Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu
BAB 21


__ADS_3

suasana meeting room pagi ini cukup tegang. Bapak Antok, Bapak Louise dan Candra.


Pak Setyawan dan Bu Amel saling berpandangan..


"jadi kita mulai on the spot meeting hari ini. Selamat pagi.."


"Tunggu!!" Pak Antok langsung menghentikan ucapannya


"Baik Bapak Candra, kami akan menunggu." semua yang hadir diam dan menunduk.


"Aku hanya ingin bertanya. dimana Elsa? Bukannya seharusnya Ia datang dalam setiap meeting dengan saya?" sorot mata Candra tajam.


"Mohon maaf sebelumnya Bapak Candra. Elsa sudah mengundurkan diri dan dua hari yang lalu adalah hari terakhirnya bekerja disini." jawa Pak Setyawan.


"kamu melepaskan istri saya tanpa bertanya dulu kepada saya?!" pandangan matanya jadi dingin. "saya meragukan integritas anda. sudahlah mulai rapat ini sekarang"


dan meeting pun di mulai. Candra lebih memilih diam sepanjang meeting.


'Aku pasti akan menemukanmu.'


*******


Aku memasuki ruang kerja baruku. pak Zaenal menemaniku untuk memperkenalkan diri.


"selamat pagi semuanya. ini perkenalkan Ibu Chief Accountant kita yang baru. dari Aryah ya bu? Bu Elsa namanya."


aku bersalaman dengan tim ku yang baru. wajah baru dan masih muda. sepertinya akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat untuk ku..


"Baik Bu saya Tinggal dulu." Pak Zaenal pergi meninggalkan ruang finance.


"Terima kasih semua. pertama, saya mau minta update ageing(piutang - hutang) semua sisi ya. dan balance sheet Rekon, bisa saya lihat kah di sharing folder kita?"


"Ada semuanya si bu, ibu bisa lihat di Fin-A disitu ada per section sama folder." Jawab salah satu dari mereka


"key...thank you." aku berlalu dan masuk ruanganku. aku mulai pekerjaan baruku, tanpa lagi harus mengingat soal masalaluku.


aku harus mengejar kembali yang menjadi Tujuanku...uang...


*DUA BULAN KEMUDIAN...


"hallo?" aku berbicara melalui sambungan telpon kantor.


"hallo Ibu, ini ada orang datang cari ibu di lobby."


"namanya siapa Agnes?"


"Pak Toni bu." aku terdiam mataku tersentak,


"baik saya naik menemuinya.," Telfon pun tertutup.


aku menarik nafasku, berdiri dari tempat duduk. mengambil telfon genggamku, aku berjalan keluar. "saya ketemu tamu di Lobby ya."


"baik bu..."


aku berjalan menyusuri lorong menuju tangga darurat. membuka pintu, kemudian aku berjalan naik.


"Selamat siang bu.." sapa salah satu anak Engineering padaku


"siang...hallo..." aku tersenyum padanya.


aku membuka pintu akses masuk ke lantai Lobby. berbelok ke arah pintu samping kanan, melewati ruang General Managerku. keluar sampai pada meja reception.


ada satu anak Front office saja, "Indah, mana Pak Toni?"


indah menoleh, "Disana bu, " menunjur pria paruh baya duduk dekat internet corner kami.


"okay, Terima kasih." aku berjalan kembali meninggalkan meja reception.


sepatu hitam mengkilapku bersinar terkena pantulan sinar matahari siang itu. aku jadi ingat, sepatu ini pemberian Candra saat kami akan bertunangan.


"Pak Toni...apa kabar?" aku menyapa ramah ke Pak Toni.


"Non Elsa....non apa kabar? sekarang saya cari non kemana - mana." aku kemudian duduk di hadapan Pak Toni.


"iya pak...udah beberapa bulan kita engga ketemu," aku tetap melempar senyum.


"Non Elsa, Candra sakit, masuk di RS Columbia. non tolong kalo sempat nengokin dia.."


'apa hubungannya denganku.' aku membuka suara, "owh.. tapi kan sudah ada dokter Hebat yang merawatnya. pasti cepat sembuh."


"...tolonglah non..sudah hampir seminggu tidak ada perkembangan....."


kami sama - sama terdiam....


hanya hembusan nafas yang terdengar...


"sebenernya saya kesini dapet pesan dari Bapak. besok sabtu keponakan Bapak akan menikah, ini undangannya." Pak Toni memberi undangan pernikahan bernuansa merah.


aku menerima undangan itu, "Noura Mila Sedjati?"


"Iya non Mila menikah, dan harapan bapak non bisa datang. untuk baju, non bisa ke Butik Jason, disana sudah di sewa bapak semua.


tolong ya non..."


aku masih terdiam memadang Pak toni..."..."


"baik Pak Toni, aku usahakan yah salam untuk bapak.. aku akan mampir saat pulang nanti..."


"baik non..terima kasih..non jaga kesehatan ya.."

__ADS_1


Pak Toni pun pergi menjauh dengan mobil Suv milik Candra. aku berbalik badan, kembali masuk ke dalam Hotel. kembali pada tugas utama ku.


Jam menunjukan pukul 07.30 malam. Aku berhenti dan mengingat apa yang pak Toni katakan.


Aku bergegas menyimpan file ku, mematikan komputerku. Aku mengambil tas kerjaku berwana salem semu pink. Berjalan keluar dari ruanganku, ya sudah tidak ada orang. Hanya tinggal diriku saja.


Aku berjalan menyusuri lorong yang menjadi lebih gelap, saat malam seperti ini.


"Selamat Malam...Bu Elsa, saya cek tas nya dulu, mohon maaf..." security mulai memeriksa tas ku. "Baik..terima kasih Bu Elsa.. baru pulang bu? Sudah malam begini"


"Iya mba May, saya duluan yaa...ojol saya udah dateng..permisi...", namanya Damaianti. Tapi biasa memanggil Mba May...


"baik bu..silakan.. Hati - Hati Bu..." perawakannya tegap tinggi, namun wajahnya manis dengan rambut Bob yang selalu rapi.


Aku berjalan keluar pos security depan Hotel. Mencari ojol yang telah sampai.


Ah...itu dia...motor honda beat keluran lama, aku mendekatinya.


"Atas nama Mba Elsa?"


"Iya pak, Bapak Syamsudin? saya pinjam helm ya."


Bapak syamsudin memberikan helm kepadaku.


Kemudian aku menaiki kendaraan nya. Perjalanan ku pun, di mulai dengan jakarta yang sudah selesai jam padatnya orang pulang kerja.


"Bu, mau berhenti di pintu depan atau samping?"


"Depan saja pak.." tak sampai 10 menit, aku pun sampai.


Aku turun dari ojolku, melepas helm dan mengembalikan ke Bapak Syamsudin. "Terima kasih pak, sudah di bayar ya. Pake Pointpay saya." ,"iya sudah Bu..terima kasih."


Aku meninggalkan ojolku, berjalan masuk ke pintu masuk. Terlihat tulisan khusus pejalan kaki. Aku masuk melalui jalan kecil yang tersedia samping pintu otomatis.


Kemudian aku melihat ke atas gedung, terulis.....


.RS COLUMBIA.


"Permisi Bu, kalau pasien Tuan Candra Adiwinata di ruang apa ya?"


Aku bertanya pada reception didepan pintu masuk.


"Mohon maaf sebelumnya, apa bisa di beri tahu nama istri dari pasien? Agar data kami tidak tertukar."


Aku mantab menjawab, "saya Istrinya, nama saya Elsa Nirmala."


"Baik Ibu, mohon di tunggu sebentar..",mereka memeriksa data di komputer. "Mohon maaf telah lama menunggu Ibu, bapak Candra ada di lantai 5 no 8 ya bu."


"Baik terima kasih." Aku langsung pergi meninggalkan reception.


Aku melangkah menuju Lift tamu. Menunggu lift terbuka, bersama ku ada beberapa keluarga pasien yang ikut menunggu.


Di susul keluarga pasien yang ikut menunggu dengan ku.


Lantai 5, lift terbuka..


Aku melangkahkan kakiku keluar dari lift. Melihat papan penunjuk arah no 8 ada di barisan kanan.


Aku melangkah perlahan, menuju kamar no 8.


Langkahku yang semula mantab menjadi berat. Amat berat dan lambat...amat berar untukku terus berjalan....hingga aku berhenti di depan persis di depan pintu no 8.


******


"Ini aneh pak, trombosit bapak tidak naik - naik. Padahal kami sudah memberi tambahan infus juga.


Makanan yang masuk hanya sedikit dan jika terlalu banyak, bapak akan memuntakan kembali.


Dari hasil Lab, bapak tidak ada infeksi di bagian manapun.


Saran saya mungkin bapak butuh refreshing dan menenangkan pikiran bapak.


Atau bapak terlalu berat memikirkan pekerjaan bapak.."


Candra hanya diam dan mengangguk. Candra masih sibuk membaca berkas lewat ipadnya.


"Bapak jika butuh sesuatu silakan hubungi perawat, saya permisi dulu."


"Ya.." dokter pun pergi meninggalkan Candra. 'Kalau aku minta kamu cari Elsa apa kamu bisa?'


Pintu kamar Candra kembali terbuka, perlahan seseorang muncul...dengan rambut terikat rapi, baju kemeja berwarna putih dan celana kain warna hitam, serta Cardigan merah menutupi bajunya agar tak tampak seperti anak magang.


"ELSA...." Candra meletakan lpadnya, tangan kirinya menarik tiang infus. Candra memaksa dirinya turun dari ranjang pesakit itu.


Memaksa kan seluruh badannya yang lemas untuk kuat turun dari ranjang. Bagaikan menerima kekuatan ajaib, Candra langsung turun dan berjalan cepat ke Arah pintu. Dengan selang infus dan tiang nya yang masih mendampingi Candra.


"Aku...apa aku mimpi? Serius kamu Els?"


Elsa masih diam saja, tangan Candra mencoba memegang wajah Elsa. Namun Elsa menghindar.


"Kembali lah ke tempat tidurmu, kau kan sedang sakit."


"Tidak!! Aku udah sehat. Aku udah sehat! Aku akan pulang sekarang dan membawa kamu pulang."


"Eits...stop..tunggu dulu.. kamu jangan percaya diri dulu Cand.


Saya datang kesini hanya meminta, jika kamu mau menceraikan saya. Saya ambil saja berkasnya di kantor kamu."


Candra malah semakin maju mendekati Elsa. "Saya tidak akan pernah menceraikan kamu. Kita masih punya waktu 1 tahun 6 bulan. Saya tidak akan pernah melepaskan kamu."

__ADS_1


"..." Elsa menunduk dan memutar bola matanya..


"Atau kamu....sudah memiliki kekasih baru? Jadi kamu mau berpisah denganku?"


"Tidak!! Err...maksudku belum, mungkin suatu hari." Jawab Elsa gugup. Tangannya menjadi dingin, dirinya merasa nervous bertemu dengan suami nya sendiri.


Suami yang telah memintanya pergi. Dimana kata pepatah, 'sekali saja kamu biarkan istrimu pergi dari rumah. Maka selamanya mustahil dia kembali'


Pepatah itu tidak berlaku untuk Candra. Karena buat Candra, "aku harus bisa membawa mu kembali."


Candra memegang tangan kanan Elsa, "Elsa..aku mohon, kita ulang dari awal semuanya. Kembali lah kepadaku, tinggalah bersamaku."


Elsa hanya diam....cukup lama terdiam..


Elsa mengambil nafas panjang, "aku kemari atas kabar bahwa kamu lama sakit tapi tidak kunjung sembuh. Tapi saat ini, kamu terlihat amat sehat. Jadi lebih baik saya pulang saja.


Ini membuang waktu istirahat malam saya. Kalau begitu saya permisi dulu." Elsa memutar badannya membelakangi Candra.


"Kamu boleh pergi malam ini. Tapi, aku percaya! saat ini kamu datang karena kamu peduli kepadaku. Dan aku engga akan pernah menyerah Elsa....engga akan...


Kamu masih istri ku...istri Candra Adiwinata.


Kamu nyonya Candra Adiwinata!"


"Cih...bukannya kamu bilang aku terlarang menggatakan diriku Nyonya Candra Adiwinata.? Sudahlah. Selamat malam." Aku membuka pintu kamar dan berjalan keluar.


Aku pergi meninggalkan Candra. Rasanya plong hatiku, perlu mengumpulkan seluruh keberanianku. Untuk mengatakan ketidak perdulian-ku kepada Candra.


******


aku mengintip ke dalam butik. aku masuk dan meminta Mona untuk diam.."sst...jangan bilang aku disini."


jess sedang di ruang dalam, "lo denger ya, ini gaun gw tu mahal. kalo lo bilang pengen make tapi ngga sanggup bayar silakan. tapi gausah deh bilang kalo gw ga profesional, desainer kemaren sore lah.."


nampaknya jason sedang marah. aku mengendap ngendap masuk mendekati jess yang baru saja menutup telfon nya.


"Doorr!!" aku mengagetkan jes...


"anak anak..anak ayam..." jess latah saat aku mengagetkan nya.


"Sejak kapan lo latah jess?"


"ihhhh....dasar wanita ini..lo kesini past mau fltting buat besok sabtu ya...


sini Om udah book semuanyaa...jadi lo bebas milih gaun.."


jess membawa ku masuk ke ruang tempat gaun nya di simpan. aku jadi ingat kursi itu dan lemari ini pernah menjadi kenanganku. foto prewedding yang serba mendadak.


"ini..kayanya cocok buat lo. candra bilang kalo lo ketemu dia pilih ini buat lo."


gaun berwarna silver terang dengan untaian manik - manik hitam. gaun panjang yang pas dengan tinggiku. aku rasa ini gaun custom dari jess..


"gw coba dulu ya..." aku masuk ke dalam ruang ganti, mencoba gaun ini. pas...cocok..dan badanku terlihat lebih kecil. walau agak kebesaran di bagian perutku ini.


aku ingin keluar dan menunjukan kepada jes..tetapi..


"ish..masak kita sama istrinya Candra di barengin disini. mana mungkin dia cukup."


",iya..kan gendut tuh, jelek lagi."


"namanya juga orang miskin mesti matre lah dia. liat aja palingan bentar lagi di tendang sama candra.." hahhahaha...mereka tertawa bersama.


"alita, namira, syafira...aku akan mengingat kalian...." Elsa sengaja bersembunyi..


jess datang kepada ketiga perempuan itu. "namira gaun buat kamu cuman ada 2. ukuran kamu tu oversize. jadi aku ga banyak bikin."


"heh! bencong kali berani nya lo bilang gw oversize. gw tu semok tauk!" namira berbadan gempal dengan leher yang tertutup lemak,perut bergelambir dan wajah bundar.


"aduh..yaudah lo milih deh sana cepetan." ucap syafir.


"ukuran gw sama si Elsa sama kali..dia tuh gendut."


"udah cepetan! lo ngunyah mulu sih mulutnya." alita mulai tak sabar dengan namira.


namira mencoba gaunnya. malah tampak seperti ondel - ondel masuk kampung.."buahahha...lo mau jadi boneka mampang? gede banget kali..lo sih milih model gitu..ganti gih..." ucal alita.


jess meninggalkan ketiga perempuan itu. jes mencari ku,"gimana ukurannya pas?"


"perut gw kayanya agak kebesaran jess..masih bisa lo kecilin? tapi kalo udah mepet, engga kenapa - napa sih jess.."


jes memanggil Rianty.."jess...rianty?? hamil?"


mereka berdua mengangguk.."selamat ya..gw ikut seneng..finally ya kalian berdua...,"


"makasih kakak cantik." ucap rianty


"sayang, bantu aku ukur baju ini, berapa centi lagi mesti aku kecilin. aku mau ngurus 3 anak bebek itu dulu."


"baiklah sayang, pergilah sana. aku pusing mendengar mereka..cerewet sekali, menantu keluarga kaya tapi kelakuan mereka kaya begitu." ucap rianty sambil mengelus perutnya..


jess pun meninggalkan kami. Rianty membantuku mengukur kembali gaun ini.


"Candra udah balik.kak?"


"tak tau..kemarin gw kesana dia masih pake infus sih."


"dia tu pria rapuh kak, kau tinggal aja udah begitu. 2 minggu sakit ga jelas apa sakitnya. sakit ato manja tu." ucap rianty kesal.


aku hanya diam dan tersenyum simpul..

__ADS_1


__ADS_2