
aku membanting badanku ke atas tempat tidur. pikiranku terbang ke obrolanku dengan Richie.
"*apa salah nya kalau kamu bilang sejujurnya ke Candra soal perasaanmu. siapa tau itu bisa meluluhkan hati Candra dan dia bisa sedikit belajar mencintai kamu."
"Elsa....kamu itu wanita pintar dan cantik. kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu cinta. dan hidup mu sudah cukup untuk terlalu bekerja keras. Beranikan dirimu berbicara sejujurnya ke Candra.."
"walau aku bukan dewa cinta, tapi aku bisa melihat dengan jelas. Candra tidak pernah melepaskan kamu sedetik pun. aku rasa kejadian di apartement itu bisa saja tidak seperti itu yang terjadi*."
cinta??
aku memejamkan mataku......
"*Elsa....kamu harus pilih sepatu yang kamu mau. karena sepatu bagus akan membawamu ke tempat yang bagus juga."
"Jangan beri dia gaun model duyung. tak pantas! beri dia model A-line dia akan terlihat lebih Cantik."
"ada apa dengan kalung ini?" tanya candra
"tidak, jika aku berjodoh. aku dapat memilikinya." jawab Elsa.
"aku ingin bersama mu selalu. jadi menikahlah denganku."
"Hallo..aku boleh duduk disini?" Candra menunjuk sampingku di bawah pohon asam di SMA ku.
"bukan urusan kamu soal Cristin."
"aku tidak suka kamu dekat dengan Richie."
"kamu itu istriku!!"
"ingat! ketauilah batasmu. jangan pernah berfikir dapat melewatinya."
"jika kamu melangkah keluar dari sini. maka jangan pernah berfikir untuk kembali*."
Candra.....
kenapa bersama denganmu harus sebinggung ini. apa bersama mu juga harus sesakit ini?
aku saja bahkan tidak tahu. Cinta itu apa? seperti apa jatuh cinta. bagaimana rumah tangga tanpa cinta bisa bertahan? ya itu cuman kita Candra....
*Hpku berbunyi
"hallo martha..kenapa? aku baru sampai apartementku."
"Adek...mami panggil kamu sama Candra terus. apa ga sebaik nya kamu pulang?
aku sudah telpon Candra. katanya, besok dia akan pulang naik pesawat." jawab Martha di ujung sana.
"bukan urusanku kak. aku akan pulang segera. tapi aku tak tahu apa aku bisa lama atau tidak. kamu kan tahu pasti, aku kerja demi bantuin kamu biayanya mama."
"Adek...pleasee.....p..pleease..." Martha mulai menangis..
"kenapa nangis kak?" aku mulai lelah dengan drama Martha.
"Dokter bilang keadaan mama belum tentu dapat bertahan lama.. dan....dan mama banyak bilang berdosa ke kamu. mamaa.....mama selama ini menyia - nyiakan kamu..."
aku malas mendengar kalimat seperti itu. "kak...aku tutup dulu ya. aku mau istirahat.." aku menutup panggilan Martha.
aku merasa hal ini tidak perlu kupikirkan. mama toh juga bukan kali ini masuk RS. aku memilih tidur saja malam ini.
terlalu banyak kejadian pahit akhir - akhir ini. aku sepertinya butuh sedikit liburan untuk menebusnya.
*****
jam di monitorku menunjukkan pukul 06.00 sore. semua mulai beberes dan bersiap pulang. hanya tinggal aku sendiri.
kadang aku berfikir,..team ku pulang ke rumah karena ada orang yang selalu menunggu dan menyambut mereka. Mereka semua punya rumah...orang tua? adek? keluarga kecil mereka...
sudahlah lagipula buat apa aku pulang cepat....
aku sudah terbiasa sendiri sejak papa pergi dan martha pergi ke jakarta. Aku terbiasa berusaha sendiri mencari makan dan uang untuk kuliahku. rumahku??
ya hanya sebuah bangunan.. tak.lebih...
*hp berdering*
"nomer asing?" aku mengangkat "hallo.."
"Elsa! kamu tidak pulang?" sepertinya aku kenal suara ini.
"Candra?"
"menurutmu? aku menunggu mama kamu di RS. kamu cepat datang, aku email kan penerbangan jam 9 buat kamu." telpon pun terputus.
"aish...dasar...selalu saja memutus kan semua sendiri.." aku kesal dan menaruh Hpku.
ada email masuk, tiket pesawat Elsa. dengan penerbangan kelas satu jam 9. "dasar suka buang uang buat apa beli first Class. buat jakarta - Semarang pula."
haruskah aku pulang?
tapi ini bukan kali pertama mama masuk RS. aku bahkan sudah biasa mama dalam 1 bulan pasti masuk - keluar RS.
perasaan ku kok tidak nyaman ya. kenapa Candra ikut menunggu mama?
aku mengangkat gagang telpon di mejaku dan menekan 100. telfon pun tersambung..
__ADS_1
"hallo, Ibu Melani sorry for distrubing, i need your approval Bu.. tommorow want take my MOD weekend leave, cause i has a family matter about my mom....."
"its Ok Elsa...i think's you need a rest too..take ur day off Elsa and back to work on monday."
"Thank You Ibu.."
telfon kami terputus. beruntungnya aku memiliki General Manager seperti dia
aku bergegas mematikan komputer, lampu dan mengunci pintu. lalu aku berjalan pergi keluar. sesampainya aku di Pos satpam.
"Bu Elsa sudah di tunggu sama Supirnya.." kata kepala keamanan di kantorku.
"supir?" sejak kapan aku punya mobil dan supir. aku jadi binggung....
"itu Bu..." menunjuk ke samping.
"Pak Toni..!" aku melotot kaget. ada apa ini..?
"ayo Bu, keburu macet di Toll nya.." Pak Toni berjalan dan aku menyusul di belakang.
aku duduk di kursi depan samping Pak Toni.
"non ga banyak berubah..masih tetap mempesona dan berkharisma." aku sibuk dengan ponselku.
"apanya pak..saya tetap wanita biasa..anak orang biasa dan istri di atas kertasnya Candra. dan seingat saya bapak pernah bilang juga saya itu bukan tipe idaman Candra kok bilang saya mempesona" jawabku santai sambil aku memasukkan ponsel ku kedalam tas.
"tapi non Elsa kan ga tau perubahan Candra. Sekarang bapak baru paham. kenapa dulu Candra mau berpacaran sama non."
"maksud Pak Toni?" aku penasaran bagaimana Candra.
"sekarang Candra itu suka uring - uringan non..
pokoknya sejak non Cristin milih ikut suaminya ke Poland.....
Candra juga kaget pas tau non resign....
apa lagi pas tau non pindah ke tempat Richie. marah besar Non..sampai mau membeli semua saham dari NGK Grup non..
mereka berdua, entah mengapa susah sekali akur....
padahal...Bu Susan almarhum selalu bilang kalo papa nya begitu mencintai Bu Susan. namun memilih berpisah demi kebaikan mereka dan anak - anak..
tapi...seperti yang non lihat, buat Candra...papa nya itu ga lebih dari seorang Casanova yang berpetualang, hingga menikahi sahabat istri nya sendiri...."
aku masih fokus mendengar Pak Toni.."tapi saya bisa kerasa non. kalo boss muda (Candra) sebenernya adalah perasaan cinta ke non."
"kok bapak bisa kerasa?" aku bertanya penasaran.
"Pokoknya non..pokok nya non itu berilah kesempatan buat boss muda. coba buat menurut dan membiarkan dia bercerita sendiri non..sembari mengobati hatinya perlahan,non......
kesendirian..
kebencian dan rasa kecewa non..."
hatimu sehancur itu kah Cand? (tanyaku dalam hati).
aku terpana dengan kata - kata Pak Toni. "bapak tu paham ya, saya aja ga tau cara ngadepin Candra...."
"makin non lawan, makin boss muda marah. dan makin bikin boss muda yakin Cinta ke non. Engga percaya?? Bukti'in aja non.."
Pak Toni terus meyakinkan ku..bahwa Candra mencintaiku dan lebih baik aku kembali ke apartemen Candra.
******
Kami tiba di bandara. Pak Toni berpamitan padaku. "Hati - hati ya non, nanti di semarang sudah ada yang menjemput non."
"Tenang lah Pak, aku sudah tahunan tinggal disana dan aku hapal jalan disana."
"Baiklah non, masuk dulu saya baru pergi." Aku mengangguk dan berjalan masuk ke area check in tiket.
Aku masih melihat Pak Toni mengawasiku. Ya...seperti anak kecil yang di lepas karyawisata pertama kali. Aku di awasinya terus
.
Aku menunggu di lounge khusus Kelas satu. Sepertinya aku sendirian dalam penerbangan ini. Aku memilih duduk dan membaca majalah di pojok.
"Hallo...benar Elsa?" Suara laki - laki menyapa.
Aku melihat sosok nya. "Jimmy..?" Jawabku datar.
"Hallo apa kabar? Ga menyangka, bisa ketemu disini. Apa kabar? Mana suami kamu?" Jimmy langsung duduk di sofa sampingku.
"Baik kabarku, suamiku di semarang. Ini aku menyusul nya. Oh iya, selamat ya vina kan habis melahirkan. Perempuan ato laki - laki?" Wajah jimmy kurang suka dengan pertanyaanku.
Jimmy terdiam dulu, "kabar baik kok. Elsa aku mau minta maaf dan selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih Jimm, sudahlah lupakan saja. Semua sudah jadi bagian masa lalu. Biarlah berlalu saja.." jawabku santai.
Aku mendengar panggilang untuk masuk ke dalam pesawat. "Baiklah jimmy, aku masuk lebih dulu ya. Jaga dirimu dan keluargamu ya, serta terima kasih atas gelangnya."
Aku berjalan meninggalkan jimmy. Kok aku bisa ketemu dia. Bagian dari masalalu, hanya menyisakan kenangan..sambil segalanya berlalu...
*******
Akhirnya pesawat Landing, aku turun dan menuju pintu keluar. Entah siapa yang menjemputku.
__ADS_1
Aku berjalan melewati lorong panjang penuh kaca. Suasana sudah gelap dan sepi sekali. Aku menunduk dan berjalan terus.
Aku melihat sosok seperti candra. Menggunakan sweeter abu - abu, celana panjang hitam dan kerah kemeja yang terlihat. Pria itu membuka kedua lengan tangannya.
Apa aku mimpi? Aku membersikan mataku dan menanpar pipi ku. Apa aku mimpi?
Pria itu menghampiriku,makin jelas...benar itu Candra!
"Kok diem aja?"
"...." aku masih diam..
"El..." Candra mengaburkan lamunanku.
"Iya Candra... maaf aku ngantuk, jadi agak melamun..." aku mengapa menjadi kikuk. Ini pasti kerena pak Toni..
Kami berjalan keluar area airport. Sudah agak sepi, mungkin karena sudah jam 10 malam. Banyak orang yang tidak begitu suka dengan penerbangan malam.
Tangan Candra meraih telapak tangan kanan ku. Candra menggandeng tanganku. "Kenapa di gandeng Can?"
"Biar ga ilang..." ishh....gombal lagi.
Aku masuk ke mobil hitam model suv Candra. Kami berlalu meninggalkan airport. Kami terus berjalan.tapi....ini bukan jalan ke rumah martha.
"Candra....kita kok ga belok kiri tadi di perempatan lampu merah tadi." Aku membuka suara.
"Emang kalo kamu pulang ke rumah kakak mu. Kamu ada kamar untuk tidur?" Jawab Candra santai.
"Tidak.." Elsa baru sadar. Rumah Martha hanya punya 2 kamar utama yang di gunakan Mama dan Martha. Sedang kamar pembantu jadi gudang barang - barang mereka.
"Kamu jangan lupa, kamu itu masih istri sah ku! Jadi mainkan lah peran yang baik untuk saat ini." Lagi...lagi...candra harus mengucapkan soal sandiwara ini.
"Candra, mengenai perjanjian tersebut apa tidak bisa di percepat selesainya?"
Pertanyaan ini seperti pukulan untuk Candra.
"Maksud kamu!?" Candra langsung tancap gas.
******
Kami berhenti di sebuah kawasan bukit kota Semarang. Memang di huni oleh kompleks rumah dengan harga M dan T saja. Aku seperti pernah mengetahui rumah ini.
"Kamu kok diem aja?" Candra menyuruhku masuk dari parkiran di basement.
Kami naik lift kecil di sudut ruang basement. Naik 2 lantai kami sampai di ruang utama rumah ini.
"Candra..maaf sebelumnya apa hubungan kamu dengan pemilik rumah ini?"
Candra memandang ku tajam. "Ini rumah papa ku. Berarti masih menjadi Hak ku untuk tinggal disini."
"Bukannya ini rumah Pak.Gondo?"
"Kamu kenal mereka? Aaa..aku ingat, kamu dulu pernah latihan di ruang musik di bawah kan?"
Benar..aku pernah ikut grup konser ansamble klasik. Aku memegang biola dan rumah ini basecamp kami. Konon pemilik nya penyandang dana kami.
"Iya bener..jadi...Pak.Gondo itu.." aku menjawb Candra.
"Adik papa ku. Rumah dia tidak disini, tapi dia memang suka menginap disini. Dan studio itu memang di bangun papa untuk nya. Agar bisa bermain musik dan mendukung anak - anak untuk mencintai dunia musik."
Sungguh kagum aku dengan keluarga Candra. Tak banyak yang aku tahu tentangnya. Tapi malam ini aku kagum sekali dengan nya.
"Jadi dimana aku tidur?" Aku mencari - cari kamar di sekitar ku.
"Di atas, di kamarku. Ayo naik.."
Aku menyusul Candra naik ke atas. Aku masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas. Di dalam ada kamar mandi dengan bathtub. Sungguh indah, rapi dan bersih.
"Kenapa dengan bathtup itu?" Candra berdiri di sampingku.
"Tidak..tidak ada apa - apa..."
Aku berdiri dan menghindari Candra.
Candra menarik tanganku, menarik dan memeluk ku. Mata kami bertemu, sorot mata Candra tajam dan membuatku terhipnotis.
Aku pasrah ketika semuanya terjadi lagi. aku pasrah dengan apa yang di mau Candra. aku menjalankan tugasku.
iya...
Tugasku sebagai istri Candra, tugas yang aku sendiri tak memahami, kenapa harus aku yang melakukannya. apa benar yang aku lakukan?
aku langsung membersihkan badanku. entah rasanya aku kotor sekali. meski ia suamiku, aku merasa kotor ketika kami melakukannya.
Candra memberiku handuk untuk mengeringkan badanku. Aku juga memakai baju tidur daster satin yang Candra beri.
"Aku membeli nya sebelum hari pernikahan kita. Ternyata masih pas buat kamu, Els."
Aku tersenyum ke Candra. "Terima kasih Candra. Baju ini nyaman."
Candra memeluk ku dari belakang. Mencium rambut dan pundak ku dalam - dalam. "Banyak hal yang terlewati Elsa. Tolong jangan mengabaikan aku lagi. Aku mau mencoba di sisa waktu kita."
Candra membaringkanku, ia memeluk ku sepanjang malam. seperti tak rela aku untuk pergi. untuk sekedar bergeser mencari udara lain. dekapannya begitu dalam dan erat malam itu.
Aku hanya diam dan menunduk. Apa aku harus memberi kesempatan? Yakin dia benar akan berusaha?
__ADS_1