
Candra melepaskan pelukannya, memutar badanku dan mengangkat ku di gendongan nya..
"Candra..ngapain..aku takut." Aku panik dan melingkarkan tangan ku di leher Candra.
"Tenang lah..aku sudah latihan cara nya." Candra membawa ku keluar dari kamar mandi.
Membaringkan ku di tempat tidur nya. Begitu nyaman dan lembut rasanya. Jika ku ingat inilah pertama kalinya aku tidur di kamar Candra.
Candra menarik selimut dan melingkarkan tangan di pinggangku.
"Santailah Elsa. Jangan tegang lagi...atau kamu mau satu kali lagi?" Candra mulai menggodaku.
"Ahhh..tidak..tidak..aku mau tidur.." aku memejamkan mata.
Aku merasa Candra sepertinya bangun. Tapi mau apa dia.. "cup...selamat tidur Istriku...."
Aku ga salah dengar??
Dia memanggil apa?
Istri ku??
Rasanya aku tidur nyenyak sekali. Tak ada mimpi buruk, tak ada rasa takut. Semua nya terasa nyaman dan aman.
Aku mulai membuka mataku, rupanya aku bermimpi tidur dengan Candra. Suamiku.
mimpi yang indah, bagaimana ia memperlakukan aku dengan lembut dan memanggilku 'istri'.
aku membalik badanku, ternyata memang ada Candra di sampingku. Candra masih pulas tertidur. Wajah...aku tak pernah sedekat ini dengan nya. Aku mendekati nya, dan mencium keningnya.
"Eh..kamu udah bangun El..." aku kaget Candra membuka matanya.
"Morning Elsa.." Candra mencium pipiku. Wajahku langsung memerah seperti tomat rebus.
"Aku mandi dulu ya. Nanti mau ke Rs nengok mama." Aku bergegas ke kamar mandi. Meninggal kan Candra yang masih enggan meninggal kan tempat tidur.
Aku menyisir rambut pendeku di depan cermin. Betul ini? Aku benar tinggal semalam dengan Candra? tapi aku merasakan ini mimpi?
"Udah ngacanya? Keburu siang, ayok sarapan..." Candra membuyarkan lamunanku.
Candra berjalan keluar sambil memakai jam tangan sporty nya.
"Iya Candra..," aku langsung mengambil sepatu Flat warna salem ku. Aku memakai dan menyusul Candra ke bawah.
Aku diam mematung melihat Candra. Ya Tuhan, apa aku mimpi? Kok Candra terlihat tampan. Apa aku terlalu terbawa perasaan atas kejadian semalam..?
"Ayo cepat kasian kakak mu. Dia harus istirahat, kasihan kandungannya." Candra bergegas menuju lift.
"Kenapa Cand?? Kakakku?"
"Iya, kamu ga tau? Dia kan hamil udah 5 bulan."
Aku diam dan berfikir. 'Pantas saja aku sudah lama sekali tak memperdulikan dan pulang ke Semarang. Bahkan Martha pun setiap berkirim pesan, aku hanya membalas iya..tanpa kubaca apa itu. Aku hanya tau mengirim kan uang untuk mama saja..tak kusangka. Aku akan jadi seorang tante.' Kemudian aku tersenyum..
"Kenapa senyum2 Els?" Tanya Candra.
"aku senang akan jadi seorang tante. Dan akan ada kehidupan baru datang ke keluarga kami. Semoga ini jadi berkat buat keluarga kami." Aku menjawab dan masuk ke mobil Candra.
Kami makan di sekitar RS. Beruntung letaknya tak jauh dari pusat kota. Kami langsung menyusul ke RS. Berganti shift dengan Martha.
"Kak..." aku masuk ke area tunggu keluarga pasien di ICU.
"Adek...!" Martha langsung memelukku.
"Udah kak...udah...kenapa nangis? Aku ada disini.." Martha melepaskan pelukan erat nya kepadaku. "Ini dek, ini surat dari mama buat kamu."
Martha memberiku amplop putih. Entah apa yang mama mau katakan disitu. Aku menerima surat itu, "terus..keadaan mama gimana?"
Martha diam dan hanya menangis. "Kak..gausah lebay..kenapa kak?" Aku mulai malas dengan hal ini.
"Kalau menurut dokter, komplikasi mama sudah sampai ke jantung mama. Makanya banyak cairan yang membuat jantung mama membengkak.
Dokter juga...dokter sudah berusaha maksimal. Tapi..." Martha tak kuasa menahan tangis lagi.
"Kak....apa umur mama ga lama lagi?" Aku bertanya serius.
"Menurut medis, ini keadaan terbaik mama. Kemungkinan bertahan kecil. Karena mama tergantung dengan bantuan oksigen untuk hidup. Tingkat kesadaran mama juga menurun drastis dek...kakak...kakak engga tau dek..." tangis Martha pecah disitu.
"Udah kak diem! Kita berusaha saja semaksimal kita. Inget kandungan mu, pulang lah sana dan istirahat. Jangan sampai kenapa - napa dengan anak ini." Aku mengelus perut Martha. Dung...ada tendangan balasan dari perutnya.
"Hallo keponakan..yang sehat ya, soalnya tante bakal sayang banget." Perut Martha kemudian bereaksi.
"Wow..anak ini begitu semangat merespond mu El..sayang..mama sayang adek kecil.." Martha mengelus perutnya.
"Pulang sama mama ya dek...istirahat..Tante jaga oma disini.." Aku berdiri membantu Martha.
"Baiklah aku pulang dulu, dek..Candra aku pulang dulu." Martha kemudian pergi meninggalkan kami.
Aku pergi ke dalam ruang Icu. Satpam memberiku label nama pasien yang harus ku kalungkan, masker penutup kepala dan mulut.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke ruang mama.
Banyak alat terpasang di tubuhnya. Aku tak kuasa melihatnya, tubuh renta nya terlihat tak berdaya.
Ak mendekati mama, aku berbisik. "Ma..Elsa datang, Elsa kesini nengok mama. Maaf elsa baru datang sekarang. Elsa terlalu sibuk. Apa mama merasa sakit?"
Mama hanya diam, "ma...Elsa seneng banget Martha sudah mengandung 5 bulan ma. Sebentar lagi mama akan jadi oma. Bahagia ya ma...doakan lancar persalinan Martha. Mama sehat ya. Biar bisa lihat Martha melahirkan...
Soal Elsa..semuanya lancar ma. Candra memperlalukan aku dengan baik. keluarganya juga begitu menyanyangiku. Bahkan aku di beri mobil, meski aku lebih suka naik bis..hehe.."
Mama merespon ku, mama menangis tapi mata mama masi tertutup. "Ma..kok nangis? Mama harusnya bahagia. Karena aku sama Martha juga bahagia. Mama kalo nangis harus nangis bahagia ya..Elsa sama sekali ga pernah marah sama mama. Elsa malah sayang sama mama....
Tau ga ma, berkat mama...Elsa sekarang bisa sukses. Elsa biasa melakukan semua sendiri. Elsa banyak membantu orang dan Elsa bahagia menjalani hidup Elsa."
Mama masih diam, namun air mata nya sudah berhenti. Aku duduk di samping mama. Aku melihat ke luar, Candra menungguku di luar ruang perawatan mama.
********
Aku keluar mengembalikan masker dan nametag yang mengalukiku. Aku keluar menuju ruang tunggu keluarga. Aku menghampiri Candra, dan duduk di sampingnya.
Aku menyandarkan kepalaku ke bagian atas sofa. Aku menarik nafas dan menghembus kan.
"Terasa sesak?" Tanya Candra.
"Sedikit...." aku menjawab dengan menutup kedua mataku.
"Ayo makan siang dulu, kamu jangan sampai sakit." Candra menarik tanganku agar aku ikut turun mencari makan dengan nya.
Kami turun escalator dan lift ke lobby. Disini Rumah sakit tetapi banyak tempat makan dan cafe kecil untuk para pengunjung.
Aku memilih restoran cepat saji. Aku memilih makan spaghetty saja dan minum air putih. Aku duduk sendiri menghabiskan makan siangku.
Candra datang membawa beberapa buah potong segar. Kemudian menyodorkan kepadaku.
"Makan lah ini, siapa tau kamu bisa cepat hamil seperti Martha." Candra kemudian duduk di hadapanku.
"Maksud kamu?" Aku binggung dan melihat Candra.
"Aku bisa merasakan kok. Kamu melihat Martha dengan rasa iri. Kalian kan perempuan, kehamilan itu suatu kebanggan buat kalian." Candra memakan steaknya.
Aku menarik nafas dan menghembuskan. "Bukannya kamu tau, kandunganku kering dan sulit buat ku untuk mengandung."
"Bukan berarti tidak bisa kan?" Kami saling berpandangan.
"Kamu sendiri di kontrak kita. Bahwa bagaimana pun nanti, kamu merasa aku tak pantas mengandung anakmu. Hanya akan membawa masalah buatmu." Aku menunduk dan menghabiskan makan siang ku.
Kami tak banyak bicara, lebih diam dan berjalan. Aku berhenti di coffee shop dekat escalator naik ke ruang mama.
"Baik atas nama?" Tanya penjual kopi.
"Atas nama Saya." Penjual kopi tersenyum dan menulis namaku.
Tak berapa lama kopi tersebut jadi. Aku membawa dan menyusul Candra yang berhenti di depan escalator.
Kemudian kami berjalan naik ke atas lewat escalator. Aku penasaran apa yang di tulis.
Name \= Saya
Have a great Day, kakak Cantiq.
Its freeday...
Aku tersenyum sendiri, lucunya. Candra merebut kopi tersebut dan meminum nya. "Kalo kamu mau bisa kok aku beliin lagi."
"Minta aja. Cuman dikit. Kaya apa sih, sampe kamu seneng gitu." Candra mengembalikan kopi yang tinggal 1/4 gelas isinya kepada ku.
"Nyicip kok hampir segelas...." aku menggerutu..
"Apa?" Aku terus mengangkat pundak ku seolah berkata aku tak tau.
Aku dan Candra kembali ke ruang tunggu keluarga. Aku merasa bosan dan mulai mengantuk. Aku menyandarkan kepalaku ke bagian atas sofa.
Aku....mulai...zzzz...zzz...z...
"Elsa....elsa...bangu el...bangun" Candra menepuk lengan ku hingga aku terbangun.
"Iya ada apa?" Aku mengucek kedua mataku. Memperjelas pandanganku..
"Ini Bu Ayyah datang. Kamu bisa pulang berganti menjaga mama." Aku berdiri dan bersalaman dengan suster mama.
"Bu, saya pulang dulu ya udah malem gini ternyata ."
"Iya non mesti istirahat. Masih ada hari esok. Katanya non Martha besok adek mama mau dateng nengok mama. Non kesini?" Aku langsung berubah jadi tidak suka.
"Kesini mau apa? Mau meng'gurui aku dan Martha? Atau mau menghina karena aku dan Martha engga becus jaga mama?" Aku kesal
"Entah non, katanya mau nengok gitu doang."
"Huuft.. aku kurang suka sebenarnya Bu..mereka itu adik tapi selalu punya maksud di balik nya. Ya udalah Bu.. saya balik dulu.
__ADS_1
Permisi Bu..." aku mengambil Tas jinjingku dan menggandeng Candra.
Kami masuk lift dan menekan angka 5. Lift pun berjalan dari lantai 2 ke 5. Lift terbuka dan kami berjalan keluar.
Kami masuk dalam mobil dan aku menghela nafas panjang.
"Kenapa dengan adek mama?" Tanya Candra.
"Mereka itu orang - orang yang mengatas namakan keluarga tapi dalam bentuk virtual."
"Maksudnya?" Candra mulai menghidupkan mesin mobil.
"Mereka saat mama - papa sukses. Mendekat, tapi saat mulai jatuh. Di telfon aja menghindar. Takut kalo di pinjam uang nya. Padahal, mama cuman mau tanya kabar mereka."
Aku kembali menghela nafas. "Saat mereka sukses, apa pernah mengajak papa - mama liburan bersama keluar negeri? Alasannya takut mama ga punya uang. Padahal mama masih mampu membayar sendiri semuanya."
"Apa ada yang menyulut api Elsa.."
"Entahlah, istri kakak ipar mama yang paling terlihat..bahkan tega menjual murah rumahku dan mengusir ku pindah...."
"..." aku mulai menetes kan air mata.
"Sudahlah Candra Lupakan saja...sudah berlalu seperti dulu..." aku mengeringkan air mataku.
"Kamu tau ? Kamu kuat dan sukses berkat mereka. Kamu makin di tindas, kamu ikhlas dan menerima. Makanya Tuhan ga diem, dia kasi kamu mudah dapat kerja dan duit. Mudah di terima di mana aja. Dan mudah dapat suami..." aku langsung memandang Candra.
apa aku ga salah mendengar?
suami?
"Candra..kamu ga salah?" aku memandang Candra.
"tidak...apa salah nya jika menjalani hidup sebagai suami - istri. Lebih tepatnya, mencoba mulai saat ini.."
dan kami pun berlalu pergi dari area parkir Rumah sakit.
"Jadi....mau makan apa?"
"apalah aku pasrah." aku menjawab seadanya.
"Baiklah..." Candra melanju menuju ke daerah pecinan Semarang. Candra parkir di dekat gerbang masuk pasar wisata weekend.
Aku keluar dari mobil dan melihat banyak sekali perubahan disini. Aku ingat sudah lama sekali aku tidak datang kesini.
"Iya ini jumat ya, aku malah lupa ini hari apa." Aku berjalan kedalam keramaian bersama Candra.
Banyak sekali makanan - makanan baru disini. Candra merangkul pinggang ku, dan mengapa rasanya hangat sekali.
Aku membeli siomay dan teh hangat. Candra membeli sate dan es campur. Kami berbagi makanan malam kami.
Entah mengapa rasanya seperti orang sedang berpacaran. Bahkan dulu kami diam - diam saja, cenderung sembunyi dari orang.
"Cand!!" Seorang pria dan 3 wanita menghampiri Candra.
"Hai wi...hai nana, eka, rena.."
"Hallo Candra..lama ga dolan (main) semarang. Berdua aja ini?" Tanya Eka, perempuan tinggi yang mirip seperti foto model dengan wajah baby Face.
"Oyah..lupa..kenalin ini Elsa Nirmala. Istriku." Aku kemudian bersalaman dengan mereka.
Pandangan mereka begitu kaget. saat Candra memperkenalkan aku sebagai Istrinya. "Ada masalah?" Aku bertanya.
"Engga..engga..engga papa..bener ya?" Jawab william.
"Engga Can..engga Elsa..cuman kok ga ngundang pas nikah gitu." Jawab Eka sambil mengelus pundak Candra.
Candra menyingkirkan tangan Eka, "sorry Candra..," jawab eka.
"Istri ku memang tidak suka keramaian. Dia juga yang minta tidak usah banyak undangan, agar keluarga saja." Aku mengangguk pertanda setuju dengan Candra.
Nampaknya suasana jadi canggung. "Kami permisi dulu ya Candra...permisi Elsa..kami duluan..."
"Okai wi..bye.." dan mereka pun berpamitan meninggalkan kami.
"Mereka kenapa sepertinya kaget dengan kita..?" Aku bertanya.
"Bukan urusan ku, biasakan lah dirimu. Kita akan go public." Candra masih santai dan menghabiskan makanan nya.
"Cand..tapi... kamu pernah bilang jangan pernah mengaku kalau aku, Nyonya Candra Adiwinata?"
"Memang. Biar aku yang memperkenalkan." Aku makin tidak mengerti dengan lelaki ini.
"jalani saja Elsa. kamu akan mengerti nanti apa yang terjadi seharusnya." jawab Candra kepada ku lagi.
"jadi kamu tau aku binggung?" aku menunduk dan memainkan garpu.
"aku tau Elsa, sudah kita jalani saja apa yang terlewat selama 5 bulan lalu. mulai lah dari awal dan yakin lah. bahwa ini bagian yang memang harus kita jalani. Pernikahan."
kata - kata Candra tak satupun bisa ku mengerti. Bagaimana Candra begitu berapi - api soal kontrak. bagaimana ia mencintai Cristin. dan sekarang??
__ADS_1
Aku meng-habiskanmakan malam ku. lalu kami menghabiskan sisa malam ini berkeliling di pasar wisata malam. Kami hanya berjalan sebentar dan langsung kembali ke parkiran mobil. Candra sepanjang perjalanan tak lepas menggandeng tanganku.
Hatiku..kenapa begitu gelisah. Aku merasa malu, bahagia, binggung dan aku tak mengerti kenapa Candra seperti menyembunyikan sesuatu....