Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 44


__ADS_3

Elsa membuka kedua matanya. Ia tak melihat Candra di sampingnya. Kemana pria itu ?


Elsa turun dari tempat tidurnya. Ia menuju ke kamar mandi, Elsa memulai segala ritual pagi nya.


Membasuh seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ke telapak kaki. Tak ada satu sisi pun yang luput dari'nya pagi itu.


Ia kemudian mengeringkan rambutnya di depan cermin yang besar. Yah, kamar mandi ini seperti di hotel bintang lima.


Elsa menatap dirinya, kemudian pandangannya tertuju ke perutnya.


Perut Elsa yang semula datar, kini kian membuncit. Kandungan memasuki trimester kedua. Tak lama lagi ia akan menjadi seorang Ibu. Elsa tersenyum ke cermin dan merapikan dirinya.


Selesai berpakaian rapi, Elsa keluar dari kamar. Suasana begitu hening, tak ada siapa pun.


Ia hanya melihat ada 'tudung saji' di atas meja makan. Elsa kemudian membukanya.


"Candra... kamu engga salah?" Ucap Elsa refleks.


Ia melihat ada roti bakar berbentuk segitiga, dan segelas susu putih tawar. Ini menu favorit Elsa sejak ia hamil.


Elsa kemudian duduk di meja dan menghabiskan sarapannya. Tak berapa lama ia sadar, dimana ponselnya.


Elsa melihat ke ujung meja makan, ternyata ponselnya disana. "Pasti baterai nya habis. Aku lupa buat ngisi semalam, biarlah nanti saja."


Elsa bangkit dan membawa piring serta gelas kotornya ke dapur. Ia mencuci dan merapikan meja makan.


Kemudian Elsa mengambil ponselnya.


Ia menekan mode kunci, ternyata ponsel nya terisi penuh. "Owh, Candra yang mengisi semalam rupanya."


Elsa membuka pesan yang masuk dari semalam. Ia terbelalak saat melihat nama Tian.


Banyak sekali pesan yang masuk, mulai dari kalimat romantis hingga kalimat yang menekan Elsa.


'Kamu bisa menikahi Candra. Tapi saya akan tetap merebutmu dari Nya. Candra itu tidak mencintaimu, sadarlah!'


'Kamu itu cuman jadi simpanan nya. Percuma kamu bertahan, kasiani anak mu saja Elsa.'


'Kamu engga sadar? Siapa kamu, Candra bisa kapan pun membuangmu. Ia tidak akan mengakui anakmu!'


Elsa langsung menghapus semua pesan dari Christian. "Dasar, kamu itu cuman racun. Jangan jadi benalu Chris!"


Ia memejamkan mata, mengingat kembali. Bagaimana Tian menghianati nya dengan Rachel. Membuang nya dan menyebarkan 'foto panas' editan untuk membuat gosip tentang Elsa.. "racun kamu!"


Elsa langsung mengambil tas dan sepatu kerja nya. Ia bersiap untuk berangkat. Entah dimana suami nya pagi itu.


*********


Candra terlihat sangat rapi, ia sudah ada di showroom tempat ia bekerja. Benny yang datang pagi itu juga kaget melihatnya.


"Candra? Ini masih pukul tujuh pagi, kamu sudah sampai?"


"Benny, maaf sebelum nya. Apa tawaran mu tempo hari masih berlaku?"


Benny tersenyum ramah, ia kemudian mengangguk. "Mari ikut aku..."


Mereka pun masuk ke dalam ruang kerja Benny. Candra mantap untuk menerima tawaran Benny. Candra tak ingin kehilangan Elsa dan membuktikan bahwa segala ucapan Christian tidak ada arti nya.


"Okei Cand, berarti senin kamu bisa mulai bekerja disana. Dan ini berkas yang kamu bisa pelajari dulu." Benny memberikan setumpum berkas soal perusahaan dan kontrak kerja dengan importir mobil mewah.


"Baiklah Ben, aku akan mulai mempelajari nya. Semoga ini jalan ku untuk mulai bangkit." Jawab Candra.


"Amin Candra, dan ini juga kali pertama kamu memulai tanpa modal dari orang tua Mu. Harusnya om Adiwinata bangga."


"Entahlah...sejak terakhir aku dan Elsa bertengkar, ayah ku seolah menjauh. Ia bahkan membiarkan om Hendra mengambil semua. Tapi sudah aku relakan, yang penting aku masih punya kaki untuk berdiri."


Benny menepuk pundak kiri Candra. "Semoga aku bisa bantu kamu Sobh! Seperti kamu dulu menolongku, saat aku menjadi supir di keluargamu. Bayangkan, anak supir yang merangkap Tukang kebun."


"Ben, jangan lupa, kita tumbuh bersama dan kamu sudah seperti keluarga buatku. Terima kasih ben.."


"Sekarang, pulanglah Candra. Persiapkan dirimu untuk senin masuk ke kantor yang baru. Dan ingat! Kantor tersebut atas nama dirimu!" Jawab benny sambil merangkul Candra ke pintu keluar.


Candra tersenyum dan menjawab. "Baiklah Ben. Sekali lagi, terima kasih."


"Ssst.....its just my oportunity and trust. Please, jangan bikin aku kecewa."


"Sure!!" Jawab Candra mantab.


**********


"Elsa, please come to join our meeting with owning company." Ucap Pak Ztefanie saat briering pagi.


"Sorry Pak? Today?" Jawab Elsa memastikan.


"Ya... all Head of Dept, at two Pm."


Semua yang hadir hanya mengangguk dan briefing pagi ini selesai. Elsa mencium ada sesuatu yang tidak beres. Ia juga tak melihat Christian pagi ini.


Elsa kemudian kembali ke ruangan nya. Ia teringat Richie, kemudian Elsa mengambil ponselnya. Ia mencoba mengontak Richie.

__ADS_1


E \= Richie, today kamu ada meeting ke hotel tempat saya kerja?


R \= yes Els. Wait me ya..


E \= boleh saya tanya membahas soal apa? Biar saya bisa menyiapkan jawaban.


R \= sudah, lihat saja nanti.


Richie tak biasa'nya menyembunyikan sesuatu. Elsa makin yakin akan ada sesuatu.


Elsa memejamkan mata, ia berbicara dalam hati nya. 'Tuhan, semoga ini bukan pertanda buruk dari hati ku yang tidak tenang.'


********


Suasana meeting room cukup hening. Semua manager telah berkumpul dan duduk sesuai tanda pengenal di atas meja.


Jam dinding berputar menuju pukul dua siang.


Rombongan direksi pun datang. Satu per satu mereka masuk, namun menjelang barisan akhir. "TIAN?" ucap Elsa Refleks.


Kemudian mereka semua duduk di susul para manager ikut duduk.


Hanya satu orang yang berdiri. Pak Dodik.


Pak Dodik kemudian membuka rapat siang itu.


"Selamat siang Semua, salam sejahtera untuk kita semua. Disini saya mewakili Bapak Richie menyampaikan berita yang cukup dan amat penting. Berkenaan dengan perpindahan Saham dan kepemilikan hotel ini.


Jadi, per bulan depan yaitu Bulan September. Seluruh kepengurusan dan legalitas atas group yang tadinya di atas namanya NGK di bawahi oleh Bapak Richie.


Akan melepas dua property ke Group Sinar, yang akan di pimpin oleh Bapak Christian.


Silakan Bapak Christian untuk berdiri sebentar."


Semua yang hadir saling bertatapan. Mengapa bisa, konspirasi apa ini, dan sepertinya Pak Ztefanie sudah mengetahui. Hanya dia yang tersenyum dan bertepuk tangan.


"Baiklah saya lanjutkan, ada pun dua properti tersebut adalah Hotel EmpatMusim dan perumahan Greenwrood di area luar jakarta.


Mengenai perpindahan dan surat menyurat penting, akan saya kirim soft dan hard file segera mungkin.


Adapun alasan perpindahan atau pelepasan saham atas kedua properti tersebut, karena Bapak Richie akan mengembangkan bisnis lain dan beliau merasa Bapak Christian akan membawa kedua properti tersebut ke arah yang baik.


Sekian, Terima kasih." Pak Dodik menyudahi pengumuman yang mencengangkan tersebut.


Elsa masih diam dan melihat ke arah Richie. Tapi ia hanya menaikan kedua bahunya dan tersenyum.


Elsa terdiam membaca pesan dari Richie. Pikiran Elsa kalang kabut, entah akan ada hal gila apa lagi yang di lakukan Tian.


Christian memandang tajam ke arah Elsa. 'Kamu harus kembali menjadi milikku.'


**********


"Richie.....aku.. aku engga bisa mikir akan bagaimana nantinya." Elsa memutar sedotan es teh nya.


"Kenapa El? Tian itu pintar, pemikirannya kritis dan visioner. Bagus menjadi direksi untuk tempat kamu." Jawab Richie.


"Did you know.? Dia dua hari lalu, hampir saya melakukan tindakan asusila ke aku? Untung security ada yang berpatroli."


"Elsa.... sudahlah, kamu terlalu paranoid. Christian itu anak baik. Ia bahkan tak pernah berbuat aneh - aneh. Nice boy tipenya."


"Richie! Sayang aku sudah hapus semua pesan nya ke ponselku. Dia itu coba untuk menggodaku, gila aja dia."


Richie menarik nafas panjang, "elsa... christian itu akan menikah dengan Rachel, dia teman SMA kamu juga kan? Mana mungkin ia berbuat seperti itu..."


'Pintar sekali Tian memainkan peran. Menciptakan kesan ia lelaki baik - baik. Sama seperti 11 tahun lalu, membuat semua orang percaya. Bahwa aku wanita murahan.'


********


Aku berjalan perlahan, kembali ke kantorku. Tapi, pikira ku melayang jauh. Sangat jauh, berfikir soal Tian.


"Elsa...memang kamu itu siapa? Tian itu sudah mencetak undangan pernikahan. Tak mungkin ia berbuat hal bodoh. Apalagi memaksa kamu atau niat tak baik.." Richie berbicara dengan pandangan tulus.


Elsa diam dan melamun, ia tak menyadari ada seseorang yang menegurnya.


"Bu El !"


Elsa menoleh ke arah suara. rupanya salah satu dari Kepala keamanan di Kantor Elsa. "Bapak Arif, ada yg bisa saya bantu?"


"baik Bu, jadi begini saya menerima laporan bahwa mulai detik ini,siapa saja yang keluar di luar jam makan siang, maka akan langsung di kenakan SP. begitu amanat dari Bapak Tian selaku direktur kita yang baru."


'ash...dasar oranh bodoh.'


"Terus kamu mau SP saya? saya punya ijin keluar dari GM." Mata Elsa mulai melotot.


"mohon maaf Bu, saya cuman menjalankan perintah."


Elsa langsung pergi meninggalkan Pak Arif.


"Bu Elsa... Bu Elsaa!!"

__ADS_1


berjalan dengan lebih cepat, elsa menuju ke tangga darurat. ia ingin menyelesaikan hal konyol baru yang di lakukan Tian.


Elsa mendobrak pintu ruangan persis di depannya. bertuliskan IT - Office.. BRAKK!!


Tian rupanya sedang duduk dengan memangku Rachel dihadapannya. raut wajah Rachel berubah menjadi tidak suka dengan kehadiran Elsa.


"eh, lo bisa sopan kan?! masuk ke ruangan orang, dia tu Direktur lo!"


mata Elsa melotot dan berubah memerah. ia ingin sekali meluapkan apa yang di tahan nya bertahun - tahun.


"sudah sayang, jangan perdulikan dia. anggap saja aku ini orang penting jadi banyak dicari oleh orang."


'penting? the Big No!' elsa masih menahan emosi dan berbicara dalam hati.


"baiklah, aku akan pergi, sepertinya ada yang engga suka aku disini.." Rachel bangkit berdiri dan berjalan ke arah Elsa. matanya sangat menjijikan saat memandang Elsa.


"minggir lo, dasar ****." Ucap dari Rachel.


Elsa tak tahan, ia menarik rambut Rachel. kemudian menarik nya ke dalam ruangan. "Eh Perempuan ngga tau diri! lo itu emang engga pernah ya ngomong baik. apa lo emang dari lahir tu makan comberan! denger ya, lo panggil gw apa?! ulang sekali lagi!"


Tian berdiri dan mendekati mereka. "elsa udah Els...udah maafin Rachel!"


"apa Lo bilang?? maaf? heh jalang! gw udah nahan dari gw SMA ya, gw pengen banget bilang. lo engga usah sok suci! gw tau lo kerja jadi perempuan di Night Club, lo deketin Tian cuman buat dapet duit dia aja!!!" elsa makin keras menarik rambut Rachel.


"dasar perempuan GiLAaa!!! lepasin GW!!! SAKITTT!!!" Rachel meronta makin keras.


"lo lepasin pacar gw ato lo gw pecat!"


Elsa langsung menoleh ke Tian, "gw ga salah denger? owh..Ok. lo emang pantas punya pasangan sekelas dia!"


Elsa melepaskan rambut Rachel dengan melempar nya ke lantai...bruk..."sakit sayang...."


"karena Lo pecat gw, lo ganti pinalty kontrak gw. 10 kali lipat gaji gw, lo inget ya Tian direktur itu bukan Tuhan maha besar. lo jangan besar kepala. satu hal lagi Tian!


ajarin ni perempuan yang namanya SOPAN Santun." Elsa langsung pergi dari ruangan Tian.


di luar banyak karyawan yang berkumpul menyaksikan bagaimana Elsa bertengkar. "gw engga tau Bu Elsa bisa se'nekad itu."


elsa menoleh ke salah seorang yang berbicara. "eh kamu, sini."


"saya Bu?"


"ya, kamu kaget saya nekad? kamu akan lebih kaget kalo masih bertahan dengan orang kaya baru itu!" Elsa pergi berlalu, ia memilih kembali ke ruangannya.


Elsa menutup pintu ruangan dan mengunci dari dalam. Elsa bersandar di balik pintu. "Tuhan...semoga aku tidak salah.."


15 menit berlalu.....


Elsa keluar membawa semua barang - barangnya. karena Tian sudah memecat, sekalian Elsa membawa semua barangnya.


"Bu...Ibu mau kemana? kami gimana Bu..."


"Diana...maafkan saya, tapi ini soal hargadiri saya. dan maaf saya hanya sampai disini menjadi leader kalian. mungkin setelah ini akan release Blacklist saya. tapi saya harap kalian tau kasus yang sebenarnya.


jaga diri kalian, tetap kompak, tetap menjadi team yang solid dan jangan lelah untuk belajar. sama..... berani lah, untuk keluar dari Zona nyaman kalian..."


"Ibu...."


"Bu Elsa..."


"Bu...kami sama siapa... kami masih harus ibu bimbing... kami...."


"sudahlah, saya masih di jakarta. jangan sungkan ya untuk kontak saya...baiklah, saya permisi dulu.. sampai jumpa." Elsa pergi berlalu dari ruangan Finance. ia membawa 1 box file ke arah luar hotel.


Bapak Arif menahan Elsa. "tunggu sebentar Bu Elsa."


"kamu engga usah cari muka, mau apa lagi? kamu mu ambil ini barang saya."


"Bukan Bu...saya..."


"engga usah banyak mulut kamu...!" Elsa tak memperdulikan, ia langsung keluar dari area hotel.


******


Pintu apartemen Candra terbuka, Elsa masuk ke dalam. ia meletakan kardus nya di atas meja depan tv. ia kemudian duduk bersandar ke dalam sofa. "capeknya....."


ia memejamkan mata, sesaat ia teringat bagaiman Tian berkata. "aku ga mau pacaran lagi sama kamu. kamu orang miskin. badan kamu juga pendek dan gendut, rambut ikal kamu. aku malu sama kamu jalan berdua."


"hiks..tapi...tapi....kenapa kamu ...malah sama Rachel....,"


"dia itu Cantik, putih, kaya barbie hidup. kamu itu kaya pembantunya tau." kemudian Tian meninggalkan Elsa sendirian di parkiran motor SMA.


air mata Elsa menetes, ia mengingat betapa sakitnya saat itu. betapa hina nya Elsa, di tinggalkan begitu saja oleh Tian. apalagi ucapan dari teman - teman sekitar mereka.


"lebih pantas Tian sama ini daripada itu si upik abu."


"udah cocok tu mereka. semoga si **** itu jangan menganggu lagi....bikin pemandangan jelek... Tian - Rachel adalah Panutan kita... Idola Baru."


"ini baru pas, mungkin dulu si **** itu main dukun lah. terus tobat keliatan deh jeleknya."

__ADS_1


__ADS_2