
Elsa terbangun pagi itu. Masih terasa jelas Candra memeluknya semalam. Tapi pagi ini dia terbangun seorang diri. Dimana Candra?
Elsa berjalan keluar, mencari dimana suaminya tersebut. Elsa menemukan Candra di ruang kerja nya lagi. Ya..lagi disana, memandang ke layar komputernya. Apa yang sedang di amati oleh Candra.
Elsa mengambil ponsel nya yang tertinggal di meja depan televisi nya. Ia melihat ada sepuluh pemberitahuan email baru.
Semua dari marketplace Elsa. Ternyata tas anyaman Rani banyak sekali peminat nya. Banyak dari luar indonesia yang ingin memesan nya. Elsa langsung menyalakan notebook nya.
Ia duduk lagi di atas karpet, agar punggung dan pinggang nya bisa bersandar pada kaki sofa. Ini posisi ternyaman menurut Elsa.
Elsa menyambung koneksi internet dan mulai membuka situs jual beli nya.
Ia membalas setiap pesan yang masuk. Kemudian ia melengkapi persyaratan yang ada.
Elsa \= Hallo Rani, lo dimana? Udah sampe rumah
Rani \= udah Saa, gimana? Lo butuh apa?
Elsa \= Ran 10 tas lo ready ga? Bisa kirim ke gw pake cargo pesawat?
Rani \= gw ada ready 10, gw juga abis selesai ni bikin selop sendal. Lo mau sekalian?
Elsa \= yes. Bawain yah, segala model dan warna yang ada.
Rani \= gw potong deposit lo ya?
Elsa \= sure!
Elsa mantap memulai usaha sampingan nya ini. Ialu Elsa mengelus perutnya. "Nak..makasih ya bantu mama memulai usaha ini. Semoga mama bisa membawa kamu ke kehidupan yang lebih baik."
"Ada apa El? Kok udah didepan komputer pagi gini.?" Tanya Candra yang sudah berdiri di depan Elsa.
"Cand... kamu udah disini. Aku lagi ngerjain proyek aja.. makanya udah disini." Jawabku canggung.
Candra menghampiriku, mengambil bantal yang ada di atas kursi meja makan kami. "Berdiri El..." Elsa menurut saja perintah suaminya.
Candra meletak kan bantal di tempatku duduk tadi. Kemudian Candra merentangkan kain agak tebal di depan nya.
"Duduk El.." Elsa kemudian duduk di posisi semula.
"Bagaimana?"
"Enak.. nyaman...kamu tau..."
"Aku takut pinggang mu sakit. Makanya aku kasih bantal agar pinggang mu relax. Kain tebal itu bisa jadi alternatif agar kaki kamu ga kram El.."
Elsa hanya mengangguk, ia masih terkesima. Candra bisa perhatian kepadanya.
"Oh iya, kamu hari ini mau kemana?"
Elsa melihat jadwal di ponselnya, "aku hari ini bebas. Tapi jam empat aku mau ke gereja terus eh...jam sebelas aku mau ke istiqlal. Teman ku mau Ijab Cand."
Elsa cepat bangun dan bergegas ke kamar mandi. Ia lupa bahwa hari ini hari pernikahan Citra. Citra sudah mengirim undangan lewat email Elsa. Namun Elsa lupa karena ia sibuk dengan bisnis barunya.
******
Elsa mengenakan setelan kebaya berwarna merah muda. Biasanya tubuhnya terasa pas dengan kebaya ini. Namun, perutnya terlihat agak membusung dari biasanya.
"El, pake flat shoes aja. Kamu ga boleh capek, kalo kram terus kasihan kaki kamu." Candra mengambil sepatu yang sengaja di tinggal di mobil Candra.
"Ini El, pakai ya..." Elsa mengambil sepatu tersebut.
"Cand...ini sepatu baru ?"
"Iya. Aku baca kalau perempuan hamil itu rentan kram di betis kaki. Kemudian biasanya kaki nya akan sedikit melebar, jadi....aku beli sepatu kemarin, ukurannya 1 nomer di atas kamu."
Elsa meletak kan sepatu tersebut di lantai mobil. Kemudian Elsa memasukkan kaki nya perlahan. "Ini cukup Can....eh.. berarti...kaki aku melebar? Bagaimana sepatu kerjaku...!"
Elsa mulai panik, ia dua hari lagi harus masuk kerja. Tapi ukuran sepatu nya saja saat ini sudah bertambah satu nomor.
"Tenang El..aku udah beli lagi sepatu warna hitam buat kamu. Ukuran nya sama dengan yang kamu pakai. Tapi menurut penjaga toko, yang formal akan lebih besar sedikit." Jawab Candra sambil mengelus kepalaku.
"Baiklah Can, ayo kita turun."
__ADS_1
Candra keluar dari mobil. Kemudian membuka pintu untuk Elsa. Dan mereka bergandeng bersama ke dalam ruang resepsi.
Wajah Elsa tersipu malu, ia tak bisa menyembunyikan perasaan senang nya. Kali pertama mereka pergi bersama ke acara pernikahan. Elsa berharap ini tidak mimpi dan bukan menjadi yang terakhir.
Elsa tak kuat lama berjalan dan berdiri. pinggangnya amat sakit,ia menarik lengan Candra dan mengajaknya pulang. Elsa tertatih kembali ke parkiran dengan Candra.
"Kamu cepet pulang engga apa - apa El?"
"Gapapa Cand, aku agak lelah mau duduk dan bosan disana." Jawab Elsa sambil melepas sepatu flat warna Salem itu.
"Terus sekarang kita kemana?" Tanya Candra. Elsa mengambil Seatbelt dan memakai.
"Ke gereja deh, aku udah ga pernah kesana, sejak kita menikah. aku mau berdoa biar kehamilan ku lancar dan bisnis yang baru di mulai sukses." Jawab Elsa dengan polos.
"bisnis?" tanya Candra.
"iya. aku kerja sama temen aku yang kemarin. dia itu produsen dan aku yang menyalurkan nya. Rani ga akan punya waktu untuk mengurus semua sendiri." jawab Elsa.
candra mulai menjalankan mobil nya. "kamu jangan asal percaya El, kalau kamu di tipu. bagaimana? kalau uang kamu habis gimana? kamu mau makan apa?"
"candra..... aku kan masih kerja, dan aku percaya kalau Tuhan ambil semua berarti akan ada ganti yang lebih besar buat aku. aku percaya, hal baik akan berbuah baik juga. lagipula, aku memulai bisnis ku atas doa Can. aku berdoa selalu sebelum memulai segalanya."
"El...kamu itu percaya Tuhan tu baik?" tanya Candra.
Elsa menoleh ke arah Candra. "Percaya lah! Aku bisa hidup sampai hari ini, makan, bahkan bisa hamil itu karena Tuhan Cand."
"Kalo gitu, kenapa Tuhan kasih aku cobaan? katanya baik, maha pengampun dan penyayang" Candra berbalik memandang Elsa.
"Maksud kamu?" elsa mengernyitkan dahi
"Ya....kenapa Tuhan ga kasi jalan keluar, duit, solusi, jawaban sama mengabulkan semua yang aku mau!! Kenapa yang ada malah mengirim kamu dihidup ku, memberi aku cobaan seperti sekarang..." mata Candra mulai berkaca.
Elsa kemudian diam, diam se diam yang ia bisa.
"Kamu Tahu Els? Aku ga ngerti kenapa Tuhan milih kamu buat jadi istri ku. Kenapa kita mesti ketemu lagi, kenapa Cristin batal cerai, kenapa kamu hamil, kenapa aku harus colaaapss!!!"
Elsa masih diam dan menunduk. Candra memacu mobil nya dengan cepat dan berhenti di pinggir jalan ke arah jalan senopati.
"Denger Elsa....aku bangkrut... mulai sekarang, jangan mengandalkan aku soal materi karena aku pasti tidak bisa memberi kamu uang setiap bulan lagi dan...... satu hal lagi, Lebih baik kita berpisah...
"Cand.....kenapa Tuhan Pilih aku jadi pendampingmu? karena Tuhan tahu, aku sanggup hidup susah, aku sanggup bekerja keras untuk dapet duit. bahkan aku sanggup Cand, menghidupi kamu sementara. sambil kita mikir jalan keluar buat masalah kamu..."
"Aku gagal Elsa...aku gagal... aku gagal menjadi suami, aku tahu...aku banyak salah sama kamu. Aku berdosa sama kamu sama anak kita....
Aku engga mau menambah lagi elsa. Aku ga akan sanggup memberi kalian nafkah El... bagaimana dengan kehidupan kalian kalau kita masih terus bersama?"
Mereka saling diam dan berfikir masing - masing. Apa yang baru saja Candra ceritakan bagai petir di hati Elsa. Ia tak pernah menyangka bahwa Candra akan meminta mereka berpisah.
"Cand... kamu mau kita pisah? Tapi saya engga mau. Saya mau anak ini lahir dengan orang tua komplit. Saya mau anak ini mengerti bahwa ia adalah rejeki terbesar yang Tuhan beri buat orang tua nya.
Kalau kamu merasa gagal, maka bangkit lah. Bukan menangis, bukan menghindar apalagi lari."
Candra tertunduk memandang kedua tangan nya. "Aku mungkin bukan pilihan mu, tapi Tuhan bawa aku ke hidup kamu, dengan satu tujuan. Terimalah. Ikhlas lah, walau itu berat.... aku sudah biasa hidup susah Cand.... kalau kita harus pergi dari apartemen kamu, pergilah dengan terhormat.
Kita bisa kost atau sewa kontrakan. Aku sudah biasa hidup sudah Cand....percayalah aku selalu di samping mu...
Candra, roda akan selalu berputar...."
Elsa menarik kedua tangan Candra. Kemudian memeluk Candra, "percayalah badai pasti berlalu... semua akan baik - baik saja...."
Candra hanya membalas dengan memeluk Elsa dalam - dalam.
Candra melepaskan dekapan nya, ia memandang istri nya. Wanita yang selama ini bahkan tidak pernah di pikirkan oleh nya. Wanita yang kehidupan nya di anggap bisa dimainkan semudah itu.
Ternyata jadi satu wanita yang mau bertahan di samping nya. Menjadi wanita yang bahkan dengan tulus menerima nya. Dengan segala kejahatan nya dan kesalahannya.
Candra menarik dagu Elsa, membawa bibir mereka bertemu. Saling beradu, saling merasakan sentuhan bibir masing - masing. Kemudian Candra melepaskan ciuman mereka. Candra memeluk Elsa dan berbisik. "Aku akan belajar menerima dan mencintaimu El......"
Air mata Elsa tiba - tiba ikut keluar. Hati nya sangat tersentuh dengan kalimat yang Candra ucapkan. "Promise?"
"Sure!" Jawab Candra mantab.
*********
__ADS_1
Mereka dalam perjalan pulang setelah beribadah. Macet nya jakarta, membuat mereka berfikir untuk makan dimana.
Elsa melihat ada warung Coto Makasar. "Cand..makan coto aja gimana? Macet, kalo masuk mall kayanya kita bakal susah keluar deh."
Candra menoleh dan mengangguk. Langsung mengarahkan tanda Sign ke kiri, Untuk parkir. Setelah mobil berhenti sempurna Elsa keluar dari mobil dan berjalan masuk di susul Candra.
"Elsa...." suara yang terdengar ramah di telingan Elsa. Dan ia pun mencari sumber suara tersebut.
Elsa melongo dan menjawab, "Tian......."
Tian tersenyum ramah ke Elsa. Kemudian Tian melangkah maju mendekati Elsa.
"Siapa Els?" Tanya Candra yang langsung muncul dari belakang Elsa. Candra langsung merangkul pundak Elsa.
Tatapan mata Tian amat tajam. Ia terganggu dengan apa yang di lakukan Candra. "Saya Tian, teman kerja nya Elsa. Kamu pasti Candra?"
"Iya...saya Candra, suami Elsa." Mereka pun bersalaman.
Elsa hanya sanggup diam dan melihat tangan mereka bersalaman. "Ayo duduk bersama..." ajak Candra.
"Lain kali saja Candra, saya sudah selesai, dan akan pulang. Saya tinggal dulu, sampai ketemu senin Elsa..bye..."
"See you Tian....." aku melepas tian pergi dari hadapanku. Menghilang di antara riuh pengunjung kedai makan kami.
------
"Kalo aku tidak salah, aku pernah melihat kalian bersama waktu SMA. Dia kan Cristian pacar kamu dulu. Jadi dia satu kantor dengan kamu?" Tanya Candra sambil menyantap kuah Coto Makasar nya.
"Iya..dia IT manager di kantorku." Jawabku singkat.
Kami segera menghabiskan makan kami. Candra langsung mengajakku pulang. Sama sekali tidak ada raut wajah cemburu.
'Apa memang aku yang terlalu terbawa perasaan ya.?' Tanya Elsa dalam hati sambil memandang wajah Candra.
"Kamu kenapa ngeliatin terus?" Tanya Candra.
Elsa kaget dan langsung sadar dari lamunan nya. "Engga ...engga papa..."
"Kamu penasaran? Kok aku biasa aja kamu ketemu dan satu kantor sama Tian?" Jawab candra menggoda.
"Engga juga..kan aku profesional, dan aku juga istri kamu." Jawab Elsa dengan diplomatis.
"Kalau aku bilang cemburu, apa, kamu bakalan keluar dari tempat kerja kamu?"
"Belum tau, lagipula tempat kerja ku yang lama sudah terisi posisi nya. Dan kamu juga kan lagi butuh banyak bantuan dana. Aku engga mau menyulitkan kamu...."
Suasana menjadi hening....
*******
Aku masih sulit memejamkan mataku. Aku msih teringat ekspresi Candra. Begitu datar, seperti tidak akan takut sesuatu terjadi kepada ku.
Meski aku pun tahu Tian adalah masalaluku. Apa yang dilakukan nya amat menyakitkan untukku.
"Elsa..jangan pergi dariku..... aku butuh kamu...." kemudian Candra memeluk ku dari belakang. Namun aku hanya diam dan memejamkan mataku.
"El.....aku salah sama kamu, andai kamu tahu. Aku bangkrut. Aku udah engga punya apa - apa lagi. Semua aset aku jual. Aku tidak tahu, kita sampai kapan akan tetap disini...."
Pagi pun tiba, Elsa bersiap ke airport. "Hallo Bapak sudah sampai di airport? Saya kesana ya tunggu tiga puluh menit."
Elsa bergegas, ia tak ingin terlambat. Ini adalah pertama kali nya ia akan bertemu dengan calon pembelinya. Seorang pria asal Swedia. Istri nya amat menyukai tas yang Elsa jual di Marketplace yang mencakup internasional.
Candra masih tertidur lelap. Elsa membiarkan saja agar Candra tetap beristirahat. Ia telah menyediakan Teh dan sarapan untuk Candra.
Elsa membawa beberapa sample tas dan sandal yang sudah datang. Elsa berhenti sejenak di balik pintu. Ia berdoa 'ya Allah...mudah kan lah, agar aku bisa memiliki kehidupan yang lebih baik untuk keluarga kecil kami. Jaga pula suami ku Allah, ketika aku tidak di samping nya. Agar ia selalu terhindar dari marabahaya. Amin.'
Elsa menekan handle pintu, ia bergegas pergi ke lift. Kemudian turun ke lobby. Rupanya Pak Tony telah menunggu nya. Elsa menaiki mobil sedan warna putih dengan lambang Audi.
Kota jakarta cukup lenggang minggu pagi. Matahari juga cukup bersinar. Perasaan Elsa amat senang, ini kali pertama ia mulai berjualan dan berinteraksi dengan orang lain. Ia mantab akan melangkah maju.
"Nak...bantu mama ya.. kita harus kompak! Semangat!!"
Pak Tony tersenyum,"non memang energik dan positif ya kata - katanya."
__ADS_1
"Harus pak! Ucapan yang baik akan mendatangkan hal baik juga pak." Elsa memandang ke arah luar jendela. Langit sangat indah pagi itu.