
10 JAM BERLALU...
Elsa kembali ke Ruang perawatannya. ada box bayi kecil di samping tempat tidurnya. infus masih terpasang di tangan kiri Elsa.
badannya lemas bak tak bertulang. masih hangat di ingatannya ia melewati pertarungan dengan maut nya seorang diri.
bahkan hanya kawan lama yg meninggalkan luka yang menemarinya. ia meneteskan air mata, bagaimana bisa suami nya tidak ada bersamanya saat paling penting dalam hidupnya.
Elsa menengok ke dalam box di sampingnya. bayi mungil yang masih berwarna merah. dengan selimut berwarna biru, wajah yang tak berdosanya. Elsa tersenyum bahagia memandang Sean...
ya namanya Sean..... Sean Adiwinata....
seseorang membuka pintu, Elsa menegakkan posisi duduknya.
Christian masuk dan membawa beberapa bungkusan. terlihat merk dari restaurant Elsa.
Christian meletakkan bungkusan di atas meja makan yang terdapat dalam ruangan. ia lalu duduk di samping Elsa.
"bagaimana perasaanmu?" Tanya Christian dengan hangat.
"entahlah, lega.. bahagia.. dan sedih.." ucap Elsa sambil terus melihat ke bayi nya.
"sudahlah... kamu harus bahagia, oh iya aku boleh pinjam ponselmu? aku hubungi Candra. dia harus tau keadaanmu. untuk Martha malam ini ia akan menemanimu... ia sempat terkejut waktu tahu aku mengantarmu kemari...
tapi aku juga kaget karena kalian tinggal di kota yang sama tak saling mengunjungi... "
Elsa hanya diam...
Christian mengambil ponsel di samping Elsa. ia menekan tombol panggil ke kontak Candra.
tut.... tut....
"hallo... " Candra menjawab panggilan Elsa.
"hallo... ini Christian.. "
"hei! bagaimana bisa ponsel Elsa di tanganmu!"
"tenanglah.. ijinkan aku bicara... aku menemukan istrimu kesakitan dan aku mengantar ke rumah sakit. selamat atas kelahiran bayi mu.. lebih baik temui istrimu di rumah sakit kalian biasa datang.
sampai jumpa... "
Christian mematikan panggilannya.
ia pun memandang Elsa yang terus diam.
"El... kamu kenapa tak berkata apapun?"
"....... "
bayi mungil itu hanya diam sesekali menggerakkan bibirnya.
"Elsa jangan menyiksa dirimu sendiri... bicaralah...please... " Christian panik dengan Elsa.
ia pernah membaca syndrom baby blues. bagaimana seorang yang bisa menjadi berbeda setelah melahirkan anaknya.
dimana penyebab nya kurang adanya dukungan dari sekitar.
"hiks...... hikss....... " Elsa malah menundukkan kepala dan menangis. ia menangis hingga nafasnya berat.
"Elsa.... El jangan.. please..... its will be fine El... trust me.... tolong el... " Christian mencoba memeluk Elsa.
namun Elsa menampik kedua tangan Christian.
"no... please... aku.... aku binggung harus berbuat apalagi....... bagaimana aku merawatnya... bagaimana menggendong? pup? menyusui? aku bisa apa!? "
"tenang Elsa.... banyak perawat yang akan mengajari kamu. percaya mereka akan membantu kamu buat jadi ibu yang baik El.. dan mengajari kamu mengurus anak ini... percayalah."
Elsa mulai berhenti menangis. ia mencoba tenang dan mencoba mendengar perkataan Christian.
tok... tok.... (kemudian pintu di buka)
"selamat sore Ibu.... tadi sudah mandi ya, mari saat nya belajar menyusui ya Bu... agar bayi nya minum ASI dengan lancar.... oh iya Besok pagi dan nanti malam ada pijat laktasi Bu... dimana membantu Ibu agar lancar dalam memberi asi kepada bayi nya."
ucap seorang suster dengan nama Putri.
"baik sus... tapi apakah saya bisa sus? bantu dan ajari saya sus... " jawab Elsa dengan lirih.
"Ibu harus yakin dan Pede ya. bahwa semua wanita yang melahirkan pasti bisa menyusui Bu. mari saya bantu. untuk suaminya mau di dalam atau...?" suster putri melirik ke arah Christian.
"maaf sus, saya di luar saja. saya teman Elsa, suaminya sedang perjalanan kemari.. " Christian pun meninggalkan kami.
suster mengajak ku duduk dengan rilex. ia mengambil bayiku dengan santai lalu mengendongnya.
suster Putri duduk di sampingku dan mendekatkan bayiku.
"anak pintar, minum dulu ya nak... biar sehat dan cepat besar.... "
suster mengajariku bagaimana menggendong nya. ia meletakkan Sean dalam dekapanku. aku bisa merasakan halus dan suci nya anak ini.
__ADS_1
ia mulai belajar bagaimana bertahan hidup pertama kali. ya.... ini pertama kali dalam hidupku.
aku menjalani pertama kali melahirkan dan belajar mengenai anakku sendiri.
aku bersumpah... aku tak akan membuat nya menderita atas apa yang telah terjadi.
"Bu saya tinggalnya.. jika butuh sesuatu ibu bisa menekan Bell di samping Ibu... " suster putri pun pergi keluar.
hanya Elsa dan sean...
mereka berdua....
membangun emosi pertama Ibu dan anak...
"nak... mama bukan wanita yang baik, tapi mama akan menjadi yang terbaik buat sean... semua untuk Sean...
jika kita harus mengarungi dunia berdua saja... mama akan mengantarmu sampai kamu bisa berlayar sendiri..... mama janji ya Nak..... "
Ctak...!! Bruk...!! (suara pintu di buka paksa)
"Elsa!!" teriak Candra.
"Candra tolong kontrol suara kamu. ini rumah sakit!" Christian berdiri dibelakang Candra.
Elsa kaget dan tersentak... Sean pun menangis! suaranya pelan dan parau. seperti bayi yang organ tubuh nya masih menyesuaikan dengan keadaan luar.
"apa apaan ini? maaf Pak, jangan ribut disini!" Suster jaga menyusul Candra. kemudian ia masuk memeriksa Elsa dan bayi nya.
"sus, boleh nitip anak saya ke ruang bayi dulu? saya mau bicara dengan suami saya... " suara Elsa lembut.
"bisa Bu.... oh ini suami nya? Bapak di minta waktu nya nanti untuk bertemu dokter di ruang praktek nya ya."
"baik sus..... " jawab Candra kikuk.
suster pun membawa Sean dan menaruh di box nya. kemudian ia membawa keluar bayi yang masih merah itu.
"maaf sus.... " ucap Candra saat suster lewat di hadapannya.
pintu pun di tutup, sisa nya mereka bertiga.
"Elsa, sepertinya kamu bisa aku tinggal. aku pulang dulu ya... " Christian membuka suara pertama.
"Pulang dan pergilah saja. kamu tak di butuhkan istriku disini." Candra berkata dengan sombong nya.
"terima kasih Tian, maaf merepotkan mu sampai hal seperti ini. sekali lagi terima kasih menyelamatkan nyawa kami.. entah apa yang akan terjadi kalau saja kamu tidak lewat di rumahku..." kedua mata Elsa berkaca - kaca.
"Hei! buat apa kamu bicara seperti itu?!" Candra terbakar Cemburu.
suasana ruangan menjadi panas. padahal ac sendiri sudah menyala pada suhu yang sejuk. Christian merasa ini saat nya untuk pergi.
"sudahlah, jangan bertengkar, harusnya kalian berbahagia... dan buat kamu, istirahat yang cukup Elsa... bye..aku pergi dulu." Christian pergi meninggalkan mereka berdua.
suasana kini berubah jadi dingin. keduanya saling diam dan membuang pandangan. mereka malas untuk saling bertatap muka.
"gw mau nemuin Dokter. lo disini aja... " Candra malah kini pergi meninggalkan Elsa.
Elsa hanya diam dan pandangannya kosong. suasana hati nya sangat buruk. entah emosinya rasanya, tapi bahagia dan sedih juga.
apakah setiap wanita setelah melahirkan emosinya akan labil sepertiku??
Pertanyaan yang memenuhi pikirannya. ia pun merasa pusing dan merebahkan tubuhnya.
ia mencoba memejamkan kedua matanya dan tidur.
**********
"selamat malam... saya suami Elsa. maaf apa dokter yang menangangi istri saya?" Candra masuk ke sebuah ruangan di salah satu rumah sakit tersebut.
"selamat malam, saya dokter Nicole. saya yang membantu proses nya, karena dokter yang semesti nya sedang mendadak ada kabar duka dari keluarga." Dokter Nicole membuka berkas Elsa.
"baik Dok... " Candra membuang nafas berat nya. seperti bersiap menanti suatu berita penting.
"jadi bapak suami nya dari Bu elsa? saya engga lihat ikut menunggu ya kemarin... sayang sekali pak.. tapi mungkin bapak ada keperluan lain yang lebih penting daripada datang mya seorang malaikat kecil ke dunia... "
tangan Candra mengepal, ia merasa tertusuk dengan kata - kata dokter Nicole.
"ya Dok, saya ada acara mendadak.. " jawab Candra.
"saya info aja, ibu kemarin sempat Eklamsia. tensi nya menjadi 160/90. sepanjang saya pantau di buku ini paling tinggi. hmm..... saya cuman mau memberi peringatan Bapak. ini warning buat anda. " Dokter nicole menghentikan kalimat nya.
"maksud dokter? warning bagaimana??" Candra binggung dan merasa makin sesak dada nya.
"Eklamsia bisa menyebabkan penyakit beruntun ke belakang Pak... stroke, pusing mendadak, masalah pencernaan dan gangguan lain. maksud saya, Anda harus bisa peduli dengan istri dan anak anda. karena tekanan darah pasien bisa naik sewaktu - waktu dan bisa saja mengakibatkan kematian Pak... saya hanya bisa menyarankan anda untuk rutin memeriksa tensi darah istri... "
"Dok apa engga ada obat nya? istri saya masih muda, menginjak umur 30 pun belum dok... " raut wajah Candra menjadi pucat.
"ada terapi yang bisa dilakukan istri anda. atau coba bapak mencari dokter lain yang lebih paham. karena ini bukan ranah saya. saya hanya dokter Kandungan dan Bedah saja Pak...
namun saya sering bertemu dengan kasus seperti ini. banyak orang yang belum paham soal Eklamsi.
__ADS_1
memang yang populer adalah Pre'Eklamsia... tapi ada satu lagi yang bisa saja merenggut nyawa ibu... " Dokter Nicole berbicara dengan tenang.
"Dok.... ini... ini serius?" Candra tetap tak percaya.
"bapak mungkin eprnah mendengar ibu yang meninggal setelah melahirkan. atau berjarak beberapa bulan setelah melahirkan? ya salah satu nya ini. makanya saran saya, jaga istri aja. emosi dia, kelelahan Badan nya dan makanan.
apalagi di masa ini, pasti akan banyak tidak tidur nya Pak.... mohon bapak bisa bekerja sama ya... "
**********
Candra duduk sendiri di taman, di samping nya ada kopi hangat yang di taruh dalam cup. ia membuka browser di ponselnya.
ia membuka apa itu Eklamsia. segalanya ia baca, semua hal ia cari..
namun semua yang di katakan dokter nicole itu benar....
ini bisa saja menjadi silence killer untuk Elsa.
"biar bagaimana pun, peran anda penting saling menjaga dan menjadi orang yang selalu mengingatkan istri anda. bagaimana menjaga emosi, makan dan management badan nya.
olahraga saja bukan solusi pak. yang penting juga dukungan dari suami... "
"untuk obat saya engga paham Pak. jadi mungkin bapak bisa pergi ke spesialist lain ya. penyakit dalam atau bagian lain yang saya sendiri belum begitu paham... "
"eklamsia itu bisa di tandai dengan berat kehamilan yang tidak bertambah lebih dari 20kg. meski tidak semua, namun setelah ini jika tensi istri anda berada di range 120 - 130, menurut saya itu sudah jadi warning buat anda."
ya Tuhan.... apalagi ini... kenapaa ada aja yang menjadi warna di rumah tangga ku... aku cuman mau hidup dengan tenang bersama mereka....
apalagi caramu dan jalanmu Tuhan......
apa ini merupakan ujian mu, untuk tahu sedalam apa aku mencintai Elsa......
Candra menghela nafas panjang. ia lalu mengambil kopi nya. Candra berdiri dan berjalan ke kamar Elsa.
Candra berjalan masuk, ia menoleh ke arah Elsa. namun Candra kaget dan menoleh untuk kedua kalinya.
ia melihat wajah Elsa sangat pucat. ia lalu mendekati Elsa dan memegang perut Elsa. masih ada gerakan nafas Elsa.
wajah nya pun tidak sepucat yang tadi Candra lihat. ia merasa lega ternyata hanya halusinasi belaka.
Candra menarik kursi di depan meja. ia meletakkan di samping Elsa. lalu Candra duduk dan memandang wajah Elsa.
ia terus memandang wajah Elsa. pikirannya jauh kemana pertama mereka berjumpa di SMA. bagaimana Elsa pertama kali terlihat dalam Ensambel musik di sekolah.
saat itu Candra yang masih begitu polos, bisa terbius dengan panah dari cupid. mereka bertatapan namun saling diam.
menganggap ini hanya hal yang akan lewat begitu saja. melanjutkan kisah mereka sendiri - sendiri.
**********
hanya butuh 3 hari untuk Elsa pulang ke rumah. Candra telah menyiapkan semuanya. suster untuk membantu Elsa dan kamar terpisah agak Elsa bisa istirahat dengan tenang.
"kenapa aku tidak kamu suruh tidur sama Sean? jika ia lapar bagaimana?" ucap Elsa sambil menggendong Sean.
"tidak apa - apa, kamu bisa ke kamarnya saat jadwalmu pumping. lagipula aku tidak memaksamu untuk memberi dia asi terus. kamu juga butuh istirahat Elsa.... " jawab Candra sambil membelai pipi Sean.
"tapi ini kan masih baru buatku. aku mau belajar Cand, bagaimana mengurus anak ku... "
"iya aku paham... tapi ini hari pertama kamu kembali ke rumah... biar kamu istirahat, semalam kamu tidak tidur kan? sean terus bangun dan meminta minum.... " Candra membujuk Elsa agar mau berpisah tidur dengan Sean.
"....... " Elsa hanya diam dan memandang Sean.
"Aku sayang kalian... Maaf kalau aku pergi tanpa kabar. aku cuman mau memberi kamu kejutan... kalau bisnis ku makin berkembang pesat. salahku meninggalkan kamu El... tapi akan aku tebus dengan bersama kalian ya...." Candra menjelaskan kepergiaan tanpa kabar.
"...... " Elsa hanya menghela nafas.
"kita belajar ya El... bagaimana menjadi orang tua.. bagaimana kita tidak melakukan hal buruk yang orang tua kita lakukan... "
"Cand.. aku ga tau, apa aku siap jadi Ibu... apa aku bisa?" Elsa tiba - tiba menangis..
"cup...sst... Elsa... kamu pantas, kamu bisa.. ayo kita belajar dan saling menjaga. kita pasti bisa Elsa... aku percaya dan maafkan aku ya El.... maaf karena aku tak pernah peduli ke kamu dari awal..."
Elsa hanya menganggukkan kepala.
"Terkadang kita menikah dengan seseorang yang bukan Pilihan kita. namun segala nya akan menjadi mudah jika kita menerima dia.... "
ya mereka berusaha, berusaha menjalani sisa hidup berdua. mencoba menghadapi badai entah soal Cristin...
entah soal masalalu Elsa yang masih menjadi bayang - bayang.
namun...
Candra memegang prinsipnya.
bahwa ia akan bertanggung jawab pada Elsa dan Sean...
walaupun Elsa bukanlah pilihan nya dari awal....
Tamat.
__ADS_1
(terima kasih pembaca setia, mohon maaf atas kekurangan dan kesalahan dari penulis. stay safe, stay Healty.)