Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 51


__ADS_3

"Kamu engga papa?" Anak laki - laki dengan seragam putih abu - abu dan atribut MOS (masa orientasi siswa). Berada di samping perempuan yang berwajah pucat itu.


"Engga papa, aku cuman punya anemia, jadi aku pusing latihan baris - berbaris." Jawab perempuan tersebut.


"Baiklah, aku bakal nemenin kamu disini."


Perempuan tersebut melihat label nama, di karton warna biru. yang melingkar di leher anak laki - laki tersebut.


"Christian Adi?"


"Iya, Elsa nirmala?" Mereka pun berpandangan selama 3 menit.


Suasana menjadi hening, hanya desiran angin menium ke arah mereka. Aura penuh semangat menghampiri mereka berdua.


Rupanya malaikat cinta yang di sebut cupid datang. Sang malaikat menghunuskan anak panah ke hati dua insan tersebut.


Cinta Pertama bagi mereka..


"Terima kasih ya," Elsa memulai pembicaraan.


"Santai aja, aku cuman pengen mastiin kamu engga papa." Christian terbata membalas Elsa.


"..." Elsa tersenyum malu dan menunduk kan kepalanya.


"Kamu pulang nanti naik apa? Mau aku antar?"


"Aku di jemput papa kok. Makasih next time aja ya..." Elsa menolak ajakan Christian. Ia malu karena mereka baru saja 10 menit saling mengenal.


"Heh kalian! Bukannya latihan upacara malah disini..!" Ucap senior yang datang menghampiri kami.


"Maaf kak, Elsa tadi jatuh. Jadi saya memapah kesini dan memberinya air gula. Saya menunggu dan menjaga disini." Jawab Christian dengan Gentle.


Senior perempuan tersebut melihat ke arahku. Wajahku memang agak lebih pucat dari biasanya.


"Kamu lagi period (datang bulan) ?"


"Iya kak..maaf ya kak, aku jadi engga ikut.." jawab Elsa.


"Baiklah, kalian disini saja. Kami sebentar lagi selesai dan murid baru boleh pulang. Jangan lupa besok adalah upacara pertama kalian sebagai siswa baru di SMA ini. Jangan datang terlambat! Atribut jangan lupa!" Ucap senior dengan tegas.


"Baik kak," jawab Christian.


Rupanya ada senior pria yang ikut menghampiri kami. Ia terus menatap ke arah Elsa.


"Cand, kamu kok kesini. Masih jam pelajaran."


"Engga Mit, abis kalian serius dan suaramu keras kaya orang berantem." Jawab Candra Adiwinata.


Elsa memandang kearah kedua senior tersebut. Begitupun Candra membalas pandangan Elsa.


Awal pertemuan yang menjadikan Elsa bagaikan magnet untuk Candra. Wajah polos nya mirip sekali dengan Almarhum Ibunya.


Kedua senior tersebut meninggalkan Elsa dan Christian.


"Elsa, kamu mau nunggu disana? Dekat pos sepertinya ada tempat duduk. Kamu mau nunggu disana? Sambil aku temani." Christian mengajak Elsa pindah agar dapat melihat jika ayah nya telah menjemput.


"Boleh..."


Christian mengambil tas ransel Elsa. "Aku bawain, udah kamu jalan aja."


'Ini cowo baik banget ya sama aku. Wajahnya juga ganteng banget.' Elsa berbicara dalam hati.


Elsa mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju keluar area lapangan. Mereka saling mencuri pandang. Sepertinya bunga asmara memang sudah bersemi diantara mereka.


Elsa kemudian duduk di bangku kayu panjang. Di susul Christian duduk di samping nya.


"Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Elsa Nirmala dari SMP Tunas 1." Elsa memberikan tangan kanan nya untuk berjabat tangan.


"Christian...Christian Adi. Aku dari SMP Anggrek. Oh iya, rumah kamu dimana? Kapan - kapan aku main ya."


"Rumah ku di daerah Puri. Boleh aja Christian, eh papa ku sudah datang. Aku duluan ya, bye..."


"Tunggu!!" Christian menahanku. Ia membawa ransel ku mengantarku sampai di depan motor ayahku.


"Siang Om, ini Elsa tadi pingsan. Jadi saya menemani."


"Dek, kamu engga papa? Kenapa ga bilang, papa bisa jemput pake mobil sama supir. Daripada kamu jatuh nanti." Papa Elsa panik melihat anaknya begitu pucat.


"Engga pa.. Boros bensin, adek kuat kok. Ini temen adek bantuin. Sini pa, helm Elsa. Kita pulang ya, adek mau bobo...."


Papa Elsa memberikan helm SNI berwarna merah dengan kaca hitam. Elsa menerima dan memakainya, lalu ia naik ke atas motor papa nya.


"Ini om tas Elsa.." Christian memberi ransel berwarna putih dengan corak bunga dan kelinci tersebut.


"Terima kasih ya. Om tinggal dulu."


"Byee christ.. makasih ya..."


Mereka pun pergi meninggalkan Christian.


*********


Hari itu pertama kali pembagian kelas. Elsa memilih dudu di barisan paling kiri, dekat dengan pintu.


Ia duduk bersama teman barunya, Yeslin.


Elsa asik mengobrol dengan yeslin. Hingga ia tak menyadari Christian memilih duduk di belakangnya persis.


Kring.....kring.....


"Baik anak - anak, silakan sudah berbunyi bel istirahat.." Pak Andre membereskan buku pelajaran Sosiologi dan keluar dari kelas.

__ADS_1


"Elsa.. kamu mau jajan ndak?"


"Yeslin, aku lupa bawa uang. Kamu aja yang ke kantin. Aku disini aja ya.." jawab Elsa.


"Yasudah, aku pergi dulu ya..bubay..." Yeslin melambaikan tangan nya.


Elsa membalas dan tersenyum ke yeslin. Kelas menjadi kosong, hanya sepasang muda mudi di pojokan pacaran.


Elsa memilih meletakkan kepalanya di atas meja. Ia memejamkan matanya, berharap cepat selesai dan mulai kegiatan belajar lagi. Perutnya lapar, tapi ia tak tega melihat ayah nya sedang di jalan menuju kebangkrutan.


"Elsa.... ini temani aku makan." Suara yang begitu familiar.


Elsa terbagun dan melihat ke sampingnya. "Christian?"


Di hadapan Elsa ada nasi ayam katsu dan segelas teh manis. "Yuk, makan sama aku."


"Ngapain kamu disini Chris...?" Wajah Elsa binggung.


"Aku beli makan terlalu banyak, temani aku makan ya..." Christian membuka aluminium foil tempat makan siang kami.


Elsa tersenyum dan membuka makan siangnya. Christian tersenyum dan menyuap makan siang nya.


Siang itu hari pertama di SMA..


pertama kali pula seorang anak laki - laki mendekati Elsa..


Teng.....Teng.....


"ayuk Els pulang... kamu mau boncengan sama aku?" Yeslin mengajak Elsa pulang dengannya.


"engga merepotkan? aku bisa naik angkot kok..."


kring....kring... (ponsel Yeslin berbunyi)


"hallo ma, oh iya mah...aku kesana...byee..."


Yeslin mematikan panggilan ponselnya. "elsa maaf... aku mau jemput mama di toko tekstil. kamu balik gimana?"


"oh, santai saja Yess...aku bakalan balik naik becak atau angkot."


"maaf ya Elsa.. besok ya kita pulang bareng."


"iya yes..sana cepat pergi..kasian mama kamu nungguin."


yeslin pun pergi meninggalkan Elsa.


Elsa berjalan menuju pintu keluar. ia mengambil ponsel dalam sakunya.


'papa' (Dek, papa masih di rumah sakit. adek pulang apa mau nunggu papa?)


'elsa' (tidak usah Pa. adek pulang sendiri saja.)


hampir 1 jam menunggu, tak ada 1 pun kendaraan lewat. para senior telah pulang, keadaan pun mulai sepi.


brem...."Elsa!!" suara pria berteriak.


"Christian?"


christian menepikan motornya, ia mengambil helm dengan warna putih corak bunga sakura. ia mendekati Elsa dan memberi helm ke Elsa.


"pakai ya. aku antar kamu pulang. udah jam 2 siang, kamu masih disini."


Elsa menerima helm Christian. "tapi rumah kamu jauh.. hari ini juga kamu udah banyak ngasih ke aku.. aku gimana membalasnya."


"cukup dengan bersamaku Elsa.. ayo sudah siang.."


Elsa tersenyum hingga lesung pipi nya terlihat. amat manis dan cantik alami.


Elsa naik ke atas motor Christian. mereka pun pulang ke arah rumah Elsa. Christian membawa kendaraan dengan perlahan.


"kalo kamu lapar kita makan siang dulu aja Elsa.."


"engga Christian...terima kasih..."


Christian memacu kendaraan lebih cepat. hingga Elsa mau tak mau memeluknya dari belakang. hingga di lampu merah Christian berhenti.


jantung Christian berdegup kencang. tangannya menjadi dingin dan kaku. bagikan es begitu dingin rasanya. beberapa kali ia membuang nafas dengan mulutnya, mencoba menetralkan suasana siang itu.


"Christian....udah hijau tuh..." elsa mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.


"Oh iya, maaf Elsa..." kendaraan pun melanjutkan perjalannya.


Mereka sampai di depan rumah Elsa. Rumah minimalis dengan cat berwana putih dan hijau pastel.


Elsa turun dari kendaraan dan melepaskan helm.


Ia mengembalikan helm ke Christian. "Makasih ya Christian."


Namun christian malah terdiam memandang Elsa.


"Christ??" Elsa melambaikan tangan di depan wajah Christian.


Christian sadar dan menjawab, "Eh iya....ini buat kamu, besok kalo kamu engga ada yang jemput. Aku bakal nganterin kamu."


Wajah Elsa langsung menjadi merah. Ia malu dengan kata - kata Christian.


"Aku masuk dulu ya, see you...." Elsa cepat - cepat membuka pintu pagar dan masuk.


Tapi Elsa berhenti dan membalik kan badannya. Ia tersenyum kepada Christian dan melambaikan tangan.


Christian membalas senyum dan pergi dari rumah Elsa.

__ADS_1


'Tuhan, kenapa aku dada ku bergetar, sesak saat menatapnya. Jantung ku menjadi 2x lebih cepat berdetak.'


*********


Elsa terbaring di tempat tidurnya. Ia merasa mengggigil dan panas. Kapalanya pusing sekali, bahkan sampai menonaktifkan ponselnya. Ia enggan di ganggu oleh SMS dan panggilan dari teman sekelasnya.


"Adek.... ada teman yang mencari!" martha berteriak dari arah teras rumah.


sekuat tenaga Elsa bangun dari tempat tidurnya. pusing dan semua berputar, Elsa berjalan perlahan sambil berpegangan tembok rumahnya.


"Christian.... kamu kesini?" Elsa mengernyitkan dahi, seperti tak percaya bahwa ada Christian di hadapannya.


"iya Elsa, kamu sudah 3 hari engga masuk..aku kepikiran, jadi aku kesini. oh iya ini aku bawain buat kamu." Christian membawakan bungkusan roti yang agak mahal di kota semarang.


Elsa memandang ke bungkusan tersebut. "Makasih ya Christian..."


Mereka saling berpandangan, suasana sore yang canggung.


"Duduk Chris, maaf agak berantakan. Aku sungkan dengan keadaanku."


"Santai Elsa... kamu duduk deh, masih pucet. Oh iya kamu sudah ke dokter? Pucat sekali."


Elsa menggelengkan kepalanya, "orang tuaku sudah membawaku ke bidan dan sudah diberi obat. Cuman badanku belum enak."


"Elsa.. ikut aku ke rumah sakit ya. Kamu engga bisa gini. Aku bawa mobil sama pamanku. Ayo cepat, aku bawa jaket buat kamu."


Christian mengambil sesuatu dalam tas plastik berwarna putih. Rupanya jaket berwarna merah muda. Warna yang amat bagus.


Elsa mengambil nya dan memakai jaket tersebut. Martha kemudian keluar teras.


"Kamu mau kemana dek?" ia melihat adik nya akan segera pergi.


"Aku mau di ajak ke Rumah sakit sama temenku. Apa boleh kak?" Wajah Elsa begitu pucat. kedua matanya tak dapat fokus melihat. kepala bagian belakangnya bak tertusuk paku. sakit sekali..


Martha menatap Christian. "Jaga adik ku baik - baik ya.. maaf jika merepotkan kamu. Kami akan mengganti biayanya, orang tua kami sedang sibuk. Papa kami harus menjalani cuci darah tiap minggu.


sedang aku harus mengajar les mata pelajaran. apa kamu bersedia?"


"Pasti kak. Aku bakal jaga Elsa." christian mencoba meyakinkan Martha.


Christian berdiri dan ingin memapah Elsa. Namun martha merasa agak canggung.


Elsa kemudian masuk ke dalam mobil Christian. "Permisi ya Om. Saya menumpang."


"tak apa - apa, sejalan kok. nama kamu Elsa? teman Christ ya..salam kenal dengan saya, paman Jack." Jawab Paman Christian.


"salam kenal Paman Jack." wajahnya bak Leonardo de'caprio. rahang yang sempurna, tak ku sangka. Christian tampan memang sudah dari lahir..


Christian menutup pintu, martha kemudian menyentuh lengan nya. "Chris... tolong jangan sakitin Elsa. Dia tidak pernah jatuh cinta, dan dia begitu halus perasaannya. Jaga dia ya. Tolong..."


Christian hanya mengangguk, meninggal kan martha. Masuk ke mobil dan pergi menjauh.


*******


Elsa terduduk di depan antrian farmasi. Badannya tambah lemah, kepala nya ia sandarkan ke dinding. Terlihat siku kirinya ada sepotong kecil kasa pembungkus.


Sepertinya ia baru saja melakukan test laboratoriun. Pandangannya mengawasi sekitar, dimana Christian. Mengapa isa sendiri disana, matanya ingin terpejam. Namun ia tak kuasa, dirinya takut jika nantinya terjadi sesuatu.


"Elsa... ini obat kamu." Christian memberi satu plastik ukuran sedang obat - obatan.


"Ini juga hasil lab kamu. Kamu positif Typus, paratyphi Hbo kamu positif dan tinggi. Sekarang kamu engga boleh makan sembarangan, telat makan."


"Berapa biayanya Chris, biar aku ganti." Elsa menatap pilu ke arah Christian.


"Sudahlah, mau aku cuman kamu sembuh. Sekolah membosankan tanpa anak perempuan yang duduk di hadapanku."


Elsa diam dan dadanya terasa sesak lagi. Jantung nya juga berdegup kencang.


Christian memegang tangan kiri Elsa. "Janji ya, kamu sehat terus besok masuk. Kamu udah ketinggalan pelajaran. Aku juga kesepian lho engga ada teman makan waktu istirahat."


Elsa tak kuasa menjawab Christian. Ia hanya mengangguk pertanda setuju dengan Christian.


"Elsa.. kamu keberatan engga, kalo kamu manggil aku Tian aja?"


"Kenapa, emang nya salah ya memanggil Christian?" Elsa membenarkan posisi duduknya.


"Engga Els... cuman, aku pengen kita tu spesial. Bukan aku kamu lagi, tapi aku pengen... kita lebih dari temen biasa...."


"Apa? Kamu engga salah bicara Chris?" Elsa seperti mimpi mendengar ucapan Christian.


"Aku.... aku sebenar nya suka sama kamu. Aku pengen kita.. kita... bukan cuman temen..."


Elsa mengedipkan matanya beberapa kali. "Kakak - adek ketemu gede?" Elsa bertanya, ia bukan sengaja memancing Christian. Namun ia binggung dengan maksud Christian.


"Ayo kita pacaran!" Ucap Christian dengan mantab.


Seperti meledak dalam hati Christian. Apa yang tahan oleh nya selama ini.


Keringat mengucur di dahi nya. Elsa mengambil tissue dari dalam plastik obatnya. Kemudian ia menyeka dahi Christian.


"Kamu butuh jawabanku?" Tanya Elsa.


"Ya..." Christian memegang tangan kiri Elsa.


"Iya Chris... ayo kita pacaran, tapi aku belum pernah berpacaran. Tolong ajari aku...."


Mereka berdua tersipu malu dan wajah mereka ikut menjadi merah. Christian kemudian mencium kening Elsa.


"I love you Elsa... Ich liebe dich."


"Ich liebe dich auch, Christ.. Tian..."

__ADS_1


__ADS_2