
Elsa menghirup harum kopi dan meminum perlahan. kemudian meletak kan di atas meja. "jadi....lo udah ngambil keputusan? balik lagi sama Candra?" Elsa memandang ke Richie.
"belum tau, gw masih...(hening)" Elsa menunduk kan kepala. "gw masih trauma, gw takut kalo engga bisa kontrol perasaan gw."
"Elsa....lo itu engga bisa mengatur apa yang memang seharusnya terjadi...termasuk pertemuan lo sama Candra..." Richie mengehela nafas.."gw juga binggung, sebelum nya gw juga bertanya. kenapa Candra bisa jatuh cinta sama lo...sorry...ehem.....Candra bisa ga mikir buat jadi in lo istri.."
"maksud lo?" Elsa mengernyitkan dahi.
"Engga papa Els....menurut gw, engga masalah kalo lo tinggal sama Candra. Toh kalian suami istri kan. yang jadi masalah lo trauma kan? udahlah..lo kan juga sibuk kerja. udah ga punya waktu buat Candra juga...pikirin aja deh coba, lo kan butuh duit buat mama ? udahlah kembali ke tujuan awal lo....lagipula...kan kalian menikah juga ada term and condition di perjanjian pra-nikah..."
'perkataan Richie ada benarnya, aku kan cuman butuh duitnya. dan buat apa aku mikir ini jadi masalah besar buatku. Toh juga aku bakalan tidur misah sama Candra. dari awal aku aja yang ke baperan sm Candra.
kalau soal baik, dari dulu dia juga baik.
salah...salah...' (Elsa mengeleng - gelengkan kepala)
'lebih tepatnya, dia butuh urusan ranjang, gw butuh duit. thats it. udah itu doang, inget Elsa..apa yang udah dia lakuin ke Lo...lo sekarang sampe segitu traumanya...'
"Elsa...lo gapapa?" Richie membuyarkan lamunanku..
"sorry...gw keinget kerjaan gw, gw balik duluan ya..bye.." Elsa meletak kan lembaran uang 50 ribu di atas meja dan pergi menjauh..
"byaaeeee...." berlari meninggalkan Richie..
"Elsaa...ngapain naroh duit segala...." Richie tertawa melihat tingkah Elsa. "Coba aja gw engga punya masalah hukum dengan kematian Stella...mungkin gw udah nyulik Elo..Elsa...elsa....gw pertama ga tau, kenapa Candra begitu mengikat lo dengan keras....sekarang gw tau Elsa..."
Richie menyalakan sebatang rokok. "kalo lo tau Elsa...lo itu menarik...lo itu mandiri...dan lo itu punya inner beauty yang kuat dan lo itu keras kepala." Richie tertawa kecil dan melanjutkan membaca berita di Tabletnya..
*******
Elsa berjalan masuk lewat lobby hotel. "kembali kerja dan Fokus...fokus..." Elsa berbicara sendiri..
"selamat siang Bu Elsa.." sapa salah seorang concierge/bellboy. "udin...selamat siang." jawan Elsa dengan senyum ramah.
Elsa berjalan terus melewati tangga darurat. turun ke bawah ke ruangannya. "selamat siang semua.." sapa Elsa ke team nya.
"siang Bu..." jawab mereka.
"Bu, maaf ada yang kirim sesuatu di ruangan Ibu.." kata Chyntia salah satu team Elsa.
"oh iya? siapa?"
"dunno Bu...soalnya udah ada di pos tadi..Pak Arya yang antar. katanya dari suami Ibu." jawan Chyntia.
"Baikklah..terima kasih..."
"iya bu.." Elsa meninggalkan masuk ke ruangannya.
di atas meja Elsa ada box pizza ukuran large. lengkap dengan saus pendampingnya. Elsa membuka box tersebut. tercium langsung bau wangi khas pizza yang tajam.
'oke ini Favorit gw, tapi anak - anak kayanya masih butuh cemilan.' Elsa membawa box pizza keluar ruangannya.
"guys...ini pizza di makan ya...buat ganjel perut aja.."
semua langsung berdiri dan mendekat ke Elsa. "wih bu....makasih bu..ini enak banget pizza nya. tau aja Bu laper...hehee" jawab salah satu team Elsa.
"makan aja..saya kenyang soalnya." Elsa pergi ke dalam dan langsung duduk.
Elsa menyalakan monitor yang di matikannya. Elsa sengaja tiap keluar makan pasti mematikan monitornya. di lihatnya ada pemberitahuan pesan masuk dari aplikasi Whatsapp web.
candra : aku kirim pizza jangan lupa di makan ya.
me : sudah ku terima. terima kasih.
Candra : aku kirim jam 12, kamu jam 4 baru balas?
me : aku baru kembali, aku meeting dan makan siang di luar.
Candra : terus pizza nya ??
__ADS_1
me : tetap ku makan. makasih. paperoni nya enak.
candra : aku jemput nanti malam.
Elsa hanya membaca dan kembali fokus pada pekerjaannya. baginya ini hanya membuang waktu. tak ada waktu untuk santai. semuanya harus tepat waktu.
Elsa terus berkutat dengan berkas kerjanya. deadline hari jumat dan tekanan dari GM begitu berat buat Elsa. apalagi sudah mendekati masa budget tahunan.
Elsa asik bekerja, ponselnya sengaja di matikan suara dan getar nya. whats app web pun Elsa abaikan. Fokus Elsa tetap pada report yang tak kunjung habis ia kerjakan.
Elsa tersadar saat mengambil air minum. Ecobottle telah kosong, dan Elsa melihat jam di monitor. "astaga! udah jam 9 malam. aku ga sadar...."
Elsa meletakan botol minum dan mengambil ponselnya. 50 panggilan dan 10 chat Whats app. Semua dari Candra, Elsa menelpon balik Candra.
"hallo...kamu dimana,? maaf aku tadi repot."
"....(terdengar hembusan nafas) aku masih nunggu di loading dock dekat security pos."
"ok aku keluar.."
Elsa langsung mematikan ponselnya. cepat - cepat Elsa mematikan komputer, lampu dan mengunci ruangan Finance. Elsa berjalan setengah lari, bukan karena menunggu panggeran nya. tapi karena sungkan Elsa yang lupa akan seseorang yang menunggunya.
Elsa mengembalikan kunci ke pos. "terima kasih Bu Elsa. (kunci di terima oleh keamanan kantor). Bu Elsa, itu sudah 3 jam lebih menunggu Ibu. saya minta masuk saja tidak mau katanya biar menunggu Ibu." Elsa menoleh, Candra.
"Biarlah Pak Junet, saya sudah bilang jangan tunggu saya. saya tinggal dulu pak. Terima kasih." Elsa meninggalkan Pos Security hotel.
Elsa membuka pintu mobil Candra. masuk dan duduk, di ambil seatbelt dan di pasang nya pas di knop nya. "maaf, aku tak terbiasa di tunggu pulang kerja." jawab Elsa dingin.
Candra tak bergeming dan diam. Candra melaju mobil dengan kecepatan sedang. Candra cukup bersabar dengan apa yang di lakukan Elsa. baginya sudahlah, itu tanggung jawab Elsa sebagai salah seorang manager.
Mereka berhenti di salah satu restoran cepat saji ayam. "kamu mau makan sesuatu?" Candra berbicara dengan Elsa. Elsa pun menoleh, "aku ga biasa makan malam. kalau kamu mau makan aku temani saja."
mereka pun turun dan masuk ke dalam. tangan Candra meraih pinggang Elsa. menggiring masuk dalam restaurant. Elsa tak begitu mengubris tangan Candra. Elsa begitu dingin seolah tak lagi menyambut sentuhan Candra.
Elsa memilih duduk di lantai dua, dekat dengan jendela seperti biasa. Candra menghampiri dan membawa nampan berisi float, milk shake, burger dan pudding.
candra tersenyum "makanlah bantu aku habiskan ini." Candra mengambil burger dan mulai makan perlahan.
Elsa melihat Candra dan mengambil Pudding. di buka tutup cup tersebut dan mulai menyendok perlahan masuk ke mulutnya.
"kamu setiap hari pulang jam segini?" Candra memanang tajam Elsa.
"kadang..." Elsa tetap acuh menghabiskan pudding dan memainkan sendok nya.
"terus kapan kamu mau konsul sama dokter kandungan." nada bicara candra serius.
"maksud kamu? bisa kita bahas hal lain saja?" Elsa meletak kan pudding yang masih tersisa.
Candra meraih telapak tangan Elsa. "aku pernah bersalah sama kamu. dan aku mau memperbaiki semuanya. apa salah nya kamu memberi kesempatan?"
"Udah cand.....pulang dulu ya, aku banyak pikiran dan deadline...kepalaku jadi pusing." Elsa menyadarkan pundaknya ke kursi di restoran.
Candra mengangguk pertanda setuju. Candra menghabiskan makanan dan beranjak dari kursi. mereka berjalan turun ke arah tangga. sepasang anak muda berjalan di depan mereka. memamerkan kemesraan layaknya pasangan di mabuk asmara.
Candra kembali teringat kenangan 9 tahun lalu. tepat saat mereka berdua bertemu dan memulai saling membagi rasa. pertama kali Candra mengenggam tangan Elsa. gugup rasanya, entah mengapa berbeda dengan Cristin.
hampir satu tahun mereka bersama. tapi tak ada satupun obrolan soal diri masing - masing. atau soal apa yang bisa dibagi satu sama lain.
"lo ngelamun? jadi balik?!" Elsa sedikit berteriak memanggil Candra yang masih diam di lantai atas.
Candra turun menyusul Elsa. mereka pun masuk mobil dan melanjutkan perjalanan pulang. Elsa memandang keluar jendela, kota jakarta yang masih ramai menjelang tengah malam.
lagu penyanyi Sabrina menemani perjalanan mereka. mata Elsa terpejam, membawa nya pada perkataan Richie..
"cobalah, beri kesempatan. setiap orang bisa berubah..."
mata Elsa makin terpejam, makin dalam rasanya jatuh. Jatuh dalam kenangan manis dan sakit mereka berdua. kenangan Elsa akan masa sulit sepeninggalan ayah nya.
masa Elsa harus bangkit dari jatuh nya hati dan harga diri nya......
__ADS_1
semuanya.......
******
Elsa membuka kedua matanya. tempat ini begitu familiar, kamar Elsa...'rupanya aku tertidur lagi. tapi dimana Candra?'
Elsa melihat ke samping, Candra tertidur dengan pulas. pakaian Elsa masih tertutup hanya benik kancing nya terbuka. Elsa melihat jam dinding, pukul 05.30 pagi.
Elsa terbangun, mengambil ikat rambut. Elsa mengikat rambut pendeknya. berjalan keluar dan mengambil pakaian kotor dalam keranjang nya. Elsa memisahkan pakaian putih dan berwarna. Elsa terhenti saat melihat sesuatu di tumpukan pakaian mereka.
Elsa mengambil kertas putih dalam saku Candra. Elsa memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. memutar ke arah wash 30 menit. Elsa bersandar ke pagar balkon. membuka surat tersebut.
*DEAR Elsa.
maafkan aku atas apa yang pernah terjadi. aku tak sanggup menolak saat Cristin membutuhkan ku. tapi aku juga tak bisa melepasmu. betapa sakit hatiku, saat aku terbangun dan mendapatimu telah pergi.
aku marah pada diriku. betapa lemah nya aku atas hati ini.
betapa aku ingin terus bersama mu, tapi aku takut. aku takut, tak sanggup melihatmu pergi lagi dari hidupku.
maafkan aku meninggalkanmu dan membuat luka sebegitu dalam di hatimu. betapa aku jahat dan bodoh.
maafkan aku*....
Elsa menghela nafas panjang.
"kamu bangun pagi sekali?" Elsa menoleh, Candra berdiri di belakang nya.
"iya...aku terbangun dan mencuci baju. dan aku menemukan ini." Elsa menunjuk kan kertas putih.
"Rupanya kamu sudah menemukan nya. aku menulis itu kita akan bertemu. tapi aku merasa kamu begitu dingin, dan aku tak sanggup memberikan nya."
mereka terdiam sesaat, Candra mendekati Elsa. Jantung Elsa mendadak berdegup kencang. aroma tubuh Candra tercium begitu dekat. sangat dekat hingga Elsa bisa dekat sekali, Elsa menegadah ke atas.
Tangan Candra meraih tengkuk Elsa. menggiring bibir mereka untuk bertemu. rasanya begitu hangat, begitu lembut.
dunia serasa berhenti perputar. membiarkan mereka menikmati waktu berdua. Candra melepaskan ciuman nya. mereka bertatap muka, Candra mengecup kening Elsa. "Aku masuk dulu, aku buatkan teh hangat." Candra meninggalkan Elsa di balkon.
Elsa melihat dari jendela Candra menyiapkan dua cangkir teh. mengambil teh dari kantung dan menaruh di dalam cangkir. Candra juga menyampur beberapa rempah dalam teh nya.
Elsa melanjutkan mencuci pakaian mereka dan mengeringkan nya.
Elsa mengambil handuk dan masuk kedalam.kamarnya. ketika pintu di buka harum roti dan mentega di atas *** begitu kuat. Candra sedang membuat roti ternyata.
"kamu engga mandi dan bersiap?" Elsa bertanya ke Candra. Candra menghentikan aktivitas dan memegang capit roti tangan kanan nya, kemudian Candra menatapku.
"kamu mandi dulu aja, kamu kan harus datang pagi." Elsa mengangguk pertanda setuju. Elsa langsung masuk ke kamar mandi.
sayup terdengar gemericik air shower dan Elsa yang bernyanyi2.
saat Elsa keluar kamar mandi, semua telah siap. roti bakar dengan isian selai strawberry, teh rempah ramuan mama mertua Elsa. Candra sedang membereskan piring yang telah di cuci.
"terima kasih Candra, walaupun sejujurnya....aku jarang sarapan, tapi ini sepertinya berlebihan. kamu bahkan sudah membersihkan apartmenku. sekali lagi Terima Kasih.." Elsa berdecak kagum pada pria ini. entah apa yang ia mau sebenarnya.
mereka sarapan dan berganti pakaian. Elsa mengenakan setelan berwarna biru muda dan roh span hitam. sungguh sempurna penampilan Elsa dari belakang. Candra tak kuasa menahan dirinya.
sepasang tangan merangkul pinggang Elsa dari belakang. Elsa pun tersentak dan menghentikan aktivitasnya membereskan berkas pekerjaannya. Candra meletakkan dagu nya di pundak kanan Elsa.
berbisik, "makan lah banyak Elsa. tubuhmu memang menjadi ramping dan kurus. tapi aku tahu kesehatanmu bermasalah. beratmu ini membuat mu makin buruk. just the way you are, Els..."
Elsa mengehela nafas cepat, "Candra....ini tubuhku. aku merasa senang dengan beratku. bahkan aku bisa tampil menarik dengan baju seksi yang aku punya. aku pun bebas mau berbuat apa. oh iya..aku hampir lupa...ingatkan dengan salah satu poin dalam perjanjian Pra-nikah kita?"
Candra tersentak dan mengangkat alis mata sebelah kanan nya. "ada satu poin bahwa kita terlarang untuk ikut campur dengan urusan yang tidak saling berhubungan. alias urusan pribadi masing - masing. nah...ini pun salah satunya..." Elsa melepaskan pelukan Candra.
Elsa mengambil tas kerja dan sepatu flat yang biasa di gunakan berangkat kerja. Candra diam seribu bahasa mendengar Elsa.
hingga Elsa telah siap di depan pintu apartemen nya. "kamu masih nanti berangkatnya? kalau iya, saya berangkat dulu."
Saya? kalimat itu membuat mata Candra membelakak. dirinya telah sabar dengan Elsa yang tak peduli dengan nya beberapa hari ini. tapi kata saya! begitu memperjelas garis antara mereka.
__ADS_1