
mereka terdiam tanpa kata. Elsa tak berfikir kalimat itu dapat menusuk hati Candra.
mata Candra agak merah, ya dia marah. ia merasa kecewa dan amat marah. kegagalan terbesarnya adalah batu bara.
ingatan Candra kembali pada saat Om Hendra
bertemu dengannya. bagaimana intimidasi yang ia lakukan, pembelian aset secara murah dan perluasan gurita bisnisnya yang membabi buta.
bagaimana Candra harus kehilangan Rumah, tanah, dan segala deposito yang ia punya. mengakui kegagalan dan kesalahannya.
sakit dan jatuh yang terdalam menurut Candra. namun jauh dalam hatinya ia bersyukur.
berkat hal itu ia menyadari bahwa wanita di sampingnya kini. adalah wanita yang tulus kepadanya. mengajarkan apa itu ikhlas, bagaimana bangkit dan tersenyum bahwa... Dunia boleh berguncang tapi kita harus tetap berdiri.
Candra pun memandang Elsa. pipi nya yang mirip bapao, rambut ikal berwarna coklat alami dan mata yang lentik. 'kamu memang Cantik alami Elsa.... '
Candra tetap diam memandang Elsa. bibir Elsa cemberut dan memandang luar jendela saja. ia pun tertawa di siku bibirnya. bagaimana istrinya ini begitu lugu dan lucu.
************
"oke semua sudah bekerja maksimal. silakan yang mau sholat atau istirahat. meeting selesai." Anita menutup meeting siang itu.
Richie masih memeriksa laporan keuangan perusahaan keluarga Rachel. ia masih mencium adanya permainan dalam. apalagi soal keuangan yang rancu.
anita memberi amplop warna coklat yang tertutup rapat. Richie pun menerima dan membukanya.
ia melihat beberapa jurnal. dan ada sebuah USB di dalam nya. entah siapa yang memberikan, ia langsung membuka usb di laptop nya.
kedua bola matanya melotot. ia melonggo dan mimik wajahnya memerah. sepertinya isi dari file itu begitu membuatnya marah.
"halo, Anita.. pesan kan saya tiket ke singapura. besok paling pagi." Richie langsung pergi setelah menelpon anita dari kantornya.
*******
"hon... kita mau beli perlengkapan ? udah tinggal nunggu hari.."
"apa Cand? hon?? madu? " Elsa seperti mendengar panggilan yang menggelitik telinganya.
"honey... sayang... apa ada yang aneh?" wajah candra melongo.
"banget! aku tak pernah terbiasa dengan panggilan seperti itu. telingaku panas mendengarnya... " ucap Elsa ketus.
hati Elsa sebenarnya rapuh dan sensitif. tapi ia takut akan sakit hati lagi dengan apa yang terlewati selama ini.
trauma..
kesakitan..
kecewa..
bahkan ia masih tak mengerti bagaimana jalan rumah tangga nya nanti. setelah bayi ini lahir, bagaimana jika semua berubah.
Elsa pun berjalan ke sebuah toko di mall. mall baru dengan konsep modern di kota ini. Elsa masuk ke sebuah toko perlengkapan anak.
semua produk yang di butuhkan tertata rapi. sorot lampu yang terang, membuat suasane belanja menjadi menyenangkan.
harga pun, memang mahal... namun ia juga ingin memberi sesuatu dengan merk tertentu untuk anak nya.
"pilihkan Els.. sesuka kamu, mana yang cocok untuk anak kita. aku akan membayar semua nya.." ucap Candra sambil merangkul pundak istri nya.
"duit dari mana Candra? kita harus hemat.. kita berdua tidak di cover asuransi untuk biaya melahirkan." jawab Elsa. namun pandangan Elsa tak berhenti ke box bayi di hadapannya.
"tenaangg... kemarinada perusahaan yang membayar kepadaku. jadi aku sudah janji akan membeli sesuatu untuk anak kita." ucap Candra dengan senyum ramah.
"gaji... komisi.. dan pengeluaran pasti bulanan apa sudah kamu alokasi? "
"sudah Elsa... sudah... makanya kamu pilih lah. jangan perhitungan untuk anak kita. beli yang dia mau... " Candra menarik Elsa untuk memilih semua nya.
kira - kira sejam mereka memilih. box di hadapan Elsa yang berharga 12jt pun akhir nya mereka beli. Candra terlihat puas bisa membeli semuanya.
memang jika watak nya membeli barang kualitas atas. biar jatuh bagaimana pun ia pasti mencari gengsi yang sama.
mereka jalan ke bagian foodcourt. jam menunjukkan pukul 1 siang. saat bagi mereka makan siang, pandangan Elsa mulai kabur.
entah mengapa Elsa selalu pusing jika ia belum makan sesuatu dalam selang waktu 1 jam. nampaknya buah cinta mereka suka memakan sesuatu.
"Candra... makan dimsum ya.. aku pusing banget, takut pingsan... " Elsa meremas erat lengan kemeja Candra.
"baik.. tu pas ada tempat. pegang aku ya, biar ga jatoh. kalo kamu pingsan repot bawanya." Candra mencoba mengajak bercanda Candra.
namun Elsa tetap tak menggubris suaminya. bagi nya makan adalah hal utama siang itu.
*******
tengah malam ini tiba.. Elsa terbangun dengan kram perut yang amat menyiksa. ia merasa seperti orang yang akan datang bulan.
ia pun ingat saat kelas Yoga di Senam hamil. bagaimana instruktur mengajarinya soal pernafasan. ia menarik dan membuang nafas beberapa kali. Elsa pun mengelus perutnya, 'nak, bukan kah belum saat nya kamu keluar.'
apa yang di lakukan Elsa membangun kan Candra. ia bangun dan menggenggam tangan Elsa.
__ADS_1
"elsa.. apa yang terjadi... " tanya Candra.
"huf... huf..huf ... " Elsa hanya membuang nafasnya lewat mulut.
perutnya sakut sekali, rasanya seperti mendorong turun.
selang beberapa menit perlahan hilang perasaan sakit di perut Elsa. Candra pun mengusap dahi Elsa, peluh yang turun membasahi baju Elsa.
Candra membuka lemari dan mengambil pakaian untuk Elsa. ia pun membantu istrinya melepas pakaiannya.
Candra lalu duduk di samping Elsa. "apa sudah lebih baik?"
Elsa hanya mengangguk, Candra pun menyodorkan segelas air putih. ia selalu menyediakan di dalam kamarnya. karena saat tengah malam Elsa sering merasa haus seperti orang dehidrasi.
"terima kasih... " ucap Elsa.
candra pun mengelus kepala istrinya. ia menepuk pundak istrinya. isyarat bahwa tak apa - apa..
"rasa nya sudah hilang Candra..." ucap Elsa.
"ia sayang, kandungan mu sudah masuk masa tua. kita harus bersiap, walaupun ini pertama buat kita. tapi kita bersama selalu Elsa... "
Elsa pun mengangguk, mereka kembali merebahkan badan. mereka tidur dengan berpandangan, tangan Candra meneluk pinggang Elsa dan mengelus perutnya.
"tidurlah nak, kamu membuat mama dan papa khawatir."
namun tendangan kuat dari perut Elsa. ia memberi respond pada hal yang katakan Candra.
"sayang... tendangannya kuat, kamu pasti akan menjadi laki - laki kuat ya nak... papa sayang kamu..." ucap Candra.
Elsa memejamkan mata nya. ia ingin kembali tidur, badannya kini begitu berat dan mudah lelah.
******
Elsa membuka kedua matanya, ia meraba ke arah samping tempat tidurnya. kosong, lantas kemana Candra??
Elsa bangun dari tidurnya, ia duduk dan melihat jam dinding. pukul 8 pagi, kemana Candra sepagi ini. dan Elsa bangun begitu siang.
ia perlahan turun dan berdiam sejenak. ia takut pusing yang sering datang mendadak kambuh.
sekitar 3 menit kemudian Elsa berdiri.
ia memejamkan mata dan berkata 'terima kasih Allah aku masih dapat bangun dan bernafas pagi ini. lancarkan segala urusanku dan jagalah aku. amin.'
Elsa pun keluar dari kamar, ia melihat suaminya sudah di ruang makan. ia berpakaian rapi dan wangi, sepertinya ada yang begitu penting pagi ini.
"Cand.. .. " panggil Elsa.
ia mempersilakan Elsa untuk duduk. kemudian Candra mengambil roti panggang di hadapannya. ia mengoleskan selai strawberry favorite istrinya.
"ambil lah El... " Candra memberika roti dengan selai ke hadapan Elsa..
"terima kasih... " jawab Elsa. ia pun mulai memakan roti tersebut.
"Elsa... hari ini aku ada meeting, jadi aku akan kembali malam. apa kamu bisa aku tinggal?" Candra berbicara sebelum elsa bertanya.
"kamu meeting soal apa? hotel itu lagi? dengan Hendrawinata??" tanya Elsa.
"iya El, aku terlanjut janji... "
"janji apa?" Elsa meletakkan roti nya dan melipat tangan nya di dada.
"aku berjanji akan membantu bisnisnya. apa salah? ia sahabatku dari SMA."
Elsa mengernyitkan dahi nya. ia tak percaya suami nya begitu bodoh.
"kamu bodoh atau *****?" perkataan Elsa begitu kasar.
"kamu bilang apa?? coba bilang sekali lagi!" Candra naik pitam dengan perkataan Elsa.
"iya kamu bodoh dan *****. kamu tau lokasi itu perbatasan kota dan tidak ada kehidupan bisnis. hanya ada rumah bord** dan klab malam. kamu mau bisnis model apa??" Elsa menggelengkan kepalanya.
"baik jika kamu bilang aku bodoh. jika kami berhasil, kamu akan aku berikan sebuah resort di bali." ucap Candra dengan mantab.
"jika kamu gagal?" Elsa menantang suaminya.
"jika aku gagal, aku akan menuruti kamu dan aku akan cabut semua saham ku dari hotel tersebut. dan aku akan memberi kan kamu wewenang untuk membangun hotelmu sendiri."
"Deal! dalam 5 bulan jika keuangan hotel tidak bisa mencapai setidaknya 50% dari BEP (break Event Point). atau rata2 pas. kamu menuju gagal."
"Deal!" candra lalu berdiri dan meninggalkan Elsa.
ia mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan Elsa tanpa berpamitan. Elsa hanya melihat suaminya dan membuang nafas beratnya. "dasar bodoh dan serakah."
Mbok Yem datang dan membereskan meja makan. ia takut karena Elsa dan Candra bertengkar di pagi hari.
"maaf ya Mbok, saya cuman engga mau suami saya jatuh 2 kali mbok... saya ke kamar ya Mbok.."
"Baik non... "
__ADS_1
Elsa pun masuk ke kamar nya. ia membersihkan diri dan merenung. kenapa suaminya menjadi berambisi, apa ia punya target untuk membalas om Hendra.
"aku mengenal nama Hendra sebagai orang yang hampir sama. ya Tuhan... sabarkanlah aku... "
******
seorang Pria bertato terlihat mengintip di luar pagar rumah Elsa. ia seperti sedang mencari seseorang.
tak berapa lama Mbok Yem datang dan tersenyum. sepertinya ia kenal dengan lelaki tersebut. ia pun membuka pintu dan mempersilakan masuk.
rupanya ia adalah Billy, lalu ia duduk di ruang tamu. Mbok Yem mengetuk pintu kamar Elsa.
"non.... " panggil mbokyem.
tak berapa lama pintu terbuka. Elsa menyambut dengan pakaian daster hamil dan wajah polos tanpa bedak. namun sejak kehamilannya Elsa justru makin cantik.
mbok yem pun terpana, ia hanya menatap Elsa.
"kenapa Mbok??" tanya Elsa.
"eh non, bibi terkesima sama non.. maap... itu ada temen Mas Candra. ia namanya Billy, orang nya 'sangar' (menakutkan) tapi hati nya baik non."
"dia nyari saya?" tanya Elsa binggung.
"sepertinya iya non... diruang tamu non. " Mbok Yem lalu pergi ke arah dapur. ia membuatkan minuman teh hangat untuk tamu nya.
elsa pun keluar dan menyambut billy. betapa kaget nya Elsa, pria yang mirip dengan Preman atau jawara itu teman suaminya?
"hallo.. saya Elsa, istri Candra. ada yang bisa saya bantu?" Elsa memberikan telapak tangannya.
Billy menyambut dan mereka bersalaman.
"maaf saya engga bilang dulu. saya Billy, saya teman dekat Candra saat SMP. saya datang kesini sebenarnya mau mencari Candra."
"maaf Candra sedang pergi keluar. tapi saya engga paham ia kemana. ada yang saya bisa bantu?"
mbok yem datang dan menyuguhkan Teh hangat dan beberapa roti di atas piring.
Elsa melirik dan merasa kenapa mbok yem begitu loyal dengan tamu ini?
"silakan teh nya... " Elsa menawarkan kepada Billy
"thank You..... sebelum nya... saya minum dulu ya." Billy mengambil gelas dan mulai meminum teh nya.
"jadi sebenarnya, ada apa dengan suami saya?" elsa penasaran.
"jadi begini suami kamu datang ke saya. ah, maaf bisa kita berkomunikasi lebih santai? " billy kesusahan berkomunikasi dengan formal.
"baiklah bicara saja senyaman mu." jawab Elsa dengan senyum ramah.
"jadi suami kamu minta saya mencari tahu soal lokasi tempatnya akan membangun usaha. dan saya tahu satu hal. bahwa lokasi tersebut merupakan tanah sengketa. dimana pemiliknya juga ada hubungan keluarga dengan Cristin."
"kamu kenal Cristin??" rupanya wanita itu lagi, haruskah menjadi musuh ku semumur hidup??
"ya aku cukup paham, wanita yang selalu mengejar Candra. wanita tersebut membuat Candra tak bisa berkutik. kemana pun Candra ia selalu mengikuti. tapi percayalah, hati nya begitu busuk."
"....." elsa diam dan tak dapat berucap.
"jadi kamu kenal dia juga? dan kenapa Candra bisa sebegitu tergantung dengan Cristin?"
"Candra itu anak polos, ia anak penurut. banyak wanita suka kepadanya sejak SD. tapi cristin begitu berani mendekati nya. begitulah Candra pemalu dan tidak suka bersaing."
"lalu...?" elsa tertarik dengan kehidupan suaminya. bagaimana tidak, ia tak paham bagaiman suaminya saat itu.
"lalu cristin selalu menjadi benalu. prestasi Candra turun dan ia menjauhi kami. menjadi engga asik lah. sudahlah, yang mau aku sampaikan... pikirkanlah lagi, keluarga mereka itu.. keluarga penipu. jadi lebih baik berhati - hati.
karena teman yang nampak baik bisa jadi menusuk mu dari belakang.." jawan Billy dengan tegas.
Elsa terdiam dan memandang air dalam cuptea nya. ia terdiam mengingat betapa Candra begitu membela temannya saat Elsa tak sependapat.
"tapi tujuan kamu bilang ke aku apa? kamu kan paham, bagaimana Candra. jika ia mau satu hal. ia akan berusaha mencapai nya apapun caranya."
"aku percaya kamu bisa memberi tahu nya. kekuatan cinta dapat merubah seseorang Elsa. percayalah. dan aku melihat kamu bisa membantunya.
jangan lihat penampilanku, aku biasa hidup di jalanan. jadi kamu pasti tidak akan percaya.
tapi intuisi ku biasanya benar, cuman kamu yang bisa menolong suamimu... " ucap Billy dengan lugas...
*********
Elsa duduk sendiri di taman halaman rumahnya. ia masih tak percaya apa yang di dengarnya.
mbok yem datang dan membawakan susu kepada Elsa. lalu mbok yem duduk di lantai di bawah Elsa.
"non jangan takut, Billy itu temen dari kecil nya Candra. sudah seperti keluarga. cuman karena ia engga setuju mama - papa nya pisah dan dia di titipin ke panti asuhan. makanya kabur dan hidup di jalan."
"oh i see, pantas tatonya banyak sekali. ia ternyata hidup di jalan." Elsa mengangguk.
"ia non, tapi sekarang hidupnya udah bener. sejak ketemu istri nya, sekarang jualan makanan dan jualan di pasar hewan non. jadi udah bener, tapi tato sama anting nya kadang nakutin ya non... " mbok yem berkata sambil tersenyum. gigi tua nya membuat nya menjadi lucu ketika berbicara.
__ADS_1
"iya benar mbok.. makanya aku kaget tadi." jawab Elsa.