Aku Dan Sang Penguasa Malam

Aku Dan Sang Penguasa Malam
Episode 37


__ADS_3

Kami pun berpesta cukup lama dan bahkan hampir tengah malam,tetapi pesta itu selesai karena para anak - anak mulai mengantuk termasuk dengan Rika yg dari tadi hanya bermain dengan para anak - anak desa yg lain.


Pemandangan waktu itu sangatlah menyenangkan, apalagi saat melihatnya sudah kembali ceria.


Aku pun di persilahkan tinggal di sebuah rumah yg nampaknya kosong oleh kepala desa itu,dan aku langsung saja menerimanya karena aku melihat Rika yg sudah tertidur di pangkuanku,dan juga karena di luar masih cukup dingin jadi aku takut ada anggotaku yg terkena demam.


**********


Aku pun membaringkan Rika di kasur yg ada di sebuah kamar di lantai 2 yg sepertinya cukup nyaman untuk di tempati,Syla juga sudah kembali dari tugas yg aku berikan dan dia seperti biasanya langsung mandi dan makan.


Apa dia kuat mandi tengah malam? Mungkin nanti aku buatin aja kamar mandi kecil untuknya kalau dia sangat suka mandi.


"Hei assasin hitam!!! Mana makananku?" tanya Elves yg sepertinya sudah pulih karena terdengar dari suaranya yg mulai membuat kupingku menjadi panas saat mendengarnya.


"Ambil sendiri sana!!!! Tuh ada di meja" sahutku sambil memberikan selimut kepada Rika yg tertidur.


Beberapa menit pun berlalu....


Sekarang desa sudah mulai benar - benar menjadi sepi dan sunyi, Elves dan juga Syla sudah tertidur dengan nyenyaknya begitu pula dengan para penduduk desa itu.


Dikarenakan aku adalah tipe orang yg suka begadang jadi aku tidak bisa tidur, aku pun keluar dan melompat ke atas genteng untuk nongkrong sambil meminum kopi yg aku buat tadi.


"Sepertinya tuan sudah sendirian ya" ucap acrodite yg seperti biasanya selalu muncul di saat yg tidak kubutuhkan.


"Yah sendirian juga tidak terlalu buruk, karena aku menyukai saat - saat seperti ini" kataku sambil meminum kopi yg mulai menjadi dingin.


"Iya benar tuan, desa ini kembali menjadi damai dan juga di saat seperti inilah aku merasa seperti hidup padahal sih aku sudah mati ya" katanya sambil tertawa dengan pelan.


"Iya benar juga" jawabku yg ikut tertawa bersamanya.


"Oh iya apa tuan tidak kedinginan? Hanya memakai baju seperti itu" tanya Acrodite sambil mengambilkan jubahku yg sengaja aku lepas tadi.


"Yah mungkin karena iklim di daerah ini sangat berbeda dengan daerah di tempatku" kataku sambil memakai kembali jubah yg sangat aku sukai walaupun sih selalu saja rusak.


* * * * * {penjelasan doang ya,kalau ada yg mau baca sih gk papa tetapi kalau males yasudah di skip saja}


Oh iya bagi yg mau tau aja nih ya, daerah kerajaan Alsytime dengan daerah tempat asalku sangatlah berbeda yaitu cuman 2:4 saja.


Jadi jika di kerajaan Alsytime adalah musim dingin maka di daerahku adalah musim semi dan panas,dan sebaliknya jika di daerahku bermusim dingin maka di kerajaan Alsytime adalah musim panas dan semi.


Jadi udaranya akan menjadi sedikit lebih hangat jika hampir sampai di kerajaan.


* * * * * *{kembali ke cerita}


Aku dan acrodite pun mengobrol beberapa hal sampai beberapa jam pun berlalu dengan cepatnya.


"Oh iya Acrodite, sebenarnya dari dulu aku ingin menanyakan ini"


"Mau tanya apa tuan?"


"Apa kamu bisa berubah wujud seperti El drago?" tanyaku dengan wajah serius karena rasa penasaranku yg tiba - tiba muncul.


"Aku bisa kok,tetapi itu membutuhkan energi yg besar dan juga sangat sulit untuk dilakukan tuan" katanya sambil mengangkat gelas kosong milikku.


"Baiklah terserah kamu saja, aku juga tidak suka mengambil resiko" kataku sambil meraih acrodite dan mengelus - elusnya.


Sebenarnya sih aku tau ada yg dia sembunyikan tetapi biarlah aku tidak suka mencampuri urusan masa lalu orang.


Acrodite pun menggeram ketika di elus - elus, sebenarnya dia ini kucing atau pedang sih!!!


Lalu tanpa aku sadari, pagi hari pun tiba karena aku melihat sebuah cahaya yg sepertinya adalah matahari yg mulai terbit dari timur.


Dan setiap kali aku melihat matahari yg sedang terbit, aku selalu saja teringat kata - kata ayahku dan juga ibuku waktu aku masih kecil yaitu: "jadilah orang yg kuat ya Kora, kalau kamu menjadi orang yg kuat maka semua orang yg ada di sekitarmu juga akan merasa kuat jika bersama denganmu dan ayah yakin kamu pasti akan menjadi pemimpin yg baik bagi mereka" begitulah katanya walaupun sih aku sedikit tidak mengerti dengan kalimat itu tetapi biarlah.


Di saat aku sedang melihat matahari terbit sambil mengingat - ingat masa laluku, tiba - tiba saja ada seseorang yg menyapaku dari bawah.


"Tuan!! Apa yg sedang anda lakukan disana?" kata seorang pria yg sepertinya pernah aku lihat.


Lalu secara tiba - tiba bayangan dipikiranku pun muncul dan membuatku teringat tentangnya.


"Ah aku cuman sedang bersantai saja kok sambil melihat sunrise, tuan albert" jawabku kepada orang yg menyapaku tadi.


Dia adalah Albert whatson{ya aku tau namanya susah tetapi aku tidak punya ide untuk namanya maaf ya hehe}, dia adalah seorang pedagang keliling yg kebetulan ada di desa ini karena urusan bisnis tetapi di saat dia sedang bernegoisasi tiba - tiba saja perampok menyerang dan menyandra dirinya sungguh kasian kan? tetapi sayangnya aku tidak merasa simpati terhadapnya.


"Apa tuan menyukai Sunrise?" tanya pedagang itu sambil mencuci wajahnya di sebuah pancuran umum yg ada di dekat rumah kepala desa,tetapi aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa melihatku dari jarak sejauh 100 meter itu?


"Iya sedikit" jawabku sambil turun dari atap rumah itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Acrodite kali ini kamu yg masak sarapan ya, soalnya aku ada urusan sebentar" kataku dengan acrodite lewat telepati.

__ADS_1


"Baiklah tuan!!!" acrodite pun langsung muncul dan terbang ke arah dapur.


"Baiklah waktunya mengintai!!!" aku pun langsung memakai penyamaranku yg sangat simpel yaitu memakai topeng burung gagak yg aku beli di Pasar malam dulu.


Aku langsung melompat ke atas atap kembali dan berjalan ke arah rumah pedagang tadi sambil menyembunyikan hawa keberadaanku karena aku merasa sangat curiga terhadapnya, ya maklum aku itu sangat benci kepada para pedagang apalagi kalau itu pedagang licik.


Aku pun masuk ke dalam rumah itu dan langsung menjelajahi rumah itu untuk mencari - cari dokumen atau apapun itu yg bisa membuatku yakin akan kecurigaanku terhadapnya, tetapi aku tidak menemukan apapun di rumah itu,aku pun keluar dari rumah itu dan berjalan perlahan ke arah kereta milik pedagang itu.


Sesampainya di kereta itu, aku langsung turun ke sana dan mulai mencari sesuatu lagi tetapi aku tetap tidak menemukan apapun disana.


"Hmm walaupun aku tidak menemukan apapun tetapi entah mengapa aku merasakan hawa kehadiran seseorang di kereta ini"


Aku pun meletakkan sebuah alat yg aku buat di kereta itu yg sering kusebut dengan "pembunuhan instan" dari namanya aja udah mengerikan bukan?


Tetapi itu alat itu tidak akan membunuhnya kok,kalau dia tidak berusaha menutupi sesuatu dari orang banyak atau bisa di sebut juga berbohong maka dia akan selamat aku yakin itu{bangga lu yaa!!!}.


Aku pun kembali ke rumah untuk ikut sarapan bersama mereka karena aku memang sudah lapar dari tadi, aku membuka pintu rumah dan nampak Syla dan juga Elves sedang sarapan dengan masakan buatan acrodite.


Syla yg melihatku membuka pintu langsung saja mengucapkan kata - kata yg sering dia ucapkan di pagi hari.


"Selamat pagi Guru" ucapnya dengan sopan.


"Iya selamat pagi juga, oh iya Rika mana?" tanyaku sambil berjalan menghampiri meja makan untuk mengambilkan sarapan untuknya.


"Dia ada di kamarnya tetapi katanya dia tidak mau keluar kecuali guru yg mengajaknya" katanya sambil melanjutkan memakan sarapannya.


"Dia sangat lebay kan? Dasar anak kecil"


Sebuah kalimat yg membuat telingaku menjadi panas pun terdengar dari mulutnya yg sedang di penuhi oleh makanan.


Aku pun menatapnya sambil tersenyum dan berkata:


"Bukankah kamu juga seperti itu? Pangeran vampir?" kataku yg seketika membuat Elves memalingkan wajahnya dengan tubuh yg gemetar.


Aku pun meninggalkan mereka berdua dan berjalan ke arah kamar Rika yg berada di lantai 2, aku langsung mengetuk pintunya dengan pelan dan ternyata pintunya tidak terkunci.


"Rika sarapan dulu yuk" ucapku sambil berjalan masuk ke kamar itu.


"Papa!!!" Rika pun berlari dan memelukku dengan erat sambil tersenyum ke arahku.


Ahh lagi - lagi perasaan ini!!! Kenapa aku punya perasaan ini?!!.


"Aku maunya sarapan sama papa, aku tidak suka sama Kakak bertaring itu" katanya sambil menggembungkan pipinya.


Ahhh aku tidak kuat lagi!!! Tapi aku harus berusaha menahannya demi harga diriku ini,tetapi apa yg dia maksud dengan kakak Bertaring? Apa kah itu Elves?


"Iya iya papa tau, Yaudah sini sarapan dulu soalnya kita mau melanjutkan perjalanan lagi" kataku sambil berusaha menyuapi Rika.


Kenapa tanganku gemetar!? Apa aku gugup?


Rika pun menerima makananku dan mulai memakan makanan itu dengan lahap, dia nampak sangat senang dengan makanan itu yg membuatku merasa Skill memasakku itu lebih rendah darinya sungguh menjengkelkan.


*********


"Dan ini yg terakhir"


"Nee papa, sebenarnya Papa mau ajak Rika kemana?" tanya Rika sambil meminum air yg kuberikan.


"Papa mau mengajak Rika ke sebuah tempat yg sangat menyenangkan dengan pemandangan yg bagus dan juga papa ingin membelikan Rika baju yg bagus" jawabku dengan tenang karena aku lah ahlinya menangani anak kecil.


Rika pun mengangguk dan berdiri di depanku.


"Baiklah papa,Rika akan ikut papa kemanapun papa mau " jawabnya sambil kembali tersenyum ke arahku yg kembali membuat detak jantungku ini berdendang layaknya konser.


Tetapi disaat sedang bagus - bagusnya, tiba - tiba saja Syla muncul dan dari raut wajahnya dia nampak khawatir.


"Ada apa Syla? Apa ada masalah?" tanyaku sambil tersenyum agar dia bisa lebih tenang dalam menceritakannya.


"Tidak ada kok guru, tetapi..." Syla pun mendekat ke arahku yg sepertinya dia ingin membisikan sesuatu.


"Apa guru sedang mengincar pedagang budak Albert?" bisiknya yg membuatku sedikit terkejut.


"Ah kamu selalu saja hebat dalam membaca pikiran seseorang ya" ucapku sambil tersenyum yg membuat wajah Syla menjadi memerah.


Rika yg melihatnya hanya memiringkan kepalanya dan bertanya kepadaku.


"Papa sedang membicarakan apa dengan Kak Syla? Aku ingin tahu!!" tanya Rika dengan semangat.


Dengan cepat Syla langsung menjawab pertanyaan Rika sebelum aku menjawabnya.

__ADS_1


"R A H A S I A" jawabnya sambil tersenyum ramah ke arah nya yg membuat Rika merengek - rengek ingin mengetahuinya.


Aku pun tersenyum saat melihat mereka berdua yg sangat akrab dan langsung berjalan keluar dari kamar itu, tetapi langsung di hentikan oleh Rika yg menarik jubahku, aku pun berbalik dan tersenyum ke arahnya.


"Papa mau kemana?" tanya Rika dengan khawatir.


"Papa mau bersiap - siap untuk melanjutkan perjalanan kita, lebih baik Rika juga melakukan hal yg sama seperti papa" jawabku dengan lembut.


"Iya Rika,lebih baik kita juga mengemasi baju kita, sini kakak bantu ya" Sela Syla yg membuat jawabanku nampak menjadi lebih menyakinkan.


"baiklah papa, Rika akan berusaha untuk mengemasinya" ucapnya dengan memberikan hormat kepadaku seperti seorang tentara.


Tetapi bagaimana dia tau tentang hormat tentara? Apa ayahnya seorang tentara? Ataukah ibunya? Hahh aku jadi bingung memikirkannya tapi biarlah yg penting dia bisa bahagia disini.


"Iya berusahalah ya" jawabku sambil mengelus - elus kepalanya dengan lembut yg membuat Rika nampak semakin bersemangat.


Aku pun meninggalkan mereka berdua dan berjalan turun untuk menemui Elves, Elves pun nampak sedang duduk di sebuah kursi sambil meminum sebuah minuman yg berwarna merah yg pastinya itu adalah darah.


"Jadi bagaimana Assasin hitam? Apa keputusanmu?" tanya Elves dengan sombongnya tetapi aku harus menahan rasa amarahku ini demi Rika dan Syla.


"Ya kita akan melanjutkan perjalanan karena seperti yg kamu tau kalau kerajaan sudah dekat kan?" jawabku sambil mengambil tas dan juga senjata - senjataku yg mulai hancur.


"Apa kamu yakin mau membawa senjata itu?" katanya sambil menunjuk sekumpulan pedang milikku yg rusak semua.


"ahh mungkin aku bisa menjualnya ke pandai besi,terus memintanya untuk mendaur ulang pedang itu" Kataku sambil memasukkan beberapa barang milikku ke dalam tas.


"Iya sudah kalau begitu aku juga tidak terlalu peduli dengan senjata"dia pun kembali duduk dengan kaki di atas meja.


Kata - kata nya enak sekali di dengar ya, dan juga apa aku harus memberikannya sebuah hukuman sopan santun?


hmm... mungkin nanti saja kalau aku sedang senggang.


" Kenapa kamu malah duduk? Cepat panggil siput emasmu itu kemari!! Kita mau berangkat pagi - pagi" pintahku sambil menendang kakinya yg ada di atas meja yg membuat wajahnya menjadi marah.


"Dia itu kuda!!! Dasar tukang suruh!!!" katanya sambil berjalan keluar dan membuka pintu dengan keras yg membuat sebuah gebrakan.


Aku tersenyum dan mengikutinya berjalan keluar dan disaat aku berada di luar rumah , aku melihat semua warga desa termasuk kepala desa sedang berada di depan rumah seperti orang yg sedang demo.


Aku yg tidak tahu apa yg sedang terjadi disini, hanya tersenyum dan bertanya kepada para penduduk desa itu.


"Ada apa ya? Pak kades?" tanyaku dengan lembut yg menunjukkan kalau aku adalah orang sopan.


"Maaf tuan kami kesini hanya untuk mengantarkan tuan pergi ke ibukota" kata kepala desa itu sambil memberiku sebuah jubah yg katanya sebagai hadiah dan kenang - kenangan untukku.


Tetapi kenapa dia tau kalau aku akan pergi ke ibukota? Perasaan aku tidak menceritakan apapun tentang urusanku tapi kenapa mereka tau? Ada yg mencurigakan disini.


"Makasih ya pak kepala desa,akan aku jaga baik - baik jubah ini" kataku sambil tersenyum agar mereka ataupun orang yg memata - mataiku tidak merasa curiga.


Lalu setelah itu semua penduduk desa memberikanku sebuah keranjang makanan dan juga barang - barang berharga milik mereka yg membuatku merasa tidak enak. Tetapi saat aku berbicara seperti itu kepada para penduduk desa, para penduduk desa itu langsung menjawabnya dengan jawaban yg tidak aku duga sama sekali.


"Tidak apa - apa kok tuan, kami tidak keberatan kok seharusnya diri tuanlah yg harus di khawatirkan karena di ibukota itu,nampaknya ada sekelompok penjahat yg berkeliaran jadi kami hanya ingin membantu tuan sebisa kami" jawab seorang ibu yg aku kenal kalau gk salah namanya adalah ibu Serah atau mungkin Sarah? Ahh bodo amat.


"Baiklah terimakasih banyak ya semuanya, aku akan menghargai semua pemberian kalian" ucapku sambil menundukkan kepalaku yg membuat para penduduk itu kebingungan.


"a- angkat kepala anda tuan, seharusnya kami lah yg berterimakasih karena sudah menyelamatkan desa ini" kata kepala desa itu yg nampak nya dia gugup.


Aku pun mengobrol sebentar kepada penduduk desa itu sambil menunggu Elves membawa siputnya,padahal sih tinggal panggil saja pasti langsung muncul di hadapanku tetapi karena aku tidak mau membuat kepanikan jadi aku menyuruh Elves untuk memanggilnya di tempat lain.


Elves pun muncul sambil mengendarai siput emasnya itu yg bersamaan dengan Syla dan juga Rika yg keluar dari rumah sambil membawa koper mereka,aku pun meminta izin kepada penduduk desa itu dan langsung membuka bagasi kereta itu.


Namun, disaat aku sedang memasukkan barang - barangku ke bagasi kereta, para pria di desa itu mengajukan diri mereka untuk membantuku memasukkan barang bawaanku dan juga hadiah dari penduduk desa.


Aku pun menerima bantuan mereka karena aku merasa kalau itu adalah ketulusan mereka.


Setelah memasukkan semua barang - barang milikku dan juga hadiah dari penduduk desa, Syla dan Rika mulai naik ke kereta termasuk diriku setelah berpamitan kepada para penduduk desa satu per satu yg membuatku sedikit kewalahan karenanya.


Elves yg dari tadi duduk di tempat supir hanya tersenyum saat melihatku sedang kewalahan, dasar dia!! Awas saja akan aku beri pelajaran kepadanya nanti!!


"Kami berangkat ya pak kades,semuanya" kataku sambil menyuruh Elves menjalankan kereta itu.


"Hati - hati di jalan ya tuan Kora!!!" teriak mereka ke arah kami.


Kenapa mereka tau namaku? Siapa yg memberitahu mereka namaku? Perasaan semenjak aku sampai di desa itu aku belum memperkenalkan diri tetapi mereka tau namaku?


Pikiranku mulai berkecamuk layaknya perang,sampai aku berada di luar desa dan sedang berjalan menuju ke arah ibukota.


"Biarlah" aku pun mencapai kesepakatan dengan pikiranku yaitu untuk membiarkannya saja karena pasti akan merepotkan dan juga aku tidak peduli, tetapi untungnya aku sudah memasang alat - alatku di seluruh desa itu semalam.


Bersambung!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2