Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 22


__ADS_3

Aku, Jason dan Rianty berjalan keluar dari Butik Jes. "udah malem Els, kamu naik apa?" jess membuka percakapan..


"ng'ojol aja Jess. deket ini, masih di jakarta." aku berjalan menuju teras butik Jason.


"Hati - Hati ya Elsa.." jess dan Rianty melambaikan tangan kepadaku.


aku pun meninggalkan mereka menuju pinggir jalan raya. agar ojek ku mudah menjemputku.


aku merasa ada yang memperhatikanku, perasaanku tidak tenang. aku mengamati sekitar.


depanku ada mobil sedan hitam, tetapi kosong tanpa ada pengemudinya. sampingku ada mobil Hitam metalic tetapi aku tidak dapat melihat siapa di dalamnya.


jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya. aku melihat jam di tanganku. masih pukul 08.00 malam.


dari arah timur perlahan terlihat motor hitam dengan dengan Jaket hijau. jaket kebangsaan jutaan babang ojol di indonesia raya.


motor pun berhenti persis di depanku. "Dengan Embak Nirmala?" yah...dia kira gw peri di komik bobo.


aku tersenyum, "Bapak Hidup ya?". aku jadi ingat waktu nyantol di aplikasi namanya Hidup Slamet.


"ini neng helm nya." aku mengambil helm, kemudian naik ke atas motor matic Pak Hidup Slamet.


"Pak...maaf ni, bapak udah lama narik?"


"udah neng, bapak teh dari garut. disana mau kerja apa binggung. anak bapak masih kecil ada 5.." buset...rajin banget ini bapak.


"anak bapak semua ada 5??" aku masih tak percaya. apa aku salah mendengar.


"Iya neng..jadi bapak udah lama jadi bujang. Bapak teh malu, kaki bapak tu engga utuh neng, yang kanan ni lebih pendek neng.


jadi kalo orang kampung bilang teh bapak tu kena Tulah dari orang tua bapak."


aku masih terdiam mendengar Bapak Slamet bercerita. "abah bapak sih orang jawa neng, tapi teh dapet istri di garut. nah bapak tu dari kecil udah sakit - sakitan neng. nama bapak pas lahir bagus neng.. Hendra Suhendra neng.. bapak sakit panas sampe 2 bulan neng. makanya terus kaki bapak engga sempurna gini.


udah di ruwat kaya gimana masih engga bisa neng. bapak sakit.. akhirnya sama orang pinter teh di bilang kudu di ganti. biar bapak tetep bisa Hidup..makanya teh jadi Hidup Slamet.."


"oalah..saya tu baru mau tanya pak..kok nama bapak tu kaya doa semua orang pak."


"iya neng, tapi beneran neng. bapak tu kalo cari duit ga jauh - jauh neng. ngojek, nyupir sm jadi itu yang biasa anter barang neng."


"kurir?"


"nah iya neng, itu. tapi gimana ya neng. Bapak dapet bini tu bonus neng. Bapak dapet janda kembang muda neng, tapi anaknya udah 5 neng. suaminya di bunuh pas kerja di luar pulau. " cerita Pak Slamet makin membuatku tertarik untuk terus mendengar.


"tapi bapak malah seneng neng, soalnya bapak udah 10 tahun nikah belum di kasi momongan neng. tapi bapak tu bahagia neng. bapak bisa liat anak bontot bapak dari jebrol lahir neng. jadi bapak ngerasa uda kaya anak sendiri.." bapak ini suka sekali bercerita. dan aku merasa tidak jenuh di perjalananku macet sekitar Slipi,Jakarta.


"intinya neng. rumah tangga itu menerima neng. tanpa syarat. salah neng, syaratnya satu. nerima neng, kalo neng menerima pasangan neng. cinta tu bisa neng tumbuh dengan sendirinya."


"hahhaa...iya pak..bakal saya inget.." aku merasa sedan hitam di belakangku seperti menguntitku.


"Bapak kebanyakan ngomong ya neng?"


"engga pak...saya malah seneng, dapet cerita pengalaman bapak, jadi Sharring pak buat saya.." aku tak mungkin mengatakan aku sedang di buntuti..


"neng, itu mobil siapa yah. dari tadi tu ngikuti mulu..bapak pelan ato kenceng ngikutin."


dan benar, ketika ojol'ku memelankan laju motornya. Mobil itu menyalib ku dan memotong jalanku... CHITTT......mobil berhenti memotong jalanku.


Rem motor Pak Slamet berbunyi. aku refleks memegang pundak Pak Slamet. "neng maaf neng ini mobil mabuk kaya nya. brenti engga kasi sen(reating/ sign kanan atau kiri)."


aku masih kaget mengatur nafasku."engga papa pak..saya cuman kaget doang kok pak..gapapa.."


pintu kemudi mobil terbuka. sepasang kaki keluar kemudian di susul seluruh badan pengemudinya.


'mati gw apa Dept Collector. tapi kan gw ga utang apa - apa. masak pake mobil sih kalo nagih utang' aku masih penasaran siapa itu.


terlihat jelas.. CANDRA!


pengemudi mobil menghampiri kami. ojolku masih kesal dan memaki "heh kang kalo bawa mobil teh yang waras! ini jalan umum, saya hampir nabrak. kalo nabrak teh gimana??


nanti minta saya ganti, ga punya uang banyak saya kang..." Candra diam saja hanya melihat ku tanpa berkata apa - apa.


"Kang! heh!!" Pak Slamet menepuk tangan Candra.


"maaf pak, saya ada urusan dengan perempuan ini."


"kang, jangan suka ngarang. ini eneng penumpang saya, dia teh biar saya anter. akang kalo ada urusan, silakan tapi biar saya menyelesaikan perjalanan dulu, biar saya bisa nutup poin kang. jadi saya ga di blokir sama ojol saya."


"biar saya yang antar dia!" Candra masih memandang tajam ke arah Elsa.


"akang tanya dulu mau atau tidak?


kenal atau tidak? jangan sampai korban penculikan kang..."


"Sudah pak, saya turun sini saja. saya kenal dia, dia suami saya." aku turun dari motor dan mengembalikan helm Pak Slamet. "maaf buat bapak kaget, ini pak ongkosnya. bapak lanjutin aja perjalanan ya pak..makasih."


"lah eneng gimana sih, kagak bilang itu teh Suaminya..ck ck ck...anak jaman sekarang suka aneh aja tingkahnya.." Pak Slamet pun pergi meninggalkan kami. "permisi neng.."

__ADS_1


"oh iya pak.. Hati - Hati..." aku membalas..


kita tinggal kami berdua. aku di hadapkan dengan nya. dengan pria yang memperlakukan ku sesuka hati. memperlakukan ku seperti Barang Mati.


"kalo gitu ada urusan apa dengan saya?"


"banyak.."


hmm....apa tidak ada cara lebih bijak buat ngajak bicara Cand.. "owh..tapi ni udah malem. angin juga agak kenceng." aku harap kamu peka Cand.


"baiklah, ayo masuk dalam mobil." Canda membuka pintu sebelah kiri dan mempersilahkan aku masuk.


aku berjalan dan masuk ke dalam mobil. Bila aku tidak salah ingat. aku belum pernah duduk di depan seperti sejak menikah dengan Candra.


Candra mulai mengemudi perlahan, masuk kembali ke jalan raya.


suasana canggung, sepi. kami saling terdiam tak bersuara.


"aku denger dari Rianty, kamu baru balik RS. kok udah kelayapan?"


"aku fitting di jason." jawab Candra


kami kembali saling terdiam..ideku gagal memecah keheningan ini.


Candra sepertinya ingin memakan atau memcincangku. tatapannya dingin dan suasana dalam mobil begitu dingin.


"maaf membuatmu takut Elsa." suara Candra lirih.


"......its ok Cand...tapi kamu kan baru sembuh, kenapa berkendara segini jauh? kamu menguntit ku? " aku bertanya to the point ke Candra.


Candra menarik nafas dan menghembuskan nya. "aku bosan di rumah, aku jalan saja sekalian fitting jas. waktu aku mau balik, aku lihat kamu turun dari ojol. aku mau banyak berbicara dan bertanya.. makanya aku menunggu kamu selesai fitting, saat aku mau keluar dan menyapa.. kamu malah udah sama ojek online."


"engga make Sense candra!" aku memotong kalimat Candra. 'padahal itu lama sekali aku fitting..hampir 2.5 jam.'


Ciiiittt.......Candra membating Stir nya ke kanan. mobil ini berputar sampai akhirnya berhenti di pinggir jalan dengan melawan arah.


"kamu mau Tau Hal yang masuk akal?" Canda mulai lepas kendali. dia melepas sabuk pengamannya.


mulai mendekatiku, aku yang takut mencoba berpegangan kuat pada sabuk pengaman yang masih terpasang.


Candra terus mencoba mendekati wajahku. tangan kirinya memegang daguku agar mengangkat sedikit wajahku. kemudian Candra mulai menempelkan bibirnya ke permukaan bibirku.


hembusan nafasnya...lagi..lagi..aku kangen dengan hembusan nafas ini. begitu hangat, bergairah dan membuat tak ingin mengakhiri semuanya.


bibir ku masi mengunci. aku tak sudi di cium nya. bagaikan wanita murahan saja jika aku me-respon sentuhannya. telah hapal aku, dengan ciuman yang sembarangan di lakukan Candra kepadaku.


tapi sebelumnya.."


Candra sepertinya merencanakan sesuatu untuk Elsa. "aku mau tanya, kenapa kamu keluar dari kantor? gaji nya terlalu rendah? atau apa lagi alasannya?"


"hmm...Candra..aku pengen aja ganti suasana.." aku mencoba mencari sesuatu apa ada yang bisa aku pakai untuk menyelamatkan ku..


"ganti suasana?? teruss?"


"pokoknya aku kerja!" aku mulai kesal dengan pertanyaan Candra.


"kalo kamu ga mau jawab dengan jujur. biar aku pakai cara lain.."


Candra menurunkan sandaran kursiku sedikit turun. wajahnya makin mendekati dan menggoda hidungku.


bibirnya terhenti di teligaku. Candra mengendus dan mulai menjilati telinga kananku..


"aarg..Candra!!"


"jawab Cepat. kamu pergi kemana?" Candra terus menjilati telingaku dan mulai menggigit kecil..


"aa...aaahkkuh..akuuh l..pindah..pindah two See..season.."


Jawabanku membuat Candra menghentikan aktifitasnya. kini tangan Candra sudah berhenti meraba paha ku.


"oowh...Richie rupanya.."


Candra kembali ke tempat duduk pengemudi. aku membetulakan sandaran kursi penumpang dan membetul kan kemejaku yang sudah mulai berantakan.


Candra kembali mengemudikan Sedan Audy nya. sepertinya Candra tahu, aku saat ini tinggal dimana.


Candra dan aku terdiam Sepanjang perjalanan ke apartemenku. "jadi kamu akan datang pernikahan Mila?"


"iya. gaun sudah fitting, tapi aku tidak tahu nanti. karena aku ada MOD hari jumat."


"MOD??" tanya candra.


"yeah...manager on dutty. aku pulang mungkin sabtu dini hari, atau biar aku kabari lagi saja."


padahal aku tahu pasti, aku tak pernah menyimpan nomer Candra. aku masih ingat terakhir menerima telfon nya. saat kami belum menikah.


"kamu engga pake cincin pernikahan kita?" tanya Candra. sudah sejak di rumah sakit, Candra tidak melihat cincin melingkar di jari manis Elsa.

__ADS_1


"sesuai Perjanjian Pra Nikah kita. bahwa saya dan kamu tidak akan pernah mengenakan cincin. kecuali saat acara bersama keluarga ato sahabat.....


seingatku.. kamu juga tidak memakai, bahkan sehari setelah pernikahan kita pun. kamu sudah tidak memakai."


memang pada saat mereka melakukan perjanjian. Elsa dilarang menunjukan statusnya bahwa dia istri Candra.


ya... salah satunya cincin pernikahan. Elsa dilarang untuk memakainya.


"besok sabtu pakailah!" Perintah Candra.


ya...perintah..


aku kemudian melihat ke arah Candra. kami saling berpandangan beberapa saat. kemudian aku memalingkan Pandangan ke arah jalanan.


kami saling terdiam tanpa kata. sepanjang jalan hanya lampu kerlip jalanan. rasanya apa begini ya, semobil dengan suami sendiri.


ini kali pertama kami semobil setelah kami resmi menikah. dan apa ini mungkin jadi yang terakhir aku juga tak tahu.


Akhirnya kami sampai, aku turun dari mobil dan berdiri menunggu Candra. Candra ikut turun bersamaku.


"jadi kamu mau mampir?" duh, ini pertanyaan konyol dariku.


Candra melihat ke atas tower apartemenku. "masih ada juga apartemen dia disini." kemudian Candra berjalan ke arahku.


"aku boleh mampir?" tanya Candra.


"Sejujurnya bukan ide baik sih, karena aku juga akan langsung Istirahat. besok aku masih harus berangkat Pagi."


kali ini Candra diam, kamudian ia mendekatiku. sangat dekat denganku hingga aku bisa mencium aroma Tubuhnya.


cuppp.... Candra mengecup keningku.


aku kaget, "naiklah, aku akan pergi. lain kali aku akan mampir dan menginap."


Candra kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya. menyalakan mesin mobil, kemudian pergi berlalu meninggalkanku.


aku masih binggung dengan apa yang di lakukan Candra kepada ku. berubah rubah terus dulu dia sangat membenciku. aku masih ingat saat membicarakan soal pernikahan ini.


aku sepertinya terlalu sensitif. lebih baik aku segera tidur. aku pun masuk ke lobby apartemen ku dan naik ke kamarku.


aku berdiri di kamar 8/10. memasukkan kunci ke lubang, memutar kunci..ctak...ctak....pintu terbuka.


aku masuk kemudian menyalakan lampu.


apartemen studio yang cukup minimalis. dapur kecil disebelah kanan, berhadapan dengan kamar mandi. aku masuk melewatinya, melepas sepatu, kemudian aku berjalan lagi melewati tempat tidur dan Tv, menuju sofa di ujung ruangan sebelah kanan. meletakkan tas jinjingku, aku kemudian pergi ke balkon di ujung kanan ruangan. membuka balkon dan meletakkan sepatuku di luar.


aku mengambil pakaian ku yang sudah kering di balkon. masuk kembali ke dalam kamarku, meletakkannya di sofa. aku mengambil remote ac, menyalakannya. begitu juga dengan Tv.


kemudian aku berbaring di kasur.


"argh...akhirnya aku bisa meluruskan pinggangku."


---------


"hallo...Pak Toni, aku butuh info soal Hotel Two Season. karena aku baru tau kalau di akuisisi oleh NGk." Candra berbicara di ujung telfon.


"baik Mas, saya beri info besok siang."


"juga cari property NGK di apartement dekat Twoseason."


"maaf??" Pak Toni seperti memastikan lagi apa yang ia dengar.


"Iya, apartemen di samping Twoseason! Elsa tinggal disana di tower nomer 2. saya harus tau di unit nomer berapa. Cari tau segera."


Pak.Toni terdiam sesaat. "Baiklah Mas, saya akan mencari infomasi."


Candra mengakhiri pembicaraan, "sudah bertemu?" tanya Hendra.


mereka sedang minum santai di sebuah bar. Candra memutar kelas beernya. "Sudah" jawab Candra.


Henda meminum beernya, "jadi..apa yang akan kamu lakukan?"


"aku belum tau, yang jelas. aku tak akan melepaskan Elsa lagi."


"kalau aku jadi kamu, aku ganti tempat tidur di kamarmu, dan memberikan Elsa ruang sendiri."


"maksudnya??" Candra berbalik melihat ke Hendra.


"iya, dia pasti tidak suka jika tidur di atas Kasur yang sudah di tiduri wanita lain. meski kalian tidak berbuat apa - apa.,


mengenai ruang sendiri, berikan toleransi ke Elsa. agar dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah terjadi. jangan terlalu memaksanya, dan kamar Hangga, jadikan lah kamar Elsa. biar dia bisa perlahan menata hatinya, jangan memaksanya langsung tidur sekamar dengan mu. bisa saja malah Elsa makin membencimu.


Biarkan secara alami luka Elsa terobati. perlakukan dia sewajar.nya saja.."


Candra diam dan mengaanggukan kepala. sepertinya Candra mengerti, ini menurutnya akan mudah di lakukan.


Hendra seorang Casanova yang mengerti selah hati wanita. cara menghadapi mereka dan cara membuat wanita mencintai kita..

__ADS_1


__ADS_2