Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 48


__ADS_3

Elsa berdiri di depan pintu keluar cafe. Paper bag berwarna pink menemani Elsa menanti Candra.


'Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Mohon ulangi berapa saat lagi.'


Elsa mematikan panggilannya, ia menekan kembali kontak Candra.


'Nomor yang anda tuju tidak aktif. Mohon tinggalkan pesan setelah nada berikut.'


Elsa mulai kesal, ia mencari Candra sulit sekali. Elsa menghela nafas, ia mulai lelah. Kemudian Elsa memilih duduk di bangku kayu di luar cafe.


Lama Elsa menunggu Candra tak kunjung datang. Sedan hitam metalik tiba - tiba berhenti di depan Elsa.


"Mau aku antar el?" Christian menyapa Elsa dari dalam mobil.


"Apa tidak menganggu kamu? Aku mau ke rumah sakit siloam."


Christian turun dari mobil dan membuka pintu samping kemudi. "Masuk lah, aku antar kamu sampe sana."


Elsa tersenyum manis ia berjalan masuk ke mobil Christian. Mereka pun pergi belalu.


"Jadi kamu menunggu Candra tadi?" Christian menyapa Elsa agar suasana tidak canggung.


"Ya...."


"Kamu kecewa ya.." Christian menggoda Elsa.


"Tidak..." Elsa membuang pandangan nya dari ponsel di tangannya, ke arah jalanan kota.


"Kamu tidak bisa berbohong Elsa."


Elsa hanya diam dan menghela nafas.


"Aku tahu kamu...." christian terus mencari kesempatan.


"Jangan sok tau, kamu bukan allah maha tau. Bukan juga pengHakim yang agung. Saya memang kecewa dan sedih. Tapi saya tidak merasa di sakiti dan di buang oleh suami saya.


Suami saya mengantarkan saya sampai ketujuan baru dia pergi. Suami saya juga sampai detik ini belum pernah berkata saya engga lebih dari perempuan buruk rupa.


Memang ada seorang wanita yang selalu di pikirannya. Tapi suami saya selalu kembali ke saya. Meskipun saya tidak pernah menjadi pilihan hati nya"


Kata - kata Elsa langsung membungkam Christian. Tenggorokannya serasa amat berat. Hingga air liur nya tidak dapat mengalir.


Mereka sampai di Siloam Hospital. Christian berhenti persis di loby bagian Drop Off. Elsa melepas sabuk pengamannya, kemudian ia membuka handle pintu.


"Tunggu...." Christian berkata lirih.


Elsa pun menghentikan langkahnya. Ia melirik tajam ke Christian.


"Jika suamimu tidak ada, aku bersedia mengantarmu pulang. Richie sedang tidak di Indonesia. Kamu tak akan mungkin meminta bantuan dia." Christian yakin bahwa Elsa akan mencari dan membutuhkannya.


"Tidak akan! Aku bisa naik taksi online, memberi mereka rejeki daripada harus meminta bantuan mu. Sadarlah Tian! Kita bukan...." Elsa tak kuasa melanjutkan kata - kata nya.


"Sudahlah, terima kasih Christian. Hati - hati di jalan." Elsa keluar dari mobil Christian. Ia sama sekali tak mau memandang ke arah belakang. Ia membiarkan...


Membiarkan Christian pergi atau tetap disana. Baginya selesai sudah sejak dulu.


Elsa pun berjalan ke arah lift. Ia menunggu lift terbuka dan masuk ke dalam. Di dalam lift ia bersama Ibu muda yang sedang hamil juga.


Elsa memandang mereka ia berfikir, 'mereka hampir kutemui setiap bulan, dan selalu bersama suami atau pasangannya. Sedang aku?'


Elsa memandang sebelah kanan nya, hanya kosong tanpa siapa pun.


Lift pun terbuka, Elsa keluar dan berbelok ke arah kiri. Ia duduk di depan ruang Praktek Dokter Putri. Elsa kemudian mengeluarkan ponselnya.


Sedih hati nya, sama sekali tidak ada pemberitahuan. Entah whatsapp atau telpon balik dari Candra.


Elsa kemudian membuka goodiebag berwarna pink. Ini Christian berikan saat mereka bertemu.


Di dalam nya ada kotak biru polos dengan pita warna putih. Elsa menarik pita dan membuka tutup kotak tersebut.


Betapa kaget nya Elsa...


Isi kotak tersebut lukisan dirinya saat SMA.


Lukisan saat ia tertawa, senyuman manis Elsa terpancar dari lukisan tersebut. Di bawahnya tertulis :


Tetaplah bersinar seperti matahari.


Tetaplah menjadi cahaya bagi nya.


Dan......


Biarlah aku melihatmu dari jauh,

__ADS_1


Karena kamu selamanya pelita dihatiku....


Maafkan aku Bee......


Hati Elsa seperti tertusuk amat dalam. Ia spontan meneteskan air mata. Betapa bodohnya mereka, cinta pertama.....


Elsa cepat - cepat membungkus lagi dan menyimpan dalam tas lukisan tersebut. Ia lalu menyeka air mata nya. Ia tak ingin Candra sampai melihat hal tersebut.


"Sayang... maafkan aku.... aku ada kecelakaan sedikit.. ponsel ku habis baterai nya juga." Suara dan tubuh Candra muncul dari hadapan Elsa.


Elsa termenung dan diam sesaat, "aku pikir kamu kenapa. Sini duduk, dokternya belum datang."


"Iya Elsa..." candra duduk di samping kanan Elsa. Tapi pandangan mata Candra tertuju pada tas berwarna merah muda di pangkuan Elsa.


"Ini apa?" Candra hendak mengambil tas tersebut.


"Bukan apa - apa! Ini... ini berkas kerjaan ku dulu. Tertinggal dan di titipkan." Elsa panik dan menutupi apa sebenarnya isi tas tersebut.


Perawat keluar dari ruang praktek dokter Putri. "Bapak Candra Adiwinata, Ibu Elsa Nirmala"


"Masuk yuk Cand..." Elsa berdiri dan menarik Candra masuk.


Dahi Candra berkerut, ia mencium sesuatu yang tak wajar. Sepertinya Elsa menyembunyikan sesuatu. Biasanya ia begitu terbuka dengan segalanya.


mereka duduk di hadapan dokter putri. Elsa tersenyum ke arah dokter Putri


"selamat sore Dokter. sudah sebulan tak jumpa?" Elsa menyapa dengan ramah.


"hallo Ibu dan Bapak, ayo langsung naik untuk saya periksa. besok 2 minggu lagi cek ya, sudah dekat masa melahirkan Bu.."


Elsa berbaring di atas ranjang pemeriksaan. perawat menutup area bawah Elsa dan menaikan Dress nya hingga perut Elsa terlihat.


Dokter mengoleskan Gel dingin berwarna hijau. kemudian ia menempelkan semacam alat yang terhubung dengan layar di samping Elsa. Candra berdiri di samping kiri Elsa dan mengenggam tangan Elsa.


"baik semuanya Bu, saya lihat jantung sempurna, kaki tangan juga tidak ada masalah. ini malah sepertinya tidak lama lagi Bu. ini positif laki - laki ya Bayi nya..tapi kalau berubah semoga normal semuanya."


Candra sumringah mendengar nya. ia amat senang akan miliki bayi laki - laki. genggaman tangan Elsa makin erat. buah cinta mereka tumbuh sehat dalam kandungan Elsa.


*************


Christian duduk di ruang kerjanya. ia kini memilih kembali ke perusahaan nya. bukan lagi menjadi IT di hotel tempat Elsa bekerja.


ia memejamkan mata dan mengingat kalimat Elsa.


"*seharusnya pada saat itu, jika kamu jujur kepadaku tentang semua nya. aku tidak akan marah. aku juga tidak akan membenci mu. malah aku tipe orang yang menghargai dan menjunjung tinggi kejujuran."


"aku engga pernah kebayang, kita akan berbicara seperti ini Tian. kamu memang cinta pertama aku, begitupula kamu. kita mungkin memang lebih baik seperti ini. hati ku pun.... sudah plong dan lega... sudah tak ada dendam atau sakit Tian..... yang ada hanya ikhlas*....."


"kamu juga pernah bilang Tian. bahwa cinta itu kadang tak perlu sampai memiliki. ya aku sekarang berfikir hal tersebut. mencintai kamu yang pernah dan pertama kali ada di hidup ku. mungkin dengan cara merelakan kamu pergi dengan Rachel. ia lebih segala nya daripadaku.... jadi berjanjilah Tian, bahwa kamu akan bahagia...."


Christian menatap ke foto mereka berdua. mereka duduk bersama di bangku kelas. dengan kualitas kamera ponsel pada jaman itu. senyum mereka berdua begitu natural.


"Elsa.... kenapa aku belum ikhlas kamu pergi dengan Candra. harusnya aku yang disana. bukan Candra."


*********


Elsa menatap ke Candra yang sedang antri di bagian Farmasi rumah sakit. Elsa duduk dengan sabar, tak berapa lama Candra datang dengan membawa tas dari kertas berwarna coklat. ia memberikan ke Elsa.


"tolong masukkan dalam tas kamu. aku takut tertinggal."


Elsa mengangguk dan memasukkan ke dalam tas jinjing nya. Candra menatap Elsa dalam - dalam. seperti ada satu hal yang ingin di katakan oleh Candra.


"sudah. mau pulang sekarang Cand?" Elsa menatap balik Candra.


"Elsa bagaimana kalau kita ke IGD dulu." suara Candra agak berat.


"buat apa? memangnya ada apa Candra?"


bola mata Candra berputar, ia binggung menata kalimatnya apa dan bagaimana harus ia katakan.


"tadi siang sebenarnya..." Candra memainkan kuku jari nya.


"Candra.. kamu tahu aku membenci pembohong. jujurlah.... apa yang terjadi, aku akan mencoba mendengarkan dan menerima." Elsa masih melempar senyum ke Candra.


"Sebenarnya pada saat aku di Showroom. tiba - tiba Cristin datang. ia berlari sambil menangis seperti orang yang kerasukan. tapi belum selesai ia bercerita, ia sudah pingsan. kemudian aku membawa nya kemari. itulah kenapa aku terlambat menjemput dan ponsel ku habis baterai juga..."


"......" mulut Elsa terkatup rapat. ia benar marah dengan Candra. Bagaimana bisa ia berlaku seperti itu.


"Elsa.."


"baiklah, kamu akan ksana sampai kapan?" Elsa menatap dalam ke Candra.


"Paling tidak sampai Cristin sadar dan bisa aku tinggal." jawab Candra yakin.

__ADS_1


Elsa kemudian berdiri, ia berjalan ke arah lift. Candra menyusul di belakangnya. mereka berjalan berdampingan hingga tiba di pintu masuk IGD.


"maaf Ibu jika tidak berkepentingan dilarang masuk. karena area kami ini rentan dengan penularan penyakit. jadi Ibu Hamil dan anak di bawah 10 tahun dilarang masuk dan berada di dalam." petugas keamanan menghalau langkah mereka.


"bagini Pak istri saya hanya mau melihat kakak nya yang tadi bersama saya. setelah itu kami akan pergi.." Candra menjelaskan ke petugas tersebut. Elsa masih menutup rapat kedua bibir nya.


" Baiklah Pak jika begitu." Petugas ruang IGD membiarkan mereka masuk.


Elsa berjalan di samping Candra. Tapi kemudian Candra berjalan lebih cepat. Ia kemudian berjalan ke sebelah kanan dan berhenti.


Candra membuka tirai, Cristin. Ia disana!


Tiduran di atas tempat tidur rumah sakit. Dengan jarum infus tangan kiri nya. Keadaan nya begitu pucat, Candra malah mendekati. Candra membelai rambut Cristin.


Kedua mata Elsa melotot. Ia terperanah melihat apa yang Candra lakukan. Hal yang tak pantas!


"Candra......" suara Cristin lemah.


"Iya ini aku, aku disini bersama Elsa. Kamu sudah enakan? Kapan dokter bilang bisa pulang?" Candra malah memegang tangan Cristin.


"Entahlah, aku baru sadar. Aku tadi takut sekali.. tak ada dirimu..." suara Cristin manja.


"Baiklah aku akan menunggu...."


"Ehem.." Elsa mengentikan pembicaraan tak berarti mereka.


"Oh ada Elsa... terima kasih ya, sudah boleh Candra menemani."


"Mau berapa lama di temani suami saya?" Pertanyaan Elsa membuat Candra melotot.


Elsa malah membalas memandang Candra dengan tajam.


"Kalau boleh sampai badanku agak enakan... karena anakku bersama susternya di rumah. Tak mungkin aku membiarkan dia disini...." Cristin menjawab dengan polos.


"Ooowh begitu... kalau begitu saya beri saran ya...."


"Apa elsa...?" Candra menjawab.


"Kamu cristin, bercerailah dengan Om Hendra, jika sudah carilah pasangan baru untuk mu. Kalau kamu tidak berkenan, okei! Ambil saja Candra. Saya akan pergi, saya jijik melihat kelakuan kalian. Saya merasa.... oh Gosh.... lebih baik saya mengalah saja!"


Elsa beranjak dari hadapan mereka. Namun Candra mengejar nya. Candra tak ingin rumah tangga nya terancam bubar.


"Tunggu Elsa!" Candra menarik tangan kanan Elsa.


"Lepasin, mau apalagi kamu. Sana tungguin wanita itu. Saya lelah saya mau pulang dan tidur."


"Elsa jangan kebawa emosi.. Elsa..kita bisa bicara baik - baik.. Elsa...please Elsa...."


Elsa berhenti dan melepaskan tangan Candra. "Kamu tau, ada satu hal yang pengen saya lakuin dari dulu?"


"Lakuin aja Elsa... salah aku tidak memikirkan perasaan kamu...maaf....." Candra menjawab Elsa dengan lembut.


Plak.......(Elsa menampar Candra)


"Kamu itu laki - laki tak pernah punya pendirian tetap. Kalau kamu emang masih cinta sama Cristin. Jangan permainkan saya!"


Elsa pun pergi dari hadapan Candra. Ia berjalan keluar dari area Rumah Sakit. Kemudian Elsa menghentikan taksi yang lewat. Ia naik dan duduk di bangku belakang kemudi.


"Jalan ya Pak ke apartement di Pluit."


"Baik Bu..." supir pun mulai menjalankan mobil.


"baiklah ayo kita jenguk dia. kamu sudah menghubungi suaminya?"


"belum..." Candra memelankan suara nya.


"KENAPA! sorry... kenapa? kamu menolong dia tu atas dasar apa? kemanusiaan ? kasihan atau apa?" Elsa naik pitam dengan jawaban Candra.


"aku takut, Cristin tadi bilang ia sedang bertengkar. aku takut malah memperkeruh keadaan."


"Candra Adiwinata!" suara Elsa meninggi. sekeliling Elsa mulai menatap ke arah mereka.


"Els, pelankan suaramu."


Elsa hanya menggelengkan kepala. tak menyangka seorang pria di hadapan nya ini begitu tak memiliki harga diri. begitu tak memiliki perasaan.


"Candra, sekaranh kamu mau menjenguk Cristin? membawa aku yang hamil ini ke area IGD, ke tempat yang banyak orang dengan sakit yang aku juga tak tau apa. tanpa mikir gimana sama kandunganku?"


"bukan gitu Elsa, aku cuman mau melihat keadaan dan apa ada yang menemani dia.." Candra menjawab dengan polos.


"Baiklah, ayo kita kesana!" Elsa kemudian menuju lift. Candra menyusul di belakang nya, entah Elsa punya rencana apa. kenapa mau menemui Cristin dulu.


mereka berjalan menyusuri lorong dalam Rumah Sakit. hingga akhirnya mereka tiba di bagian IGD.

__ADS_1


salah seorang petugas menghentikan langkah Elsa. "Selamat Siang Ibu, mohon maaf sebelum nya, jika tidak ada keadaan gawat jangan disini Bu. karena Ibu sedang hamil. Dimana sesuai peraturan Ibu Hamil dan Anak di bawah 10 tahun tidak di ijinkan berjalan disini."


"istri saya hanya mau menengok kakak nya. tadi saya yang bawa masuk." Candra menjelaskan.


__ADS_2