
Pagi ini aku telah mulai kembali pada rutinitasku. Masih jelas teringat bagaimana Candra memilih kembali ke jakarta daripada bersamaku hingga mama 7 hari kembali ke Sang Pencipta.
Aku menegaskan sikapku, aku harus bisa melepaskan Candra secara total. Sudah saat nya aku untuk bahagia.
"Permisi...Ibu Elsa....maaf menganggu..saya mau memperkenalkan IT manager baru." Pak Zaenal masuk ke dalam ruanganku. Di belakang nya ada seorang pria berdiri mengikutinya.
"Oh..iya pak...silakan..." mereka masuk dan itu Tian....benar Tian....
Kami saling berpandangan dan tak berbicara apa - apa. "Ini Christian Ibu."
Kami bersalaman, "Tian." "Elsa."
"Baik bu...saya lanjut dengan Bapak Tian dulu. Ayo pak..." mereka keluar dari ruanganku, meninggalkan ku yang masih tak. Percaya apa yang aku lihat.
Siang ini, aku memilih makan di kantin tempat kerjaku. Aku makan sendiri dan sibuk melihat channel youtube dari beberapa orang yang memasak.
"Boleh duduk sini?" Menunjuk kursi kosong di hadapanku.
"Silakan...." aku tak melihat siapa dia.
"Sibuk banget...lihat apa sih?" Aku kemudian menekan tombol pause. Kemudian aku melihat siapa dia.
Mataku melotot, "Tian...?"
Tian hanya tersenyum, "kamu udah lama kerja disini?"
"Oh..baru 9 bulan lah...masih dini....ehm....kamu sendiri apa kabar?" Aku mencoba mencairkan suasana.
Tian meletakkan sendok dan garpunya. "Aku baik,oh iya aku turut berduka cita. Aku ga tahu kalau mama kemarin pergi."
"Its ok tian...Terima kasih.." aku tersenyum simpul dan melanjutkan makan siangku.
"Kamu sudah menikah?" Aku menandang tian, "sudah. Sudah sejak setahun lalu. Minggu depan satu tahun usia pernikahan kami. Kalau aku tidak salah ingat kamu sudah pernah kan bertemu dengan suamiku?"
"Oh iya? Apa kamu sudah memiliki anak?" Pertanyaan Tian sangat to the Point.
Aku menghentikan acara makan ku. "Belum. Mungkin Tuhan memberi aku waktu untuk fokus menata karir ku dulu.." 'Tak mungkin aku bercerita semua nya.'
"Oh iya tian, saya duluan. Masih banyak pendingan saya, jadi silakan di lanjut. See you.." Aku mengambil piring dan gelas bekas ku. Berjalan menuju wastafel dan mencuci sendiri. Kami memang terbiasa mencuci sendiri seluruh alat makan kami.
*********
Pukul 11 malam, dan aku masih ada disini. Masih berteman dengan banyak sekali berkas dan jurnal yang setia memaniku.
Ada notifikasi di komputerku.
Martha \= Dek udah pulang? Bulan depan 3 bulan mama kamu pulang?
Aku tetap melanjutkan pekerjaanku. Tetap menghitung semuanya, tetap mencari apa yang harus aku siapkan. Aku terus menikmati semua nya ini. Hingga pukul 02.00 pagi.
"Akh...aku lelah....." aku kemudian mematikan komputerku. Dan bersiap pulang membawa beberapa tas kecil berisi berkas.
"Selamat malam Bu Elsa. Saya cek dulu tas nya."
"Baik pak." Security memeriksa tas bawaanku. Kemudian aku mengambil kembali dan berjalan keluar. Aku memilih menumpang antar - karyawan dengan teman - teman ku.
aku berjalan menuju lift, masuk dan naik ke atas. Aku keluar lift dan berjalan menuju apartemenku. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.
Hmm...aku hampir sebulan lebih tidak pulang ke sini. Perutku mulai kram lagi, aku mengambil obat dari dokter putri. Tapi obat lain juga ikut terambil dari dalam tas ku.
Aku kemudian mengingat, betapa menurut aku dengan perintah Candra kala itu. Betapa percaya aku bahwa kami bisa memulai dari awal...
*di kota lama semarang*
"Elsa...aku bicara ayo bicara sebentar. Kita cari tempat duduk." Candra menarik tangan ku, membawaku ke sudut diantara bangunan disana. Kami duduk di sebuah kursi kayu panjang.
"Els....sebelum nya aku mau minta maaf dulu....." Candra menarik nafas panjang.
"Kamu pasti sudah tahu, bahwa aku orang yang amat tertutup. Aku bahkan dari kecil tidak pernah punya banyak teman. Sejak Hangga lahir, mama - papa fokus pada Hangga. Aku cukup bodoh untuk sadar bahwa mama sakit cukup keras setelah kelahiran adik ku.
Aku yang biasa kemana pun dengan mereka, saat itu hanya tinggal di rumah dengan Pak Toni.
Bahkan dia sudah ku anggap sebagai pengganti ayahku." Candra berhenti dan melihat ke langit semarang siang itu.
Langit yang begitu terik, "aku sendirian kesana sini, sepi...hanya Hendra yang menjadi temanku. Hingga suatu saat tetangga sebelah rumah ku datang untuk memberi kue selamat datang. Mereka punya anak perempuan se umuran dengan ku."
Aku langsung memotong, "dan dia Cristin?"
"Ya....benar...saat itu Cristin seperti oase di gurun pasir buat ku. Dia mulai memaksaku main keluar rumah. Mengajakku berani untuk bertemu banyak orang. Aku merasa amat senang, hingga tiba masa nya.....
Aku harus memilih, ikut mama atau papa. Pilihan yang berat untukku, mereka orang tua yang aku sayangi... tapi aku akhirnya memutuskan bersama mama.
__ADS_1
Pertama hal yang berat...
Karena aku juga harus berpisah dengan Cristin..."
Aku masih mendengarkan Candra. Baru kali ini ia mau berbicara banyak hal ke aku.
"Tapi...entah kenapa Cristin selalu datang ke rumah mama. Membawakan makanan, jajanan dan mengajak kami jalan - jalan. Cristin tidak merasa jijik datang ke rumah kami. Yang notaben nya di gang sempit dan kumuh.
Saat mama meninggal Cristin juga yang selalu menemaniku.....
Hingga aku merasa berhutang budi padanya..
Cristin selalu menghiburku dan menemaniku.....
Setelah kepergian mama, aku bersumpah....aku tidak akan meninggalkan Cristin...
Aku juga akan selalu siap sedia di samping nya kapan pun ia butuh aku..."
Hatiku kok merasa sedih ya? Laki - laki yang begitu keras. Bisa melewati hal yang sedemikian berat nya.
"Aku kaget ketika ia memutuskan menikahi teman papa. Hanya karena hutang dan demi memberi hak dari karyawan ayah nya.
Kamu tau?" Candra menoleh ke arahku.
Aku menggelengkan kepala...
"Saat itu papa menikahi Rubby dan mendaftarkan pernikahan mereka. Jauh sebelum nya rubby melahirkan seorang anak, tapi aku tak pernah bertemu dengan nya.
Aku hanya meminta sedikit uang untuk membantu Cristin...
Tapi papa malah mengirimku keluar negeri. Dia bilang aku anak ga bisa apa - apa. Percuma dengan uang yang akan di beri papa...."
"Candraa...." aku menepuk pundak Candra...
"Dalam keadaan kesedihanku, kita bertemu Elsa. Aku masih ingat bagaimana cara kamu berpakaian. Anak perempuan yang paling sopan dan apa adanya saat itu.
Aku masih ingat ketika ada Pentas Seni di sekolah kita.
Semua berdandan maksimal di acara itu. Dengan rok mini, celana hotpands, baju ketat dan menunjukkan aurat mereka. Bahkan make up yang menurutku lebih mirip tante - tante....."
"Oh iya? Aku malah lupa, malu juga kalau membuka album foto kala itu Cand..." kami pun tertawa.
"Tapi aku melihat kamu datang amat bersinar. Dengan celana jeans biru, baju berkerah warna putih, cardigan hitam dan slempang warna hitam.
"Sudah sering aku melihat kamu, tapi malam itu entah mengapa aku begitu tertarik kepada mu. Hingga aku memberanikan diri mendekatimu. Tapi...belum maju, pacar kamu sudah datang. Kalau tidak salah Cristian ato Christian namanya. Anak laki - laki yang jadi model sekolah kita."
"Iya...dia amat tampan di antara angkatanku. Tapi...terlalu meninggalkan sakit buatku juga...akhir nya aku belajar, dalam suatu hubungan Tulus aja engga cukup. Setia juga ga cukup......"
Mataku mulai berair, masih terasa luka yang amat dalam waktu itu.
"Rachel?" Aku memandang Candra dan mengangguk.
"Kamu tidak tahu? Bagaimana pesona kamu. Aku mengumpulkan beribu keberanian untuk berkenalan denganmu di acara reuni."
"Tunggu....tunggu dulu...bukan kah kamu membuatku sebagai ajang taruhan?" Mataku memicik ke arah Candra.
"Itu hanya sebagai alasanku, Surya berjanji akan memberikan imbalan 10juta. Dan aku butuh uang itu untuk membantu Cristin. Meski pada akhirnya, uang itu malah aku gunakan buat kamu.
Aku tak kuasa melihat kamu susah dengan keadaan saat itu. Makan saja kamu tidak sanggup Elsa.....
Aku memberi uang itu ke pihak Bank. Agar mama tidak di datangi lagi oleh penagih....
Tapi...aku kemudian harus menuruti apa yg di mau papa. Aku pergi ninggalin kamu dan Cristin tanpa berpamitan dulu...."
"Owh begitu..tapi kenapa Pak Toni begitu kaget melihat aku menjadi pacarmu?" Aku masih menanyakan pertanyaan yang mengganggu pikiranku selama ini.
"Karena kamu itu mirip mama! Fisik kamu waktu itu mirip sekali dengan mama. Dan aku tidak pernah berpacaran dengan perempuan selain Cristin." Candra menunduk cukup lama.
Aku tak sanggup berkata apa pun. Kami saling terdiam.
"Maaf Elsa..."
Aku menoleh ke arah Candra. "Maaf karena membawa kamu masuk terlalu jauh ke hidupku. Akan segala ke rumitan ku....
Maaf karena kebodohanku membuat masa depanmu hancur, menorehkan luka dan trauma sebegitu dalam....
Tulus dari hati, aku engga mau kita berpisah...(candra memandang ke langit lagi).
Dalam perpisahan kita dulu, amat dalam kerinduan ku Elsa....amat sangat...
Dan saat kita pertama bertemu, aku merasa Alam pun ikut dalam pertemuan kita..."
__ADS_1
"Candra....kamu percaya kalau orang yang tidak kamu pilih sebagai cinta di hatimu.. adalah pilihan Sang Pencipta untuk kita?"
"Ya....saat ini aku percaya.... aku amat berdosa ke kamu Elsa.....aku membiarkan kamu sendiri melewati semuanya. Aku terlalu naif saat kita bertemu kembali.
Dan aku begitu kejam kepadamu. Mengekang dan membatasi dirimu, tapi aku sendiri bebas semau aku sendiri." Candra memandang ku, memegang kedua tanganku.
"Elsa...beri aku waktu, waktu untuk membereskan segala urusanku. Dan memantapkan hatiku. Setelah semuanya, aku berjanji....hanya akan ada kita berdua dan anak kita nanti.... aku berjanji...."
********
Kepalaku berat sekali, rasanya seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Aku memaksa mataku untuk terbuka. Aku memandang jam dinding pukul 07.00 pagi.
Aku harus bangun, hari ini ada audit yang harus aku hadapi. 3 minggu ini banyak audit yang harus aku hadapi. Demi tanggung jawabku, aku harus menyelesaikan dan mengahadapi semuanya. "Ohh Tuhan...bantu aku...." aku meyangga kepalaku dinding kamar mandi.
Entah apa yang terjadi tapi kepalaku pusing sekali. "Ya allah....biarkan aku membereskan pekerjaanku, setelah itu aku akan libur...." aku diam sesaat dan berdoa. Membiarkan Sang Hyang mendengarkan doaku. Betapa aku bertanggung jawab atas pekerjaanku. Tapi sakit ini amat menyiksaku.
Tidak berapa lama sakit kepalaku agak membaik. Aku mengambil tablet berwarna putih dengan tulisan paracetamol. Aku bahkan tak memikirkan sudah tablet keberapa yang aku minum beberapa hari ini.
Aku menghadapi pekerjaanku dengan baik. Semua aku selesaikan hingga hari terakhir audit datang. Aku mencoba menahan rasa sakit kepala dan kram di perutku yang selalu datang.
"Elsa..kamu pucet banget, lagi sakit? Udah minum obat?" Tian menyapa ku.
"Oh tidak apa - apa Bapak Tian, saya cuman sedikit tidak enak badan." Aku berjalan terus menuju ruang auditor.
"Tunggu Elsa...!" Tian menahan tanganku. Aku melihat ke arah tangan Tian, yang arti nya aku tidak nyaman.
"Maaf..." tian melepaskan tanganku. "Aku cuman khawatir Elsa..", "terima kasih.." jawab ku.
------
Ini hari jumat dan hari ini pula auditor tersebut pulang. Sudah terbayang kasur empuk dan makanan enak serta beer yang menungguku. Sakit kepala ku juha agak lumayan membaik.
Mungkin badanku merasakan hal yang sama dengan ku.
Aku mengantar auditor pulang hingga ke Lobby depan. Setelah mobil mereka tak terlihat, aku berjalan kembali ke dalam.
Aku menghentikan jalanku di dekat meja Reception, rasa sakit di kepalaku datang lagi.
Banyak tamu datang pada siang itu. Mau tak mau aku tetap harus tersenyum, datang pula Pak Cheng. Beliau tamu Returny kami.
"Welcome home Mister Cheng....how bout your Flight?"
"Great Elsa...how bout your?"
"Absolutly great sir...! Enjoy your stay ya...Putri will assist you, i need to go back.." Mr Cheng melihat ke arah Putri.
"Ahaa!! Thank you Elsa...see you.."
Aku tersenyum dan terus berjalan masuk ke pintu yang ada di belakang Putri. Langkahku melambat, melewati ruang IT dan ruang General Manager. Aku mencoba bertahan terus berjalan ke arah tangga darurat untuk turun.
Aku tak sanggup dan akhirnya memilih bersandar di pintu darurat. Aku menekan pintu agar terbuka. Tapi aku tak sanggup.....
"Bu Elsaa!!! Cepat cepat...Ibu Elsa pingsan....!!!" Untung anak Housekeeping yang lewat melihatku. Aku memejamkan mataku, tak kulihat jelas siapa saja yang datang.
*******
Saat ini yang aku rasakan, aku duduk di pinggiran sungai yang jernih. Melihat pantulan wajahku saat ini, dan kembali ke wajahku 9 tahun lalu. Melihat diriku dan amat banyak perbedaan.
Aku menyadari bentuk fisik dapat ku ubah dengan mudah. Tapi soal hati, apa aku sanggup melewati lagi. Aku tak kuasa menahan amarah saat mengetahui, bahwa aku belum tentu akan di pilih Candra.
Aku sudah terlalu jauh. Aku membiarkan diriku memiliki rasa ke Candra. Rasa yang terlalu dalam dan sakit.
Aku membuka kedua mataku. Ruangan ini seperti kamar di rumah sakit. Tangan kanan ku terpasang infus dan kantong darah. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku melihat Richie duduk di samping ranjang pesakit ku. Aku menyentuh lengan Richie, berharap ia akan bangun.
Akhirnya Richie membuka kedua matanya. "Eh...udah bangun ya..." jawab Richie saat aku berhenti menggoyang kan lengan nya.
"Aku dimana?"
Richie meregangkan kedua tangannya."Rumah sakit."
"...."
"Lo itu pingsan inget gak? terus di bawa kesini sama anak - anak.... Pas kebeneran gw telpon lo, terus...yang jawab telfon gw bilang kalo Elo disini dan susah banget ngehubungin si Candra sebagaaii suami lo.
Jadilah gw disini....." jawab Richie.
"Owh....terima kasih Richie." aku berusaha bangun dan duduk. Bertepatan juga dengan visit dokter pagi itu.
Seorang perempuan berpakaian setelan batik berwarna coklat. Dengan jas kebesaran Dokter masuk, di temani satu orang perawat yang membawa berkas - berkas pasien. Aku seperti mengenal dokter tersebut.......
__ADS_1
Dokter Putri! Benarkah Dia?