
1 minggu kemudian....
1 minggu sudah berlalu dengan cepatnya layaknya mobil balap.
Aku sedang berjalan menuju ke rumah sakit untuk menjemput Shira dan Silva karena kata dokter tubuh Shira sudah sembuh dan di perbolehkan untuk pulang.
Sesampainya disana nampak Silva sedang berada di samping Shira yg duduk di bangku depan rumah sakit, Silva pun melihat aku datang dan melambaikan tangan ke arah ku.
Aku menghampiri mereka dengan senyuman lebayku.
"H H Halo Kora apa kabar?"
"Baik kok ehh tumben bicara sopan biasanya aja langsung mukul" aku pun merasa heran dengan perubahan sifatnya itu.
Tetapi entah ada angin apa tiba - tiba saja dia marah dan memukul kepalaku dengan cukup keras.
"Hmph" dia pun langsung pergi meninggalkanku dengan muka yg nampak sangat marah, tetapi bukannya meminta maaf aku malah bingung dan berkata dalam hati (ternyata wanita sangat mudah di tebak ya).
"Tuan Kora memang payah ya plus gk peka " Shira pun ikut - ikutan meninggalkanku dengan sebuah koper yg cukup besar.
"Kenapa sih mereka?" aku langsung mengambil koper itu dan bergegas mengejar mereka berdua.
(Sifatku memang terlalu polos atau memang gk peka ya susah sekali merubah sifat ini).
Kami berjalan pergi ke arah rumah milik Shira dengan di selingi oleh beberapa obrolan, tetapi Silva yg biasanya rame sendiri sekarang malah cuek kepadaku apa salahku coba?
Dan tiba - tiba saja hp jadulku berbunyi dengan suara khasnya, aku pun menjawab telpon itu.
"Kora ini jendral, kamu sedang ada dimana?"
"Aku sedang di perjalanan menuju rumahnya Shira jendral, memangnya ada apa?"
"Kamu cepat pulang soalnya ada sesuatu yg mau kubahas denganmu"
"Baiklah"
Setelah aku menutup telepon itu, Silva yg tadinya cuek mulai membuka suara dan bertanya kepadaku.
"Dari siapa kora?"
"Jendral katanya aku disuruh pulang"
"Ohh"
Dia pun kembali mempercepat pergerakannya agar aku tertinggal karena aku adalah orang yg super gk peka aku hanya bingung dengan sifat Silva yg berubah dengan cepatnya, Shira pun hanya menatapku dengan tatapan jijiknya.
*******
Sesampainya di rumah Shira yg besarnya seperti istana gedung putih aku hanya tercengang saat melihatnya tetapi aku pun teringat siapa keluarganya Shira itu.
Karena aku merasa sudah tidak ada urusan lagi aku pun berpamitan kepada mereka berdua.
"Aku pamit pulang ya, kalian berdua berhati - hatilah"
"Seharusnya kami yg bilang seperti itu, sampai jumpa lagi Kora" dia pun tersenyum dengan manisnya ke arahku.
Dan secara seketika diabetesku naik secara drastis seperti sebuah air yg mendidih.
__ADS_1
"Iya, dadah"
Aku pun pergi dari sana dan kembali ke arah rumahku untuk bertemu jendral, tetapi untung saja rumahku dan rumah milik Shira cukup berdekatan karena hanya melewati beberapa gang saja.
*******
Sesampainya di rumah aku pun langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu seperti sudah menjadi kebiasaan ku.
"Selamat datang kembali tuan" dan tiba - tiba saja kak Rias berada di depan pintu dengan mengenakan sebuah baju Maid yg seksi seperti di anime - anime tetapi karena sudah terbiasa dengan kejadian ini aku hanya menanggapinya dengan biasa saja.
"Oh kak Rias kamu sudah kembali ya, seharusnya tadi kamu kabarin aku dulu nanti kan bisa aku jemput" aku pun pergi ke arah kulkas untuk mengambil minuman.
"Hmph kenapa kamu tidak tergoda sih, apa tubuhku sudah mulai keriput ya" dia langsung mengecek sekeliling tubuhnya sekaligus dadanya yg berukuran semangka itu.
"Ya mungkin saja"
Karena aku mengucapkan sebuah kata yg terlarang dia langsung saja memukul kepalaku dengan keras dan memalingkan wajahnya dariku.
"Kamu harus tau Kora, kalau itu adalah kata yg tidak mau di dengar oleh semua cewe tau"
"Iya aku minta maaf aku tidak tahu"
"Hmph yasudah sana pergi ke kantor jendral udah nungguin tuh"
"Iya" karena reflek aku langsung memeluk kak Rias dan langsung pergi ke arah kantor.
Aku pun langsung berjalan ke arah kantor milik jendral dan seperti biasanya aku langsung membuka pintu kantor itu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan nampak jendral yg sedang asyik membaca majalah yg tidak pernah di ganti olehnya.
"Kamu suka sekali ya dengan majalah itu, jendral mesum" sontak jendral pun kaget dan langsung menyembunyikan majalahnya.
"Kamu ini ketuk pintu dulu lah"
Karena aku adalah tipe orang yg tidak suka basa basi aku pun langsung bertanya kepadanya alasan dia memanggilku, jendral yg dari tadi nampak santai sekarang mulai serius.
"Aku ingin kamu membantuku kora"
"Membantu apa? Membunuh atau menculik?"
Dia pun menjelaskan masalahnya kepadaku dengan jelas, dan dia menyuruhku untuk pergi ke kerajaan Alsytime untuk menemui sang raja untuk membantunya menghabisi kelompok yg sering membuat kekacauan disana.
Sebenarnya jendral ingin menolak permintaan raja tetapi karena dia memiliki hubungan darah dengan sang raja(saudaraan) dia pun ingin membantunya.
"Maaf yah Kora aku meminta bantuan mu lagi" dia pun meminta maaf kepadaku dengan tulus.
"Tenang saja kok aku juga tidak keberatan, oh iya nanti kalau Silva kesini terus mencariku bilang saja kalau aku sedang ingin balas dendam, trus bilang juga kepadanya jangan menggangguku"
"Aku tidak yakin dia akan menurut"
"Tenang saja aku sudah menyiapkan sebuah rencana kok kalau nanti dia menyusulku,jadi bilang saja kepadanya oke ? Kalau urusan menurut atau nggaknya itu nanti saja"
"Semoga berhasil Kora"
Aku pun langsung keluar dari ruangan itu dan pergi ke arah kamar untuk mempersiapkan barang - barangku, sebenarnya waktu aku bicara dengan jendral tadi aku tau kalau ada Syla yg sedang menguping pembicaraan kami di depan pintu tetapi aku hanya mengabaikannya saja karena aku tau sifatnya yg sangat mirip dengan Silva.
{Selagi menunggu Kora yg sedang bersiap - siap, mari kita pindah tempat ke sebuah Kuil yg sangat gelap tetapi ternyata ada sebuah cahaya walaupun sedikit sih}.
"Ampunnnnn tuannn aku tidak akan mengulanginya lagi" teriak seseorang yg sepertinya sedang di siksa.
__ADS_1
Dan ternyata dia adalah komandan dari pasukan Pulgatory yg sedang di hukum oleh kakaknya Kora.
Dia pun mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan berhenti.
"Baiklah akan aku beri kamu satu kesempatan lagi jadi jangan sampai gagal oke "
"Terimakasih komandan"
"Tetapi kalau kamu gagal lagi akan aku beri hadiah tenang saja oke"
Dia nampak seperti orang yg habis melihat hantu wajahnya langsung menjadi pucat setelah mendengar kata - katanya.
"Baiklah sekarang kamu pergi ke kerajaan Alsytime dan culiklah putri raja disana dan setelah itu terserah kalian mau melakukan apa aku tak peduli, dan juga ajaklah muridku dia bisa lebih berguna darimu sekarang enyahlah dari hadapanku!!!" dan secara seketika komandan itu pun menghilang dari tempat itu seperti sebuah angin.
Setelah komandan itu menghilang tiba - tiba saja ada seseorang yg menghadap ke Algax.
"Ada apa guru memanggilku?"
"Kamu pergilah bersama komandan untuk menculik sang putri dan jika kamu bertemu dengan seseorang yg menghalangimu habisi saja dia" pintahnya sambil memberikan sebuah pedang kepadanya.
"Siap laksanakan!!" dia pun pergi dari tempat itu dengan cepat seperti Flash.
"(Bertahan lah adikku yg bodoh)"
{Kembali lagi ke tempat Kora...}
Setelah berkemas dan mempersiapkan segala sesuatu, aku pun langsung berjalan turun untuk berpamitan kepada kak Rias.
"Kak aku pergi dulu ya"
"Hati - hati di jalan dan pulanglah dengan selamat oke" dia pun langsung memelukku dan memberiku sebuah bekal makanan.
"Iya aku berangkat" aku langsung pergi keluar dan membuka pintu tetapi aku pun kaget saat melihat Syla yg sedang menungguku di depan pintu.
Padahal aku sudah tahu kalau Syla pasti akan ikut denganku tetapi walaupun begitu aku tetap kaget soalnya dia benar - benar di depan pintu bukan di depan rumah.
"Kaget aku "
"Guru aku mau ikut guru ya"
"Apa kamu sudah izin ke orang tuamu?"
"Sudah kok" aku tahu kalau dia sedang berbohong kepadaku.
"Yakin?" tanyaku agar dia bicara jujur
"Iya belum nanti aku telpon ibuku"
"Sekarang!!! jangan nanti!!!" aku pun menyuruhnya untuk meminta izin kepada ibunya karena aku ingin dia lebih menghargai ibunya itu.
Dia pun menurut dan menelpon ibunya, selagi Syla sedang menelpon aku langsung pergi ke kandang kuda untuk mengambil kudaku dan juga kudanya.
"Baiklah terimakasih mama"
"Sudah?"
"Sudah kok,aku di ijinkan tetapi guru harus memperlakukan aku dengan lembut"
__ADS_1
"Iya iya ayo berangkat" aku langsung memberikan kuda itu kepadanya.
"Ayooo"