Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 50


__ADS_3

Elsa membuka kedua matanya. Begitu berat dan banyak kotoran matanya yang berkumpul di kelopak matanya.


Elsa mencoba mengangkat tangan kirinya, namun Ia merasa ada tangan yang memeluk pinggang nya.


Elsa menggeser tangan tersebut agar ia bisa membersikan kotoran di matanya dan bangun. Namun Candra terbangun dan menarik tangan Elsa.


Rupanya pelukan semalaman yang ada di mimpi Elsa memang nyata. Candra pulang dan tidur bersama Elsa.


"Tunggu..." Candra langsung memeluk Elsa dari belakang.


Air mata Elsa menetes kembali. masih terasa sakit hatinya menyaksikan suami nya yang begitu peduli kepada wanita lain.


Candra berusaha menghapus air mata Elsa, kemudian Candra mengecup pipi Elsa. 'cup'


"Maafkan aku Elsa.... aku tak akan mengulangi.....aku kembali padamu, jangan menangis lagi.. Tolonglah..." Candra mengecup pundak Elsa. pelukan Candra begitu hangat dan dalam.


"Aku mau pulang...." Elsa berkata lembut. ia lelah tampak kuat dan tabah dengan keadaan.


"Kamu sudah pulang...? mau pulang kemana lagi? kamu sudah pulang, disini bersama ku..." Candra mengernyitkan dahinya.


"Aku mau ke semarang Candra."


"Elsa.. kamu tinggal menunggu minggu... kenapa harus kesana, tunggulah sebentar... setelah melahirkan kamu mau ke semarang silakan El....aku akan menemani kamu El..." Candra menatap dalam kedua bola mata istrinya.


"Tidak Candra, aku lelah.. aku capek harus bertahan dengan suami macam dirimu. Bahkan kamu tidak bisa membuat prioritas antara aku atau wanita itu....." suara Elsa lembut.


Namun kata - kata Elsa langsung menusuk hati Candra. Candra kemudian menggenggam tangan Elsa.


"Elsa....sudah lah, aku semalam kembali kesini. Bahkan aku tidur disini bersama kamu. Aku tidak tinggal dirumah sakit. Kalau aku tidak peduli pada kalian. Mana mungkin aku kembali....." Candra masih memohon kepada Elsa.


"Tidak... Kamu tahu, aku wanita yang keras. Aku wanita yang tak pernah menarik kata - kataku. Jadi sekarang aku mau bersiap, Biarkan aku pulang...." Elsa melepaskan genggaman Candra. Ia berusaha bangun dari tempat tidur.


Perut buncit nya makin membuat nya sulit untuk beraktifitas. Elsa kemudian meninggalkan Candra di dalam kamar.


Ia ingin minum air putih, lelah sekali hati dan badan nya. Semalaman ia menangis dan pikirannya di penuhi hal yang amat berat.


Brugk!!... (Elsa membanting gelasnya).


"Aawh.....astagaa! Ya Tuhan." Elsa berpegangan pada meja makan. Ia tak kuat merasakan sakit di pinggang bagian belakang.


Apa yg di rasakan Elsa seperti kontraksi wanita yang akan melahirkan. Sakit dan dorongan ke perut atasnya. Namun waktu melahirkannya masih 2 minggu lagi.


Candra berlari keluar dari kamar. Ia langsung menghampiri Istrinya. "Sayang kamu kenapa.?"


Candra panik, ia langsung memapah istrinya untuk rebahan di sofa. Ia kemudian menghapus keringat Elsa.


Elsa terus merintih kesakitan. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan. Seperti akan datang bulan. Namun rasanya kencang sekali.


"Elsa... apa kita ke rumah sakit sekarang?!" Candra panik dan memijat pundak Elsa..


Elsa kemudian menengadah ke atas. "Ya Allah...sakit nya...."


10 menit kemudian...


"Sudah Candra... sudah.... sudah tidak apa - apa..." Elsa menepuk tangan suaminya.


"Apa kita ke rumah sakit saja?" Candra kemudian duduk disampingnya.


"Sudah lah ..aku tak apa - apa.. ini hanya kontraksi palsu..." jawan Elsa kesal.


Candra diam, ia kemudian berkata "baiklah kalau kamu mau pulang ke Semarang. Tapi kamu akan tinggal di rumah ku. Rumah kita, aku akan sediakan pembantu..."


Elsa kemudian memandang Candra, "sungguh?"


"Ya..... jangan buat aku berubah pikiran..."


Elsa tersenyum manis, "terima kasih".


"Ayo kita beres - beres. Tapi, kalau kita naik mobil bagaimana? Jika naik pesawat atau kereta pasti akan sulit melihat kamu hamil tua." Candra berkata sambil memegang tangan Elsa.


*************


"Papa...yang bener aja, masak Tian mau mundurin tanggal pernikahan! Ini pasti gara2 tu perempuan gat*l!" Rachel menggerutu.


Ayah Rachel duduk sambil membaca majalah pun membenarkan kacamata nya. "Nak, kenapa kamu harus repot mikir? Cuman mundur nak, lagipula para tetua meramalkan kalian. Sebetul nya tak berjodoh, tapi papa tidak menyampaikan itu saat keluarga kita bertemu. Jadi sabarlah...."


"Papa!!" Rachel berteriak dan pergi meninggalkan ayahnya.


Rachel melempar dirinya ke tempat tidurnya yang empuk.


Tok...tok...


"MASUK!" teriak Rachel.


Pintu pun terbuka, seorang wanita paruh baya melangkah masuk mengampiri Rachel.


"Sayang..." ucap wanita itu dengan hangat.

__ADS_1


"Mama!! Aku benci, aku selalu saja kalah dari si buruk rupa itu. Apa kurang nya aku?!" Rachel merengek kepada Ibu nya.


Wanita berparas cantik tersebut membelai rambut putri satu - satunya. Senyum hangat terpancar dari wajahnya. "Sayang.. kalau kamu memang mencintai Christ, kenapa kamu memaksa dia untuk menikahi kamu.?"


"Mama itu ga tau apa pura - pura bodoh sih! Aku cinta dan aku cuman mau dia!!"


Ibu nya menggelengkan kepala, "nak.. kamu sudah besar, bisa kah berbicara lebih sopan lagi? Mama tahu, kamu cinta Christian. Tapi mama tidak melihat cinta saat Christ memandang mu. Hanya kebencian dan kemarahan."


"Mama, aku harus mendapatkan dia. Aku engga mau gagal ma, christian harus membayar penghinaan saat kami di taman kanak - kanak"


Ibunya makin mendekati Rachel. "Nak... itu sudah berakhir bertahun - tahun lalu, sudahlah. Kamu sudah membuatnya hidup dalam paksaan. Mama tidak mau pernikahan kalian tidak ada landasan Cinta. Mama..."


"Engga ma! Pokoknya harus!" Nada Rachel makin tinggi.


Ibunda rachel pun pergi meninggalkan nya. Menutup pintu kamar dan menyandarkan kepala nya ke pintu kamar Rachel.


Puluhan tahun lalu...


Di sebuah taman kanak - kanak.. Ada anak laki - laki dengan wajah oriental dan eropa. Anak yang begitu gagah dan tampan. Anak tersebut sedang bermain di pasir bersama teman sebaya nya.


Dari balik mainan ayunan, anak perempuan gemuk dengan wajah buruk rupa mengamati nya dari jauh. Anak tersebut tersenyum melihat anak lelaki tersebut.


Hampir setiap hari anak perempuan tersebut mencuri kesempatan untuk mendekati. Namun selalu saja gagal.


Hingga suatu masa, saat pentas seni acara natal. Anak perempuan tersebut menjadi domba kecil dan anak lelaki tersebut menjadi pengembala.


"Halo... aku Rachel."


"Christian." Anak lelaki tersebut langsung membuang wajah dan meninggalkan Rachel dengan pakaian domba nya.


Sebetulnya Rachel sangat lucu dengan kostum tersebut. Namun Christian tipe anak yang selalu dingin dalam menanggapi segala hal.


Saat kelas menulis Rachel menulis di buku nya.


'Christian dan Rachel. Rachel suka Christian, kamu ganteng.'


Teman Rachel yang lewat di samping melihat dan mengambil bukunya.


"Ikh.. kamu nulis apa ini?! Sini aku liat..." Dodo mengambil buku Rachel dan memberikan ke Christian.


"Dodo balikin sini, itu buku aku!" Rachel mengejar dodo.


"Sini gendut, kejar coba nih Christ buat kamu dari si gendut semangka!" Buku Rachel pun berpindah tangan.


Christian menerima dan membaca nya. Dodo disamping pun ikut membaca.


"Anak kecil udah cinta - cintaan.. haa haa haa...."


"Gendut..gendut.. kamu tu emang ga ngaca ya.."


Hampir seluruh isi kelas menghina Rachel. Wajahnya pun memerah serta menunduk malu.


"Jawab Christian, kamu suka sana dia ngga..?"


"Cih...." christian malah melempar ke lantai buku Rachel. Ia keluar kelas dan menuju ke arah kamar mandi.


Rachel memandang buku nya, dengan gambar anak laki - laki dan perempuan berdampingan. Bertuliskan Rachel - Christian.


......


"Christian... maaf soal tadi, tapi apa aku boleh bicara?"


Christian memandang Rachel dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kenapa?"


"Maaf tapi aku cuman pengen bilang ini...." Rachel memberi buku tulisnya.


Christian mengambil dan membaca, 'Rachel suka Christian'.


Kedua bola mata Christian melotot. Ia kemudian memandang Rachel. "Kita masih anak - anak. Kamu mendingan belajar mengambar yang baik gambar kamu bagus. Aku mau pulang, ini buku mu."


Christian meninggalkan Rachel yang masih diam menahan air mata di hadapannya. Persis sesaat setelahnya, ia meneteskan air mata.


Tak lama setelah kejadian tersebut ada anak perempuan baru. Murid pindahan dari Bandung. Ia begitu cantik, mata nya bulat hitam dengan rambut agak kecoklatan dan kulit yang bersinar.


"Nama ku Angelina. Halo temen - temen."


Cantik... bak malaikat....


Anak baru tersebut duduk persis di samping Christian. Mereka terlihat serasi saat duduk bersama.


Rachel memandang dari titik yang amat jauh. Ia menginginkan tempat duduk Anggel. Tapi apa daya, ia duduk di urutan agak belakang.


Rachel terus menggambar dirinya dan Christian. Hampir seluruh buku tulisnya penuh nama Christian. Rachel belajar keras untuk bisa menulis dengan baik nama Christian.


"Christ, aku numpang ya. Mama ku sudah bilang ke mama kamu." Anggel mendekati Christian saat pulang.


"Ayuk aja.. tu mama udah dateng, cepetan." Christian menarik tangan kanan anggel. Mereka pun naik ke mobil Christian dan meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Rachel memandang mereka pergi berlalu. Hujan pun datang, menemani Rachel sendiri.


Kubangan air di hadapan Rachel, ia melihat dirinya dari pantulan air tersebut.


'Aku memang buruk rupa. Pantas saja tak ada seorang pun yang memperhatikan ku. Aku ada atau tidak, aku tetap selalu sendiri.'


....


Ini adalah saat bagi murid TK Sinar untuk field Trip. Mereka akan berkunjung ke kebun binatang.


Semuanya nampak senang kecuali Rachel.


Ia memonyongkan bibirnya, Christian memilih bersama Anggel dan teman lain nya. Tak seorang pun menyadari kehadiran Rachel kecuali wali kelas. Betapa sakit hati Rachel di buang dan menyendiri.


"Eh, kamu seneng sama Christ kan. Kamu ga pantes tauk, kamu jelek tu liat aja Christ." Ucap Dodo


Rachel kemudian melihat ke arah 90%. Mereka sedang makan siang berdua, amat sangat akrab. Entah sejak kapan mereka bersama seperti anak yang saling menyukai.


Rachel mengumpulkan keberanian, ia menaruh bekal makan nya. Kemudian dia berjalan mendekati mereka berdua.


"Ngapain kesini?" Tanya Anggel


"Christian aku suka kamu. Kamu belum jawab."


"Aku engga suka kamu. Kamu jelek, gendut mirip semangka dan bau badan kamu. Sana pergi, aku mau makan. Kamu ganggu terus minggir. Aku benci ada kamu, aku jadi ga bisa makan!" Christian kemudian pergi menjauh dan menggandeng Anggel.


Bak tersambar petir Rachel mendengar perkataan Christian. Ia malah dibenci oleh pujaan hatinya. Entah terlalu sakit atau malu. Sama sekali tak ada air mata yang keluar.


Rachel terus diam setelah kejadian tersebut. Malah Rachel sampai sakit selama seminggu. Panas dan muntah hanya itu yang terjadi.


"Nak.. kamu makan yang banyak, jangan gini. Makan ya..." ibunda Rachel membujuk anak perempuan nya untuk mau makan.


Rachel hanya menggelengkan kepala.


"Sayang... kamu mau apa nak...bilang mama, pasti akan mama - papa beri." Bujuk ayah Rachel.


"Rachel mau ganti wajah biar cantik, Rachel mau pindah sekolah. Rachel benci Christian, ia bilang aku jelek, mirip semangka dan bau badan ku amat tidak enak. Aku... aku mau kaya Angel mama!!" Rachel berkata sembari menghapus air matanya.


******


Christian kembali ke rumahnya. Ia seharian mengitari kota jakarta. begitu sesak dada nya saat mengingat perpisahan dengan Elsa.


Christian duduk di kursi kemudi, ia tak langsung turun. namun ia membuka ponselnya.


Rachun (rachel) : kamu jangan macam - macam atau aku bongkar semua video kita. aku tak akan membiarkan Elsa dan anaknya hidup kalau kamu berani membatalkan pernikahan kita!


Christian mengunci kembali ponselnya. ia menggelengkan kepalanya. "dasar wanita gila."


Christian amat lelah, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. ia berjalan cepat ingin merebahkan badan nya yang amat lelah. mungkin lebih tepat nya karena pikiran dan hati nya telah bekerja terlalu keras.


"Christ... papa dengar kamu dan Rachel bertengkar?" Ayah Christian menahan langkah nya untuk masuk ke dalam kamar.


Christian berhenti dan menghadap ke arah ayah nya. "Sejak kapan papa mengurus hal yang tidak ada korelasinya dengan bisnis kita?"


Ayah Christian meletakan koran dan melepas kacamata baca. Ia melipat tangan ke dalam dadanya.


"Sebenar nya itu juga bukan urusan papa. Hanya saja, papa terganggu dengan keluarga mereka. Jika kamu memang tidak mau melanjutkan hubungan kalian sudahi saja lah."


"Maksud papa?" Christian duduk di samping ayahnya.


"Ya.. seperti yang kamu dengar. Papa tidak suka sebenarnya memiliki besan dan menantu yang kurang sopan seperti mereka. Mereka mengancam papa, jika tidak merestui kalian, mereka akan menyebarkan rahasia mu. Sebenarnya hanya itu yang mengganjal papa."


Christian diam, ia sudah tau bagaimana Rachel merencanakan semuanya.


"Tapi papa sadar Christ.. mau seperti apapun papa berusaha dan menuruti aturan mereka, kamu tidak akan bahagia. Sebagai lelaki, papa yakin kamu tak akan sudi menyentuh nya.. papa tak ingin kamu nantinya menyesal dan melakukan hal yang bisa menyakiti anakmu..."


Christian menghela nafas dalam. "Iya Pa... Aku hanya mencintai seorang wanita pa. Wanita yang biasa dan apa adanya. Wanita mandiri dengan senyum manis dan lesung pipi yang kecil di pipi dan bibir kanan nya. Wanita yang keras kepala dan memiliki wibawa yang besar...... juga wanita yang telah aku sakiti, setelah hampir 3 tahun kami bersama......"


Ayah Christian menatap putra nya.


"Hanya dia Pa...wanita yang aku cinta. Aku mau melakukan apapun untuknya.. tapi terlambat sudah, ia sudah menjadi milik orang lain.. bahkan mereka akan memiliki seorang anak pa...."


"Lantas bagaimana dengan wanita tersebut? Apa ia membalas perasaanmu?"


"Tidak! Ia justru amat membenciku, sekeras apapun aku berusaha ia malah makin membenciku. Sudahlah Pa, aku anggap karma untuk perbuatanku padanya di masalalu.."


Christian pun meninggalkan ayahnya masuk ke dalam kamar pribadinya.


Christian menutup pintu, dan berjalan ke arah tempat tidurnya. Ia membating badan nya ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya.


"Berbahagialah Christian, dengan jalan kita masing - masing.." (kalimat Elsa)


Christian membuka matanya dan bangun terduduk. Ia memandang foto yang ada di dinding kamarnya.


Semua adalah kolase foto Elsa dan Christian. Saat pertama mereka jumpa di bangku SMA saat itu MOS (Masa Orientasi Siswa) sedang berlangsung. Elsa pun berdiri di urutan belakang.


Pikiran Christian jauh ke masa itu. Masa bahagia bagi dua insan yang saling jatuh cinta. Cinta pertama.

__ADS_1


__ADS_2