulang.


Elsa. \= tidak perlu, aku bisa mengurus diriku sendiri.


Candra \= Elsa....maaf kalau aku ga pulang. aku janji malam ini aku pulang.


Elsa \= .....


candra. \= kamu kangen ya sama aku? maaf aku mendadak harus pergi.


Elsa \= Cand...


Candra \= iya Elsa..


Elsa \= pergilah saja, tidurlah s


dengan peremuan itu. setelah pemakanan mami, kita urus perceraian kita.


Candra \= mami? Elsa mami kenapa??


aku lelah dan malas melanjutkan pembicaraanku. "sial!!" aku menahan rasa sakit dan mencari obat penahan rasa sakit yang Dokter Putri kasih kepadaku.


aku segera meminum dan meminta kunci mobil Martha.


aku berjalan ke arah parkir mobil di area rumah duka. rasanya sesak dan lega dada ini. aku berhasil berkata untuk berpisah saja dengan Candra. keberanian yang bahkan aku tak pernah memikirkan bisa aku ucapkan.


aku membuka pintu stir dan duduk sesaat. "kamu dapat uang 20 juta sebulan sebagai istriku"


"dek..mami itu butuh banyak biaya..."


"mami janji..mami ga bakal merepotkan kamu sama kakak lagi El...."


kepalaku berat sekali, hingga aku memejamkan mata saat itu. membiarkan aku tenggelam dalam rasa ini


rasa sakit....benci...dan sedih....


***********


Candra menekan Intercall no 10, "Pak Toni, masuk cepat."


saat itu juga Om Joko masuk ke ruang kerja Candra. berdiri tepat di depan meja kerja Candra. Candra terkejut dan langsung bangkit berdiri. "Papa...."


BRUGKKKK!!! (Tamparan keras papa ke Candra.)


"kamu tau! 31 Tahun kamu hidup! papa tidak pernah semarah ini!! Tapi hari ini, papa amat Malu! PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU MENJADI PRIA YANG TIDAK TAU TANGGUNG JAWAB !!"


Candra memegang pipi sebelah kiri, terlihat darah segar mengalir dari ujung bibir Candra.


"Papa malu!! kamu masih saja pulang ke apartemen Perempuan itu! kamu sudah punya istri!! TAU KAMU! MAMA MERTUA KAMU ITU MENINGGAL! besok Cand....besok itu pemakamannya!" Om Joko tak kuasa berdiri, kakinya mulai lemas. beliau menyandarkan badannya ke meja Candra.


"Kamu tahu, istri kamu itu dari keluarga baik - baik. saya sebagai papa kamu, maluuu! kamu......kamu bahkan memilih tidur disana, sementara mertua kamu meninggal.


ok...ok! jika kamu memang tidak dapat di pisahkan dengan perempuan itu. SILAKAN! kalian menikah lah...


Tapi kamu ingat satu Hal!! jangan pernah bawa perempuan itu masuk ke rumah saya!" Om Joko langsung balik badan.


"Tunggu pa....." suara Candra lirih...


Om Joko berhenti dengan posisi nya, membelakangi Candra.


"saya memang tinggal di apartemen Cristin. saya memang mencintai Cristin, sampai saat ini. tapi saya juga tidak mau kehilangan Elsa." mata Candra mulai berkaca.


"papa pernah di posisiku? apa papa tau? betapa mama dulu menderita saat papa sedang menikmati waktu dengan Ruby?


papa tau mama setiap malam menangis dalam tidurnya. betapa beratnya dia lalui..sampai dia menyerah!" air mata Candra mulai keluar. "aku ga mau pa....kehilangan orang yang penting dalam hidupku....dan aku ga mau kehilangan Elsa..."


Om Joko membalik kan badan, memandang Candra. "apa kamu tau itu semua permintaan mama mu? apa kamu tau papa menderita setiap malam memandang foto kalian! apa kamu tau! papa bertahun - tahun tidur dengan foto kalian!!


Yaa.....itu permintaan konyol mama mu!!! papa menikahi suster mama yang juga sahabatnya. demi melindungi nama baik nya, dan menyiapkan perawat untuk papa saat kalian sudah menikah dan hidup dengan keluarga kecil kalian...apa kamu tau!"


Candra mengatur nafas nya, menundukkan kepala. "ini! ini surat yang papa simpan rapat!! sudah saat nya kamu tahu!"


papa melempar kertas berwarna krem. sebetulnya kertas itu putih. tapi karena di makan waktu menjadi agar kekuningan.


Candra memungut dan membukanya.

__ADS_1


__ADS_2