
ponsel Elsa berbunyi, dari tanpa nomor. siapalagi ini?
"hallo..... "
"hallo.... ini aku... "
suaranya seperti cristin, "aku siapa? saya engga tau." jawab Elsa ketus.
"sudah Elsa.. kamu tau ini aku.. aku cuman mau ngasih kabar dulu. siap aja kalau Candra akan pergi dari kamu. lebih baik kamu mempersiapkan dirimu dan anakmu. karena apa...? aku tidak akan merelakan dia hidup bahagia dengan wanita selain aku." ucap Cristin.
"hm... kamu gila ternyata. kamu pasti sudah tahu bagaimana Candra mencintaiku. atau kamu tipe perempuan yang haus akan belaian lelaki? jadi suami mu tak cukup? nampaknya aku akan berkata sedikit kasar... pergilah perempuan murahan!" Elsa menutup panggilan nya.
wajahnya berubah menjadi merah. ia amat benci dengan apa yg dilakukan cristin. bagai wanita tak memiliki harga diri. menghendaki 2 pria sekaligus dalam hidupnya..
********
candra berada di dalam ruangan kerja. ia duduk sambil membaca beberapa berkas. sepertinya ia mulai memikirkan perkataan Elsa.
ada sesuatu yang tidak beres dalam proposal kerja hendra.
tok... tok...
"masuk!" ucap Candra dengan keras.
pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Rupanya dia Hendra, ia membawakan kopi dingin untuk Candra.
"ni Bro, biar agak lemas pikirannya." hendra meletakkan kopi di atas meja Candra.
ia duduk di kursi dihadapan Candra. Hendra menyeruput kopi nya dan mengecap nikmat kopi nya pagi itu.
"thanks Hend... uhm.. gw mau tanya kenapa lo engga pake managemen yang pasti bonafit buat ngelola ini?" Candra memandang tajam Hendra.
"hmm... gw punya ambisi Cand. gw pengen punya lokal hotel management yang bisa go internasional. jadi mumpung gw dapet warisan, kenapa engga?" candra menaikan alis dan bahu nya.
"yah gw paham, cuman kita ini engga punya basic hospitality. apa engga rawan? apalagi kalau dalam setahun 50% BEP aja kita engga nutup.. " Candra mulai khawatir dengan tantangan Elsa.
"itulah sebabnya gw gandeng lo..! lo kan bisa bujuk elsa biar mau bantuin kita. masa dia tega liat suaminya hancur. enggalah!"
"jadi lo manfaatin istri gw!? " suara Candra meninggi.
"engga seluruhnya Candra... cuman gw butuh bini lo buat bangun bisnis kita. simple things kan?"
"konyol!" ucap Candra sambil menyandar ke kursinya. ia menutup mata nya dengan tangan kanannya.
*******
jam dindin menunjukkan pukul 6 malam. Elsa duduk di ruang makan seorang diri. ia mengadapi hidangan makan malamnya.
namun pikirannya justru berkelana. entah mengapa Candra tak kunjung pulang. ponsel pun sunyi senyap, tak ada satu panggilan pun masuk untuknya.
'semoga suamiku tidak apa - apa.. ' Elsa berbicara dalam hati.
tak berapa lama terdengar suara mobil masuk ke garasi mereka. Elsa langsung menoleh, ia ingin bankit berdiri. namun kaki kanan nya tiba - tiba kram, ia hampir jatuh dari kursi nya.
Candra masuk dan mencuci tangannya di wastafel depan kamar mereka. Candra melihat Elsa yang tengah merintih sambil memijak kakinya.
"Elsa! kamu engga papa?!" Candra panik.
Candra berlutut di hadapan Elsa. ia ikut memijat kaki Elsa. wajahnya panik masam.
"sudah Can... sudah mendingan, aku salah ingin berdiri mendadak. ternyata kakiku kram dan sakit. maafkan.. " jawab Elsa melow.
"iya yang penting engga apa - apa sekarang. maaf aku pulang terlambat. aku terlalu fokus sampai lupa sudah jam 6 sore. maafkan aku juga ya Els .. " Canda mengusap pipi Elsa, kemudian mengecup keningnya.
Elsa pun membalas tersenyum.
Canda duduk di kursi makan nya. ia menghirup aroma hidangan buatan Elsa. ada sup dan beberapa lauk lain.
"ini kamu semua yang bikin?" tanya Candra.
"iya, Mbok Yem membantuku beberapa hal tadi. ayo kita makan."
mereka mulai menghabiskan makanan nya. menikmati suasana makan malam yang biasa saja. namun jauh dalam hati Candra ia amat senang.
impian nya dari kecil, jika memiliki keluarga sendiri. apalagi saat makan malam semua berkumpul dan saling berbagi cerita..
indahnya angan - angan Candra...
"Elsa.... boleh aku meminta pendapatmu. ada hal yang ingin sekali aku katakan.. " suara Candra menjadi pelan.
"bicaralah Candra... kalau aku bisa membantu kenapa tidak?" Elsa memeberi senyum dengan lesung pipi yang membuatnya menjadi manis.
"begini, soal hotel.. aku barusaja menyadari apa yang kamu katakan benar. soal lokasi, profit dan managemen yang akan mengurusnya." candra menghembuskan nafas beratnya.
"iya.. terus? " Elsa melipat tangannya di atas meja. ia tertarik dengan pembahasan malam itu.
"aku mempelajari semuanya siang tadi. lalu aku berfikir, kenapa aku tidak bertanya kepadamu. kamu sudah lebih berpengalaman daripada aku.. maka bagaimana kamu bisa membatuku?"
__ADS_1
"tidak." jawab Elsa tegas.
"kenapa Els?!" suara Candra meninggi.
"membantu kamu atau membantu Hendra? kamu tau? lokasi kamu itu milik keluarga besar Cristin. kamu memulai bisnis di lahan yang masih jadi sengketa keluarga mereka.
darimana aku tau? ada internet yang memberiku petunjuk.. "
"apa? ini konyol Sayang... mana mungkin Cristin akan mengangguku. dia sudah bersama suaminya disana. sedang kita disini, yang aku cinta juga cuman kamu... " jawab Candra lugas dan cepat.
ia masih tak percaya cristin masih ada hubungan dengan semua ini. tapi jika memang milik keluarganya. makan Candra bisa gagal untuk kedua kalinya.
"kamu tahu? wanita murahan itu bahkan beberapa kali menghubungiku, ia mencari dirimu dan berkata apa coba? dia ingin kita berpisah.
selama kalian bersama apa dia mengkonsumsi obat yang membuat otaknya rusak? atau jiwanya memang Sakit?!" nafas Elsa menjadi berat.
jauh dalam hatinya betapa ia marah dengan keadaan. selalu wanita itu yang menjadi pengganggu.
"ok aku akan menuruti mau mu. apapun Elsa, sekarang mau kamu gimana? apapun itu yang penting aku engga mau kita berpisah... " ucap Candra dengan lembut.
"berikan padaku semuanya, kalian bagian penyokong dana. sisanya biar aku bereskan, aku yakin mampu mengelola dan membeli tanah dengan status sengketa tersebut. beri aku waktu dan bantu lah menjadi panjangan tangan ku selama aku melahirkan... "
"baik, aku akan minta hendra untuk tidak ambil bagian apapun kecuali soal uang. tapi aku minta kemana pun kamu pergi harus bersama denganku."
"deal! " jawab Elsa.
malam itu mereka sepakat untuk menjadikan Elsa sebagai General Manager merangkap Direktur untuk hotel kecil project mereka.
dalam pikiran Elsa, ini adalah satu cara yang ia bisa. ia ingin mempertahankan Rumah Tangga nya. jika Candra sampai gagal, makan harga dirinya akan hancur sebagai suami.
dan saat itu pasti cristin akan datang. menjadi sosok ibl*s berkedok malaikat. menawarkan surga dan menawarkan kenyamanan. yang akhirnya menjadikan Candra dan Elsa berpisah.
namun, jika sebaliknya yang terjadi. Candra akan sukses lagi dalam satu usaha nya. ia bisa menunjukkan bahwa istrinya bukan orang yang salah. bukan pilihan yang salah jika mereka menjadi suami - istri.
dimana takdir dan jodoh mereka berdua. Candra dan Elsa.
*******
"Elsa.... " ucap Christian.
ia berdiri di pintu keluar bandara. ia melihat wanita yang sudah amat lama ia rindukan.
"cantiknya, walau badannya menjadi gemuk saat mengandung. namun wajah ayu nan manis nya tetap ada.... Elsa seharusnya kamu mengandung anakku... bukan Candra.... " Christian berbicara sendiri.
"pak tunggu dulu, saya mau mengikuti seseorang." Christian meminta supir nya untuk menunggu di parkiran.
tak nampak jelas dengan siapa Elsa bertemu... namun mereka tampak dekat dan banyak tawa yang terlihat dari kaca etalase cafe.
sekitar 2 jam Christian tetap bersembunyi dan menunggu Elsa. sampai Terlihat dari kaca Elsa telah berdiri dan berpelukan dengan perempuan di hadapannya.
lalu Elsa pergi meninggalkan Cafe. Christian langsung berdiri dan menahan langkah Elsa.
"Tian...?" ucap Elsa sembari mengusap mata nya. ia merasa mimpi bertemu dengan Christian disini.
"iya ini aku... apa kabar??" wajah ramah nya sama sekali tak berubah.
bagaimana bisa Elsa melupakan wajah bersahabat mantan pacarnya. ia orang pertama yang merubah hidup Elsa.
"bisa kita bicara?" ucap Christian.
"ah... oh.. iya boleh, bagaimana jika kita makan siang?" ucap Elsa terbata - bata.
"ide bagus, ayo... disana... " Christian menunjuk kedai bakso aneka macam.
bakso makanan favorite mereka dari SMA. hampir saat makan Elsa selalu minta makan mie atau bakso. menurut Elsa lebih bisa memberikan rasa kenyang dari daging dan mie yang ia makan..
mereka duduk berhadapan, Elsa terus menundukan kepalanya. entah apa yang membuatnya tak berani memandang wajah Christian.
"sudah lama sekali El.... aku ingat pertama kita mulai jalan saat kita jadian. kita membeli dekorasi untuk malam Bakat Seni. kita makan Nasi Ayam di depan Sekolah langganku. kamu tidak makan apapun, hanya minum teh botol saja... apa kamu masih ingat?" Christian memecah hening.
Elsa langsung tersadar dan mengangkat kepalanya. ia memadang kedua bola mata Christian. Pandangan Christian membawa nuansa nostalgila mereka...
.........
"kamu engga makan El?" Christian menghentikan kendaraan dan menunggu Elsa turun.
"Tian... kita kudu balik jam 11. ini udah..."
"udah jam 9, aku laper, kita makan dulu lah... " Christian tak peduli. ia turun dan menghampiri pedagang kaki lima tersebut.
Elsa membuang nafas dari bibirnya sambil cemberut. ia pun ikut turun dan mendekati Christian.
Christian menyiapkan kursi plastik di sebelahnya. Elsa duduk dan menunjukan muka masam.
"kamu itu jangan terlalu taat sama aturan. suatu saat kamu yang bakalan capek... " Christian menyodorkan teh ke Elsa.
elsa menerima dan tetap diam.
__ADS_1
christian asik menghabiskan makanannya. bahkan ia memesan lagi untuk di santap nya.
"aku lapar, jadi aku mau makan double... " ucap Christian, tapi Elsa masih bete dan memainkan game di ponselnya.
tak berapa lama Christian menghabiskan sarapannya. ia menghampiri penjual dan membayar semua makanan dan minuman.
ia lalu mendekati Elsa dan berkata. "sudah ayo kita belanja lagi. tapi senyum dulu ya, aku mau lihat lesung di pipi kanan mu.. "
deg.... jantung Elsa serasa berhenti berdetak. ia pun mencoba senyum ke arah Christian.
Elsa lalu berdiri di hadapan Christian. tak di sangka Christian mengecup kening dan pipi Elsa.
"Tian... malu?!! ini di jalanan...!!" ucap Elsa.
Christian tak ambil pusing, ia menggandeng Elsa untuk naik ke motornya.
.....
"hmm... kamu ingat hal simple kaya gitu? apa semua kenangan masalalu mu selalu indah bersamaku?" tanya Elsa sambil melipat tangannya.
"ya... hanya dengan mu, semua menjadi indah dan aku merasa ingin kembali dan hidup di masa itu saja." Jawaban Christian mantap dan tegas.
"cih... bukankah kamu seharusnya sudah menikah, kamu sudah lama sekali berpacaran dengan Rachel. kalau aku engga salah hitung 10 tahun ya... bagaikan mencicil sebuah rumah... " suara Elsa setengah menghina Christian.
Elsa tak ingin kembali larut dalam masalalu nya. sakit dan amat dalam luka itu. haruskah kembali membuka?
"mungkin jika aku bisa memundurkan 10, 20 atau 40 tahun pun akan aku lakukan.... " jawab Christian enteng.
"kenapa?? "
"menunggu kamu berpisah dengan Candra. menunggu untuk menebus kesalahan ku kepada mami - papi kamu. bahwa aku meninggalkan mu dengan alasan konyol.... "
mereka pun diam dan saling memandang. pelayan datang dan menaruh pesanan mereka. namun mereka berdua tetap diam.
Elsa mengedipkan kedua matanya beberapa kali. ia menahan air matanya untuk tidak keluar.
"kamu jangan ngaco, saya udah nikah. saya juga udah punya baby sebentar lagi. bahagialah Christian dengan pilihanmu... meski itu bukan dengan aku."
"apa kamu begitu? akan berusaha bahagia walau kamu tahu kalo kamu bukan yang di pikih Candra?"
ucapan Christian menghentikan Elsa saat ingin mengambil sendoknya.
lalu Elsa menjawab, "ya... sudah pilihanku bersama Candra. walau pun aku tahu. aku tak pernah ada di hatinya. jika pun suatu saat kami berpisah, aku yakin diriku akan bahagia bersama anakku..."
"aku akan menunggu saat itu.... walaupun aku tidak bisa lari dari Rachel... tapi aku bisa menghampirimu. aku bisa bersamamu saat itu tiba... karena.... aku masih mencintaimu Elsa... amat dalam..... "
Elsa melotot dan memandang Christian. air matanya menetes, tapi Elsa buru - buru menghapusnya.
mereka pun menghabiskan makan siang nya tanpa berucap. mereka diam bagaikan orang yang tak saling kenal.
dalam hati Elsa banyak pertanyaan bergelantungan. banyak rasa ingin mengupas semuanya. semua hal yang membawa nya pada ketakukan untuk jatuh cinta lagi...
*********
Christian mengemudikan mobil sedan putihnya. Elsa duduk di sampingnya, banyak senyum yang terlihat dari wajah Christian.
Elsa hanya membuang wajahnya ke jendela mobil. ia mengumpulkan tenaga untuk membuka pertanyaan.
"Tian.... kenapa kamu berpisah dan mutusin aku waktu itu.?" ucap Elsa dengan lirih.
Christian lalu menghentikan mobil ke sisi jalan.
"karena aku tidur dengan Rachel.. "
Elsa kaget dan langsung menggeser badannya menjauhi Christian.
"Apa?!" Elsa melongo dan mengedipkan kedua matanya. tak percaya dengan apa yang Christian katakan.
"mungkin sekarang waktu yang tepat. buat aku menceritakan semuanya, biar tidurku pun bisa nyenyak...... "
Christian mengambil nafas panjang dan membuang dari mulutnya.
"waktu itu Rachel menjebak dengan mengadakan pesta di salah satu villa di sini. tapi yang aku ingat ada beberapa orang lain. Tommy, Victor dan kenneth. semua chaos dan pecah dengan keadaan party.
yang aku ingat, aku hanya minum segelas. tapi pada saat aku bangun, Rachel ada di sebelahku."
Elsa diam dan mulai mengendorkan syaraf tegang nya. hatinya terbawa suasana menjadi sedih..
"Rachel menekanku dengan foto setengah telanjang kami. ia bilang bisa menyebarkan ke semua orang. dan impact nya kalau orang tua kita tahu... maka aku akan mempersulit mereka.
aku pun takut El, karena saat itu jantung papa kamu sudah lemah.. aku cuman engga mau kalau sampai foto itu menyebar dia yang pertama kena...
maka nya El... aku terpaksa meninggalkan kamu. memang konyol buat kamu atau orang yang paham cerita kita.
tapi ini nyata Els.... dan bersumpah demi Allah... aku bahkan tak pernah menyentuh Rachel... "
Elsa hanya bisa diam, dan air matanya mulai keluar. menetes tanpa bisa ia kontrol..
__ADS_1
Christian tertunduk di setir mobil. ia juga menangis, menyesali hal bodoh nya...