
*****
**Aku, Aina dan juga Rika terus memakan sarapan kami sambil menikmati pemandangan lingkungan kerajaan yg cukup indah menurutku, walaupun sih istana ini di kelilingi oleh tembok - tembok batu yg berwarna abu - abu. Yahh namanya juga istana.
Aina dan Rika juga nampak mulai menjadi akrab secara perlahan, Rika yg terus menanyakan beberapa hal kepada Aina dan Aina yg berusaha untuk menjawab pertanyaannya Rika. Jadi mungkin lebih mirip sesi tanya jawab dari pada obrolan.... Namun, walaupun hanya tanya jawab seperti itu, aku tetap merasa senang karena menurutku yg terpenting adalah mereka bisa berbicara bersama tanpa ada nya jarak. Ya itu yg terpenting.
Aku hanya memperhatikan mereka berdua sambil memakan makananku, sampai akhirnya beberapa menit pun berlalu dan kami pun menyelesaikan sarapan kami.
"Gimana makanannya? Apa kamu menyukainya Rika?" tanyaku kepada Rika yg saat ini sedang duduk di pangkuanku, uuuhh pantat kecil yg bagus!!!, ups maafkan aku.
"Iya!! Aku menyukainya papa, aku belum pernah memakan makanan seenak itu!!"
"Ah, begitu ya begitu ya, syukurlah kalau kamu menyukainya, kalau kamu Aina apa kamu menyukainya juga?"
Aku pun bertanya kepada gadis imut berambut putih itu yg saat ini sedang meminum minuman botol yg aku beli.
"Eh? Ah!! Rasa nya enak sekali tuan kora!!, mungkin aku agak sedikit menyukainya, a-a-apalagi ka-kalau di belikan tuan kora" jawab gadis itu dengan pipi yg memerah, tetapi saat aku melihatnya seperti itu, aku pun menyadari sesuatu pada Aina.
Aku pun menyuruh Rika untuk turun dari pangkuanku sebentar, dia nampak jengkel sambil menggembungkan pipinya saat aku menyuruhnya turun. Ahh imutnya!!!.
Lalu setelah Rika turun dari pangkuanku, aku pun berdiri dan berjalan mendekati Aina dengan perlahan.
"Ehh!?? A-a-ada apa Tu-tu-tuan ko-kora!?" gadis itu pun mulai mundur perlahan menjauhiku dengan wajah yg memerah, sampai akhirnya dia pun terpojok di dinding jendela menara.
Aku pun terus berjalan mendekati gadis itu yg saat ini wajahnya berubah menjadi merah padam.
Gadis itu menutup kedua matanya saat aku sudah berada di depannya, lalu aku pun mengambil sebuah sapu tangan di kantungku dan mengusap - usapkannya di pipi Aina yg terdapat noda sisa saus makanan tadi.
"Yosh jadi bersih deh" ucapku sambil tersenyum dan kembali memasukan sapu tanganku ke saku milikku.
Gadis itu pun membuka matanya dan menatapku dengan tatapan bingung.
"Anu...tuan kora? Apa yg tadi anda lakukan?"
"Hm? ah! tadi ada noda saus di pipimu itu. Dasar, ternyata ada juga ya gadis remaja yg kalau makan itu suka belepotan, hahaha seperti anak kecil aja" aku pun tertawa kecil setelah mengatakan itu yg membuat wajah Aina kembali memerah dan dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia jadi nampak imut kalau seperti itu.
"Tapi aku menyukai gadis yg seperti itu" lanjutku sambil tersenyum kepada Aina yg nampak kaget dengan wajah yg masih memerah.
"Hehe~"
Aina pun mengalihkan pandangannya dariku dan pada waktu itu aku kembali menyadari sesuatu pada Aina, jujur aku tidak terlalu mempedulikannya, tetapi ini adalah hal penting yg harus aku katakan padanya.
"Hm? Aina, baju itu bukankah....." aku pun menunjuk ke arah baju yg di pakai Aina, baju itu adalah sebuah kemeja berwarna abu - abu yg jika kulihat baik - baik, ternyata Aina cocok memakai baju itu.
"Eh? Ah! baju ini milik penculik yg menculikku tuan kora, karena pada waktu aku tidak memakai apa - apa jadi aku memakai baju ini. Um.... A-apa baju ini tidak cocok untukku?"
"Tidak, kamu cocok kok memakainya, kamu kelihatan cantik" jawabku sambil tersenyum kepada Aina yg wajahnya kembali memerah.
"Tetapi, penculik?"
"Iya, um.. bukankah tuan kora sudah tau?" Aina pun memiringkan kepalanya dan menatapku dengan bingung yg membuatnya terlihat imut, tetapi aku tidak merasakan apapun saat melihatnya bertingkah imut seperti itu{ yahh karena lu kan gay hahaha, udah punya tunangan imut, ehh malah milih loli. Dasar bego!!}.
Hmm... Penculik? Ohh mungkin kejadiannya seperti ini:
(Aina terbangun di kamarku, terus dia pun bingung kenapa dia ada di sini? Sampai akhirnya dia pun menyadari kalau dirinya tidak memakai busana sedikitpun saat dia ada di sini. Lalu karena aku pernah memperingatkannya tentang bahayanya penculikan, dia pun menganggap kalau diri nya di culik. Yahh seperti nya dia masih ingat nasihatku dulu ya.)
(Terus karena dia merasa malu karena tidak memakai baju, akhirnya Aina pun menjelajahi kamar itu sampai akhirnya menemukan sebuah tas yg berisi beberapa stel baju laki - laki. Karena terpaksa, Aina pun memakai baju itu dan menggendong Rika yg masih tertidur karena dia mengira kalau Rika adalah korban penculikan sama seperti dirinya.)
(Hmm.... Mungkin pada waktu itu, Aina mengingat diriku yg selalu menyelamatkan orang - orang yg kesusahan, jadi Aina pun bertekad untuk menyelamatkan dirinya bersama Rika dari penculik itu. Hahaha aku bukanlah orang baik yg dia kira.)
(Lalu mungkin sebelum Aina itu keluar dari kamarku, dia pun berpapasan dengan Elves yg kebetulan mau masuk ke kamarku. Hmm.... Jika di lihat dari sifatnya si Elves, mungkin dia langsung menyapa Aina dengan ramah karena dia menganggap Aina itu adalah orang yg kuculik demi hiburan. Semoga saja sih dia tidak menganggap aku seperti itu, kejam sekali kalau dia menganggapku seperti itu.)
(Lalu setelah itu, karena Aina merasa Elves adalah penculiknya maka dia pun langsung memukulnya sampai babak belur.) Begitu kali yah cerita nya? Yahh itu hanya kemungkinannya saja sih, bukan fakta yg asli jadi mari kita dengar fakta aslinya.
*****
Aina pun mulai menceritakan semuanya saat aku memintanya.
Cerita itu di mulai dari, pada waktu Aina ada di rumahnya di hutan sampai ke penculikan itu. Dan benar saja, kemungkinan yg aku buat tadi ternyata sama dengan cerita asli penculikan itu, (apa - apaan itu!? Aku tidak menyangka kalau aku ternyata jenius hahaha, lihatlah seorang pembunuh saja bisa menjadi detektif yg hebat. Akulah pembunuh yg tidak akan bisa di tangkap oleh siapapun walaupun ada detektif hebat yg mencariku, kasusku tidak akan pernah bisa di selesaikan oleh siapapun!! Hahaha. Ups kenapa tiba - tiba aku menjadi antagonis gitu, okelah lupakan mari kita lanjut lagi cerita Aina.)
__ADS_1
Aina pun melanjutkan cerita nya yg hampir semuanya sama dengan kemungkinanku, tetapi ada satu hal yg berbeda dari kemungkinanku dengan cerita aslinya yaitu masalah tentang di pukulnya si Elves.
Menurut Aina, dia sudah 2 kali memukul Elves, hanya 2 kali saja bisa sampai babak belur gitu, apalagi satu combo yah?.
Pukulan pertama Aina adalah pukulan yg tidak di sengaja karena kaget ada orang yg tiba - tiba masuk, maklum lah insting seorang gadis, sekali marah atau ketakutan pasti mainnya tangan. Yahh gk semuanya kaya gitu sih.
Lalu setelah Aina melancarkan pukulan pertamanya karena kaget, dia pun merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada Elves. Tetapi, karena pada waktu itu dia merasa sedang di culik, maka dia pun mengira Elves adalah seorang penculik dan akhirnya dia pun memukulnya dengan seluruh kekuatannya, sampai - sampai kamar itu menjadi hancur karena gelombang serangannya itu.
Aina pun merasa kaget dan syok dengan pukulannya itu, sampai akhirnya aku datang dan menyelamatkannya.
Seorang Elves ternyata mengalami sesuatu yg mengerikan yg bahkan aku tidak pernah merasakannya, semoga kamu tenang di sana yah.
*******
Setelah mendengar cerita dari Aina, aku pun menghela nafas dan menekankan tekad di hatiku, kalau aku tidak akan pernah meninggalkan Aina yg habis mengalami kutukannya, sebelum Aina bangun. Yahh aku akan melakukannya.
Namun, sebelum itu, ada hal yg harus aku perbaiki dulu bukan? Apalagi tentang baju itu.
"Em... Anu Aina, sebenarnya....."
Aku pun menjelaskan tentang kejadian itu dalam versi yg paling benar, tentang kemunculan Aina, dan juga Elves serta tentang perjalananku ke kerajaan ini.
Aina pun mendengarkan cerita ku dengan serius, dan terkadang terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Lalu seperti yg aku duga, setelah aku selesai menjelaskan semuanya, Aina pun meminta maaf kepadaku dengan secepat kilat sambil membungkukkan badannya berkali - kali yg membuat sesuatu di dadanya bergoyang dengan hebat. Yah memang seperti itulah Aina...
"Maafkan aku tuan kora, maafkan aku tuan kora, maafkan aku tuan kora......." dan seterusnya.
Reaksinya lebih parah dari dugaanku, tetapi aku menyukainya.
"Ma-maafkan aku tuan kora, karena telah memakai bajumu tanpa izin, dan ma-maafkan aku karena telah memukul temanmu"
"Ka-kalau tuan kora merasa keberatan, a-aku akan melepaskannya!!"
Melepaskan apa?
Aina pun mulai membuka satu persatu kancing bajunya, dan oke sudah cukup untuk reaksinya, itu sudah melebihi ba.....TAS!!!! Apa - apaan kecepatan membuka kancing itu!? Kecepatannya melebihiku.
Uwahhh, walaupun aku sudah sering melihat hal - hal seperti ini(walaupun hanya pada orang yg sudah meninggal), tetapi tetap saja ini tidak baik untuk mataku dan Rika. Tolong jangan melihat hal itu Rika!!!.
Aku pun dengan cepat langsung menutup mataku dan juga Rika, agar pertumbuhannya tidak terganggu.
Rika yg sedang aku tutupi matanya terus saja berkata:"papa? Kenapa papa menutup mata Rika?"
Dan aku pun menjawabnya dengan bilang kalau "ada hal yg tidak boleh kamu lihat".
Lalu Rika yg masih dalam mode penasarannya terus menanyakan beberapa hal kepadaku dengan suara ceria. Dia menanyakan tentang, hal apakah itu? Apa aku menyembunyikan sesuatu dan aku tidak boleh merahasiakannya? Terus dia juga menanyakan tentang, apa Aina sedang aku permainkan? Dan yg terakhir dia pun menanyaiku tentang apakah aku akan membunuh orang?.
Yahh sebenarnya sih, aku suka kalau Rika menanyaiku seperti itu dan juga menanyaiku tentang hal yg terjadi pada Aina, karena itu menandakan kalau dia menyayangiku dan juga Aina, jadi aku merasa sedikit bahagia.
Tetapi kenapa dia menanyaiku tentang hal - hal yg negatif!? Apa papa seperti itu di matamu Rika!? Huhu aku tidak menyangka, kalau dia melihatku sebagai papa yg menjadi antagonis huhu, pengen nangis rasanya.
Sesi tanya jawab itu pun akhirnya selesai setelah aku membuka mataku, Aina juga sudah memakai bajunya kembali. Huff akhirnya "tuanku" tenang juga.
Rika yg sudah kulepas dari pelukanku pun langsung berlari menghampiri Aina dan menanyakan " apa papa sudah melakukan sesuatu kepada kak Aina?".
Huhu kenapa kamu tidak percaya pada papamu ini Rika!?
Rika pun memeluk Aina dan menanyakan sesuatu yg isinya pasti tentang diriku, aku hanya memperhatikan mereka berdua dan entah mengapa aku merasa ada sesuatu yg kurang gitu dari Aina, tapi apa ya yg kurang?
Aina sudah memakai bajunya dengan benar dan sudah menutupi sesuatu yg menonjol darinya, dia juga sudah sarapan dan dia pun mulai akrab dengan Rika. Terus apa yg membuatku merasa kalau ada yg kurang yah? Hmm......
Hm? Astaga!!!!
Aku melihat sesuatu hal yg seharusnya tidak kulihat dengan mataku ini, ayo hapus dari memoriku cepat!!
Aku pun memalingkan pandanganku dari Aina, berusaha untuk tidak melihatnya.
Aina yg melihatku pun hanya memiringkan kepalanya dan menatapku dengan bingung.
__ADS_1
"Ada apa tuan kora? " tanya Aina dengan polosnya yg membuatku bingung untuk menjawabnya.
Apa aku harus memberi tahunya dengan jujur? Atau apa aku berpura - pura tidak melihatnya saja yah?, cih pilihan kedua sangat menjijikan bagiku.
Baiklah, aku harus menjadi seorang lelaki yg jujur dan bertanggung jawab, maka ayo kita katakan yg sebenarnya.
Aku pun menarik nafasku untuk berusaha menenangkan hatiku yg rapuh ini dan berbalik untuk menghadap Aina, yosh waktunya babak pertama!!!.
"Ain---
"Hm? Kak Aina? Kenapa kakak tidak memakai celana?" ucap gadis itu dengan tersenyum polos yg membuatku membeku di tempat.
Guhaahh serangan langsung.....
"Eh?"
Aina yg mendengar pertanyaan gadis kecil itu pun seketika langsung terkena stun selama beberapa saat, sampai akhirnya wajahnya pun mulai memerah dan langsung berteriak "kyaa" sambil menutupi kedua pahanya yg mulus itu. Reaksi yg bagus, aku menyukainya....... Ups maaf keceplosan. Aku secara reflek langsung memalingkan badanku dari Aina, karena jika aku tetap melihatnya maka akan ada hal yg mengerikan yg akan terjadi. Tetapi mungkin Aina tidak seperti itu.
******
{Maaf aku ganti pov nya yah hehe}
"Hawawaa, a-a-apa tuan kora me-melihatnya!!!" tanyaku kepada seorang pria yg ada di depanku yg saat ini sedang memalingkan wajahnya, orang itu adalah tuan kora, penyelamatku dan juga calon suamiku hehe.
Aku pun terus menatapnya sambil berusaha untuk menutupi bagian bawahku dengan kedua tanganku ini dan menunggunya untuk menjawab, tetapi tuan kora hanya diam saja dan masih tetap memalingkan wajahnya.
Uwahhh betapa begonya aku ini!!! Kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini!!! Perasaan aku pernah melihat sebuah celana di tas milik tuan kora, tetapi kenapa aku bisa lupa tentang tidak memakainya. A-apa yg harus aku lakukan sekarang!?? Uhhh.....
Lalu selagi aku menggerutu seperti itu, tuan kora yg ada di depanku pun berbalik dan menatapku dengan tajam.
"A-a-ada a-pa tu-tuan kora!? Ke-kenapa anda me-melihatku seperti itu!?"
"Karena tadi kamu bertanya 'apa aku melihatnya bukan?' maka aku jawab: iya aku melihatnya, aku melihat semua bagian lekuk tubuhmu yg indah itu. Dan aku menyukainya"
Eh-!?? Ap-apa? A-apa yg di maksud oleh tuan kora?? A-apa aku salah dengar?
"Umm... Anu..... A-a-apa maksud perkataan anda itu tuan kora?"
"Hm? Yah seperti yg aku katakan tadi, aku menyukai tubuhmu itu, jadi aku melihatnya dari tadi dan tidak berusaha untuk memberitahumu. Karena aku takut kamu akan merasa malu dengan itu jadi aku diam saja" ucap tuan kora dengan senyuman manis di wajahnya itu.
Aku ingin membalas senyumannya itu, tetapi....... Pi-pikiranku kacau, a-a-aku tidak tau harus menjawab seperti apa.......
Ja-jadi maksud dari tuan kora adalah, di-dia me-menyukaiku!!! d-dan di-dia tidak mau aku merasakan hal yg memalukan di hidupku!!! Jadi dia lebih memilih untuk diam saja ya....... Ternyata begitu yah....
"Oh iya karena aku tidak mau kamu kedinginan, nih pakai jubah ini, itu pasti bisa menutupi bagian bawahmu itu dan juga membuatmu tidak kedinginan" kata tuan kora sambil memberiku jubah yg tadi dia pakai, dan tersenyum ramah kepadaku.
Aku pun berusaha menerima jubah itu dengan tanganku yg gemetaran karena rasa bahagia di hatiku ini, aku langsung saja memakainya dan hangat sekali~
Jubah ini kelihatan tipis jika di lihat secara langsung, tetapi pada saat sudah memakainya, jubah ini ternyata sangat hangat dan angin dingin yg selalu menyerangku, sekarang sudah tidak bisa lagi menyelimutiku setelah aku memakai jubah hitam ini. Yahh walaupun sih aku tahan pada dingin, tetapi bagaimana mungkin aku bisa menolak kebaikan dari tuan Kora!!!
"Terima kasih banyak tuan kora!!, saya akan menjaga jubah ini dengan baik!!"
Ya aku akan menjaga jubah miliknya ini, aku harus menguatkan tekadku lagi!! Ayo!!
"Tidak usah di pikirkan, jika menurutmu jubah itu mengganggumu, maka aku tidak keberatan kok kamu membuangnya"
"Tidak, tuan kora, jubah ini adalah milikmu dan salah satu barang berharga bagimu, maka aku punya kewajiban untuk melindunginya, walaupun aku harus mengorbankan nyawaku untuk melindunginya!!"
"Y-yah aku menghargai tekadmu untuk melindungi jubahku itu, tetapi tolong jangan sampai mengorbankan nyawamu sendiri yah"
"Iya!! Aku akan menjaganya!!"
Aku pun tersenyum kepada tuan kora dengan perasaan percaya diri yg tinggi ini, tuan kora juga membalas senyumanku.
Emh... Tuan kora memang baik seperti yg sudah kuduga, dia juga bukan orang yg mesum dan dia selalu mementingkan perasaan orang lain.
Aku jadi semakin ingin berada di sampingnya untuk selamanya, dan berjalan bersamanya di jalan yg dia suka serta selalu mendukungnya di segala macam cobaan.
Baiklah!!! Aku akan berusaha untuk mewujudkan keinginanku itu, aku akan membantu tuan kora semampuku dan apapun yg terjadi aku harus membantunya.
__ADS_1
Ibu, kakak, sekarang aku sudah yakin akan perasaanku, kalau aku sangat, sangat, sangat mencintainya!!! Dan aku akan berusaha untuk menjadi istri yg baik baginya. Hm hm ayo kita lakukan!!!
Lalu pada waktu itu pun Aina semakin mencintai kora, dan dia akan mengorbankan nyawanya demi orang yg dia cintai itu. Tetapi yahh itu untuk cerita di masa depan**.