
Elsa masuk ke dalam restaurant. Ia menoleh kekanan dan kiri.
"Selamat siang Ibu.. Bisa kami bantu?" Pelayan dengan nama Eko menyapa Elsa.
"Saya itu nunggu temen saya, tapi.. Oh dia disana." Elsa menujuk ke sudut dalam restaurant.
Elsa meninggalkan pelayan, ia mempercepat langkah nya.
Yeslin pun berdiri dan menyambut Elsa....
"Elsaa...gw kangen sama lo.." Ucap Yeslin.
"Elsa... Finally kita bisa ketemu. Lo tau kita kepikiran Lo gimana...." Olla ikut berdiri dan menepuk pundak Elsa.
Mereka pun melepaskan pelukan. Elsa kemudian duduk di tengah sahabatnya.
"El...lo gimana sekarang disini? Gw kaget parah waktu denger lo dapet Candra. Anak cowo yang aneh kalo ngeliatin lo dari jaman SMA." Tanya Yeslin
"Iya bener.. Apa dia tu suka sama lo dari SMA?" Olla mencecar pertanyaan.
"Gaes... Gw rasa engga... Dia itu nikah sama gw bukan karena cinta. Tapi papa dia itu utang budi sm mama - Papa. Punya ide gila buat nikahin anak mereka.."
"Ih..gw ga percaya lho! Buktinya lo aja sampe hamil gini. Gw ga percaya El..."
"Yes.... Lo tau, ga perlu orang ngelakuin terus bisa hamil kaya gw." Jawab Elsa santai sambil membaca menu.
"Eh pesen dulu deh...lo jadi mau bistik yang biasa?" Olla mencatat pesanan mereka.
"Yes...sama fresh lemon ice ya..." Jawab Elsa.
"Okei.. Gw kesana ya...tunggu ceritanya...."
Olla beranjak dari kursi. Ia berjalan ke arah kasir dan memesan semuanya. Olla yang menjadi boss pada hari itu.
Elsa tersenyum, yeslin sibuk meneriman panggilan dari ponselnya. Semua dengan urusan masing - masing.
Elsa menoleh ke meja sebelah. Sepasang keluarga muda dengan 1 anak. Mereka tampak bahagia, sang suami bergantian mengurus anak mereka.
Elsa hanya berbicara 'apa bisa aku dan... Alah sudah lah, dia tidak mencintai kamu...'
"Ngelamun aja!!" Olla mengagetkan Elsa.
"Olla... Ngangetin muluk!"
"Gw bayar berapa?"
"Alaah...simpen aja duitnya.. Gantian bayarin gw lain waktu.
"Siyap nyonya Boss toko Emas..." Elsa menggoda Olla.
"Finally kali gw di lamar. Pacaran udah mau 10 tahun, kaya kredit rumah..." Mulut olla maju 5 centi. Cemberut dan bete, tiap kali ia membicarakan soal pacarnya.
"Gaes maaf ya...tukang gw baru, nyasar ngirim barang..." yeslin tiba - tiba muncul.
"Iya udah duduk sini...." Elsa bergeser sedikit.
"Foto dulu yuk...." Olla mengeluarkan ponsel nya.
Ponsel keluaran terbaru dengan harga setara motor baru. Dimensi kamera yang tinggi.
*******
Sudah pukul 7 malam, Candra menunggu Elsa di depan tv. Channel tv sedang di acara CIS. Membahas soal pembunuhan misterius, namun Candra lebih tertarik memandang ponselnya.
"Kok engga telpon sih... Lo ngerti jam engga sih.. Ini jam berapaaa...."
Kesal! Ya.. Itulah rasa hati Candra saat ini.
10 menit berlalu....
Suara kendaraan berhenti di depan rumah Candra. Ia pun mengintip dari balik jendela.
"Elsa...!!"
Elsa melambaikan tangan ke arah teman nya. Ia pun merasa bahagia sekali, bisa berjumpa kawan lama nya. Sahabat tempatnya berbagi.
Elsa berjalan ke arah pintu masuk rumah .
Ctak...ctak.. (Suara kunci pintu)
Candra membuka pintu dan berdiri di hadapan Elsa.
"Kenapa kamu baru pulang?!" Tanya Candra ketus.
"Candra ini udah malam. Boleh saya masuk?"
"Kamu ga jawab pertanyaan saya!"
Elsa menghela nafas, "bisa kita bicara di dalam saja? Ini di luar. Saya malu tetangga akan mendengar."
"Saya engga malu." Candra tetap pada pendiriannya.
"Baiklah! Saya baru pulang karena kalo perempuan sudah berkumpul mereka pasti akan lupa jam.. Dan saya juga pergi dengan Olla dan Yeslin. Cukup?"
Candra kehabisan kata - kata. Ia merasa konyol dengan keadaannya. Candra berdiri diam dan memandang istrinya,dengan kedua tangan yang melipat ke arah dada nya.
"Permisi,saya mau cuci - Cuci.." Elsa meninggalkan Candra yang hanya diam mematung.
__ADS_1
Elsa tak habis pikir ada apa dengan suaminya. Ia melenggang masuk dan melewati meja makan.
Disana ada dua piring steak dengan saus black paper kesukaan Elsa. Juga ada segelas teh hitam kesukaan Elsa.
Elsa pun diam memandang meja tersebut. 'Ini rupanya.. Kenapa kamu engga bilang aja to the point Cand'
Candra menyusul Elsa masuk ke dalam rumah. Ia melihat Elsa berdiri di dekat meja makan. Namun Candra binggung, ingin mengawali pembicaraan apa.
Lebih tepat nya ia malu.
Elsa menoleh kebelakang, "buat kita?"
Candra hanya mengangguk, Elsa menutup matanya dan mengela nafas.
"Makan dulu aja, aku mau istirahat."
"Kalo kamu engga mau makan. Aku juga engga makan, biar saja di atas meja. Mari istirahat, sudah malam."
Candra pun berjalan melewati Elsa masuk ke dalam kamar mereka.
Elsa hanya diam dan memandang ke arah meja. 'Apa susah nya untuk jujur Candra...'
Setelah beberapa menit....
Elsa keluar dari kamar mandi. Ia telah siap dengan baju tidurnya. Elsa melihat ke arah tempat tidur.
Candra terlihat seperti tidur. Ia membungkus dirinya dengan selimut hingga menutupi kepalanya.
Namun Elsa paham, tak mungkin Candra tidur seperti itu.
Ia mendekati Candra, dan berbaring di samping nya. Elsa menarik selimut, "bagi dong biar engga dingin."
Candra diam, perutnya amat lapar. Ia menahan lapar demi menunggu Elsa kembali. Namun gengsi baginya untuk mengajak Elsa makan.
Kruyyuuk....kyyuuuk...
"Suara apa tuh??" Tanya Elsa.
Candra diam dan makin menenggelamkan wajahnya kedalam bantal.
"Can...Candra......" Elsa menekan - nekan pundak Candra.
"Apa sih?!" Jawab Candra keras.
"Kamu lapar?" Tanya Elsa setengah menggoda.
Candra kembali hanya mengangguk. Candra bangun dan duduk di hadapan Elsa.
Elsa mendekati Candra, ia mengecup pipi Candra.
"Kamu tu lucu hari ini, ayo makan. Aku temani kamu..."
Ia menghidupkan microwave dan memasukkan piring tersebut. Tak lama menunggu sudah kembali hangat steak mereka.
Candra menyusul Elsa ke ruang makan. Elsa telah menyiapkan hidangan malam itu. Elsa duduk di salah satu sisi kursi yang ada.
Candra duduk di hadapan Elsa. hanya ada 4 kursi yang saling berhadapan. meja yang minimalist untuk keluarga kecil masa kini..
Elsa meletakkan piring dan peralatan makan di hadapan Candra. pandangan mata Candra antara malu dan marah.
ia mencoba menutupi rasa malu nya dengan memonyongkan bibir nya. malu rasanya mengakui perutnya bergenderang pagi itu.
Elsa duduk dan mulai mengambil suapan pertama. ia kemudia melirik Candra, sunguh seperti orang kelaparan. candra cepat sekali mengunyah steak dan potato wedges di hadapannya.
"cand...take it slow.. lo bisa tersedak Cand.. pelan ajah, gw ngeri ngeliat lo makan begitu... uhm...emang lo beneran belom makan?"
candra meletakkan garpu dan pisau di atas piring. ia mengunyah sisa makanan di mulut nya.
"iya gw makan terakhir siang tadi. gw laper tapi.. Kamu kemana aja?! kenapa pulang jam segitu??"
nada bicara Candra berubah tinggi dan marah.
"candra.. aku cuman ketemu temen SMA. kamu pun paham bagaimana perempuan jika bertemu. sudahlah Candra..."
"sama sekali tak ada pria ? kalian perempuan semua?" Candra mengernyitkan dahi nya.
"iya Candra Aditya. hanya perempuan.... baiklah ini salahku, kenapa aku tidak membalas panggilan mu. aku hanya merasa senang bisa berbicara dengan teman baikku. terima kasih Cand.."
Elsa pun berdiri dan membereskan piring makannya.
Elsa menuju dapur dan meletakkan piring tersebut ke wastafel. ia mengambil sarung tangan karet berwarna orange. lalu mengenakan nya dan mulai mencuci piring.
tangan Camdra menyusup dan meletakkan piring di dalam wastafel. lalu Candra memeluk Elsa dari belakang. ia berbisik...
"maaf kan aku, aku begitu khawatir dan cemburu. aku engga mau kamu pergi dari sisi ku...."
lalu Candra mencium kepala Elsa, harum shampoo dan sabun yang membuat Candra merasa nyaman. ia menyandarkan kepalanya ke Elsa.
Elsa hanya diam dan mengigit bibir nya. ia tak tau harus berkata apa. suami nya kini begitu posesif namun ia seperti lupa. bagaimana Cristin selalu mengganggu mereka.
*************
"bisa kan!? kita lebih serius ngomong soal dekorasi?! udah tinggal 3 bulan Tian...." nada suara Rachel meninggi.
mereka sedang berada di sebuah Cafe. mereka meeting dengan vendor untuk acara pernikahan mereka. namun Christian malah sibuk dengan tablet dan pekerjaannya. ia nampak tak suka berada di ruangan tersebut.
"Tian!" Rachel memanggil dengan kasar.
__ADS_1
"bisa kamu memanggil dengan lembut sedikit? kamu itu memanggil kekasih mu atau pembantu?" Tian masih tak acuh ke Rachel.
"Christian, sayang ku... kenapa kamu engga mau komentar apa - apa? bukan kah..."
"bukankah yang mau menikah kamu? dan pernikahan ini juga mau nya kamu bukan saya. jadi kalo kamu mau buat pesta model apapun silakan. tapi kamu inget! saya sepeser pun tak akan sudi mengeluarkan uang untukmu!" Christian memandang Rachel tajam.
Rachel diam dan menggertakkan gigi nya. wajah nya merah, ia malu dengan apa yang dikatakan Candra.
"mohon maaf kak, apa kita atur ulang saja pertemuan ini?" ucap salah seorang dari anggota vendor.
"TIDAK!!" Rachel berteriak, matanya melotot. hampir saja keluar dari bola matanya.
"ehem...maafkan saya dan Rachel. mari dilanjutkan saja." Ucap Christian.
kemudian Christian menoleh ke Rachel. "silakan kamu lanjutkan, saya mau merokok sebentar. kepala saya pusing."
Christian berdiri dan membawa tabletnya pergi. ia memilih ke smoking area di luar Restaurant.
Christian duduk di salah satu sudut. ia menyalakan pematik api dan mengarahkan ke ujung Rokok berwarna biru itu.
busssh..... asap di hembuskan Christian.
'bahkan aku tak Pernah merokok. sejak bersama J*lang itu hidupku hancur.. oh Elsa.... andaikan saja aku punya keberanian. bukannya hanya mementingkan Egoku semata...'
Kring....kring....
Christian mengambil ponsel nya. ia menekan panggilan masuk.
"hallo....Yeslin....ada yang gw bisa bantu?"
"christ..... fix lo mau nikah sama itu uler?" suara di ujung panggilan.
"hmm..... gimana lagi, Elsa udah sama Candra. gw udah engga punya harapan. harusnya gw denger waktu lo bilang kalo gw mesti jujur sama perasaan gw."
"lo itu masih punya harapan.. Elsa kan nikahnya kontrak kalo gw engga salah inget. abis kok sekitar 6 bulan ini. tapi soal Rachel gimana?"
Christian terdiam dan berfikir cepat. ia ingin kembali kepada Elsa. menebus segala kesalahannya, menebus kebodohannya.
"gampang soal Rachel. gw bisa handle dia, tapi pasti Elsa ngga bakalan kembali kepada Candra?"
"nih ya gw kasih tahu lo, mereka itu kontrak doang nikahnya. gw juga paham banget kalo Cristin itu nyanduin ke Candra. dari mereka kecil Cristin itu selalu jadi pahlawan buat Candra...
itulah juga kenapa Candra masih ngejar Cristin. bahkan yang gw tau, mereka itu udah pernah tinggal bareng. makanya gw sebagai sahabat Elsa engga ikhlas.
lahir batin gw engga Ridho. jangan Candra lah, dia itu sama pilihan aja engga bisa tegas..."
kalimat Yeslin membuat Christian yakin untuk kembali merebut Elsa. kali ini ia tak ingin gagal, harus berhasil.
"yes..ehmm....lo tau dimana Elsa sekarang?"
"ya tau lah! gw kemarin abis reuni kecil. ada Olla juga. Elsa itu sekarang di Semarang, dia mau menyendiri..."
"ok. gw bakal nyusul Elsa..."
"tunguu!" yeslin menahan Chritian.
"Candra ada di deket dia. better lo hati - hati ya... walo Candra udah berkuasa dan punya banyak duit kata dulu. tapi secara hukum dia masih suami Elsa...."
"okei Yes.. gw bakalan perlahan buat merebut Elsa. kali ini gw engga akan gagal."
"gw tutup ya, suamu gw datang. byee..."
Yeslin menutup panggilan.
Senyum... senyum Christian terurai penuh arti. ia seperti merencanakan sesuatu yang tak baik. namun Ia ingin bermain dengan cantik.
*******
"telpon siapa ma?" tanya suami Yeslin, nico.
"Christian, mantan Elsa."
"buat apa kamu ngehubungi dia?" nico mengernyitkan dahi.
"mau ngasih tau, kalo ada Elsa disini dan Elsa itu engga nikah pake hati ke Candra. jadi si Tian punya kesempatan." ucap yeslin sambil bermain game di ponselnya.
"mam... better kamu engga terlalu ikut campur deh, itu rumah tangga mereka lho... dan hati mereka juga kamu engga bisa menilai lho."
"iya iya.... aku tau ngga usah ngomong terus."
nico menggelengkan kepala nya.
"kamu kalo di kasih tau pasti begitu. sudahlah Mam, jangan ikut campur. nanti ada balasannya. mereka juga masih menikah. bukan nya kamu support mereka buat barengan terus. malah kamu jadi kompor buat orang lain."
Yeslin meletakkan ponsel nya di atas meja ruang tamu.
"papa tersayang.... aku itu engga mau Elsa sedih. dia itu udah cukup buat nangis. ia bahkan pernah melalui masa sulit nya sendiri!
Inget kan waktu kita dulu nganter dia pingsan? ternyata apa? dia hamil tapi Candra lepas tangan gitu aja.
sekarang mereka berumah tangga.. tapi apa? kontrak gitu? temen ku bukan rumah Pap.."
Nico membetulkan kacamatanya yang melorot. "papa paham Mam... tapi aku engga suka kamu ikut Campur begitu. segala telpon ke Tian buat ngasih info yang menurut papa engga penting ma...
tapi kalau kamu engga bisa di kasi tau ... ya silakan, kalau ada apa - apa, jangan panggil papa..."
Nico meninggalkan Yeslin sendiri. Nico lebih memilih untuk main game Playstation di kamar. ia sebetulnya tidak suka dengan apa yang yeslin lakukan.
__ADS_1
bukan lagi soal sahabat, namun banyak hal pribadi yang harusnya biar mereka yang menjalani yang berfikir.