
Candra melepaskan ciumannya, dan memeluk ku erat. "Elsa berikan aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan."
*******
aku dan Candra sudah bersiap di barisan keluarga. kemudian ketika MC memberi kode maka kami masuk dalam gedung bergantian.
aku melemparkan senyum terbaik ku. banyak orang yang melihatku. aku seperti mengenal beberapa dari mereka. tampaknya model majalah dan artis.
"Mila itu produser film, makanya banyak artis datang." Candra berbisik. "owh..pantas saja."
kini tiba ak duduk di meja keluarga. bersebelahan dengan Candra dan papa. "Elsa kenapa kamu Sekarang kurus sekali?"
"engga pa..aku tetep beratnya.."
"makanlah yang banyak. papa pengen punya cucu, merasakan menggendong dan menggandeng."
aku masih diam, tak dapat berbicara. "apa kamu terlalu lelah bekerja? jadinya tidak punya waktu?
kqlo begitu keluarlah. nikmati hidup kalian. Candra kini sudah banyak berubah dan papa sangat bahagia. Candra kini menjadi anak yang berbakti, mau mendengarkan papa."
aku hanya melemparkan senyum. aku melihat Candra lebih banyak diam malam ini. dan perempuan samping papa.
apa itu adik dari mama Richie?
begitu Cantik nya.....umurnya memang tidak muda, tapi aura Cantiknya terpancar keluar.
Candra memalingkan wajah ke arah lain. Mengapa Candra begitu membenci nya?
"Baiklah berikutnya foto keluarga. di mohon maju dan naik ke atas Stage ya. keluarg Adiwinata, mohon untuk dapat segera naik.
dan bermohon bersiap keluarga besar Jhon Volkch, Persatuan pengusaha Emas Jawa Tengah dan Alumni SMA mempelai wanita."
Mc memanggil kami untuk naik.
Candra menggandeng tanganku, aku berjalan perlahan. Candra berdiri di belakangku. kami melempar senyum ke arah kamera.
"Ayok gaya bebas!" teriak fotografer.
kami pun bergaya bebas dan melompat kecil. Candra menganjakku menyatukan jari, dan membentuk hati dari jari telunjuk dan jempol kami berdua.
kemudian aku memberi selamat ke Mila. "Selamat ya kak. langgeng selalu, cepat punya si kecil." Mila sangat Cantik dengan gaun pengantin model sabrina. "Elsa..adik ku cantik. makasih ya..oh iya kamu sekarang kurus sekali?"
"ah tidak. efek gaun ini mungkin." Candra merangkul pundak ku dan mengajak turun.
Mila tampak kurang senang hati dengan apa yang Candra lakukan.
dan pesta pun berlanjut hingga after party. Mila mengundang DJ Horgen dari Ausie. Candra mengajakku untuk pulang. "ayo pulang, ini bukan tempat yang baik buatmu."
aku menunggu vallet mobil. Candra tidak melepaskan gandengan tanganku. udara sangat dingin sepertinya akan hujan malam ini. awan sudah mulai menunjukan kilatnya.
mobil Candra pun datang, aku naik ke dalam. kami segera meninggalkan gedung acara. namun....baru seperempat perjalanan, hujan deras turun.
"sialan,jalannya engga kelihatan!" Candra menggerutu.
ya benar..hujan ini terlalu deras dengan kilat dan petir yang bersautan. aku pun panik jika banjir dan kami tidak dapat lewat.
"Candra..apartemen ku tingga belok didepan. apa kita berlindung dulu?" ide ku bodoh kah?
"baiklah, aku takut melanjutkan perjalanan.
genangan air sudah mulai meninggi." Candra langsung memutar didepan dan masuk ke jalan apartemenku.
kami cepat mencari parkir. sialnya kami parkir di area depan dan harus berjalan lagi. aku melepas high heelsku. kemudian Candra menggandeng tanganku. kami berlari secepat mungkin.
akhirnya kami sampai di lobby tower kami. security tampak kaget dengan penampilan kami. "mbak..kenapa ? kan bisa naik nanti nunggu agak terang hujannya. "
"kelamaan pak, hujannya juga ga berhenti kan. malah makin deres." aku menjawab seadanya. "saya tinggal dulu pak."
kami menunggu depan lift. lift terbuka dan kami masuk. bajuku lumayan basah, tapi masih lebih basah Candra. bahkan jas candra juga parah keadannya.
"aku boleh mengginap?" tetesan air terlihat mengucur dari pakaian Candra.
"err...silakan, tapi aku carikan baju dulu buat kamu." lift pun terbuka.
kami berjalan dan berhenti di depan kamar 108. tetangga sebelahku masih terjaga semua. terlihat dari suara tv yang terdengar hingga keluar.
aku masuk dan menyalakan lampu. aku berjalan menuju balkon dan meletakan sepatuku di pojokan.
"untung jemuranku sudah aku angkat kemarin." aku menggerutu dan kembali masuk ke dalam.
"apa sepatu kamu aman di luar?" tanya Candra.
"aman Candra.. aku terbiasa menaruh di luar, agar tidak lembab." Elsa tak menyadari Candra telah membuka seluruh pakaiannya..
"kamu..kamu ngapain telanjang gini??" aku tercenggang.
"mau mandi lah..mana bajunya??" jawab Candra santai.
"ah iya aku lupa." aku langsung membuka lemari pakaian ku. aku mengambil handuk ,celana pendek bermotif kelinci dan kaos polos warna putih.
aku merasa candra berdiri di belakangku. kemudian ia mengambil handuk dengan Cara merangkul badan ku dari belakang.
"Candra aku merinding kalo kamu kaya gini."
bukan berhenti malah Candra makin mendekatkan badannya. aku bisa merasakan ada sesuatu di dekat pinggangku. "tenang lah, aku cuman ambil handuk."
candra mengecup pundak lagi!
"argg.....Candraa!!" candra melepaskanku dan meninggalkanku ke kamar mandi..
"dasar gila." aku melanjutkan mencari pakaian gantiku.
aku meletakkan baju tidur ku di tempat tidur. aku mencoba membuka resleting bajuku. sulit sekali tanganku tak sampai.
tapi Candra datang dan membantuku membuka Dressku. aku membalik kan badan dan melihat Candra.
astaga! hanya melilitkan handuk di pinggang nya. badan tegap nya yang tidak terlalu berotot. selalu membuatku merasa gatal. gatal, ingin berada di pelukannya.
__ADS_1
"kamu ga gantian mandi?" pertanyaan Candra membuyarkan lamunanku.
"iya......" aku melepas dressku dan menuju kamar mandi
aku membasuh kepalaku. "dasar...pikiranmu kotor Elsa. kamu kaya ga ada harga diri!!" aku memaki diriku yang masih gatal melihat Candra.
sungguh ku akui, aku membutuhkan sentuhan Candra. tapi, aku masih terlalu sakit dengan perbuatannya kepadaku.
aku mematikan shower, mengeringkan badanku. aku meletakkan handuk di balik pintu..eh...bajuku...
aku meningat - ingat..... nah...kaosku di atas tempat tidur. aku pake apa keluar kamar mandi.
aku mengintip di balik pintu, Candra sedang tidur di atas tempat tidur. nampaknya aku bisa menggunkan handuk dan berlari mengambil pakaianku.
aku membelitkan handuk, membuka pintu kamar mandi. dan aku berlari mengambil bajuku.
tapi...."aaargh...." aku kepleset dan jatuh persis di atas badan Candra.
Candra kaget dan memeluk pundak ku. aku mengangkat kepalaku..
kami berdua berpandangan, mata kami saling bertemu.
jantungku...
rasanya berhenti berdetak...
"kamu ngapain? ga pake baju gini, dingin kali..
owh..kamu mau cari kehangatan? bilang kali els.." ucap Candra menggoda.
"kepleset tauk!" Elsa cepat bangun dan membetulkan handuknya.
Candra bangun dan duduk di tempat tidur. mengamati apa yang Elsa lakukan. "kamu ngapain bangun? udah sana tidur. aku mau tidur."
Elsa cepat - cepat masuk dalam selimut dan memejamkan mata.
jam menunjukan pukul 12.00. sudah tengah malam dan aku belum bisa tidur pulas.
Candra saja sudah terlelap. suaranya sudah tidak ada, bisa ya dia tidur nyaman disini.
aku merasakan ada yang menyusup ke pinggangku. naik ke perutku....shheett....
aku mundur di tarik oleh Candra.
"kamu tau? kita bahkan belum pernah, tidur bersama setelah menikah. ini kali pertama Elsa. dan aku merasa bahagia sekali." Candra berbisik di telingaku.
aku menghela nafas, dan memutar badanku. aku memandang wajah Candra. Pria yang menikahi ku, demi mendapatkan perusahaan ayahnya.
Demi cinta nya yang begitu besar untuk Cristin. bahkan Candra tak pernah sedetik pun mencintaiku.
apa aku memang tak pernah ada di hatimu walau itu hanya sedetik?
aku memejamkam mataku, rasanya begitu lelah....
----
"iya...maaf aku biasa tidur sendiri." aku beranjak dan segera duduk.
aku meregangkan badanku, "hoaaamm....."
"kalo kamu masi ngantuk tidurlah."
"yaa..."
aku mengambil Hpku, memastikan email ato WA yang masuk. bahkan aku lupa jika kemarin aku seharian tidak memegang Hp ku.
"Elsa...kamu mau makan apa?"
"...." aku masih fokus membalas pesan dari atasanku.
"Elsa....!" Candra mulai memanggil dengan nada tinggi.
"..."
Candra kesal kemudian bangun, mengambil paksa Hpku dan melemparnya. "CANDRA!!"
Hpku pecah berkeping - keping.
"kamu lupa! aku udah nulis di kontrak kalau kamu tidak boleh mengabaikan panggilan ku!!" Candra mulai berteriak.
"kamu.....kamu memang laki - laki yang tidak punya perasaan! Egois! kontrak! ok...
kalau kamu memang hanya berbicara soal kontrak kepadaku, maka aku anggap ucapan kamu...
soal memperbaiki keadaan hanyalan omongan sambil lalu!"
"ELSA!!" Candra berteriak lagi.
"apa!! kamu pernah sadar?! seperti apa kamu memperlalukan aku! kamu sadar?! dengan kamu memberi aku uang 200 juta saat kontrak aku tanda tangani.
dan 5 bulan ini kamu memberiku 20 juta. berarti kamu bisa berlaku kasar dan seenaknya kepadaku?!"
"YAA!!" Candra tegas menjawab.
Elsa diam dan membungkam mulutnya. "baiklah. aku akan lunasi semua itu, jadi aku bisa bebas dari kamu. aku berhak atas kebebasanku. dan aku sudah hidup tenang beberapa bulan ini."
kami saling berpandangan, aku pun kesal dan turun. aku berjalan melewati Candra.
Rupanya aku memancing Candra terlalu jauh. Candra menarik tangan ku dan membantingku ke atas tempat tidur.
Candra menindihku dan mengunci tanganku. "kamu mau apa lagi?!"
Candra seperti kesetanan, ia tak memperdulikan ucapanku. Candra terus menciumiku hingga terjadi apa yang tak semestinya kami lalukan. "can...candra lepas!" aku memberontak.
bukan melepaskan, tetapi makin kuat Candra memaksaku menerima sentuhan ini. aku menangis.....
aku merasa hancur...
__ADS_1
lagi - lagi....Candra memaksaku berhubungan dengan nya. ini menyiksaku dan sakit.
"aku tak peduli dengan rintihan sakitmu! aku mau menegaskan aku itu yang memegang kendali!!" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Candra.
Candra kembali menggunakan pakaian nya. dan menuju pintu keluar meninggalkanku. "Candra.." Panggil Elsa. Candra kemudian berhenti.
"jika kamu bisa sedikit lebih halus memperlakukanku. mungkin aku bisa menurut kepadamu." Ucap Elsa lembut di sela air matanya yg mulai mengering.
Candra pergi berlalu keluar dari kamar.
aku melipat kaki ku. meringkuk dalam selimut, ini bukan kali pertama dia menyentuhku.
tapi..
rasanya lebih sakit. sakit ini karena dadaku merasa sesak.
Pernah kah sekali saja kamu memikirkan bagaimana perasaanku. menggengamku terlalu erat dan mengabaikan ku sesuka hatimu.
*******
Sudah hampir dua minggu kami tidak bertemu. Sejak kejadian terakhir itu, Candra sama sekali tidak menghubungiku. Aku juga merasa lega dan tenang. Untuk apa aku memikirkan orang seperti batu.
*Hp ku berdering*
“hallo martha...gimana?” aku malas menjawab kakak ku. Bukan nya duitnya sudah aku kirim dia masih menelfon aku.
“adek...mama masuk igd lagi. Tapi sekarang mama di ICU.. Kata dokter mama ga bisa ketolong lagi, mama nafas aja pake alat.” Martha menjelaskan dengan lebih tenang.
“owh..terus berapa tabung oksigen yang mama butuh? Uang mu kurang?” aku to the point.
“adek! Bukan soal duit, apa kamu ga mau ketemu mama?”
“aku sibuk, besok aku telfon lagi?” aku langsung menutup telfon.
Apalagi maunya Martha, belum cukup aku di peras dia. Setiap bulan aku mengirim lebih dari 15 juta. Untuk mama, suster mama, terapi mama dan obat – obatan mama. Apa masih kurang lagi?
Aku saja tidak memiliki tabungan untuk diriku sendiri. Malah aku lihat foto instagram nya, dia dan Benny baru saja pulang berlibur dari Sidney. Martha...
Jika bukan karena uang tak mungkin menelfonku...
“Bu Elsa, kami pulang duluan ya. Ini lampu dan ac masih nyala ya Bu..” teriak Amri, staff pembayaran ku.
“Ok amry, Thank You..” aku tetap fokus pada pekerjaanku.
Aku melihat jam di LCD sudah pukul 9.00 malam. Entah berapa lama aku berada disini, aku lelah. Tapi aku harus bisa agar aku lepas dari kemiskinan ini. Aku sudah sedikit lagi menuju puncak karierku, aku harus bisa pensiun di usai 35 tahun.
Aku akan bawa mama jalan – jalan dan hidup untuk menjaganya. Martha urusan belakangan, ia sudah aman bersama suaminya.
Aku mematikan komputerku, berjalan keluar dari ruangan dan menguncinya. Aku kemudian berjalan menuju pos security untuk mengembalikan kunci.
“pak, ini kunci akunting. Saya mau balikin..”
“baik Bu Elsa, terima kasih..” Pak Jaenudin menerima kunci ruangan ku.
“oiya Bu, ada tamu menunggu di samping Pos. Katanya jangan bilang sama Ibu. Jadi sudah nunggu dari jam 6 sore.”
“oia? Siapa pak? Lama banget lho, niat amat buat nunggu..” aku berjalan ke samping pos.
Memang ada bangku yang biasa nya di gunakan untuk duduk tamu yang menunggu. Aku seperti mengenal jaket ini. “Richie...”
“ELSAAA....akhirnya dateng lo. ayuk pulang..” Richie bangun dan meregangkan badan nya.
“lo ngapain kesini? Bukannya lo masih di luar?” aku masih binggung melihat Richie.
“bosen...udah yuk, udah jam 10 kurang.” Richie berjalan menuju pintu keluar hotel.
“AYO..nunggu apa?” Richie memanggilku.
Kami berjalan berdua malam ini, memang apartemenku dekat. Jadi berjalan kaki sebentar saja sudah sampai. Lagipula disini banyak cafe dan warung yang buka.
Kami berhenti makan di caffe dan makan malam sebentar
“jadi....kamu kapan mau tinggal bareng Candra? Kayanya kamu udah lumayan lama meninggalkan rumah.” Richie memakan mie gorengnya.
“entahlah.....aku sudah lama sekali tidak tahu...apa itu rumah?” aku melanjutkan makan ku.
“rumah itu kan bangunan Elsa...emang apalagi??” Richie masih melanjutkan makannya.
“Richie....rumah itu bukan soal bangunan ato letaknya aja...
(menghembuskan nafas) rumah itu...tempat kembali ketika kita lelah atas aktifitas kita..
Tempat dimana rasa nyaman, aman, dan sedikit cinta itu hadir.”
“Jadi??” Richie menghentikan makan nya.
“Rumah itu belum aku temukan Richie. Candra memang suamiku, kami menjalani pernikahan. Tapi....” aku terdiam...
Richie mengambil gelas dan meminum air putih. “tapi apa Elsa?”
“tapi pernikahan kami juga bukan yang dapat bertahan lama Richie. Jika Candra sudah mendapatkan Cristin. Aku juga akan di ceraikan dia. Dan sebelum itu terjadi......aku harus bersiap dulu.”
“Elsa Nirmala....” aku menoleh karena Richie menyebut namaku.
Kami terdiam sesaat, “apa kamu percaya akan pernikahan tanpa adanya cinta?” aku bertanya ke Richie.
“mungkin terdengar asing buat kamu. Tapi itulah kami, aku butuh uang cukup banyak dan Candra juga butuh saham di perusahaan ayahnya. Jadi..Kami seperti saling membutuhkan,”
“bukannya pernikahan seperti itu?” jawab Richie.
“bukan soal cinta lagi, tapi ketika kamu bisa menjalani dan bertanggung jawab atas satu sama lain. Bukannya itu cukup untuk menjadi salah satu syarat pernikahan. Atau kamu mencintai Candra?”
Aku tak dapat menjawab pertanyaan Richie lagi. Aku hanya diam dan menghabiskan makan malamku.
Cinta..
Apa benar aku jatuh cinta ke Candra?
__ADS_1