Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 39


__ADS_3

Pagi itu Elsa bangun lebih pagi dari biasanya. Ia membuatkan sarapan nasi goreng tanpa kecap.


Warnanya sedikit pucat dengan tambahan kacang polong dan jagung manis serut.


Bau harum tercium hingga ke dalam kamar. Candra langsung terbangun dan keluar. Ia mencari sumber bau harum tersebut.


Sampai lah di depan nya Elsa mengenakan celemek warna merah muda, dengan rambut terikat ke belakang. Aura nya sangat cantik, amat berbeda dengan kesehariannya.


Candra duduk di salah satu sisi kursi makan. Elsa langsung duduk di hadapan Candra. Nasi goreng, telur mata sapi setengah matang dan teh hangat.


Mereka mulai sarapan pagi bersama. Suasana sunyi dan hangat pagi itu.


"Jadi....kamu mau kemana hari ini?"


Elsa mengunyah makanannya, agar yang ada di mulut nya habis. "Aku hari ini mau ketemu temenku, dia sekarang tinggal di salah satu kampung di pinggiran jawa. Dia juga nawarin beberapa barang buatan tangan nya."


"Perlu aku antar?"


"Boleh...eh... engga usah Cand..aku bisa naik bis kok atau naik ojek mobil." Jawab Elsa dengan cepat.


'Cand...bener nya aku pengen kamu bisa nganterin aku...please ngomong gitu...'


"Ikut lah, aku mau ketemu Om.Hendra." jawab Candra singkat.


"Kamu ketemu om Hendra buat apa Cand?" Elsa penasaran dengan urusan mereka.


"Bukan urusan kamu! Ini bisnisku, bukan urusan mu!" Candra membalas pertanyaan Elsa dengan nada tinggi.


Candra langsung meninggalkan meja makan. Makanan di atas piring nya di tinggal begitu saja. Elsa menunduk, menyesali pertanyaan nya yang terlalu jauh.


'Lhoh...kok aku nangis, kenapa jadi cengeng gini sih.' Elsa menghapus kedua matanya. Elsa membereskan meja makan dan mencuci piring dengan cepat.


"Brak..." Elsa menoleh ke sumber suara.


Rupanya Candra pergi sendiri, ia lupa atau sengaja meninggalkan Elsa. Suasana nya menjadi hening sekali, Elsa terpaku di depan wastafel dengan air yang masih mengalir.


"Dasar gadis bodoh, kamu itu istri di atas kertas dan kamu biasa melakukan segala sesuatu sendiri. Buat apa kamu baper sama Candra. Toh kalian juga ending nya engga bakalan bersama..." Elsa berbicara sendiri.


Elsa melanjutkan tugas mencuci piring dan membereskan dapur. ia berjalan ke kamar depan untuk berganti pakaian. tapi pandangan mata Elsa seakan menahan rasa sakit.


sejak kehamilan ya emosi Elsa jadi tak menentu. ia mudah menangis dan sedih, padahal menurut dokter Elsa harus membangun energi yang Positif.


*********


"Dengan Ibu Wimala?" Tanya ojek mobil yang berhenti di depan Elsa.


"Iya pak, saya duduk depan ya pak..." Elsa masuk ke dalam mobil citycar warna hitam.


"Baik Bu...saya sambil jalan ya Bu." ucap driver ramah


"Iya pak..." elsa memakai seatbelt dan mengeluarkan ponsel nya.


Elsa mengirim pesan ke Rani. Dirinya sudah dalam perjalanan kesana. Bertemu di cafe langganan mereka dulu, tempat reuni ketika Rani masih bekerja di Bandung.


"Maaf Bu, mau Top up?"


"Boleh pak..seratus ribu ya pak. Ini uang nya," Elsa memberi uang kertas bertuliskan seratus ribu rupiah.


"Terima kasih Bu. Mohon di cek."


"Oh iya pak...sudah pak...ini sudah masuk. Bapak sudah lama narik?"


"Belum Bu.. saya sebenernya kepepet Bu, saya punya tanggungan anak, istri dan Ibu yang sakit. Kalau saya engga cari tambahan gimana bisa cukup. Apalagi usaha saya lagi sepi."


"Bapak punya usaha apa?"


"Ini Bu kartu nama saya." Bapak tersebut memberikan kartu nama. Bambang Soehendro. Tax and legal for exporting.


"Bapak bisa biasa export barang, atau gimana pak?"


"Saya sebenernya bagian ngurus legal nya Bu. Armada saya ada kontainer dengan pesawat dan kapal. Tapi sekarang sepi Bu, karyawan saja saya berhentikan sebagian."


"Saya kasian Bu, tapi kalau mereka tetap ikut saya. Saya mau gaji dari apa? Maaf ya Bu, saya malah cerita ke Ibu."

__ADS_1


"Engga papa pak..siapa tau kedepan nya malah bisa kerjasama dengan Bapak.." jawab Elsa ramah.


"Bu, sudah sampai tapi saya engga bisa parkir ini."


"Its ok pak,saya turun disini saja. Terima kasih Pak.."


Elsa keluar dan berjalan masuk ke area cafe yang ada di luar mall tersebut. Elsa mengenakan terusan berwarna biru navy, rambut nya terurai bergelombang dengan wajah hanya di poles lipstik merah muda dan bedak tabur.


"Ranii!!" Elsa memanggil ke perempuan yang duduk di dalam cafe yang dinding nya ke arah mall.


Perempuan tersebut melambaikan tanggan ke Elsa. Elsa membalas dan memberi kode dia akan memesan dulu.


Tak berapa lama Elsa duduk di hadapan Rani. "Raaannii...gw kangen sama lo...lo kemana aja siiii"


"Maaf Saa..gw kan ngurus dua bocil gw sendiri, jadi gw ga sempet pegang hapeee Saa...." jawab Rani.


Dan hanya Rani yang memanggil Elsa dengan Sasa.


"Gw denger lo udah pisah sama Toby,beneran?" Elsa bertanya penasaran ke Rani.


"Udah. Gw misah sebelum balik ke jawa. Toby milih ikut orang tuanya, buat nikah sama anak yang lebih paham agama daripada gw Sa.. tapi ya udah lah, gw ga mau nginget lagi..." Wajah Rani yang ceria menjadi sedih.


"Maaf ya Ran...udah lupai aja, terus lo sekarang kerja apa di sana? Basic lo kan akunting, lo kerja kantoran?"


"Ya engga lah Saaa...ga mungkin kali di kampung ada kantor gede kaya kantor gw dulu. Gw usaha tas rotan nih foto sm sample nya. Sama gw usaha anyaman tas belanja gini."


Rani memberikan katalog gambar di ponselnya. Begitu juga dengan tas rotan yang ia bawa.


"Lo share gambar deh, sama spesifikasinya. Terus harga nya berapa." Jawab Elsa cepat.


"Nah...gw demen ngobrol sama lo. Lo itu cepet nangkep, bantuin gw jual ya Sa.. lo bakalan gw kasih harga murah dan gw janji soal kualitas tas gw Sa.. gw bikin sendiri dan gw cek satu - satu.


Tapi gw di kampung, ada pembeli gw yang suka ngeborong. Tapi dia minta harga gila Sa...belum lagi bonus."


Elsa mendengar sambil membuka galeri ponselnya. "Ran...lo bisa jamin ga keaslian Tas lo ini otentik punya lo? Atau paling engga, gw boleh kasih merk ga, dan serial nomer di tiap tas yang lo buat."


"Maksud lo?"


"Gini lho Ran...tas lo gw liat tuh bagus, tapi gw mau nambahin cap dan di bagian dalem nya lo bisa kasih tanda engga. Bahwa ini otentik punya lo dan lo yang bikin."


"Ok, gw minta sample lo 30 item. Masing - masing model kasih tiga warna ya buat gw."


"Banyak banget Sa??"


"Iya Ran, minggu depan di kantor gw ada bazzar. Dan kita kerja sama dengan exportir company. Jadi gw coba aja siapa tau masuk."


Rani terdiam sesaat.


"Tenang....." jawab Elsa. Elsa mengetik di ponselnya dan menunjukan ke Rani.


"Gw bayar lo dua puluh juta ya. Lunas nih, tapi gw harap lo bisa komit. Karena kalo bagus lo juga yang bakalan untung Ran. Tenang Ran, harga lo bakalan gw up tapi gw ga akan makan banyak Ran.."


"Elssaaa...!!! Makasih..." Rani langsung memelul Elsa dengan kuat.


"Ran..stop...anak gw bisa ga napaaasss..."


Rani melepas kan dekapan nya. "Lo hamil? Kapan lo nikah? Kok gw engga di Undang sssiiiiihhhh..."


"Lo berisik sih, haha...engga ran, gw nikah udah satu tahun setengah lah. Tapi kita berdua emang engga share kemana - mana. Kapan deh, gw kenalin...."


Rani hanya mengangguk dan kembali antusias memperkenalkan produk buatan nya. Elsa hanya ingin membantu sahabatnya ini.


Elsa teringat saat ia pertama kali datang ke jakarta. Rani teman yang di kenal nya karena satu kantor dulu. Rani periang dan suka mentraktir Elsa makan dan membeli kan barang ke Elsa.


Tapi sejak Rani keluar dan memilih pindah ke Bandung dengan suami nya, Toby. Semua berubah. Rani menarik diri dari dunia. Teman dan sosial media sama sekali tak di miliki Rani. Karena terlalu lama kurang bersosialisasi tersebut. Maka Rani sulit memasarkan produk buatannya.


Elsa sendiri tulus ingin membantu Rani. Ibu dua anak tersebut kini harus menafkahi sendiri kedua anaknya. Pilihan yang sulit dan ruang yang sulit untuk nya mencari rejeki di luar kampung nya.


*********


Elsa sibuk melihat ke notebook nya. Elsa duduk di atas karpet yang ada di ruang Tv. Elsa mengenakan kacamata antiradiasi.


Rupanya Elsa sedang melihat situs jual beli online. Tapi kali ini berbeda, yang Elsa buka situs luar negeri. Elsa nekat mendaftarkan diri sebagai penjual. Dimana ia harus siap akan pajak dan survey yang di lakukan oleh situs tersebut.

__ADS_1


"Semoga tidak salah ya Allah..." kata Elsa saat menekan upload.


Persis setelah itu Candra datang. Elsa langsung mengangkat kepalanya melihat Candra. "Baru pulang Cand?"


Candra hanya mengangguk. Kemudian meninggalkan Elsa di ruang tv. Candra masuk ke ruang kerjanya. Kemudian duduk dan menutup wajah nya dengan kedua tangannya.


*************


dalam Ruang Private di sebuah restauran Masakan Jepang. terlihat seorang pelayan berpakaian lengkap menyajikan ocha ke gelas masing - masing tamu.


candra dan Om Hendra, senyum bersahabat coba Candra keluarkan. agar sedikit bisa mencairkan suasana.


om Hendra, wajah yang begitu polos. namun menyimpan banyak tak tik dan tipu muslihat. entah apa yang sedang ia susun. tapi jelas terlihat, senyum itu.


senyum yang persis Cristin temukan 9 tahun lalu. saat ia tak punya lagi pilihan, selain menjadi istri dari pria yang lebih pantas jadi paman atau ayah nya sendiri.


"Intinya gini Cand, saya bisa kasi kamu lima M. Lima M lho...asal apa? Kamu kasih saham kamu semua ke saya. Jadi, kamu bisa bayar pinalti kamu dan bisa bayar uang tali asih ke pegawaimu disana." om Hendra menyeruput Ocha hangat.


"Om, apa ga bisa saya di beri pinjaman saja. Daripada harus merelakan nya om, saya mau kerja apa, dan ayah saya saja..." wajah Candra. menjadi panik.


"Candra...candra.... kamu kan tahu, saya engga suka tawar menawar. Mendingan, kamu pikir aja. Nama baik mu atau kamu melihat mereka semua pegawai mu menderita."


Om Hendra pergi meninggalkan Candra. Candra diam dan memandang kuah miso soup nya.


********


"Cand...kamu gapapa?" Elsa menepuk pundak candra.


Candra tersentak dan membuka kedua tangan nya. "El....." candra menarik Elsa dan memeluknya amat kuat.


"Apa yang aku bisa lakuin El...."


Elsa menepuk pundak candra. "Tenang Cand...bagaimana pun kita berusaha, Tuhan lah yang menentukan. Pasrah dan berserah Cand, itu berat.. tapi cobalah."


Entah apa yang Candra sedang lalui. Yang aku tau, ia sedang dalam posisi terpuruk nya. Tapi aku sendiri tak memiliki kekuatan untuk bertanya.


"Cand.. makan malam dulu, aku buat cream Soup dengan garlic bread."


Candra hanya mengangguk, kami kemudian ke ruang makan.


Elsa mengambilkan Soup di mangkok untuk mereka. Toast bread sudah tersaji di atas meja. Elsa menaruh mangkok soup di depan Candra.


"Terima kasih." Jawab Candra.


Elsa duduk berhadapan dengan Candra. Mereka mulai makan malam hari itu.


"Jadi bagaimana dengan reuni kamu?"


"Owh..bukan reuni Cand. Aku cuman bertemu dengan teman ku dulu. Ia menawarkan kerjasama denganku. Jadi, aku bisa mendapat tambahan tabungan untuk persalinanku."


"Apa?" Candra mengoreksi apa yang ia dengar.


"Iya, persalinanku kurang lebih enam bulan lagi. Aku harus bersiap, karena memiliki anak itu, butuh banyak tabungan juga."


Candra kembali terdiam. Aku pun hanya bisa melihat nya tanpa tahu. Apa yang sebenernya telah terjadi.


"Cand. Besok aku mau ke Rumah Ibadah. Apa kamu mau ikut?"


Candra menghentikan langkah nya, "aku lihat besok saja El...aku kembali kerja dulu."


Yah..sepertinya ad ayang terjadi. Candra tak biasanya seperti ini. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Tapi aku jangan gegabah untuk mencari tahu.


jam menunjukan pukul sepuluh malam. aku mengintip Candra, ia masih sibuk dengan layar komputernya. aku mau masuk, raut wajahnya sudah menakutkan. lebih baik aku pergi saja.


Elsa pun masuk ke dalam kamar candra. Elsa menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Elsa lelah dengan kegiatan seharian. apalagi, pinggang nya yang mendadak sering sakit. ia hanya ingin tidur dan mengisi kembali energi nya.


Entah pukul berapa ini, Elsa terbangun. ia hanya melihat pantulan dari balik tirai masih gelap. ini pasti masih malam, Elsa kemudian memejamkan mata lagi.


belum tuntas ia memejamkan mata, terdengar. "ya Allah..aku tahu aku berdosa ada Elsa...tapi apa ini teguran mu. aku hanya ingin mempertahankan perusahaan ku. aku tak mau para pekerjaku harus kehilangan penghasilan....dari mana ya Tuhan, aku harus melunasi itu semua... bantu aku ya tuhan..."


aku mengintip, Candra sedang berdoa bahkan sampai menangis dan berlutut. baru kali ini aku melihatnya begitu tak berdaya. apa yang sebenarnya terjadi Tuhan?


Tak berapa lama Candra menyusul ku naik ke atas tempat tidur. ia menarik selimut naik, tangannya meraih pinggangku. memeluk ku dengan erat. "el...jangan tinggalin aku, jaga anak ini ya. nak..berjanji lah, kamu akan melindungi mama ya... papa akan berusaha semampu papa, kita pasti bisa melewatinya."

__ADS_1


Candra memeluk dan mencium rambutku. pelukannya amat dalam dan hangat malam itu.


__ADS_2