
Elsa terduduk disofa dalam apartemen Candra. Ia memandang box file di atas meja tv tersebut.
'Wanita ja***. Kau itu yang murahan. Oh Tuhan..... kemana sekarang aku mencari rejeki." Elsa menutup mata nya sambil mengelus perut buncit nya.
ia menahan tangis yang harusnya tak lagi ia keluarkan.
******
Candra masuk ke dalam apartemennya. Ia melepas sepatu pantofel nya,berganti dengan sandal. Ia berjalan makin dalam, pandangannya terhenti pada sosok di atas sofa.
Perlahan Candra mendekat, kemudian di samping kiri sofa tersebut, Candra setengah berlutut. Ia membelai rambut nya. Iya, rambut Elsa.
Sentuhan Candra membangunkan Elsa. Kedua matanya terbuka, Elsa berkata "Candra... kamu sudah pulang?"
Candra tersenyum, "sudah Elsa.. kamu balik jam makan siang? Apa kamu sakit?"
"Tidak...hanya saja..." Elsa kembali menunduk dan memandang box file berwarna coklat di hadapannya.
Wajah Candra menjadi masam. "Ada apa Elsa, apa sesuatu terjadi? Dan ini milik siapa?" Candra menunjuk ke kardus coklat tersebut.
"Ini milikku.. aku..."
"Elsa...ada apa?"
"....." 'candra haruskah aku jujur?' Elsa merenung dalam hati.
Candra tidak sabar, ia membuka kardus tersebut. Tetapi Candra terdiam melihat isi dari kardus tersebut. "Ini?"
"Iya... aku memecat diriku sendiri..."
"Ceritakan lah Els..." nada Candra menjadi lembut dan ia duduk di samping Elsa.
"Hari ini, Richie mengumumkan soal perpindahan managemen. NGK tidak lagi memegang saham tunggal. Melainkan melimpahkan ke Christian. Dengan grup ShiM, Tian sebagai CEO tunggal selaku pemilik tunggal..
Kemudian jam makan siang kami minum coklat di kedai samping kantor. Aku kaget dengan keputusan Richie......
Tapi apapun itu, yang penting aku bekerja dengan profesional....namun jujur point nya bukan itu..."
"Lanjutkan Elsa..."
"Saat aku kembali, kepala keamanan menegurku. Bahwa kami di larang pergi keluar kantor untuk urusan apapun. Kalaupun boleh harus se ijin dari Christian.
Aku tidak terima atas teguran tersebut.. menurutku tidak rasional, dengan keadaan kami juga punya keperluan dan urusan lain pada saat jam makan siang...
Aku lantas berjalan ke ruangan tian.....
Cih...yang aku temui 'mereka' sedang bercumbu di area kantor.."
mimik wajah Candra menjadi kaku, matanya mulai menjadi merah. Emosinya naik dengan apa yang istrinya alami.
"Christian kemudian menyudahi kegiatan mereka, saat keluar Rachel memanggilku jala**. Salahku, aku naik darah kemudian aku menjambak rambut nya dan menarik kuat.
Bahkan aku ingin merobek mulut nya...
Tian mencoba memisahkan kami, tapi aku emosi melepaskan Rachel dan melempar nya ke arah Tian....
Aku sendiri binggung memiliki kekuatan dari mana untuk melakukan hal tersebut.... aku kembali ke ruanganku dan aku pulang...
Kini...aku menyesali Cand.. aku akan dapat uang dari mana lagi? Sedangkan persalinanku tinggal menghitung minggu...." kedua mata Elsa mulai berair.
Sesaat mereka menjadi hening.
"Jangan kembali, jangan pernah kamu kembali ke hotel tersebut."
"Apa Candra?" Elsa memandang Candra. Ia tak percaya kata - kata Candra yang baru saja di ucapakan.
"Ya.. aku tidak mau harga diri istriku di injak. Tenanglah El... aku masih ada tabungan Deposito. Itu bisa kita gunakan. Perlahan kita menata kembali semuanya..."
Elsa mengangguk, ia kemudian mendekat ke Candra. Mereka berpelukan erat, Elsa merasa kan kelegaan dan kenyamanan bersama Candra.
'ya Tuhan.... semoga ini tidak hanya anggan, dan selamanya Tuhan... aku ingin bahagia di dalam pernikahanku... sudah cukuplah apa yang terjadi....' Elsa berdoa di dalam hatinya..
********
"Eh, lo kenapa sih, engga ngelakukin sesuatu ke itu perempuan! Lo itu boss nya dia! Gw calon istri lo." Rachel memandangi dirinya dari kaca bedak compact nya. Ia tak ingin tatanan rambut dan make up nya luntur.
"Kamu tau, kamu itu harusnya menjaga sikap dan kata - kata mu." Nada Christian mempertegas ketidak sukaannya.
"APA! ENGGA SALAH? Eh tian, Kamu sada engga? dia itu cuman cewek cupu dan bodoh. Buat apa gw sopan ke dia! lagian gatel amat sekantor sama kamu..." Rachel berbicara keras ke arah Tian.
"Sebodohnya Elsa, ia tidak menjebak aku dengan foto vulgar. Ia juga menyelesaikan pendidikannya dan mencari kerja dengan cara nya sendiri. Ia bahkan mandiri, bisa hidup dengan keadaan baik.."
Rachel langsung melotot ke arah Tian. "Eh..eh..eh, kamu kok jadi belain dia ya! Kamu jangan bilang kalo masih punya perasaan sama dia, kamu itu mau menikah sama aku inget ya, kamu itu...."
"aku tau! Kalo bukan karena malam itu kamu menjebak aku, aku lebih baik masih bersama Elsa. Benar ak masih amat sangat mencintai Elsa!"
"Christian!! Kamu... kamu tidak... kamu tidak boleh mencintai Elsa!!" Rachel keluar sembari menangis dari ruangan tian.
Christian hanya memandang dari jauh dengan tatapan penuh kebencian. Ia ingat kejadian 10 tahun lalu.......
"Bagaimana bisa kamu dan aku ada di kamar ini?"
__ADS_1
"Sudahlah christ, kita menghabiskan malam yang panjang. Jangan begitu, ingatkan kamu..." Rachel sibuk merapikan rambutnya.
"Engga pasti ada yang salah Rachel, aku semalam itu pergi dengan Elsa. Mengantar nya pulang dari rumah sakit."
"Iya..lalu...kamu lupa? Kamu menjemputku terus kita karaoke sama temen - temen. Aku masih inget kata - kata kamu semalam... bahwa kamu mencintaiku dan akan bersamaku selamanya.. ini rekamannya."
Rachel menujukan video tidak senonoh mereka berdua. Christian sampai tidak percaya bahwa semalam ia bersama Rachel dan mereka melakukan hal yang tak pantas...
"Jadi.... pilihan kamu cuman 1... mau ini kesebar, atau......"
"Atau apa Rachel!"
"Sabar sayang... kita pacaran dan kamu harus menikahiku...."
.
"Maafkan aku Elsa...tapi aku mencintaimu hingga saat ini.." Christian memandang foto mereka berdua di dalam fotobox.
Dengan seragam putih abu - abu. Senyum Elsa dan Tian begitu tulus dan bahagia.
"Andai aku bisa memutar waktu Elsa.. aku ingin menghapus salahku padamu..."
Christian memasukan kembali ke laci meja nya foto mereka.
**********
Hari berganti hari..
Elsa mengembalikan peran yang seharusnya ia lakukan. Menjadi seorang ibu rumah tangga.
Bangun pagi, menyiapkan sarapan dan pergi membersihkan rumah. Juga berusaha memasarkan produk kerajinan Rani. Berapapun itu uang yang masuk Elsa hanya ingin anak nya bisa hidup layak nantinya.
Hingga pada suatu pagi,
Tok...tok...tok...
Elsa yang sedang membersihkan dapur merasa aneh. Siapa yang pagi datang bertamu, Elsa mencuci tangan dan melepaskan celemek dapur.
Ia berjalan perlahan dan membuka pintu. "Papa??"
mereka duduk di meja makan. dengan dua cangkir minuman hangat. harum aroma kopi dan teh panas pagi itu mencairkan suasana mereka.
"Papa tidak tau, kalau kamu sudah berhenti bekerja El..."
"iya Pa... saya mau fokus karena ini kesempatan saya bisa memiliki anak."
Om Joko mengangkat cup dan meminum espresso nya. "yakin bukan karena sesuatu?"
"tidak pa...."
"Papa tahu kok, kamu itu wanita mandiri dan jujur. well.... papa juga tahu, kalau kamu keluar karena kelakuan dari boss mu yang baru.. papa mendukung kamu, jangan karena upah tak seberapa tapi harga diri kamu yang menjadi taruhannya."
Elsa tersenyum, ia seperti mendapat suntikan penyemangat pagi itu. "Baik Pa... Terima kasih masukannya."
"ha ha ha....baiklah menantu ku. papa lupa, bagaimana dengan bisnis Candra? maafkan papa, jika papa tidak langsung membantu Candra... papa hanya ingin memisahkan Candra dengan wanita itu."
"lancar Pa.. minggu depan opening nya. papa datang ya... oh iya, papa dengar dari siapa soal kami?"
Om Joko menutup matanya dan menarik nafas panjang yang agak berat, dan membuka kedua matanya.
"papa punya banyak mata. Sejujur nya Benny juga atas ide papa membantu Candra. tapi kali ini papa tidak dapat membantu secara materi. kerugian Candra kemarin, papa yang menutup semua nya... namun papa senang, ia mulai bangkit dan kamu..... bisnis kamu juga lumayan papa lihat grafik nya di asuransi Bapak Bambang.. nilai tertanggung nya cukup besar untuk pemain baru."
"iya Pa... kami amat di berkati oleh Tuhan. rejeki yang anak ini bawa untuk kami juga."
"ha..haa.... papa suka dengan pribadimu. kamu selalu positif dan memikir ke depan. oh iya, papa tidak mau sampai Candra mengetahui kalau Cristin...."
"ada apa pa??" Elsa menjadi panik. sudah berbulan - bulan ia tidak mendengar namanya di sebut dalam hidup Elsa.
"Cristin berpisah dengan Hendra. namun, papa tidak tahu. berpisah atau sementara, yang papa paham, Hendra membawa wanita muda saat ulang tahun perusahaannya.. tapi biarlah, papa juga tak seharusnya bercerita.."
Elsa tersenyum manis, "tidak Pa...aku berterima kasih.. berita ini seperti kabar untuk aku berhati - hati.."
"ya... syukurlah kalau kamu paham maksud papa.. baiklah, kamu sepertinya menikmati waktu baru sebagai Ibu Rumah Tangga.. apa ayah mengganggu? lebih baik ayah pulang dahulu ya Elsa..."
Om Joko berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. "main lah ke rumah papa jika kamu sepi. belajar memasak dengan adik iparmu. dia itu pintar memasak.."
"hee.he...baik pa..." Elsa mengantar ayah mertua nya sampai depan pintu.
"baiklah jaga diri dan bayimu ya. Papa mau cucu pertama papa lahir dengan sehat. telpon papa jika kamu butuh sesuatu. sudah sana masuk dan tutup pintu... kamu sendirian di dalam..."
"ah..baiklah Pa...Papa hati - hati.. jaga kesehatan ya pa...salam untuk Bunda dan Hangga serta amel..."
"yaa..."
Elsa pun menutup pintu dan masuk ke dalam. ia kembali duduk di kursi meja makan dan memandang cangkir bekas kopi Om Joko.
"Cristin....." Ucap Elsa lembut.
*********
"Baik.. jangan lupa undang warga sekitar, apalagi saat kita pembukaan nanti. Sekalian saya mohon doa kelancaran persalinan istri saya..." Candra berbicara dengan salah satu karyawan perempuan di hadapannya.
__ADS_1
"Baik pak. Kira - kira mau pukul berapa kita mulai?"
"Mila jam 9 pagi lagi kita pengajian dulu, baru nanti ada makan siang dan jam 3 selesai semua. Kasihan istri saya." Candra tetap fokus pada berkas yang di hadapannya juga.
"Baik pak.." mila keluar dari ruangan Candra.
Kring...kring...(ponsel candra berdering).
"Halo..."
"Hu..huf...Candraa...!!!"
"Cristin? Ada apa? Kamu kenapa?"
"....."
"Crist....kenapa? Ada apa??"
"Aku pergi...suami ku memilih perempuan itu...."
Candra mendengar cerita Cristin. Bagaimana Om Hendra membawa pulang perempuan muda yang jauh lebih cantik dari Cristin. Ya... tabiat yang tak bisa berubah dari om Hendra.
"Sudahlah, kamu fokus pada anakmu dulu. Maaf Cris...aku harus pulang... Elsa dan calon bayi ku menunggu di rumah. Sampai jumpa..."
"Tapi...tapi...Cand..."
Tuuut....tuut.....
Candra tak ingin mengulangi kembali. Bagaimana bodoh nya dia terlalu mempertimbangkan perasaan Cristin. Tanpa Candra sadari, Elsa yang lebih menderita.
Candra bangkit dan keluar dari ruangannya. Ia memastikan pembukaan dari showroom nya. Semua tampak sibuk, sampai Candra melihat di pintu utama showroom nya
Terlihat sesosok perempuan yang berdiri mematung. Pantulan cahaya menyilaukan pandangan Candra. Ia mendekati perempuan tersebut.
"Elsa? Ada apa sayang?" Candra meraih tangan Elsa.
"Engga papa, aku bosan Cand. Jadi aku kesini. Apa boleh?"
"Ayo masuk, panas sekali udara di luar. Awas hati - hati lantainya masih basah dan banyak barang."
Candra membawa Elsa masuk ke ruang kerja nya. Ia memberi Elsa minum dan duduk di sofa kecil agar nyaman. Perut nya terlihat makin membuncit. Candra memberi sentuha halus ke perut Elsa.
"Capek ya nak, ikut mama jauh kesini. Sabar ya, demi masa depan kita."
Elsa tersenyum dan mencium pipi Candra. "Iya Sayang...."
Tok...tok....tok...
"Ya masuk..."
Ternyata Mila datang dan memberikan Candra yang harus di bayar untuk pembukaan lusa. "Ini Pak, kekurangan kita ke Vendor."
Candra memeriksa dan membawa berkas nya. "Saya periksa dulu ya.. uang nya saya beri besok pagi..."
"Baik pak.. permisi" Mila pun keluar dari ruangan Candra.
**********
"Candra.... apa kamu tau kabar Cristin?"
Candra kemudian menoleh ke arah Elsa. "memang kenapa El? kok tanya soal Cristin."
"engga... cuman aku tiba - tiba kepikiran dia. lama sekali engga tau kabar nya dia..."
Candra meremas setir mobilnya. "tadi siang dia menelpon aku, tapi... aku engga begitu menjawab dan respond apa yg di katakan..."
"......." Elsa diam menatap jalanan yang mulai beranggur gelap.
"aku hanya mendengar dengan suara menangis. tapi sudahlah, aku harus fokus sama kita Els...."
"iya Cand......aku hanya... sudahlah... mari kita makan saja."
Elsa dan Candra berhenti di sebuah restoran jepang. mereka memilih makan bento box untuk makan malam.
*******
"jadi. Elsa tidak clerance? atau exit interview ? sudah 2 minggu ia tidak muncul." Christian fokus dengan LCD depan wajahnya.
"iya pak...saya mencoba menghubungi, tapi Elsa bilang dia tidak mau kembali."
"ya sudah, jangan bayar gaji dia terakhir. Saya engga mau tau, dia harus kesini.." Tian menekan suaranya.
"tapi pak...sudah saya lakukan... Elsa yang tetap tidak mau, karena ia berkata lebih baik di beri untuk CSR kita saja."
BRAK... Pak Zaenal kaget dan setengah berdiri dari kursi nya.
"kamu keluar!!" Christian berteriak.
Pak Zaenal lari keluar dari ruangan Christian.
"kenapa kamu begitu susah Els..... kamu itu yang dulu mengejar dan mencarikuuu.... kenapa....sekarang...."
__ADS_1
Christian duduk dan melipat kedua telapak tangannya. "pokok nya saya harus dapat kan kamu. Rachel bukan lagi penghalangku. kamu itu tetap milikku."