
*******
Setelah sarapan aku langsung kembali ke kamarku untuk bersiap - siap.
(Tok tok tok)
"Permisi tuan kora " kata Aina sambil mengetuk pintu kamarku dengan lembut.
"Ada apa Aina?" aku pun langsung membukakan pintu untuknya.
"Um anu aku ke ke sini cu cuman mau meminta maaf atas kejadian ta tadi pagi" dia pun meminta maaf dengan pipi yg mulai memerah.
"Hmm nggak papa kok Aina aku juga tidak keberatan kok kalau kamu berpindah tempat di kamarku" jawabku sambil tersenyum kepadanya agar dia lebih tenang.
"Benarkah?" ucapnya sambil menatapku dengan air mata yg mulai menetes.
"Iya tenang saja aku juga tidak akan menyentuhmu dan melakukan sesuatu kepadamu, lagipula acrodite juga tidak marah kok" jawabku sambil menghapus butiran air mata yg ada di wajahnya.
"Iya Aina tenang saja kok kalau tuan ku melakukan sesuatu kepadamu atau membuatmu merasa tidak nyaman, katakan saja kepadaku ya maka akan aku potong kelaminnya biar kapok" jawab Acrodite yg tiba - tiba muncul.
"Terimakasih tuan kora nona Acrodite" dia pun tersenyum dengan manisnya.
"Baiklah kalau begitu ayo kita lakukan dengan baik" teriakku dengan semangat.
"Iya!!" jawab mereka berdua dengan bersamaan.
Setelah kejadian yg cukup memalukan bagi Aina dan juga bagiku, wajah Aina yg waktu pagi itu terlihat tegang dan penuh dengan rasa bersalah sekarang sudah hilang dan menjadi sering tersenyum.
Setelah bersiap - siap cukup lama, kami pun berangkat untuk menjalankan misi yg di berikan komandan.
Aku pun turun dan berjalan ke arah pintu depan untuk keluar.
"Kamu mau kemana kora?" tanya kak Rias yg sedang menyapu lantai.
"Ah aku mau keluar sebentar ada urusan" jawabku dengan berbohong.
"Jangan bohong!! Kamu pasti akan pergi menjalankan misi kan" dia langsung menatapku dengan tajam.
"Iya iya aku mau melaksanakan misi dari komandan" jawabku dengan jujur.
"Kamu baru saja pulang kemarin sekarang malah di beri misi lagi awas aja itu komandan gua habisin dia" dan seketika aura nya berubah menjadi mengerikan.
"Enggak apa - apa kok aku juga tidak keberata trus juga misinya tidak berbahaya" jawabku untuk menenangkannya.
"Beneran? Jangan berbohong lagi" dia pun menatapku dengan tatapan tajam.
"Iya beneran kok kak, misinya cuman di suruh bernegoisasi doang tidak untuk bertarung" jawabku lagi agar amarahnya mereda.
"Um okelah kalau kamu bilang kaya begitu tetapi kamu harus janji pasti akan pulang" ucapnya sambil memberiku sebuah apel.
"Ok siap tunggu saja aku dirumah, dadah" aku pun langsung pergi keluar dari rumah.
"Dadah jangan mati" dia pun melambaikan tangannya ke arahku.
"(Aku tidak akan mati semudah itu kali)" aku pun membalas lambaian tangannya.
Aku berangkat menggunakan kuda karena tubuhku masih belum pulih dan juga ada Aina, walaupun dia adalah Serigala tetapi aku tidak tega membiarkan cewe berjalan kaki.
*******
(Tok tok tok)
"Permisi kak Rias!! " ucapnya sambil mengetuk pintu dengan pelan.
Dia pun segera membuka kan pintu untuknya.
"Oh Syla ada apa? Pagi - pagi kesini?" tanya kak Rias dengan lembut.
" tidak kok cuman datang berkunjung doang, oh iya guru ada dimana kak?" dia pun bertanya sambil tersenyum.
"Oh kora tadi pagi dia pergi ke arah pinggiran kota katanya sih ada urusan" jawab kak Rias dengan jujur.
__ADS_1
"Misi?"
" mungkin sih soalnya dia tidak bercerita apapun kepadaku tadi pagi" jawabnya dengan berbohong.
"Oh begitu yasudah aku permisi dulu kak Rias ada urusan di rumah" dia pun langsung pergi dari sana.
"Iya hati - hati di jalan"
Perjalananku kali ini cukup dekat karena tempatnya masih berada di ibukota.
"Di sini kah? Hmm dasar jendral informan nya terlalu cepat" ucapku sambil melihat sebuah rumah tua yg sangat bobrok.
"Ada apa tuan apa sudah sampai?" kata Aina yg sedari tadi tidur di pundakku.
"Iya sudah sampai" jawabku sambil tersenyum.
"Rumah nya jelek sekali ya tuan" bisik nya dengan pelan.
"Sttt jangan bilang kaya begitu nanti penghuninya marah"
"Emangnya siapa penghuninya Setan atau hantu?" dia pun tertawa dengan lepasnya.
Aku pun ikut tertawa.
"Sudah sudah cukup bercanda nya, ayo kita cek tempat ini" ucapku sambil mengetuk pintu.
(Tok tok tok)
"Permisi apa ada orang disini?"
Aku mengetuk pintu rumah itu dengan pelan.
(Krieettt)
Dan nampak seseorang dengan badan yg besar membuka pintu itu.
"Ada urusan apa datang kesini?" ucapnya sambil menatapku dengan tatapan benci.
"Bukan kamu salah tempat sana cari tempat lain!!" jawabnya sambil menutup pintu itu dengan keras.
Setelah mendengar jawaban orang itu, aku langsung pergi dari sana.
Tetapi karena aku masih penasaran aku tidak langsung kembali ke markas tetapi malah bersembunyi di salah satu rumah milik warga.
"Kenapa kita malah bersembunyi tuan kora?" tanya Aina dengan bingung.
"Ini termasuk rencana ku untuk menemukan organisasi itu, jadi tenang saja" jelasku dengan jujur.
"Bilang saja tuan takut sama orang tadi ya kan?" ucapnya sambil menggodaku.
"Siapa yg takut sama mereka, bagiku mereka cuman serangga yg mengganggu" jawabku dengan jujur.
"Ehh benarkah?" dia pun nampak seperti tidak percaya.
"Iya benarlah" jawabku dengan serius.
"Tuan kora lucu kalau lagi serius" ucap Aina sambil tertawa kecil.
"Kamu juga sependapat denganku ya" dia pun ikut tertawa dengan lepasnya.
"Dasar kalian ini!!!" aku pun ikut tertawa dengan mereka.
1 jam kemudiann.....
Hari mulai sore, kami menunggu dan mengawasi rumah itu cukup lama.
Tetapi entah karena apa, walaupun kami menunggu berjam - jam tetapi kami tidak merasa bosan sedikit pun bahkan kami tidak sadar kalau hari sudah mulai malam.
Di saat aku sedang bercanda, nampak beberapa orang dengan jubah berwarna coklat dengan lambang obor di punggungnya dan sambil mengenakan topeng putih sedang menuju ke arah rumah itu dengan berjalan kaki.
"Oh sudah keluar ya?" dan secara reflek aku langsung langsung mengambil teropong di tasku dan langsung melihat mereka dari jauh.
__ADS_1
Dan nampak seseorang dengan memakai topeng berwarna merah sambil membawa tombak berwarna orange keluar dari rumah itu dan berjalan menuju ke arah rombongan orang tadi.
"Baiklah karena sudah kelihatan semua, misi dimulai" aku pun langsung membereskan barang - barangku dan langsung bersiap - siap lompat dari sana.
"Tunggu tuan!!, apa aku boleh ikut?" ucapnya sambil memegangi jubahku dengan erat.
"Um Aina kamu jangan ikut ya, kamu disini saja sambil mengawasi kami, nanti kalau kami sedang dalam masalah atau kamu sedang dalam masalah kamu gunakan saja sihirmu untuk pergi ke tempatku berada, kamu bisa kan?" ucapku sambil tersenyum agar dia patuh kepadaku.
"Bisa tuan" jawabnya dengan semangat.
"Baiklah karena sudah selesai, ayo kita bermain sebentar acrodite" ucapku sambil pergi ke arah rombongan itu.
"Iya!! " jawabnya dengan semangat.
Tanpa aba - aba, aku langsung berlari ke arah rombongan orang itu.
"apa sudah berkumpul semuanya?" ucapnya dengan tegas.
"iyaa!!!" jawab mereka dengan serentak.
"Apa kalian sudah siap untuk melakukannya?" tanya dia lagi.
"iyaa!!"
"baiklah ayo kita lakukan!!!" teriak salah satu orang dari mereka dengan tegas.
"Tunggu apa aku boleh ikutan?" Ucapku sambil menghampiri mereka.
"Siapa kamu?" dan secara serentak mereka langsung dalam mode waspada.
"Kalian pasti tau topeng ini kan" aku pun mendekati mereka dengan perlahan sambil memakai topeng yg sering ku pakai.
"To topeng itu kan" salah satu dari mereka pun nampak kaget.
"oh begitu ya, kamu berarti seorang Assasin dari kelompok EX" ucap seseorang yg sepertinya adalah pemimpin mereka mulai mendekatiku.
"iya aku dari Kelompok EX" jawabku dengan jujur.
"jadi ada urusan apa? tuan Assasin datang ke kandang Macan ini" ucapnya dengan lembut tetapi dengan aura yg cukup mengerikan.
"aku datang kesini tidak untuk menyulut perang kok, aku cuman mau bernegoisasi dengan kalian saja" jawabku dengan jujur.
"bernegoisasi? "
"iya bernegoisasi, aku hanya mau membuat perjanjian kerja sama dengan kalian " ucapku lagi dengan jujur.
"Kerja sama? hmm apakah ini menguntungkan bagi kami?" dia pun bertanya dengan serius.
"kalau masalah itu, aku jamin kalian pasti akan mendapatkan keuntungan yg cukup besar" jelasku dengan jujur.
"ohh begitu ya, hmm menarik jadi bagaimana menurut kalian? apa kalian setuju atau ada yg mau menolak?" dia pun bertanya kepada anggota - anggotanya.
"kami menolak!!!" mereka pun menjawab nya dengan serentak.
"jadi kamu sudah tau kan jawaban kami apa" dan seketika nada bicara nya pun berubah.
"begitu ya, yasudah aku pergi dulu ya" aku pun langsung beranjak pergi dari sana.
"Tunggu dulu!!!" dia pun memegang pundakku dengan erat.
"ada apa ya?" tanyaku dengan polos.
"memangnya kamu pikir, setelah melihat kami kamu bisa pergi begitu saja" ucap nya dengan serius.
"emangnya tidak boleh pergi gitu?" tanyaku lagi dengan polos.
"Tidak boleh!!! kami akan menangkap mu untuk di jadikan sandra" mereka pun mulai mengeluarkan senjata Staris mereka masing - masing.
"kalau begitu, coba saja kalau kalian mampu" aku pun ikut mengeluarkan senjataku.
Dan tanpa aba - aba, Mereka mulai menyerangku dengan Agresifnya.
__ADS_1