Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 35


__ADS_3

Dokter putri masuk dan menyapaku. "Hallo Bu Elsa ketemu lagi....apa kabar? Sudah enakan bu? Sebelum nya selamat ya bu.." dokter putri menyalamiku.


"Iya dok selamat pagi." Aku memaksa tersenyum.


Aku terpaku melihat wajah cantik nya. Dokter perempuan yang begitu anggun dan cantik. Hidung yang begitu mancung, tinggi,suara yang halus, kulit bersih putih dan hijab yang serasi menutupi kepalanya. Anggun sekali Dokter Putri


"Ibu selamat, kandungan Ibu sehat. Kalau saya lihat dari janin nya ini masuk 9 minggu Bu.


Ibu harus berhati - hati. Kandungan Ibu lemah, dan ibu harus bedrest dulu. Kasihan Ibu dengan adek nya, saya akan resep kan penguat kandungan dan obat pencegahan jika sewaktu - waktu ada darah yang keluar ya Bu." Dokter putri menjelaskan keadaanku. Kemudian ngambil buku berwarna biru Navy.


"Ini buku wajib di bawa ibu kemana - mana. Ini buku catatan kehamilan Ibu. Jangan sampai hilang Bu, ini penting untuk memantau kesehatan Ibu." dokter Putri memberi buku tersebut kepadaku.


Aku membaca tulisan sampul buku tersebut. 'Buku catatan kehamilan' aku membuka buku tersebut. Isinya seputar kehamilan dan ada banyak sekali kolom tulisan.


"Nah buku tersebut bakalan berisi soal rekam kehamilan Ibu. Jadi jangan pernah lupa di bawa ya Bu. Baiklah saya tinggal dulu ya..Ibu istirahat ya, agar cepat pulih." Dokter Putri pamit keluar.


Aku mengangguk dan melihat nya pergi berlalu. Tak banyak kata yang keluar dari mulutku. Aku memegang perut ku, benar kah. Ada kehudupan disini.


"Elsa....selamat ya.... lo sekarang telpon Candra, ceritain berita bagus ini. Dia pasti senang sekali.." kemudian aku memandang Richie.


"Engga bisa....." suaraku lirih.


"Maksud LO!?" Suara Richie meninggi.


"Gw udah janji bakalan biarin Candra sendiri. Buat apa yang bakalan jadi pilihannya....


Gw juga udah 2 bulan ini engga ketemu dan komuniksi sama Candra..."


"Lo gila!! Lo tuli kah? Denger tadi dokter bilang apa? Lo itu harus hati - hati. Karena riwayat lo dan rahim lo juga lemah Elsssaaaa.......


Lo tau? Gemes gw sama kalian. Gengsi amat sih buat mengakui perasaan kalian sendiri?"


Aku hanya duduk dan menunduk. Aku binggung menata kalimatku dan menjelaskan semua nya. Bagaimana jika Candra tak memilihku....


Eh.....aku sudah biasa sendiri, lebih baik biarkan Candra memilih sendiri. Jangan karena anak ini, aku mengorbanlan kebahagiaan seseorang.


Sore itu aku berjalan di sekitar taman Rumah sakit. Richie mendorong kursi roda ku. Kami berhenti di sebuah sudut taman.


"Hmm...Richie... apa yang bisa aku lakukan?"


Richi duduk di kursi taman samping ku. "Elsa.....lo harus jujur, gimana pun juga Candra itu suami lo...dia wajib tau soal keadaan lo. Gimana juga dia bapak dari anak dalam kandungan lo."


Kami sama - sama diam, tak berapa lama ponsel Richie berbunyi. "El..gw kesana dulu ya..." aku hanya mengangguk dan Richie pun berlalu.


Aku masih menikmati waktuku, memandang tanaman, gemericik air. Hingga seseorang mengagetkan ku, "Elsa...kamu disini..." aku menoleh.


"Christian..?" Aku tak percaya Tian. Beneran Tian?


Tian duduk di kursi tempat Richie duduk tadi. Tian mengeluarkan boneka beruang warna coklat dari tas jinjing yang di bawa. "Ini...buat kamu..."


Aku menerima boneka tersebut. Ada kalung yang melingkar di leher beruang tersebut, aku melihat tulisan di liontin kalung tersebut.


'Gws Elsa...see you soon...'


Aku tersenyum, "thanks ya Tian...."


Tian memandangku, pandangan nya berbeda dengan saat terakhir kami bertemu. Saat ia seperti buta! Tak melihatku sedetik pun.


"Jadi...kata dokter gimana?" Tian memecah suasana.


"Ya begitu...aku ternyata hamil, dan butuh istirahat dulu..." aku memandang Teddy Bear ku.


"Waw! Selamat yaa..." Tian mengajakku bersalaman. Aku hanya melihat tanga Tian di depanku.


"Selamat dong Elsa...kamu bakalan jadi seorang ibu. Itu hal yang luar biasa. Dan dimana Candra? Aku mau memberi nya selamat." Tian mencari sekelilingku.


"Suami ku belum tau...dia masih di luar indonesia...."


Richie kembali dan menepuk pundak ku. "Elsa..udah agak malem, masuk yuk..oh iya ini siapa?" Menunjuk Tian.


"Saya Tian, temen kantor dan temen SMA nya Elsa..." mereka pun bersalaman.


"Ya sudah Elsa..aku balik dulu, cepet sembuh ya...see you... saya duluan kak..."


"Okei..panggil aku Richie saya.." jawab Richie.


"Richie...bye..." Tian pun pergi berlalu.


"Dia mantan pacarmu?" Aku langsung melihat ke arah Richie.

__ADS_1


"Lo bilang apa?!" Aku memperjelas apa yang aku dengar.


"Iya.... dia mantan pacar lo kan?" Aku diam dan menjawab "iya..tapi sudah lama sekali kami berpisah. Jauh sebelum aku bertemu Candra."


"Bodoh nya dia!" Jawab Richie.


"Apa?? Lo bilang apa??"


"Engga..salah denger lo..udah yuk balik..." Richie mendorong kursi roda ku dan kembali ke ruangan ku.


'Elsa...andai lo tau, gw beneran tertarik sama lo. Tapi gw takut gosip soal kematian Stella, nge'buat gw buat menjaga jarak dengan perempuan sementara waktu. Elsa...andai hasil investigasi udah keluar dan lo usah selesai sama Candra. Gw tulus mau nerima lo. Gw ga rela kalo lo menderita.'


Hal tersebut yang ter'ngiyang di pikiran Richie.


"Stoppp..." aku berdiri perlahan, Richie memapah ku untuk kembali ke tempat tidur.


"Oh iya tadi gw ketemu Dokter Putri. Lo besok udah boleh balik, dan gw udah minta di prepare bill nya semua. Besok gw pagi kesini, lo packing terus balik. Lo mau balik kemana?" Richie mengembalikan Kursi roda di pojok ruanganku.


"Apartemen gw lah Richie, gw belom ijin Candra. Dan semua barang gw masih di apartemen."


Richie kemudian mengambil ponselku. "Nih... cepet telpon Candra!"


"Buat apa?"


"Bilang lo mau pindah tinggal disana selama Lo hamil."


"Ogah.....gw udah bilang gw lagi ngebiarin Candra dengan waktu pribadinya..." Richie kesal dan menekan panggilan ke Candra melalui ponsel Elsa.


"Hallo Candra?"


"Ga usah nge gas dulu. Gw cuman mau bilang, istri lo mulai besok tinggal sama Lo. Ga masalah kan?"


"Nah iya...okei..bye..."


Richie mengembalikan ponselku, "udah besok lo siap balik."


"Richieeeee....."


********


Aku memandang ke cermin kamar mandi. Aku melihat diriku, mata dengan lingkar hitam, tulang wajah yang makin terlihat dan badan yang kian turun berat nya.


Apa mencintai itu harus se buta ini?


Masih mau bertahan dengan pria seperti Candra hanya karena alasan Cinta....


"Lo udah selesai? Gw udah beresin admin lo. Ternyata asuransi lo cover smua biayanya. Keren banget..." Richie membereskan tas Elsa yang akan di bawa.


"Dasar anak Ekonomi." aku berjalan di belakang Richie. Membawa serta boneka dari Tian.


Saat kami sedang menunggu lifft. "Better lo ga bilang deh. Boneka teddy lo dari siapa."


"Emang kenapa kan dari temen."


"Lo kan tau Candra tu engga bisa kontrol emosi nya.." lift pun terbuka dan Richi masuk.


"Tunguuuu...." aku menyusul Richie masuk lift.


********


Aku memandang ke cermin kamar mandi. Aku melihat diriku, mata dengan lingkar hitam, tulang wajah yang makin terlihat dan badan yang kian turun berat nya.


Apa mencintai itu harus se buta ini?


Masih mau bertahan dengan pria seperti Candra hanya karena alasan Cinta....


"Lo udah selesai? Gw udah beresin admin lo. Ternyata asuransi lo cover smua biayanya. Keren banget..." Richie membereskan tas Elsa yang akan di bawa.


"Dasar anak Ekonomi." aku berjalan di belakang Richie. Membawa serta boneka dari Tian.


Saat kami sedang menunggu lifft. "Better lo ga bilang deh. Boneka teddy lo dari siapa."


"Emang kenapa kan dari temen."


"Lo kan tau Candra tu engga bisa kontrol emosi nya.." lift pun terbuka dan Richie masuk.


"Tunguuuu...." aku menyusul Richie masuk lift.


Kami berjalan menuju apartemen Candra. Sudah dua bulan aku tak melihatnya. Kenapa jantungku amat berdebar bertemu dengan nya.

__ADS_1


Kami turun, naik lift dan berjalan menuju kamar Candra. Aku menempel kan kunci yang aku punya.


Pintu pun terbuka, kami masuk kedalam. Suasana nya sepi, aku melihat ke arah dinding di atas Tv.


Itu foto pernikahan kami!!


"Jangan memasang foto pernikahan kita. Karena kita juga cuman bersama selama dua tahun."


Aku mendekati foto tersebut. "Aku bahkan belum melihat album kami. Ini bagus sekali, bisa mengambil saat kami tersenyum."


Aku terus melihat foto pernikahan kami berdua. entah aku merasa sangat senang, aku sampai tersenyum terus. "kamu pulang Elsa?" suaranya aku kenal.


kemudian sepasang tangan memegang kedua lengan ku. rasanya hangat dan nyaman sekali. aku sangat kenal dengan sentuhan ini. aku membalik kan badan ku, dan memandang sosok tersebut.


aku menegadah, memandang wajah nya. "iya candra...aku pulang..."


Richie kemudian tersenyum kecut melihat kami. "gw balik dulu ya...barang lo udah gw taroh kamar depan sini ya..." Richie menunjuk ruangan di belakang sofa.


"oh...baik..terima kasih Richie...." aku kemudian melambaikan tangan, Richie pun pergi meninggalkan kami berdua.


kemudian suasana menjadi dingin dan sunyi. "Elsa...kamu tidur di kamar ku saja. kita kan suami - istri..."


"baik Candra...aku boleh meletakan barang - barangku di kamar depan kan?" aku berjalan ke kamar depan.


"boleh....letakan saja disana..."


aku memasukan beberapa potong pakaian ku ke dalam lemari. kamar ini dulu di pakai oleh Hangga. jauh sebelum dia pindah ke Singapura. rasanya lumayan juga kamar ini untuk me time.


aku beristirahat sejenak, pinggang ku menjadi sakit secara tiba - tiba. aku kemudian merebahkan badanku. "Oh Tuhan...pinggang ku...."


nampak nya aku kelelahan, aku kemudian tertidur di kamar depan. saat aku membuka kedua mataku, sinar matahari sudah masuk dari sela tirai jendela yang tersingkap.


aku bangun perlahan dari posisi telentangku. aku kemudian berusaha duduk di pinggir tempat tidur. "ya Allah...rasanya sangat luar biasaa...."


",satu..duaa....tiga.." aku berdiri perlahan dan memegang perut bagian bawah dengan tangan kanan ku. rasanya aku tak rela kehilangan anakku lagi.


kemudian aku berjalan keluar dari kamar.


aku melihat Candra sudah siap dengan pakaian rapi. kemeja biru muda lengan panjang, di lipat nya hingga batas siku tangan nya. celana kain rapi warna hitam dan sabuk berwarna coklat muda. aku baru kali ini melihat Candra begitu rapi. aku sampai terpaku, 'nak...papa mu begitu mempesona..'


"ayo sarapan dulu. aku buat pancake buat kamu..." aku langsung sadar dari lamunan ku.


"iya Cand..terima kasih..." aku kemudian mendekati meja makan, aku menarik kursi makan di depan Candra. kami duduk berhadapan, Candra lebih dulu memulai makan.


"maaf aku duluan, nanti jam 10 aku ada meeting dengan klien. oh iya malam temani aku menjenguk Cristin ya. ia telah melahirkan.."


"baiklah....." aku tersenyum dan mengangguk. aku mulai makan pancake buatan Candra. rasanya enak sekali, aroma butternya begitu menggoda.


aku menghabiskan sampai 3 buah Pancake pagi itu. rasanya lapar sekali, nampak nya anakku cocok dengan masak kan papa nya.


"kamu libur elsa?" Candra membereskan piring makan kami.


"iya, aku ada cuti unpaid 2 minggu. kemarin sudah aku pakai 5 hari. jadi aku masih punya banyak." aku membantu Candra membawa piring ke wastafel. tapi kemudian aku ingat vitamin yang harus aku minum.


aku meninggal kan Candra di ruang makan. aku masuk ke kamar dan mengambil botol vitamin ku. B**lackmores, itu yang tertulis di sampul botol. aku mengambil satu dan meminum dengan air yang ada di botol minum kamar ku.


aku jalan keluar, dan menyusul Candra. aku kemudian mengambil sarung tangan untuk mencuci, dan memakai celemek untuk dapur. Candra tersenyum kepadaku, aku mulai membantu Candra.


baru saja aku membilas piring yang bersih. aku mencium bau amis dari pembuangan air. kepala ku langsung pusing dan mulutku menjadi pahit. aku mencoba menahan, tapi perut ku malah ikut tidak jelas rasanya. aku tidak kuat lagi.


aku berlari ke kamar mandi sebelah dapur kami. "hoooooeeekkkk...hoooeeekm....."


semua makanan tadi keluar semua. rasanya banyak yang aku muntah kan.


Candra menyusulku dan menekan punggung atas ku. agar aku lega memuntahkan semua yang menyangkut di leherku. kemudian candra memberiku tissue, "kamu mau balsam vaperup(mentol yang tidak terlalu kuat aroma nya) ?"


"Boleh Cand...tolong ambilkan di atas meja samping tempat tidur di kamar." Candra memapah ku untuk duduk disofa depan Tv. aku meyandarkan kepalaku di punggung sofa.


'apa ini morning sick?' aku bertanya dalam hari.


Candra masuk ke dalam kamar depan. Candra mengambil Balsam tersebut, tapi Candra tertarik dengan Botol vitamin Elsa. Candra melihat dan membaca fungsi dari vitamin tersebut. "untuk ibu hamil dan menyusui?"


candra meletakan kembali botol vitamin Elsa. kemudian Candra keluar dan menghampiri Elsa. "sini Elsa..aku kasi tenggorokan dan punggung mu. mungkin kamu masuk angin. sudah istirahat lah, siang aku selesai meeting. aku akan langsung pulang, kita ke dokter ya?"


"tidak usah Cand..sore saja ke RSIA kita lihat adek bayi. siang ini aku biar istirahat, aku juga kemarin sudah dari dokter. aku cuman kecapekan aja. aku butuh tidur.....


sudah Can..cukup pijatan nya, aku sudah enakan..."


Candra melepaskan pijatan di pundak ku. kemudian Candra bersiap mengambil tas kerja nya. "pokok nya kalau kamu merasa kurang enak atau terjadi sesuatu cepat telfon aku. jangan menunda apa - apa, aku lebih baik kehilangan Project baru daripada aku menyesal mengabaikan panggilan mu.."

__ADS_1


"sudah...aku engga kenapa - napa kok. sana..hati - hati ya...semangat Candra..." Candra kemudian mendekati ku, dan mengecup keningku.


"iya Elsa..doakan aku..." aku tersenyum melihat Candra. Candra pun pergi berlalu meninggalkan ku.


__ADS_2