Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 37


__ADS_3

Elsa dan Candra tiba di rumah sakit bersalin di daerah jakarta pusat. Rumah sakit st. Carolus.


Mereka turun dari mobil, Elsa melihat ke sekitar area Rumah Sakit, rasa nya was - was. Takut jika bertemu dengan Dokter Putri. Karena di Rumah Sakit ini Dokter Putri juga praktek dan merupakan dokter senior dan favorit.


Entah mengapa Elsa belum siap memberitahu Candra soal kehamilan nya. Padahal itu bisa menjadi alasan mereka untuk terus bersama. Namun dalam hati Elsa, ia tidak mau bertahan dalam pernikahan jika tak ada cinta dan tanggung jawab.


Candra mengahampiri Elsa, "ayo jalan Elsa.. kayanya ruang There ada disana." Candra menunjuk ruang dengan beberapa gambar dinding kartun khas anak - anak.


Elsa menuruti dan berjalan di samping Candra. Mereka berjalan bersama namun ada jarak cukup jauh, sekitar dua keramik lantai.


"Bisa agak mendekat? Kita seperti sedang perang dingin."


Elsa tersentak kaget dan melihat kebawah. "Oh...okey...." Elsa bergeser satu kotak keramik. Dan mulai berjalan lagi.


Candra mengeleng kan kepala. Kemudian ikut berjalan di belakang Elsa. Mereka berhenti di depan ruang VIP - 2 (Ny. HENDRA S.).


'Ini ruang nya sepertinya.' Elsa berbicara dalam hati.


"Ayo masuk Elsa...." Candra menarik tangan kanan Elsa. Mengajak masuk ke dalam ruang Cristin.


"Selamat Soree..."Candra menyapa ke arah seorang pria dewasa, ya seumuran Om Joko. Apa itu suami Cristin?


Mataku agak melotot melihat mereka. Kontras sekali, wanita seumuran suami ku dengan laki - laki yang lebih cocok jadi ayah nya. Ini mungkin cinta ya? Rumit untuk ku pahami.


"Hallo Candra...apa kabar?" Laki - laki itu bersalaman dengan Candra.


"Hallo Om...selamat ya.. akhir nya launching juga Jayden Hendra.." Candra....senyum palsu itu... aku bisa merasakan.


"Hallo ini pasti Cristin ya.." Om Hendra melihat ke arahku.


"Iya om...eh mas... aduh.. maaf... selamat ya sehat selalu anak dan Ibu nya.." aku menjadi salah tingkah saat akan memanggil.


Telapak Tangan mas hendra bertumpu di depan dada nya. Itu arti nya mas Hendra tidak akan bersalaman dengan Elsa.


Elsa pun membalas dengan hal yang sama.


"Hallo...makasih ya udah datang. Ini kado ya buat si kecil..?" Tanya Cristin yang sedang menggendong Jayden di atas kasur perawatan nya.


"Iya, tapi ini ada sesuatu buat kamu. Mungkin akan berguna." Aku memberi kantung belanja bermotif batik.


Cristin pun menerima dan mengintip. "Ayah, tolong buka ini apa. Aku mau lihat, katanya Buatku..."


Om Hendra mendekati Cristin dan membuka kait penutup kantung belanja tersebut. Kemudian di tarik keluar, ada baju tidur motif batik dan blouse wanita motuf batik.


"Wow...bagus ya ayah?" Om hendra membuka dan menerawang di dekat cahaya lampu. "Iya ini bagus dek, tebal tapi adem. Tidak panas dan.....ada penutup ini?"


"Iya Om, itu baju untuk menyusui." Jawabku cepat.


Wajah Cristin senang sekali, "wah..gw aja belum kepikir lo Els buat beli. Malah udah lo kasih. Makasih ya... akhir nya gw dapet kado juga."


"Ini dari Hendra dan kami, ini buat sikecil." Candra memberikan kotak terbungkus rapi dengan kertas kado ke Cristin.


"Makasih ya Cand.... nitip bilangin ke Hendra makasih yaa..."


Om Hendra mengambil hadiah tersebut dan memberi kami cendera mata berupa bantal. Rupa nya sudah di persiapkan untuk orang yang datang menjenguk.


Tok...tok...tok....


"Iya....." jawab Cristin.


Pintu pun terbuka, rupanya suster yang datang. Di susul seorang yang sepertinya aku kenal.


Dokter...dokter Putri...


Mereka masuk dan mendekati si Ibu muda dan bayi nya. Aku dan Candra bergeser agar memberi ruang mereka masuk lebih dalam.


"Selamat Sore Ibu, bagaimana sudah bisa duduk?" Tanya dokter Putri ke Cristin


"Sudah dok, ini sudah bisa menyusui. Hebat dok, engga sakit bekas operasinya lho..." Cristin antusias menjawab dokter Putri.


"Syukurlah Ibu, besok bisa latihan turun ya pak? Dan ini juga tidak bengkak tangan dan kaki. Jadi aman semua ya pak.. bu..."


"Baik dokter, terima kasih ya Dok.." jawab Om Hendra.


"Iya sama - sama pak..." kemudian dokter tertawa dan melihat kami, aku dan Candra.


"Lho..Ibu sudah sehat?" Tanya dokter Putri kepada ku.

__ADS_1


"Iya dok..apa kabar dok? Better dok, pelan - pelan tetap bisa kok. Bosen kalo di rumah terus." Jawabku singkat.


"Iya benar sekali, oh iya ini suaminya ya?" Dokter Putri menunjuk ke arah Candra.


"Benar dok, ada yg bisa saya bantu?" Jawab Candra.


"Bapak bisa minta waktu sebentar. Karena saya butuh bicara dengan Bapak."


'Aduh mati gw. Candra pasti bakalan tau.' Aku mulai panik.


"Bisa Dok. Mari kita keluar." Candra dan Dokter Putri pergi keluar dan berbicara empat mata.


************


Candra berdiri menyandar ke dinding rumah sakit. Dokter Putri tepat berdiri di depan nya.


"Maaf dengan Bapak?"


"Candra dok, nama saya Candra."


"Baik Bapak Candra, istri bapak sudah memberi tahu kabar bahagia terlebih dahulu?"


"Belum dok..memang dokter kenal istri saya?" Candra mengernyitkan dahi nya.


"Jadi istri anda pingsan di kantor. Kemudian di bawa ke IGD, dan saya kebetulan yang jaga saat itu."


"Kapan dok kejadian nya?"


"Ya baru sekitar seminggu yah, kemudian saya memeriksa. Selamat dulu ya pak, Ibu kandungan nya masuk minggu ke delapan.


Namun, ada nya pendarahan pada saat beliau datang. Membuat saya memeriksa lebih detail. Kemudian saya sudah menyampaikan untuk istirahat total dan minum obat untuk menghentikan pendarahan.


Saya harap setiap cek bulanan bapak datang menemani ya.."


Candra diam dan tak percaya apa yang di dengar nya. "Apa dok? Istri saya hamil?"


"Iya pak, hasil usg pun sudah ada. Mulai terbentuk embrionya. Dan trimester awal ini yang bahaya. Apalagi dengan riwayat pernah keguguran pak. Saya harap Bapak jadi suami siaga untuk Istri." Dokter Putri menjelaskan kasus Elsa.


"Dok..saya tu masih ga percaya. Karena prof Amin, yang biasa tokcer soal kehamilan.. saya udah berobat sama istri tidak kunjung hamil. Tapi..istri.." Candra terbata menjawab dokter Putri.


"Pak..kalau Allah sudah menggariskan. Bapak bisa apa? Yang jelas saya wanti - wanti sangat ya pak. istri nya untuk cukup makan dan istirahat. Jika ada pertanyaan bapak bisa datang saat saya praktek pak. Saya permisi dulu." Dokter Putri kemudian masuk ke dalam ruang Cristin dan berpamitan.


Kemudian aku melihat Candra persis di sampingku. Memandang ku dengan tatapan penuh emosi. Aku tau sebentar lagi, Candra pasti akan menarik ku. Dan saat sampai di apartemen, ia akan membanting ku dan menamparku.


"Ayo kita pulang, saya butuh bicara sama kamu." Kemudian Candra berpamitan kedalam.


**********


Perjalanan ini begitu hening. Aku diam dan memandang jalanan kota jakarta malam ini. Entah apa yang akan di lakukan Candra kepadaku. Aku hanya bisa pasrah dan menunggu.


Kami berhenti di sebuah restauran korea bbq. Candra memarkir persis di depan pintu masuk. "Ayo makan dulu,sambil berbicara."


Aku turun perlahan dari mobil dan berjalan masuk. Candra menyusul di belakang ku. Aku memilih duduk dekat jendela. Rasanya lebih nyaman saja makan sambil melihat mobil lalu lalang.


Pelayan datang dan memberikan menu untuk kami. "Saya mau premium set 4. Chicken breast 1 dan nasi putih 2. Untuk minum mineral water 2."


"Baik bapak minum nya dingin atau tidak ya?"


"Tidak. Terima kasih." Jawab Candra singkat.


"Permisi saya ambil menu nya pak." Pelayan mengambil buku menu dari tangan kami.


Entah lah, aku rasa nya pasrah dan tak ingin berdebat. Aku pasrah Candra mau memberi makan apa kepadaku.


Kami sibuk dengan ponsel kami sendiri. Kadang aku ingin rasanya membaca atau mengetahui. Apa yang Candra buka, atau siapa yang menghubunginya. Tapi aku langsung sadar...aku ni siapa??!


Pelayan pun datang membawa makanan kami. Ada 3 set daging premium, dua sayuran seperti lalapan ya kalau biasa kita lihat dan Dan dua mangkuk nasi putih hangat.


Candra menyalakan kompor pemanggang di tengah meja. Kemudian mengambil beberapa potong daging dan mulai memanggan. Zzzzzzttt....


Begitulah suara ketika daging segar yang bersentuhan dengan pan panas.


Segera bau harum tercium, perut ku langsung bergoyang. Aku tak sabar ingin makan daging sapi import ini. Kemudian aku mengambil sumpit dan mengambil daging di depanku yang mulai berganti warna menjadi sedikit coklat pucat. Aku sudah membayangkan rasa nikmat daging yang segar dengan juicy khas daging yang keluar begitu aku mengunyah nya.


Aku mengambil sumpit dan mengarahkan ke daging yang sudah ku incar.


"Eh..." aku kaget ketika sumpit Candra menahan sumpit ku.

__ADS_1


"Makan lah sebentar lagi. Tunggu matang sempurna."


Aku cemberut menaruh kembali sumpitku. Aku melihat ke layar ponselku lagi.


"Kamu kan sedang hamil, tolong lah...sayang ke anak kita."


Aku langsung memandang kedua mata Candra. Kita? Apa maksud dengan kita?


"Kamu boleh benci atas apa yang aku lakuin. Kamu boleh marah dan membenci apa yang aku lakukan dari masa lalu hingga saat ini. Tapi Elsa.. kamu harus ingat.


Anak itu tidak meminta untuk ada di rahim mu. Allah memilih kamu dan menitipkan nya. Tolonglah jaga dia."


Kedua mataku berkaca - kaca. Ya...aku memang membenci Candra, apalagi yang sudah dia lakukan, apa yang sudah aku lalui. Tapi aku juga tak sanggup untuk meninggalkan dia.


"Elsa...tolong lah, pertahankan anak itu. Aku tidak mau kehilangan lagi. Begitu sulit dan berat untuk kita mendapat keturunan. Tolonglah Elsa...."


Baru kali ini aku melihat Candra memelas. Nada nya begitu lirih, begitu dalam dan sorot matanya begitu meyakinkan ku. Bahkan aku tak sanggup berkata apa - apa. Aku hanya mengangguk.


************


kami berjalan dari lift menuju flat(apartemen) Candra. aku berjalan di depan Candra. kemudian aku menempelkan kunci dan masuk ke dalam.


aku meyalakan lampu dan melepas kedua sepatuku. argh...kakiku sakit sekali, aku berdiri berpegangan pada meja di balik pintu. tangan kananku memijit tumit kakiku. pinggangku juga mulai sakit. rasanya aku ingin merebahkan seluruh badanku.


Candra masuk ke dalam apartemen, melihatku bertumpu dan memijit kaki ku. "kamu kenapa Elsa?"


"Engga tau Cand, pinggang sama telapak kaki ku sakit. betis ku juga agak kram..argghh!! sakit sekali.." aku mencoba perlahan berjalan menuju kamar ku.


rupanya betisku semakin kram. ak hampir terjatuh ke arah kanan. "ELSA!!!" Candra dengan cepat menahan badanku.


tangan kirinya mengangkat kedua kakiku. Canda memapah ku, kedua tanganku melingkar di pundak Candra. "Elsa...sudah ayo pegang yang kuat ya, aku akan hati - hati membawa kamu. pegangan ya."


aku kembali mengangguk, aku memandang dengan amat dekat wajah lelaki ini. lelaki yang selalu memberi candu di hidupku. tubuh nya begitu hangat, otot tangan nya begitu kuat mengangkat ku. aku bahkan tak sanggup berkata apa - apa.


Candra membawa ku ke kamar nya, kamar utama di unit ini. Candra membaringkan ku perlahan. Candra keluar seperti mengambil sesuatu dari kamarku.


rupanya Candra kembali dan mengambil bantal dari dalam kamarku. Kemudian di letakan di atas kedua kakiku. "bantal ini harus kamu pakai malam ini El. biar kram kamu agak berkurang. dan aku ambil balsam Vicks ya."


Candra meninggalkan ku lagi sendiri di kamar. Tak berapa lama Candra kembali dan membawa balsam dengan wadah berwarna biru tersebut. Candra duduk di dekat kedua kakiku.


Candra membuka balsam tersebut dan mengoleskan ke betis kanan ku. di urut perahan kaki ku. di pijat lembut kedua kakiku, hingga tumitku agak lebih enakan.


sekitar 10 menit Candra memijitku, aku jadi merasa sungkan. kemudian aku meminta nya menyudahi saja. "sudah Can. sudah enakan kok. cukup, nanti tangan kamu yang capek."


kemudian aku bergeser sedikit ke atas. untuk menarik kakiku agak sedikit turun. "aduh..aduh..aduh...aduuh...."


"kenapa Elsa...!!" Candra panik langsung menghampiriku dan memegang kedua lenganku.


"engga papa Candra, pinggang ku hanya sedikit sakit dan sulit aku gerak kan."


"udah, kamu disini aja. aku ambilin baju ganti dulu."


kemudian Candra pergi keluar dan meninggalkan ku sendiri. aku masih kaget dengan apa yang di lakukan Candra malam ini.


sekitar 10 menit kemudian Candra datang. ia membawa baskom kecil, handuk dan aku lihat ada baju ku juga.


"kamu mau ngapain?"


"menyeka tubuhmu, sama gantiin baju."


Candra kemudian membuka pakaian bagian atas nya. oh gosh...tubuh nya, aku rasanya sangat bernafsu ingin merabanya.


"kamu kok malah buka kaos segala?"


"panas..." kemudian Candra menarik baju ku ke atas.


aku menutupi area dada ku. aku masih malu kepada Candra.


"ngapain di tutupin sih, udah tau rasa dan bentuknya juga." kemudian Candra hendak membuka kait bra ku.


"aku bisa lakuin itu Cand... aku hanya sakit pinggang, aku bisa membersihkan diri ke kamar mandi."


"tapi aku tidak mengijinkan nya! sudah diam dan nurut aja Elsa. aku ga bakal ngelakuin kok malam ini, kasian anak ini. dia pasti lelah dan ingin tidur." Candra mengelus perut ku.


aku menunduk dan pipi ku berubah jadi merah. Kemudian Candra kembali menyeka tubuhku, kemudian mengeringkan dengan Handuk kecil.


Candra mengambil baju tidur model daster milik ku. aku membantu Candra memakaikan ke tubuhku, saat aku hendak mengangkat pinggangku. "aduh..aduh..."

__ADS_1


"perlahan Elsa...tahan sebentar.." aku meletakan kembali pinggang ku.


__ADS_2