
aku berjalan ke arah halte Bus Trans. Aku diam memikirkan kata - kata papa.
"Makanya papa pengen punya cucu...agar bisnis ini tidak berhenti..papa dan mami Ruby sepakat pernikahan kami tanpa anak. Hanya sekedar teman tidur dan partner untuk acara bisnis. Di luar itu ya kami dengan hobi kami sendiri."
"Mama dan Ruby itu seperti kakak - adik. Mereka teman satu kampung dulu. Papa ingat waktu mereka bertemu setelah lama berpisah, mama lebih memilih tinggal bersama Ruby daripada papa. Hahaa..bahkan mama bilang kalau dimana ada Ruby disitu ada Susan.."
Aku baru tau ada persahabatan seperti itu. Sampai rela membagi suami atau orang yang di cintai nya dengan sahabatnya sendiri.
Terlalu banyak hal rumit dari keluarga Candra yang sulit kumengeti..
Bis ku datang, aku bergegas bangun dan antri masuk. Aku memilih duduk samping pintu. Aku bersandar ke arah kaca. Memikirkan soal mencoba rujuk dengan Candra.
Kring....kring....(ponsel berdering)
"Hallo..."
"EL...party yuk...gw di Senci ni...nyusul ya...?"
"Olla? Emang mau kemana?"
"Skyfly yaa....gw cuzz sana...byee"
Panggilan terputus..
Ke pub..ayuk ajah....Elsa melaju dengan bis nya bertemu dengan olla di pub sepeti janji mereka..
*******
"Pak Toni, istri saya bilang kemana hari ini?"
'Istri...ga salah denger saya,' Pak Toni masih tidak percaya dan hanya melihat Candra dari spion mobil.
"Pak?"
"Iya Mas...kalau non Elsa ga pamit mau kemana. Jadi saya ga tau kemana juga non Elsa..."
"Ashh! Dasar perempuan itu..." Candra kesal.
Candra menekan panggilan ke kontak Elsa. Tapi karena Elsa sedang di Pub Elsa tak penyadari ada panggilan di Hp nya.
Candra makin kesal dengan Elsa. Untung Candra sempat memasukan satu aplikasi GPS untuk melacak Elsa.
Candra langsung menekan user id Elsa. Menunggu sebentar, map keluar dan Elsa ada di pub di daerah Thamrin. "Dasar wanita nakal." Candra bergumam.
"Gimana mas? Kita kemana?"
"Pak Toni kita ke Thamrin, ke GLP tower ya. Saya mau jemput istri yang harus di beri pelajaran."
Candra naik pitam ke Elsa. Seharian tanpa kabar dan berita. Ketika malam datang malah memberi Candra kejutan dengan pergi ke Pub.
*****
Elsa duduk samping olla. Bersama dengan 2 temannya lagi. Elsa terlihat menghabiskan 3 kaleng beer berwarna coklat tersebut.
"El...ini botol ketiga lho...kamu balik gimana nanti?"
"Olla..tenang....aku ga papa kok.." muka Elsa mulai memerah..
"Udah Elsa cukup, lo itu ga kuat minum beer.. lo itu minum coctail aja udah.." Desy mengoyang - goyang pundak Elsa.
Elsa menyandar kan kepalanya ke meja. Lelah rasanya kepalanya berfikir dan menerima semuanya. Elsa memejamkan mata sesaat, ketika mulai membuka matanya. Sesosok pria mendekati meja mereka.
'Tinggi..apa itu Candra? Tapi....kenapa badan Candra jauh lebih kurus..' aku tak kuasa mengangkat kepalaku.
Pria tersebut mendekati olla. "Olla....hallo apa kabar?" Pria tersebut memberikan telapak tangan nya, tanda bersalaman.
"Tian......gw baik kok..." Olla terbata menjawab sapaan Tian.
"Elsa bangun...Cepet bangun ada Tian...cepetan...." Dessy masih berusaha membangun kan Elsa.
Aku seperti mendengar nama yang tak pernah hilang...TIAN...
Aku langsung membuka mata dan mengangkat kepalaku dari meja. Aku memperbaiki tatanan rambutku. "Elsa...apa kabar?" Tian tersenyum.
Elsa lama diam dan mengedipkan matanya beberapa kali. Apa mimpi? Laki - laki yang menjadi cinta pertamanya datang di hadapannya dan menyapa.
__ADS_1
Masi ingat jelas Elsa bagaimana Tian tak pernah memandang nya. Tak pernah menganggapnya ada. Dan mengakhiri hubungan tanpa ada kejelasan status dulu.
"ELSA..." Dessy kesal dan menepuk keras pundak Elsa.
"Iya dess....aku dan bangun..." aku menjawab Dessy.
"Maaf El, kalau mengagetkan kamu dan temen - temen. Aku kebetulan dateng terus lihat kalian jadi aku kesini aja." Tian kini duduk persis depan Elsa.
"Terus bukannya lo udah pindah surabaya? Ke tempat pacar lo Gio siapa gw lupa." Jawab Olla.
"Kamu masih inget aja.. (tian tersenyum) aku udah bubar sama Giovani dan aku dapet kerjaan disini. Jadi ya aku sekarang di jakarta." Olla diam dan tampak kurang nyaman dengan adanya Tian.
Pikiranku melayang mengingat kejadian 11 tahun lalu. Saat masih di bangku SMA kelas 3. Bagaimana Tian mengabaikan Elsa, memilih bersama Rachel teman sekelas mereka.
Elsa mengorbankan waktu belajar nya untuk membuat semua tugas Tian. Mengorbankan waktu menghubungi Tian, Hingga kabur ke warnet (warung internet) untuk mencari Tian saat jam sekolah. Elsa sampai rela menunggu Tian membalas tiap pesan SMS yang di kirim nya. Padahal Tian malah asik bermain Video game dan Game Online.
Semua di lakukan Elsa atas dasar tulus nya menjalani Hubungan dengan Tian.
Banyak waktu yang Elsa curi demi bisa membantu Tian. Meskipun saat itu Elsa bisa saja lebih memilih istirahat atau mengajar Les mata pelajaran lagi.
----
"ELSA!" Suara yang ini aku lebih kenal. Elsa membalik setengah badannya. Ya allah.....
Candra.
"Honey......Did you know? I wait on airport and your on here?" Candra langsung mengecup kening Elsa di depan teman - teman nya.
"Kamu kok ga bilang kesini. Aku panik kamu engga jawab telpon-ku. Pesan dan Whatsapp-ku juga ga kamu baca sayang...." Candra mengelus pipi Elsa.
"Cand...kamu ga minum?" Elsa menjadi canggung dengan apa yang di lakukan Candra.
Sorot mata Candra tajam memandang Tian. Seolah seorang singa yang sedang berebut mangsa saja.
"Hallo kamu olla kan?" Candra menyapa Olla..
"Iya, kamu kak Candra kan, ini Dessy, ini Vera dan ini....." olla menunjuk Tian.
"Tian.." Tian memberikan telapak tangannya untuk bersalaman.
Candra meraihnya dan menjawab. "Candra...suami Elsa..." mereka langsung melotot mendengar jawaban Candra.
"Maafkan Elsa.. dia emang engga aku minta bilang ke orang banyak soal pernikahan kami. Karena waktu itu..
Ehm....memang ada sedikit masalah. Jadi kami menikah dengan cepat... next kami ada syukuran, pada datang ya. Sekalian syukuran bayi kami." Candra mengelus perut Elsa.
"Wong gendeng (orang gila). Kami emang menikah tapi..." jawab Elsa.
"Sayang.....kamu lagi - lagi lupa pake cincin..." Candra meraih tangan Elsa.
Candra mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata cincin Elsa, kemudian Candra memakaikan pada jari tangan kanan Elsa.
"Nih...aku aja pake..kamu masak lupa terus." Candra menunjukan jari manis tangan kanan nya.
"Kalo lo beneran suami Elsa.. better Elsa lo bawa deh sekarang. Dia kebanyakan minum." Olla menunjukan 3 kaleng beer yang dihabiskan Elsa.
Candra merangkul Elsa, "yuk sayang kita pulang. Kamu terlalu banyak minum." Candra memapahku berdiri.
Aku seperti kerbau yang dicucuk hidung nya. Langsung patuh apa yang di minta Candra. aku berdiri dan menyandarkan kepalaku ke pundak Candra.
saat kami hendak pergi "tunggu...." aku menghentikan langkahku. "makasih ya olla..next kita makan lagi...bye...bye dessy, vera...tian..."
Tian memandangku penuh tanya. sesaat pandangan matanya persis seperti saat kami pertama kali bertemu. hanya bedanya kini aku lebih kurus, lebih mulus wajahku dan rambut ikalku sudah menjadi lurus.
Tian....jangan datang lagi....
********
aku menutup kedua lenganku dengan telapak tanganku. dingin sekali rasanya, tapi badanku rasanya panas.
Candra berhenti dan mengisi bensin. saat Candra kembali ke mobil, aku sudah tidak nyaman dengan posisi dudukku. seolah semua badanku gatal - gatal.
"kamu kenapa Elsa??" Candra panik dan menyentuh lenganku.
"argh..panas Can...panas..."
__ADS_1
"Elsa kamu minum ato makan apa tadi?" Candra langsung menyalakan mobil dan bergegas pulang.
"engga tau Cand...tadi aku di kasi coklat sama Olla..katanya dia di kasi cowonya pas mau kesini tadi..tapi olla ga suka coklat jadi aku makan aja..." aku masih terus menggeliat dan merapatkan paha-ku.
"yang kamu rasain gimana?" Candra memacu mobilnya lebih cepat.
"panas....gatel! Candra tolong...aku ga kuat..." Elsa menarik tangan kiri Candra. menaruh nya di pangkal paha Elsa.
"Elsa..ini di jalan. aku...aduh...Elsa...tahan sebentar..." Candra menerobos beberapa lampu merah. "Semoga polisi ga sadar ada pelanggaran."
"Cannd.....ash....Candra..." Elsa terus menggeliat tak kuasa. entah coklat apa yang di makan Elsa.
"Pasti kamu kena obat Elsa. gawat kalo kamu ga bisa brenti. syaraf kamu yang kena. Jadi....maaf kalo malam ini aku kepaksa Elsa..." Candra langsung masuk ke area parkir Apartemen nya. keluar dari mobil dan membuka pintu Elsa.
"ayo sini,!" Candra menggendong Elsa. tangan Elsa bergelayut di leher Candra.
"badanmu nyaman banget Candra...aku ga mau lepas dari kamu." Candra langsung naik ke lantai apartement nya.
Candra menempelkan kunci dan membuka pintu. menyalakan lampu, Elsa masih tidak sadar dirinya dimana. yang Elsa rasa hanya melayang di pelukan Candra.
Candra membawa Elsa masuk ke kamar nya. menyalakan Ac dan meletakan Elsa di atas ranjangnya. Candra membuka kemeja Elsa dan berhenti hingga bagian perut Elsa.
Elsa memandang Candra, kemudian menarik Candra kedalam pelukannya. hanya pelukan Candra yang bisa membuatnya nyaman.
Candra membiarkan Elsa menuntaskan apa yang tertahan. Candra baru kali ini melihat Elsa bisa begitu lepas menahan sesuatu yang tertahan. Mereka menuntaskan semuanya hingga subuh tiba..
Kepala Elsa sangat berat, mata Elsa juga enggan membuka mata. Seluruh tubuh Elsa rasanya pegal. Seperti abis melakukan fitness seharian.
Elsa memaksa matanya terbuka. Elsa mengambil ponsel di meja samping tempat tidur. Jam 10.00 pagi, Elsa melihat tubuhnya tertutup selimut tebal. Elsa membuka selimut, "oh gosh! Lagi..." Elsa mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
Elsa mempelajari ruangan tempatnya tertidur. Sepertinya pernah melihat tempat ini dan pernah tinggal disini sebelum nya. Tetapi tempat tidurnya kenapa berbeda. Ini....ini kamar Candra!!
Elsa langsung duduk dan menepuk dahi nya. "Bodoh!! Cepat ingat semalam ada apa!!" Elsa memaki dirinya sendiri.
Elsa mengingat, Dirinya bertemu Tian. Kemudian Candra menjemput dan membawa nya pergi. Kemudian Elsa lupa dan hilang apa yang terjadi setelahnya.
Pintu kamar terbuka, sebuah nampan berwarna coklat terlihat. Elsa menutupi badannya dengan selimut hingga hanya terlihat wajah Elsa saja. Rupanya Candra masuk dan membawa nampan berisi teh dan roti bakal kesukaan Elsa.
Candra duduk di depan Elsa. Kemudian tersenyum manis ke Elsa. "Pagi Elsa..sudah bangun? Aku engga tega bangunin kamu. Tidur kamu pulas sekali."
Elsa masih mematung, binggung dengan apa yang terjadi dengan Candra. Elsa bertanya - tanya ada apa sebenarnya?
"Semalam ada apa?" Elsa bertanya polos ke Candra.
"Ada apa? Ini tanya kan saja pada dadaku dan leherku. sudahlah, istirahat saja kamu terlihat lelah." Candra menunjukan bekas cakaran dan noda merah seperti bekas gigitan serangga.
"Oh Tuhan!" Elsa menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"Kamu malu? Sudahlah..itu kewajibanku, coba kalau aku terlambat mungkin kamu bisa di mangsa orang disana." Candra mengelus rambut Elsa. Halus, wangi, tangan Candra benar - benar memberi ketenangan buat Elsa.
"Maaf...." hanya itu yang terucap dari mulut Elsa. Candra menarik tangan Elsa, kemudian menarik Elsa ke dalam pelukannya. Candra memeluk Elsa, "sudahlah....cerita aja kenapa kamu ga ke airport?"
Elsa menarik nafas, "aku kemarin ketemu papa terus aku nerima panggilan olla. Ngajakin ketemu di Pub, Jadi aku naruh Hp-ku di tas. Aku ga tau kamu kirim pesan sama telpon ke aku. Maaf..."
"Jangan kamu ulangin lagi ya? Udah sarapan terus mandi sana. Kita ke Rumah sakit. Aku udah bikin janji sama dokter kandungan terbaik." Candra melepaskan pelukan dan mengecup kening Elsa.
"Mulai saat ini, kamu boleh pake cincin pernikahan kita. Kamu boleh bilang kalau kamu istri-ku. Dan kamu harus ngabarin kemana pun kamu pergi...okey?" Elsa hanya memandang Candra.
Candra meninggalkan Elsa di dalam kamar. Beserta dengan sarapan di atas nampannya. Elsa baru kali ini melihat Candra begitu lembut padanya. Ada angin apa sebenarnya?
Elsa mempercepat sarapan dan langsung mandi untuk membersihkan dirinya. Elsa merasakan tubuhnya penuh bekas Candra. Entah mengapa Elsa masih engga seluruh tubuhnya di Sentuh Candra. Tapi semalam yang terjadi seperti sebuah ketidak sengajaan buat Elsa.
Elsa mengenakan setelan blouse warna biru muda dan celana kulot warna hitam. Dengan alas kaki kebanggaan, flat shoes warna pastel pink. Elsa berjalan keluar dari kamar Candra.
Candra telah menunggu nya di ruang tengah/ruang TV. Candra menggunakan celana panjang jeans biru dan kaos berkerah warna navy.
'Ganteng banget Candra...' wajah ku berubah merah melihat Candra.
Candra kemudian menghampiriku, berdiri persis depan ku.
Aku menegadah ke atas, "udah siap?" Aku mengangguk, candra berjalan dan aku menyusul di belakang nya.
*******
"Jadi. Kalau saya lihat ini tidak ada masalah apa - apa di kandungan nya. Memang ada penipisan, tapi tidak perlu cemas. Saya bisa penguat kandungan untuk Istri anda." Dokter melepas kacamata dan mengambil kertas dan menulis resep.
__ADS_1
Ada 3 macam obat yang di resepkan. Aku menduga pasti ada penguat kandungan, obat penahan rasa sakit dan apa lagi itu. "Maaf dok, yang satu lagi apa ya?"
"Oh ini vitamin saja. Biar tidak mudah sakit." Dokter melanjutkan menulis resep untuk kami.