Aku Dan Sang Penguasa Malam

Aku Dan Sang Penguasa Malam
Episode 7


__ADS_3

Aku kembali ke gua dan duduk di depan mulut gua sambil mengistirahatkan tubuhku.


"Silahkan tuan, ini sarapannya" dia memberiku sebuah piring yg berisi bubur dan sup daging.


"Wahh kelihatanya enak, tapi ini gk ada tikusnya kan?" tanyaku dengan penuh kecurigaan.


"Tenang saja tuan, kan tadi tuan sendiri yg mengumpulkan bahan - bahannya kan" jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.


"Benar juga ya" aku langsung memakan itu dengan lahapnya.


"Pelan - pelan tuan makannya, kaya belum makan satu bulan aja" katanya sambil tertawa.


"Terserah aku"


Aku terus memakan makanan itu dengan lahap, karena rasanya sangat enak dan juga karena keadaanku yg pada waktu itu sedang kelaparan.


Setelah selesai makan aku langsung beranjak pergi dari sana untuk membersihkan piring yg sudah kupakai.


"Tuan mau ngapain?" tanyanya sambil berdiri di hadapanku.


"Mau ngapain? Lah ini aku mau membersihkan piring yg sudah kotor" jawabku sambil menghindarinya.


"Biar aku saja, tuan kembali saja ke gua terus berkemas kan katanya kita mau melanjutkan perjalanan ke markas" katanya sambil mengambil piring di tanganku.


"Baiklah" aku hanya menurut saja.


Kami membagi tugas, agar bisa menghemat sedikit waktu.


Aku kembali ke dalam gua dan mulai membersihkan dan merapikan barang yg ada di dalam gua.


"Ahh aku ada dimana?" tanyanya dengan pelan.


Aku yg melihatnya sadar, aku langsung pergi ke arahnya.


"Kamu ada di gua " jawabku sambil tersenyum.


"Gua? Perasaan tadi aku ada di tengah kota" tanyanya dengan bingung.


"Tadi aku menemukanmu di kota dalam keadaan pingsan" jawabku dengan alasan yg sudah kubuat.


"Oh begitu ya, makasih ya" dia langsung bangun dan pergi keluar dari gua.


"Hey kamu mau kemana Syla?" akupun mengejarnya.


Dan ternyata dia keluar untuk duduk di batang pohon yg tumbang.


"Kamu makan dulu ya, kan kamu belum makan dari kemarin" kataku sambil membawakannya makanan tadi.


"Terimakasih ya " dia mulai memakan makanan itu dengan lahapnya.

__ADS_1


Saat melihatnya makan, aku mulai teringat dengan murid kecilku yg dulu sering aku ajari cara bersembunyi dari musuh,dan tanpa sadar aku tersenyum sendiri sambil membayangkannya.


"Dooorr"


Seketika aku langsung sadar dari lamunanku.


"Oh kamu bikin kaget saja" kataku.


"Makanya jangan suka melamun tuan , nanti kerasukan loh" katanya sambil tertawa dengan riang.


"Emang nya ada yg namanya roh atau jin ?" aku pun ikut tertawa bersamanya.


"Ngomong - ngomong nih tuan, apa tuan mengajak cewe lain lagi" tanyanya dengan nada yg mengerikan.


"Apa maksudmu?" kataku yg mulai panik karena hawa yg dikeluarkan oleh Acrodite.


"Coba jelaskan dia siapa?" dia berbalik badan dan nampak di belakangnya seorang gadis dengan gaun berwarna putih.


"Kamu kan Aina ya putri serigala" aku kaget saat melihat gadis itu ternyata dia adalah Aina anak dari ratu serigala.


"Kenapa kamu gk bilang mau kesini? Kan aku bisa menjemputmu tuan putri" tanyaku dengan sopan.


"Hmm anu sebenarnya ini kemauanku sendiri untuk ikut jadi aku tidak bilang sama kakakku dan ibunda, apa aku boleh ikut tuan kora?" jelasnya dengan malu - malu.


"(Wah gawat nih, habislah aku)" kataku dalam batin.


"Boleh kok tenang saja kami juga kekurangan orang ya kan tuan?" katanya dengan nada yg semakin mengerikan.


"Beneran? Terimakasih banyak tuan kora" dia pun tersenyum dengan gembira dan sangat manis.


"Kamu sudah sarapan Aina? Kami masih memiliki sisa makanan kamu mau?" seketika suaranya menjadi lembut.


"Terimakasih atas tawarannya, aku sudah sarapan tadi" jawabnya dengan tersenyum polos.


"(Gadis ini sangat sopan dan polos, aku harus lebih waspada lagi dengan tuanku)" dia mengeluarkan sebuah aura yg menyerupai aura iblis.


"Oh iya tuan, apa tuan sudah selesai berkemas?" tanyanya kepadaku.


"Belum" jawabku sambil merinding ketakutan.


"Oh belum ya, yaudah tuan kembali saja ke goa terus kemasi semua barang - barang milik tuan" perintahnya.


"Tapi...."


"Apa tuan mau menolaknya?" hawa itu semakin besar.


"Iya iya" aku bergegas pergi dari sana.


Saat aku hampir sampai di goa nampak dari kejauhan Syla yg sedang mencari sesuatu aku pun menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu lagi mencari apa Syla?" tanyaku


"Oh kora, aku sedang mencari belatiku yg aku bawa waktu ke kota" jawabnya sambil mencari di tumpukan rumput yg sudah kukumpulkan.


"Belati? Kayaknya tadi aku melihatnya waktu kamu pingsan di kota, kukira belati itu milik orang lain atau penjahat yg menyerangmu jadi aku ambil saja" jelasku dengan rinci.


"Terus belatinya di mana?" tanyanya lagi dengan serius.


"Ada kok di dalam tasku, coba cari saja aku mau berkemas dulu karena aku mau melanjutkan perjalanan" jawabku sambil mengumpulkan piring yg sudah ku cuci.


Setelah mendengar perkataanku dia langsung membuka tasku dan mulai mencari belati itu.


"Syukurlah belati ini tidak hilang" dia nampak lega dan senang saat melihat belatinya lagi.


Aku hanya diam saja dan memperhatikan tingkah laku Syla yg sedang senang.


"Tuuuuaaaannnn" seketika hawa iblis itu muncul dan membuat badanku gemetar.


Aku langsung merapikan semuanya dan mengemasi barang - barang milikku.


Beberapa menit kemudian.....


Setelah selesai berkemas dan siap untuk berangkat, aku melihat Syla yg duduk termenung di sebuah batang pohon yg tumbang aku pun seketika menghampirinya.


"Ada apa Syla kok kamu murung?" tanyaku kepadanya.


"Enggak kok, aku cuman khawatir sama seniorku apa dia baik - baik saja" jelasnya.


"Kalau kamu benar - benar percaya dengan kemampuan seniormu, maka aku yakin seniormu pasti baik - baik saja" kataku untuk menghiburnya.


"Iya benar juga ya, aku harus berfikiran positif dulu" jawabnya dengan wajah sedikit lega.


"Oh iya Syla kami mau ke ibukota, apa kamu mau ikut?" tanyaku.


"Baiklah aku ikut karena kebetulan aku baru mendapat laporan dari ibuku di suruh pulang" jawabnya dengan tersenyum.


Kami kembali ke goa untuk menemui Aina dan bersiap - siap untuk berangkat ke ibukota.


"Ayo Aina kita lanjutkan perjalanan" ajakku kepadanya.


"Iya" dia tersenyum dengan manisnya tetapi karena dari tadi ada hawa yg mengerikan jadinya aku sulit untuk menikmati senyumannya.


Aku pergi untuk mengambil kuda milikku yg sudah ku beli waktu di kota.


"Ayo Aina naik sini" aku meraih tangannya dan mengajaknya naik kuda bersamaku.


"Hmm anu emangnya boleh tuan?" tanyanya dengan malu - malu.


"Tenang saja Syla sudah memiliki kuda sendiri kok jadi kamu tidak perlu khawatir" jelasku.

__ADS_1


"Ah hm baiklah aku terima tumpangannya" dia naik ke atas kuda walaupun dia sedikit ketakutan.


Kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kuda karena tubuh Syla masih belum pulih sepenuhnya karena pingsan, padahal aku mengambil jalur yg dekat dengan ibukota agar cepat sampai tetapi ada saja halangan yg terus saja menghambat.


__ADS_2