Aku Dan Sang Penguasa Malam

Aku Dan Sang Penguasa Malam
Episode 13


__ADS_3

Aku tertidur cukup lama dan nyenyak karena kecapean gara - gara pertarungan tadi.


(Di dalam mimpi)


"Wahh empuk sekali"


"Ahh"


"Hmm?"


"Ahh ahm iahh"


"Apa ini? Jangan - jangan!!" Aku pun membuka mataku dengan perlahan.


Nampak Aina yg sedang tertidur di sampingku dengan menghadap kearahku, dan tanganku yg dari tadi menyentuh benda yg lembut ternyata sedang berada di dada Aina yg sedang tertidur.


Secara Reflek aku langsung bangun dan berusaha keluar pelan - pelan agar tidak membangunkan Aina, tetapi tiba - tiba saja Acrodite muncul di hadapanku.


"Gimana perasaan tuan setelah menyentuh dada seorang perempuan?" dia pun mendekatiku.


"Jadi ini ulahmu!!, untung saja Aina tidak bangun kalau bangun habis sudah hidupku" kataku sambil memarahinya.


"Ya maaf tuan, kan sekali - kali tuan harus rileks dan jangan sampai kepikiran tentang misi terus" jawabnya dengan jelas.


"Iya aku tau ke khawatiranmu, tetapi jangan kaya gitu juga kali" aku pun langsung keluar dari kamarku dan turun untuk mandi.


Sebenarnya ini sudah beberapa hari setelah kejadian itu.


Pihak EX dan Fire pun sudah bekerja sama demi meruntuhkan kerajaan.


Karena semua misiku sudah selesai dan juga sudah masuk tahun kedua SMA ku, aku pun diberi libur oleh Jendral selama 3 tahun untuk menyelesaikan pendidikanku.Kalau bisa sih heheh


Hari - hariku berjalan seperti biasanya tanpa masalah apapun, tetapi di tahun kedua sekolah ada sebuah kejutan yg membuatku bahagia.


Setelah mandi aku langsung kembali ke kamarku untuk memakai seragam sekolah.


Sesampainya disana pintu kamarku pun terbuka lebar, tetapi karena penasaran aku pun bergegas pergi ke kamarku.


Dan nampak Aina yg sedang berdiri dengan baju yg robek.


"Ada apa Aina? Apa ada yg menyerangmu?" tanyaku sambil menghampirinya.


Dia hanya diam, tetapi saat aku berada di dekatnya dia langsung memelukku dengan erat.


"Ada apa Aina?" tanyaku dengan bingung.


"PENGUASA DITEMUKAN!!, KODE 009 DISCONNECTED" dia pun mengucapkan sebuah kata yg tidak pernah kudengar.


"Aina sadarlah!! Aina!!" aku pun berusaha menyadarkan Aina yg dari tadi mengucapkan kata - kata yg sama, tetapi setelah aku memegang tangannya secara seketika Aina pun tak sadarkan diri.


Karena aku khawatir, aku langsung menggendong Aina dan membaringkannya di kasur.


"Apa kamu tahu sesuatu Acrodite?" tanyaku kepada Acrodite yg berada di samping Aina yg sedang pingsan.


"Aku juga tidak tau tuan, apa yg terjadi dengannya" jawabnya dengan jujur.


"Oh begitu" aku pun memakai seragam sekolahku dan mempersiapkan perlengkapan sekolahku.


"Lebih baik tuan jangan terlalu mengkhawatirkannya, tuan lebih baik fokus kepada pendidikan tuan kalau masalah Aina, aku akan menjaganya dengan baik" ucapnya dengan lembut.


"Um baiklah aku serahkan padamu, Dah Aku berangkat dulu ya"


"Iya tuan hati - hati di jalan"


Aku pun langsung keluar dari kamarku dan pergi ke arah pintu depan untuk berangkat ke sekolah.


"Selamat pagi kora" sapanya dengan tersenyum.


"Oh Selamat pagi juga kakak" aku pun membalasnya dengan pelan.

__ADS_1


"Kamu mau sarapan dulu, atau nanti saja?" tanya Kak Rias sambil mendekatiku.


"Kalau masalah Aina, aku akan menjaganya untukmu, jadi kamu tidak usah khawatir ya" bisiknya dengan lembut di telingaku.


"Bagaimana kakak tau?" tanyaku dengan heran.


"Aku tau lah, memangnya kamu pikir sudah berapa tahun aku tinggal bersamamu?, aku tau sifatmu itu" jawabnya dengan lembut sambil tersenyum.


"Hm baiklah Aku berangkat dulu kak, tolong jaga tunanganku itu ya" ucapku sambil keluar dari rumah.


"(Baru kali ini kamu menyebutnya tunangan)" ucapnya dalam batin.


Aku berangkat Kesekolah dengan penuh kekhawatiran dan perasaan was - was.


Sekolahku berada di pusat ibukota, sekolah baruku ini tidak seperti sekolahku waktu di desa.


Sekolah ini besar dan mewah karena terdapat banyak murid - murid dari kelas bangsawan tetapi entah karena apa, walaupun aku hanya rakyat biasa aku tetap di terima di sekolah ini.


Perjalanan ku menuju ke sekolah cukup lama karena aku kesana dengan berjalan kaki.


(Di tempat lain...)


"Hei apa beneran baju ini cocok denganku Silva?" tanyanya sambil bergaya di depan cermin.


"Cocok kok, kamu kelihatan lebih cantik" jawabnya dengan tersenyum.


"Hmm tapi aku masih saja tidak nyaman pakai seragam seperti ini" ucapnya sambil menyisir rambutnya.


"Makanya ini dada jangan kebesaran" dia pun menyentuhnya dengan tertawa.


"Yasudah ayo berangkat nanti telat" ajaknya sambil membuka pintu kamar.


"Iya siap" dia pun menurut dan keluar dari kamar.


(Kembali ke tempat kora..)


Setelah berjalan cukup jauh, aku pun sampai di depan gerbang sekolahku yg besar dan mewah seperti sebuah istana.


bel sekolah pun berbunyi, aku pun bergegas masuk ke sekolah dan mencari kelasku yg baru.


"Oh disini kah?" aku pun menemukan kelasku yg ternyata berada di lantai 2.


Aku langsung masuk ke dalam kelas itu, dan yg kulihat waktu itu adalah kelas yg sangat bersih dengan para siswa yg sedang duduk - duduk santai sambil memakan cemilan yg mahal.


"(Kenapa dah harus masuk ke kelas elite kaya gini)" ucapku dalam batin sambil mencari tempat dudukku.


Setelah menunggu cukup lama di dalam kelas, wali kelasku pun masuk dan bersiap untuk memulai pelajaran.


"Perkenalkan nama bapak adalah Merial dorman, bapak adalah wali kelas kalian di tahun kedua ini bapak mohon kalian mengikuti pelajaran dengan sungguh - sungguh" ucapnya dengan tegas.


"Jadi bapak ucapkan Selamat datang di kelas kalian yg baru, walaupun bapak tau kalian pasti belum saling mengenal satu sama lain tetapi bapak yakin kalian akan berteman dengan baik"


"Baiklah sebelum memulai pelajaran, bapak akan memperkenalkan kepada kalian siswa baru yg akan mengikuti pelajaran di kelas ini, Silahkan masuk" dia pun mempersilahkan masuk kepada seseorang yg berada di luar kelas.


Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat murid baru itu yg ternyata dia adalah teman masa kecilku yaitu Silva dan temannya yaitu adalah Shira.


"Perkenalkan diri kalian" pintahnya dengan lembut.


" Perkenalkan namaku adalah Silva Reonberk dan ini adalah adikku namanya Shira Reonberk, Salam kenal semuanya" ucapnya dengan lembut sambil tersenyum.


"(Reonberk?)" seluruh siswa di kelasku pun hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun termasuk aku yg sedang memikirkan ucapan perkenalan dari Silva.


"Baiklah nak Silva sama Shira silahkan cari tempat duduk kalian karena kita akan memulai pelajaran" perintahnya sambil menunjuk sebuah kursi kosong di belakang.


"Iya pak terimakasih" mereka pun langsung menghampiri kursi tersebut dan duduk di sana.


"Baiklah saatnya pelajaran di mulai"


*******

__ADS_1


Pelajaran berlangsung lama karena sekolahku ini tidak ada jam istirahat, tetapi karena demikian ada beberapa murid bangsawan yg tidak memperhatikan pelajaran dan lebih memilih bermain Hp.


Tetapi wali kelas ku hanya membiarkannya saja dan terus melanjutkan pelajaran.


Karena di kelasku kebanyakan siswa nya adalah seorang bangsawan jadi hanya 20% saja murid yg mengikuti pelajaran.


Termasuk aku, aku juga tidak memperhatikan pelajaran karena pandanganku selalu tertuju ke arah Silva yg duduk di sebelah mejaku.


Bel pulang pun berbunyi, dan menandakan kalau pelajaran sudah selesai.


"Baiklah anak - anak bapak akhiri pelajaran untuk hari ini, setelah pulang jangan lupa di pelajari lagi pelajaran kali ini dan Sampai bertemu besok" dia pun keluar dari kelas.


Aku bergegas memasukkan semua buku ke dalam tas, dan menghampirinya untuk menanyakan semua pertanyaan yg ada di pikiranku.


"Ayo kita pulang Silva" ajakku saat dia sedang merapikan buku - bukunya.


"Oke ayo, kalau Shira kamu juga ikut kami ya?" Ajaknya kepada Shira yg duduk di sampingnya.


"Baiklah saya ikut" jawabnya dengan sopan.


Kami pulang dengan berjalan kaki, dan sepanjang perjalanan aku hanya diam membeku.


"Um Silva kalau boleh tau kenapa nama keluargamu berubah?" tanyaku dengan serius di tengah perjalanan.


" oh tentang itu, Sebenarnya dulu waktu 1 tahun setelah insiden kebakaran itu, aku kembali di buat shock dan bahkan aku merasa ingin mati saja saat mengetahui kalau ayahku di bunuh oleh seorang bangsawan karena penyalah gunaan hak kepemilikkan"


"Pada malam itu, ayahku dan aku di bawa oleh tentara kerajaan menuju ke rumah bangsawan di desa itu, kamu tau kan siapa bangsawan itu?" jelasnya dengan rinci.


"Iya aku tau, dia adalah bangsawan Rain" jawabku sambil mengajaknya duduk di sebuah bangku di bawah pohon apel.


"Pada waktu itu aku hanya bisa diam saja tanpa menunjukkan sebuah perlawanan, sesampai nya di sana kami bertemu dengan bangsawan itu"


"Dia menentang semua yg ayahku lakukan untuk desa itu, dan dia bilang akan mengeksekusi ayahku secara langsung"


"Karena aku merasa tidak terima dengan gugatan itu, aku menentang semua ucapan bangsawan itu dan bahkan aku menantangnya" jelasnya dengan bibir yg gemetaran.


"Setelah itu kami pun di biarkan pulang dan akan membawa masalah ini ke pengadilan, pada besoknya saat semua terasa aman dan damai seperti hari - hari biasanya dan hari itu juga bertepatan dengan hari pengambilan rapot untuk kelas 1 di SMA ku"


"Pada waktu sore hari setelah mengambil rapot, aku langsung bergegas pulang dan meminta ayahku untuk mengantarku ke ibukota tetapi sesampainya di depan rumah yg aku lihat adalah pemandangan yg paling aku benci yaitu ayahku yg tergeletak tak bernyawa di atas tanah yg berlumuran oleh darah" lanjutnya dengan tatapan mata kebencian.


"Orang - orang yg ada di desaku hanya bisa diam dan melihat saja, aku menangis sejadi - jadinya dan bahkan aku merasa ingin mengakhiri hidupku tetapi pada saat aku menangis muncul beberapa orang suruhan Rain yg membawaku menuju ke ibukota"


"Aku hanya diam saja karena aku merasa kalau aku tidak ada gunanya hidup di dunia ini, aku pun di jual sebagai budak prostitusi di pelelangan para bangsawan hidung belang, mereka semua terlihat sangat bersemangat bahkan ada yg sampai menawar hingga ratusan juta"


"Tetapi pada waktu itu, ada seseorang yg menawar hingga 1 milyar dan dia adalah Rean Reonberk" jelasnya sambil menghapus beberapa tetesan air mata.


"Rean Reonberk?"


"Iya dia adalah kakeknya Shira, beliau lah yg mengurusku dengan baik dan bahkan menganggapku sebagai salah satu cucunya"


"Iya benar sekali tuan kora, aku dan Silva sudah seperti layaknya seorang kakak dan adik" lanjutnya dengan tersenyum ceria.


"Dia memberiku tempat bernaung dan makanan yg enak - enak, tetapi beberapa bulan kemudian kakeknya Shira meninggal dunia di karenakan tidak ada anggota keluarga lagi selain Shira maka Shira lah yg menguasai dan pemilik dari Perusahaan Reonberk"


"Tetapi entah mengapa kalau dia ada diluar di selalu memanggilku dengan sebutan nona, padahal kan aku yg jadi pelayannya" dia pun tertawa sambil memeluk Shira yg ada di sampingnya.


Sedangkan aku hanya terdiam sambil merasa bersalah karena membiarkan Silva sendirian.


"Aku tidak tahu kamu mengalami masa - masa yg seperti ini seharusnya aku mengajakmu juga dan tidak meninggalkanmu sendirian, Ini semua adalah salahku!!" ucapku yg seketika air mataku menetes dengan sendirinya.


"Ini bukan salah kora, ini memang sudah takdir tidak ada seorang pun yg tau tentang masa depan kita hanya bisa menerima dan menghadapinya saja" jawabnya sambil memelukku.


"Hm anu nona ini sudah sore, bagaimana kalau kita pulang saja" ajak shira yg sedari tadi memandangi kami dengan dengan pipi yg memerah.


"Baiklah kita pulang dulu ya kora, nanti kita ketemuan lagi disini " ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.


"Hati - hati ya!!" aku melambaikan tangan ke arahnya.


"Iya kamu juga" dia pun membalasnya.

__ADS_1


"Hmm okelah aku juga harus pulang sekalian mengecek keadaan Aina"


__ADS_2